NovelToon NovelToon
Terjerat Sumpah Tuan Muda

Terjerat Sumpah Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta
Popularitas:36k
Nilai: 5
Nama Author: Hazard111

Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.

Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.

Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.

Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.

"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Janji di Bawah Langit Jingga

​Pagi itu, suasana di kediaman Adhitama terasa jauh lebih ringan daripada hari-hari sebelumnya. Sinar matahari menyelinap masuk melalui jendela besar di kamar utama, memantul pada lantai marmer yang dipoles mengkilap dan memberikan pendaran hangat pada lukisan-lukisan Nala yang kini menghiasi dinding. Tidak ada lagi suasana mencekam yang dulu selalu menyelimuti rumah ini. Aroma bunga melati segar yang baru saja dipetik oleh pelayan tercium kuat, mengisi setiap sudut ruangan dengan wangi yang menenangkan.

​Nala sudah terbangun sejak fajar menyingsing. Ia berdiri di balkon, memandangi kabut tipis yang perlahan menguap dari permukaan danau buatan di halaman belakang. Di tangannya, ia memegang sebuah liontin perak kecil yang ditemukan Pak Hadi di antara tumpukan barang lama di paviliun rumah Aristha. Itu adalah barang peninggalan ibunya yang selama ini disembunyikan oleh Siska. Nala merasa seolah-olah beban seberat gunung yang selama dua puluh satu tahun menghimpit dadanya kini telah benar-benar terangkat.

​Di dalam kamar, terdengar suara gesekan sprei. Nala menoleh dan melihat Raga mulai bergerak. Pria itu kini sudah jauh lebih mandiri dalam aktivitas paginya. Raga duduk di tepi tempat tidur, wajahnya yang kini bersih dan tampan tampak tenang saat ia mencoba meluruskan kakinya. Ia tidak langsung mencari tongkatnya. Ada tekad yang sangat kuat di matanya untuk segera melepaskan alat bantu itu. Raga menarik napas panjang, menekan telapak kakinya ke lantai, dan mencoba berdiri dengan bertumpu pada kekuatannya sendiri.

​"Mas, pelan-pelan," ucap Nala lembut sambil berjalan mendekat. Ia tidak langsung memegang tangan Raga, ia tahu suaminya ingin membuktikan kemajuannya secara mandiri.

​Raga menggertakkan rahangnya, otot-otot di kakinya tampak menegang hebat. Ia berhasil berdiri tegak selama beberapa detik tanpa bantuan apa pun sebelum akhirnya sedikit limbung. Nala dengan sigap menyandarkan tubuh Raga ke bahunya. Raga tertawa kecil, suara tawa yang kini terdengar sangat lepas dan tidak lagi mengandung kepahitan.

​"Hampir saja, Nala. Sedikit lagi, aku akan bisa menggendongmu menaiki tangga ini tanpa bantuan siapa pun," ucap Raga sambil mengecup kening istrinya.

​Nala tersenyum haru. "Mas sudah melakukan kemajuan yang luar biasa. Dokter bilang semangatmu untuk sembuh adalah obat yang paling ampuh. Sekarang, mari kita bersiap. Kita punya janji penting hari ini."

​Hari ini adalah hari yang sakral. Mereka akan melakukan perjalanan ke Bogor untuk mengunjungi makam Dyah Rahayu. Bukan lagi sebagai kunjungan rahasia atau penuh kesedihan, melainkan sebagai sebuah penghormatan resmi dan pengakuan bagi wanita yang telah dikhianati oleh sejarah keluarganya sendiri.

​Setelah sarapan pagi yang tenang, mereka berangkat menggunakan mobil limousine hitam. Pak Hadi duduk di depan dengan wajah yang cerah. Sepanjang perjalanan, Nala lebih banyak menatap keluar jendela, melihat pemandangan kota Jakarta yang perlahan berubah menjadi deretan pohon hijau saat mereka mulai memasuki wilayah Bogor yang sejuk. Genggaman tangan Raga tidak pernah lepas dari jempol Nala, memberikan kehangatan yang meyakinkan.

​"Mas, apa Mas merasa tenang sekarang karena Burhan sudah di penjara?" tanya Nala tiba-tiba.

​Raga mengangguk pelan. "Sangat tenang, Nala. Berita semalam dari tim hukum menyebutkan bahwa semua upaya bandingnya ditolak. Dia akan mendekam di sana dalam waktu yang sangat lama. Tanpa kekuasaannya, dia hanyalah pria tua yang kalah. Dia tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi. Sekarang, fokusku hanya padamu dan masa depan kita."

​Nala menyandarkan kepalanya di bahu Raga. "Terima kasih, Mas. Terima kasih karena sudah menjadi perisai bagiku, bahkan saat Mas sendiri sedang terluka."

​Mereka sampai di sebuah pemakaman yang asri di kawasan perbukitan Bogor. Udara di sana sangat segar, berbau tanah basah dan dedaunan pinus. Makam Dyah Rahayu kini sudah sangat berbeda. Area di sekitarnya sudah dibersihkan secara total dan dipagari dengan besi tempa yang indah. Nisan tua yang dulu kusam kini sudah diganti dengan batu marmer putih yang megah, dengan ukiran nama yang kini terbaca sangat jelas: Dyah Rahayu binti Raden Mas Subroto.

​Nala berlutut di samping gundukan tanah yang rapi itu. Ia meletakkan seikat besar bunga melati putih dan mawar merah yang masih segar. Air matanya jatuh, namun kali ini bukan air mata penderitaan, melainkan air mata pelepasan.

​"Ibu," bisik Nala dengan suara yang bergetar. "Nala datang hari ini untuk memberitahu Ibu bahwa keadilan sudah tegak. Rumah Ibu sudah Nala ambil kembali. Orang-orang yang menyakiti Ibu kini sudah menerima balasannya. Ibu tidak perlu khawatir lagi tentang Nala di sini."

​Nala mengusap permukaan marmer yang dingin itu dengan penuh kasih sayang. "Nala sekarang sudah memiliki rumah yang sebenarnya, Bu. Nala memiliki pria hebat di samping Nala yang mencintai Nala lebih dari nyawanya sendiri. Kami akan menjaga nama Ibu agar selalu diingat dengan penuh kehormatan."

​Raga berdiri di belakang Nala, bertumpu pada tongkat kayunya dengan sikap yang sangat hormat. Ia memejamkan matanya sejenak, memberikan doa yang tulus bagi ibu mertua yang tidak pernah sempat ia temui itu. Di dalam hatinya, Raga mengucap janji bahwa ia akan menjadi pengganti dari semua cinta yang hilang dari hidup Nala selama ini.

​"Nyonya Dyah," ucap Raga dengan suara baritonnya yang mantap. "Terima kasih telah melahirkan wanita sesempurna Nala. Saya tidak akan pernah membiarkan sejarah pahit itu terulang kembali. Istirahatlah dengan tenang, karena putri Anda kini berada di tangan yang paling aman."

​Angin sepoi-sepoi bertiup pelan, menggoyangkan dahan-dahan pohon besar di sekitar makam, seolah-olah alam sedang memberikan jawaban yang damai atas ucapan mereka. Nala merasa hatinya sangat lega. Segala dendam pada Bramantyo dan Siska yang sempat membakar dadanya semalam, kini perlahan mendingin. Ia menyadari bahwa memaafkan bukan berarti melupakan, melainkan melepaskan diri dari rantai masa lalu agar bisa melangkah lebih ringan.

​Setelah dari pemakaman, mereka berhenti di sebuah restoran kecil yang menghadap ke arah lembah yang hijau. Sambil menikmati teh hangat, Nala mengeluarkan sebuah buku sketsa kecil. Ia mulai menggambar dengan garis-garis yang sangat halus.

​"Apa yang sedang kamu gambar, Jantung Hatiku?" tanya Raga sambil menyesap tehnya.

​"Rencana renovasi paviliun itu, Mas," jawab Nala tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas. "Aku tidak ingin menghancurkannya. Aku ingin membangun studio lukis di sana, tapi dengan banyak jendela besar agar cahaya matahari bisa masuk ke setiap sudutnya. Aku ingin tempat yang dulu gelap dan dingin itu menjadi tempat yang paling terang di seluruh rumah."

​Raga tersenyum lebar, ia menyukai cara pikir Nala. "Itu ide yang sangat cemerlang. Kita akan menamakannya Galeri Rahayu. Tempat itu akan menjadi rumah bagi semua karya senimu dan mungkin kita bisa membuka kelas melukis untuk anak-anak yang memiliki nasib seperti kita dulu. Aku akan meminta tim arsitek untuk mulai bekerja minggu depan."

​Nala menatap Raga dengan binar mata yang penuh harapan. "Mas benar-benar ingin melakukan itu?"

​"Tentu saja. Apa pun yang membuatmu tersenyum adalah prioritas utamaku sekarang. Kita punya semua sumber daya untuk melakukan itu. Bramantyo dan keluarganya sekarang harus terbiasa hidup di apartemen kecil tanpa kemewahan, sementara kamu akan mengubah penderitaan menjadi sesuatu yang indah," tegas Raga.

​Percakapan mereka kemudian beralih pada pemulihan fisik Raga. Nala sangat telaten mengingatkan jadwal terapi dan membantu Raga melakukan latihan-latihan ringan. Mereka tidak lagi membicarakan tentang kontrak pernikahan. Kontrak itu sudah lama mereka lupakan, digantikan oleh ikatan yang jauh lebih kuat yang lahir dari pengorbanan dan air mata.

​Malam harinya, setelah kembali ke Jakarta, Nala sedang merapikan beberapa dokumen di ruang kerja saat Raga masuk dengan langkah yang jauh lebih stabil. Pria itu sudah tidak lagi memegang tongkatnya untuk berjalan jarak pendek di dalam ruangan.

​"Nala," panggil Raga pelan.

​Nala menoleh dan tersenyum melihat kemajuan suaminya. "Mas, lihat! Mas sudah bisa berjalan beberapa langkah tanpa tongkat!"

​Raga sampai di depan Nala dan langsung melingkarkan lengannya di pinggang istrinya. "Aku ingin memberitahumu sesuatu yang penting. Tim hukum baru saja menelepon. Burhan Prasetya telah memberikan pengakuan penuh di depan penyidik mengenai semua skandal kejahatannya, termasuk keterlibatan Bramantyo dalam beberapa transaksi ilegal di masa lalu. Ini artinya, posisi hukummu atas seluruh aset Aristha kini sudah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat lagi oleh siapa pun."

​Nala mengangguk, ia menyandarkan kepalanya di dada Raga. "Aku sudah tidak terlalu peduli dengan uang itu, Mas. Tapi aku lega karena tidak ada lagi celah bagi mereka untuk mengusik kita."

​"Benar. Besok adalah hari pertama renovasi paviliun dimulai. Apakah kamu ingin datang ke sana untuk melihat peletakan batu pertamanya?" tanya Raga.

​Nala terdiam sejenak. Ia teringat akan aroma melati yang menyesakkan di paviliun itu dulu. "Aku ingin datang, Mas. Aku ingin melihat tembok-tembok itu runtuh. Aku ingin melihat kegelapan itu pergi untuk selamanya."

​Malam itu, Adhitama Estate terasa sangat damai. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi ketakutan akan serangan dari Burhan, dan tidak ada lagi bayang-bayang keluarga Aristha yang mengancam. Nala tertidur dengan nyenyak di pelukan Raga. Dalam mimpinya, ia melihat ibunya sedang melukis di sebuah taman bunga yang sangat luas dan terang. Sang ibu tersenyum padanya, seolah-olah memberikan restu penuh bagi kebahagiaan yang kini Nala miliki.

​Raga tetap terjaga sebentar, memandangi wajah damai istrinya di bawah cahaya lampu tidur yang temaram. Ia menyadari bahwa meskipun ia telah kehilangan banyak hal dalam lima tahun terakhir, ia telah mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga. Ia mendapatkan cinta yang murni dari seorang wanita yang tetap berdiri di sampingnya saat ia masih menjadi monster yang menakutkan bagi dunia.

​Fajar yang akan datang esok pagi bukan hanya membawa hari baru bagi renovasi fisik paviliun lama itu, tapi juga bagi pembangunan masa depan mereka yang indah. Sebuah masa depan yang dibangun di atas kejujuran, keberanian, dan kesetiaan yang tak tergoyahkan.

​"Aku akan menjagamu selamanya, Nala," bisik Raga sebelum akhirnya ia ikut terlelap dalam kedamaian malam yang panjang.

​Perjuangan memang masih ada, namun kali ini, mereka menghadapinya dengan senyuman. Burhan sudah kalah, Aristha sudah jatuh, dan kini saatnya bagi bunga melati di hati Nala untuk mekar dengan sempurna tanpa ada lagi yang berani menginjaknya.

1
Blu Lovfres
next thor, ku tunggu selalu updated nya💪💪❤️❤️
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Mampir dan dukung karyaku, yuk!

‎- TRUST ME

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Blu Lovfres
is the amazing novel
Blu Lovfres
bahagia selalu untuk keluarga adihtama
Blu Lovfres
bahagia selalu untuk keluarga adihtama
Blu Lovfres
ohh pantas,,novel ini
sangat bagus thor ,sangat bagus,,
Blu Lovfres
kembar jagoan
Blu Lovfres
wahh selamat untuk keluarga adihtama❤️❤️
Blu Lovfres
❤️❤️❤️💪💪
Blu Lovfres
g tau kedepannya 🙄
Blu Lovfres
kok ga ada,mlm pertama ,atw siang pertana😂🤣🙏
Blu Lovfres
🥰🥰🥰❤️❤️❤️
Blu Lovfres
❤️❤️❤️🥰
Blu Lovfres
💪💪💪❤️❤️🥰
Blu Lovfres
setiap bab,kata" mu sangat bagus thor
qu dulu ,fans garis besar ,fredy S, penulis novel di aera 80 an, karyanya" sangat bagus ,dn novel mu sangat bagus
Blu Lovfres
lanjut membaca 💪
novel yg sangat bagus
Blu Lovfres
good job nalla,dn ilmu yg kau pelajari jangan di siakan"
Blu Lovfres
💪💪💪masih semangat utk membaca🥰
Blu Lovfres
knpa ga oplas dari dlu,
anga,seorang melyeder, ceo kya
ga mampu oplas🙄🤦‍♀️
Blu Lovfres
💪💪💪best novel ❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!