NovelToon NovelToon
Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Pengganti / Cinta setelah menikah
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

Reuni sekolah menengah atas hari ini belum lengkap jika belum foto bersama sebagai kenang-kenangan. Seorang fotografer siap memotret momen kebersamaan mereka yang telah beranjak dewasa. Rata-rata mereka hidupnya sudah sukses di bidang masing-masing. Tidak heran dari segi pakaian yang mereka kenakan, terlihat sangat keren dan modis.

Vania dan keempat sahabatnya, selalu tahu cara menawan saat berfoto ria di depan kamera. Dengan cekatan, foto-foto itu segera diunggah ke akun media sosial, sembari menandai setiap teman yang terlibat. Kehebohan semakin menjadi saat akun Vania, seorang selebgram ternama yang kontennya menginspirasi jutaan orang, turut serta terpampang dalam tag.

Kegembiraan memuncak saat lebih dari dua juta pengikutnya menjadi saksi dari keramaian reuni tersebut, dalam balutan kemewahan restoran di pusat kota. Dalam hitungan menit, like membanjir mencapai puluhan ribu. Setelah puas berbagi tawa dan cerita, malam semakin larut dan saatnya berpisah tiba. Teman-teman Vania bergegas pulang, meninggalkan Vania seorang diri yang masih terpaku di depan restoran.

Menunggu dalam kesunyian, tiba-tiba sosok laki-laki bertubuh kekar mendekat, mencairkan ketegangan yang mulai menyelimuti. Raihan, demikian laki-laki itu dikenal, menunjukkan keakraban yang langsung disambut hangat oleh Vania. Sejenak, keramaian dunia maya tergantikan dengan kehangatan pertemuan yang tidak terduga di tengah kesepian malam.

"Masih di sini?" suara Raihan terdengar lembut namun memuat gugup saat menegur Vania. Vania hanya mengangguk lemah, menahan kelelahan.

"Menunggu jemputan?" tanya Raihan, coba mengisi keheningan.

"Ya, menunggu jemputan," sahut Vania, suaranya mendatar.

Raihan menyimpan harapan di dalam dada, "Daripada menunggu yang entah kapan datangnya, pulang bersamaku saja. Aku bisa menemanimu."

Vania tersenyum, ada sedikit getir di senyumnya itu. "Terimakasih, Raihan. Tapi, aku lebih baik menunggu."

Raihan menarik napas panjang, rasa kecewa terasa menggumpal di dadanya. "Aku berharap bisa berbicara lebih banyak denganmu," gumamnya pelan.

Lalu, tiba-tiba ia bertanya, "Kamu... kamu masih sendiri?"

Refleks, Vania memperlihatkan cincin di jari manisnya. "Aku sudah tunangan, Raihan."

Wajah Raihan berubah, penuh penyesalan. "Oh, maafkan aku. Aku kira kamu masih sendiri."

"Tidak apa-apa," balas Vania, menenangkan.

"Dan tunanganmu, tidak diajak ke sini? Atau setidaknya menjemputmu?" tanya Raihan, berusaha menyembunyikan rasa penasarannya.

" Kami menjalani hubungan jarak jauh," jawab Vania, matanya sedikit memandang jauh.

"Aku mengerti. Kalau begitu aku pergi duluan," Raihan berusaha tersenyum. "Sampaikan salamku pada calonmu. Nanti, di hari bahagiamu, jangan lupa undang aku ya, selamat tinggal!"

"Baik, selamat tinggal, Raihan." Vania mengucap perpisahan, sementara hatinya terasa berat, berkecamuk dengan perasaan yang tersimpan rapat.

___

Begitu sampai di rumah Vania mematung di depan ambang pintu rumah. Ia di sambut asistennya dengan wajah yang di tekuk. Ia sejenak melepas sepatu flat nya kemudian ia letakkan begitu saja di teras. Sedangkan asistennya menatap iba Vania.

"Oh, iya, aku lupa bawain kamu jajanan," ujarnya sambil terkekeh, seketika ia ingat pesan asistennya itu.

Asistennya mencebik."Soal itu lupain aja."

Vania menggadung tengkuknya yang tak gatal, ia mengira asistennya itu marah karena melupakan titipannya." Besok aja,ya. Kita beli jajanan di minum market aja, aku traktir deh."

"Gak usah mikirin itu dulu, mbak. Ada yang lebih penting."

Vania mengernyit." Kenapa? Apa yang penting?"

" Soal itu biar bapak dan ibu yang jelasin. Kamu masuk aja ditunggu bapak dan ibu di ruang keluarga."

Asistennya mengajak Vania ke ruang keluarga untuk menemui kedua orang tuanya. Awalnya, Vania melihat orang tuanya seperti biasa sedang menonton sinetron di televisi. Namun ketika kedua orang tuanya menyadari kehadirannya, ekspresi kedua orang tuanya jadi berubah. Ia lantas duduk di samping mamanya dengan wajah datar.

"Pa,ma, ada apa?" tanya Vania sembari menyalami tangan kedua orang tuanya.

"Kamu udah lihat podcast di yang sedang viral belum? Di situ bintang tamunya Deo," jawab pria berusia lima puluh tahun itu.

"Belum,pa. Emang ada dengan podcast itu? Siapa tahu Deo lagi bahas rencana pernikahan kami."

"Kamu lihat sendiri aja podcast itu. Mama dan papa gak nyangka Deo bisa bicara seperti itu. Entah itu hanya bercanda atau bagaimana?" Ujar mamahnya lalu memberikan gawai kepada putri tunggalnya.

Sekujur tubuhnya mendadak panas dingin sekaligus gemetaran saat menonton podcast seorang podcaster terkenal bersama kekasihnya. Ia meringis seakan tidak percaya jika Deo bisa berbicara seperti itu, di depan kamera pula. Dari yang ia kenal selama ini, laki-laki yang bisa menghormati perempuan memperlakukan Vania sebagai ratu di hidupnya, sopan, pekerja keras dan baik.

"Aku tahu Mbak Vania cinta banget sama mas Deo, tapi aku juga mau nunjukin sesuatu ke mbak," ujar asistennya yang lain sembari memberikan gawainya pada Vania.

Vania hanya tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepala, masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya digawai asistennya. Dia meletakkan gawai Papah dan asistennya di meja, kemudian ia bergegas merogoh tas untuk mengambil ponsel miliknya. Jemarinya dengan catatan mencari sebuah kontak dengan nama Deo, calon suaminya. Panggilan teleponnya langsung tersambung dan tak lama kemudian diangkat oleh Deo.

" Halo, calon istriku, gimana acara reuni sekolahnya? Seru?" sapa Deo dengan ceria di sebrang sana.

Dalam perasaan kebingungan, Vania tetap berusaha bersikap tenang. " Seru, kami saling melepas rindu dan bercengkrama satu sama lain."

"Bagus deh kalau begitu. Eum,,aku kangen, gak sabar mau ketemu sama kamu."

"Iya. Eum,,aku lagi nonton podcast nih bintang tamunya kamu loh. Seru ya obrolannya."

" Anu,,Vania. Jangan salah paham dulu, coba kamu tonton sampai habis dan cerna ucapanku di situ."

"Jadi kamu kapan mau ke sini sama mamah dan papahmu? Atau aku dan orang tuaku aja yang ke sana?" Ujar Vania mengalihkan pembicaraan.

"Segera, sayang. Kalau perlu aku ke sana sekarang juga. Aku akan segera ke Jogja bersama orang tuaku, sekalian aku jelaskan pada kalian soal ucapanku di podcast itu. Gak usah diambil pusing ya dan jangan berpikir yang macam-macam. Yaudah aku tutup teleponnya ya, mau lanjut banyak kerjaan di kafe nih. Love you."

Perasaan Vania bercampur aduk malam ini. Pada bulannya seketika memerah menahan amarah. Apalagi jika persoalan ucapan Deo di podcast menyinggung kedua orang tuanya.

"Vania, mau ke kamar dulu. Mamah, Papah, jangan khawatir. Nanti Deo akan datang dan menjelaskan segalanya." Ucap Vania, suaranya bergetar seraya memalingkan wajah dari tatapan orang tuanya yang penuh kekhawatiran.

Seolah memegang bom waktu, Vania meninggalkan ruangan dengan hati yang dihantam rasa pilu yang mendalam. Setiap langkahnya seperti menginjak pecahan kaca, menghunjam sakit ke dalam jiwanya. Begitu pintu kamar terkatup, ia melemparkan tasnya dengan brutal ke atas ranjang, seakan mencampakkan segala beban yang ia pikul. Tanpa menghiraukan makeup yang mungkin luntur atau rambut yang kusut, Vania membiarkan air shower menyiramnya, seolah ingin menghapus segala penyesalan dan kesedihan yang terpatri.

Bersembunyi di balik derasnya air, Vania menyerah pada tangisannya yang bisu, memeluk lututnya sambil menggigil. Di ruang isolasi itu, tak seorang pun yang bisa mendengar pekik perihnya. Air mata yang meluncur bebas, mencampurkan pahitnya realitas dengan dinginnya air, menciptakan larutan kepedihan yang tak mampu diucapkan dengan kata-kata.

Menantikan kehadiran Deo bagai menunggu rembulan di tengah badai, penuh harapan namun juga teriris kecemasan. Namun, lebih dari itu, dia bertarung dengan monster kesendirian yang tumbuh subur di dalam dadanya yang sesak, sebuah pertempuran yang hanya bisa dirasakannya sendiri.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
falea sezi
bodoh kn ada tuh fto dio. up aja lah bego
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!