NovelToon NovelToon
Hidup Kedua Sang Istri Teraniaya

Hidup Kedua Sang Istri Teraniaya

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Time Travel / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:49.8k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"

Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"

Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."

Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.

"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."

Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 - RENCANA PENGGREBEKAN

Malam itu, Dara tidak bisa tidur meski tubuhnya lelah luar biasa. Arkan dan Regan sudah pergi sejak pukul delapan, bergabung dengan tim khusus polisi untuk menggerebek persembunyian Bos Rendra di kawasan industri Cakung.

Nyonya Devi menemaninya di ruang rawat.

"Kamu harus istirahat, Kiara," kata wanita itu sambil merapikan selimut. "Arkan dan Regan akan baik-baik saja."

"Bagaimana aku bisa istirahat kalau suamiku sedang menghadapi kelompok mafia berbahaya?"

"Karena kamu percaya padanya. Dan karena kamu harus kuat untuk anak kalian."

Anak kalian... Bukan anakmu, tapi anak kalian.

Dara menatap Nyonya Devi, wanita yang dulu membencinya, sekarang menyebutnya sebagai bagian dari keluarga.

"Bu, maafkan aku. Untuk semua kekacauan yang aku bawa ke keluarga ini."

Nyonya Devi menatapnya dengan ekspresi lembut, sesuatu yang jarang dia tunjukkan. "Kamu tidak membawa kekacauan. Kamu membawa kebenaran. Kamu membuka mata kami semua, tentang Lenna, tentang keluarga ini, tentang apa arti sebenarnya menjadi kuat."

"Tapi karena aku, Arkan dan Regan sekarang dalam bahaya..."

"Bukan karena kamu. Karena mereka memilih melindungimu. Itu pilihan mereka. Sebagai pria, sebagai keluarga." Nyonya Devi memegang tangan Dara. "Dan aku bangga pada mereka. Sama bangganya dengan aku padamu yang melahirkan prematur, operasi dua kali, tapi masih sempat melumpuhkan penyerang untuk melindungi bayinya."

Dara tersenyum lemah. "Aku cuma jadi ibu yang melindungi anaknya."

"Dan itu adalah kekuatan terbesar di dunia."

Ponsel Dara berdering. Nomor Regan.

"Halo?"

"Kak, kami sudah di lokasi. Ada perkembangan, situasi lebih rumit dari yang kami kira."

Jantung Dara berdegup kencang. "Rumit bagaimana?"

"Bos Rendra tidak sendirian. Dia punya sandera. Lima orang, termasuk dua anak kecil."

Dara merinding. Sandera anak-anak. Taktik kotor yang sangat khas mafia.

"Polisi mau lakukan apa?"

"Negosiator sedang mencoba komunikasi. Tapi Bos Rendra punya satu tuntutan, dia mau bicara dengan kamu."

"Apa?!"

"Dia bilang kalau kamu tidak datang dalam satu jam, dia akan bunuh satu sandera setiap sepuluh menit."

Dara menutup mata, amarah dan frustrasi bercampur jadi satu. 'Bajingan itu. Dia tahu aku tidak bisa datang.'

"Regan, aku baru operasi. Aku tidak bisa..."

"Aku tahu, Kak. Makanya kami mencoba cari cara lain. Tapi..." Regan menurunkan suaranya, "...dia spesifik minta kamu. Dia bilang dia mau 'menyelesaikan urusan lama dengan Dara Alvarino'."

Dara membuka mata, menatap Nyonya Devi yang wajahnya penuh kekhawatiran.

"Berapa lama waktu yang aku punya?"

"Empat puluh lima menit. Tapi Kak, kamu tidak bisa..."

"Aku tahu aku tidak bisa. Tapi lima nyawa termasuk dua anak, lebih penting dari kondisiku." Dara sudah memutuskan. "Aku akan datang."

"KIARA, TIDAK!" Nyonya Devi merebut ponsel. "Regan, jangan biarkan dia datang! Dia baru operasi! Jahitannya bisa terbuka lagi!"

Suara Regan terdengar ragu. "Tapi Ma, kalau Kak Kiara tidak datang..."

"Cari cara lain! Aku tidak akan kehilangan menantu dan cucuku dalam satu malam!"

Dara mengambil kembali ponselnya. "Bu, aku menghargai kepedulian Ibu. Tapi ini keputusanku. Regan, siapkan mobil. Aku akan ke sana."

"Tapi bagaimana dengan lukamu..."

"Aku dokter. Aku tahu cara merawat lukaku sendiri." Dara sudah turun dari tempat tidur mengabaikan pusing dan nyeri. "Kirimkan lokasi persisnya. Aku akan ke sana dalam tiga puluh menit."

Setelah menutup telepon, Dara menghadap Nyonya Devi.

"Bu, aku butuh bantuan Ibu."

"Apa?"

"Aku butuh baju yang bisa menutupi perutku tapi tidak ketat. Aku butuh perban ekstra. Dan aku butuh Ibu menemani aku, karena aku tidak bisa menyetir sendiri."

Nyonya Devi menatapnya lama... konflik tergambar jelas di wajahnya.

Lalu dia mengangguk.

"Baiklah. Tapi dengan satu syarat kalau situasi berbahaya, kamu langsung mundur. Kamu dengar? Langsung mundur."

"Aku janji."

Tiga puluh menit kemudian, Dara dan Nyonya Devi sampai di lokasi, kawasan pabrik tua yang sudah tidak beroperasi. Polisi sudah mengepung gedung dari semua sisi.

Komandan operasi Pak Bambang, pria paruh baya dengan wajah tegas menyambut mereka.

"Nyonya Kiara, saya tidak bisa biarkan Nyonya masuk. Terlalu berbahaya."

"Bos Rendra minta saya. Kalau saya tidak masuk, dia bunuh sandera."

"Kami bisa serbu..."

"Dan sandera mati sebelum kalian sampai masuk. Dia pasti sudah siap dengan ranjau atau jebakan." Dara menatapnya tajam. "Saya tahu cara mereka berpikir. Saya pernah bekerja untuk mereka."

Pak Bambang terdiam, menimbang risiko.

"Baiklah. Tapi Nyonya harus pakai rompi anti peluru. Dan kami pasang mikrofon tersembunyi supaya kami tahu apa yang terjadi di dalam."

"Setuju."

Sepuluh menit kemudian, Dara sudah bersiap rompi anti peluru di balik jaket tebal, mikrofon kecil tersembunyi di kerah, dan pistol kecil di balik pinggang, hadiah dari Pak Bambang.

"Nyonya bisa pakai senjata?" tanyanya.

"Saya dokter bedah. Tangan saya stabil." Dara memeriksa pistol mengecek peluru, pengaman. "Dan saya pernah belajar anatomi manusia. Saya tahu di mana harus menembak supaya melumpuhkan tanpa membunuh."

Pak Bambang mengangguk kagum. "Nyonya perempuan yang luar biasa."

"Saya cuma perempuan yang melindungi keluarganya."

Arkan dan Regan mendekat, keduanya terlihat sangat tidak setuju.

"Kiara, biarkan aku yang masuk..." Arkan mencoba.

"Tidak. Dia minta aku. Bukan kamu." Dara memegang wajah Arkan. "Percaya padaku. Aku akan keluar hidup-hidup. Aku janji pada anak kita."

"Tapi..."

"Tidak ada tapi. Kalian tunggu di sini. Kalau dalam lima belas menit aku tidak keluar atau kalian dengar tembakan, langsung serbu."

Dara berbalik berjalan ke arah gedung pabrik dengan langkah pasti meski setiap langkah terasa seperti ditusuk pisau di perut.

Pintu pabrik terbuka.

Gelap di dalam hanya diterangi beberapa lampu bohlam redup.

"BOS RENDRA!" teriaknya. "AKU SUDAH DI SINI! TUNJUKKAN DIRIMU!"

Suara tepuk tangan dari kegelapan.

Bos Rendra keluar, masih dengan jas mahal meski wajahnya terlihat lelah. Di belakangnya lima sandera terikat di kursi, mulut disumpal. Dua di antaranya anak kecil sekitar tujuh dan sembilan tahun, mata mereka penuh ketakutan.

"Dara Alvarino. Atau haruskah kupanggil Kiara Adisaputra?" Bos Rendra tersenyum dingin. "Senang kamu datang. Aku dengar kamu baru melahirkan? Selamat. Semoga bayimu tidak jadi yatim piatu malam ini."

Dara menatapnya tanpa berkedip. "Lepaskan sandera. Ini antara aku dan kamu."

"Oh, tidak. Mereka adalah insurance-ku. Supaya kamu dan polisi di luar tidak macam-macam." Bos Rendra berjalan ke arah salah satu anak kecil, meletakkan pistol di kepalanya.

Anak itu menangis.

"Lepaskan dia," kata Dara dengan suara rendah... berbahaya. "Sekarang."

"Atau apa? Kamu akan tembak aku? Kamu masih dokter kan, Dara? Dokter yang bersumpah tidak akan menyakiti orang."

"Aku bukan dokter itu lagi." Dara mengeluarkan pistolnya, mengarahkannya ke Bos Rendra. "Aku ibu yang akan melakukan apapun untuk melindungi anak-anak. Termasuk anak-anak itu."

Bos Rendra tertawa. "Bagus! Akhirnya! Aku melihat Dara yang sebenarnya! Yang tidak pura-pura baik!"

"Lepaskan mereka. Lalu kita selesaikan ini... aku dan kamu. Tanpa sandera."

"Kenapa aku harus percaya padamu?"

"Karena aku datang sendirian seperti yang kamu minta. Karena aku tahu kamu bukan pengecut yang bersembunyi di balik anak-anak."

Bos Rendra menatapnya lama.

Lalu mengangkat pistolnya dari kepala anak itu.

"Baiklah. Tapi hanya mereka berempat yang kulepas." Dia menunjuk empat sandera dewasa. "Dua anak ini tetap tinggal. Sebagai jaminan."

"Tidak..."

"Itu bukan tawaran, Dara. Itu ultimatum. Terima atau semua sandera mati sekarang."

Dara mengepalkan rahangnya. Pilihan yang mustahil. Tapi dia tahu, menyelamatkan empat lebih baik dari tidak sama sekali.

"Baiklah. Lepaskan mereka."

Bos Rendra mengangguk, anak buahnya melepaskan ikatan empat sandera dewasa. Mereka berlari keluar terburu-buru, ketakutan.

Tinggal dua anak kecil. Dara dan Bos Rendra. Dan pistol di antara mereka.

"Sekarang," kata Bos Rendra. "Kita harus bicara."

1
Shen shandian luo
alur yg gak masuk akal sih sebenarnya
Dewi Sri
Lelah dan tidak setuju
N Wage
gak habis - habisnya😅
Dew666
🌹🌹🌹🌹🌹
Dede Mila
Abeh lah jadi nyt🫣🫣🫣🫣
Hikam Sairi
jangan lama lama balas dendam nya 🫵🫵
👻👻👻👻
Hikam Sairi
bagus 😈😈😈😈
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
gila sih
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
baru hidup tenang ada aja gangguan nya
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
waduh siapa lagi ini😂
Akbar Aulia
Luar biasa
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Erchapram
Masih ada extra part, ditunggu ya... terima kasih.
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
krisis identitas dara
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
lenna bener bener insaf
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
wow tarik nafas bacanya thor
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
kadang kita butuh waktu untuk memaafkan seseorang
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
kirana jempol rasa compeng ya nak😂
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
biasanya bayi masih di lindungi malaikat thor, aq percaya ini🤭
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
bener dara seorang ibu akan lakukan demi anak-anak nya
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
deg degan thor, semoga lenna aman ya nggak meninggal aq kasian kl orang dah bertaubat malah meninggal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!