NovelToon NovelToon
JANJI CINTA SELAMANYA

JANJI CINTA SELAMANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Teen Angst / Romansa / Slice of Life / Konflik etika
Popularitas:705
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.

Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.

Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.

Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: JANJI DI BAWAH CAHAYA BULAN

BAB 7: JANJI DI BAWAH CAHAYA BULAN

Malam telah jatuh di Kota Simla, menyelimuti perbukitan dengan kabut tipis yang dingin. Di kediaman keluarga Kashyap, suasana terasa mencekam. Hendra telah memerintahkan semua pengawal untuk berjaga ekstra ketat di setiap sudut gerbang. Lampu-lampu taman yang biasanya temaram kini dinyalakan dengan sangat terang, seolah-olah Hendra ingin memastikan tidak ada satu pun bayangan yang bisa menyelinap masuk atau keluar tanpa sepengetahuannya.

Di kamarnya yang mewah, Vanya duduk di tepi tempat tidur. Di tangannya, ia memegang setangkai bunga liar yang diberikan Arlan di tepi sungai tadi siang. Bunga itu sudah sedikit layu, namun bagi Vanya, itulah benda paling berharga yang pernah ia miliki. Ia menatap jam dinding yang berdetak lambat.

Pukul 21.45.

Vanya berdiri, jantungnya berdegup kencang. Ia sudah menyiapkan sebuah tas kecil berisi salep antiseptik, kain kasa bersih, dan beberapa botol susu hangat yang ia ambil diam-diam dari dapur. Ia harus melakukan ini. Ia tidak bisa membiarkan luka di punggung Arlan infeksi karena kedinginan di dalam tenda itu.

Di luar, di trotoar yang dingin, Arlan duduk bersandar pada tiang tendanya. Api unggun kecil yang ia buat mulai meredup. Sujati sudah tertidur lelap di dalam, kelelahan setelah hari yang panjang di pasar. Arlan meringis, mencoba menggerakkan bahunya. Setiap kali kain kemejanya bergesekan dengan luka cambukan itu, rasa perih yang luar biasa menjalar hingga ke otaknya.

Namun, rasa sakit fisik itu seolah sirna setiap kali ia menatap ke arah jendela lantai atas rumah Hendra. Ia teringat janji Vanya: "Tunggu aku di jendela belakang jam sepuluh malam."

Arlan berdiri perlahan, memastikan tidak ada penjaga yang melihatnya. Ia menyelinap melalui celah di antara pepohonan di sisi samping rumah. Ia tahu di sana ada sebuah balkon kecil yang tersembunyi dari pantauan lampu sorot utama.

Vanya mematikan lampu kamarnya agar tampak seolah ia sudah tidur. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia membuka jendela kayu yang besar itu. Derit engselnya terdengar sangat keras di telinganya yang sedang ketakutan. Ia melangkah keluar ke balkon kecil yang langsung menghadap ke arah area belakang yang gelap.

"Arlan?" bisik Vanya ke arah kegelapan di bawah sana.

Sebuah bayangan bergerak di bawah pohon pinus. Arlan muncul, menatap ke atas. Cahaya bulan Simla yang pucat menerangi wajahnya yang lelah namun penuh tekad.

"Aku di sini, Vanya," jawab Arlan dengan suara rendah yang menenangkan.

Vanya segera menurunkan tali panjang yang sudah ia siapkan. Ia tidak hanya mengirimkan barang, kali ini ia ingin bicara. "Naiklah, Arlan. Di bawah terlalu berbahaya, banyak penjaga berkeliling setiap sepuluh menit."

Arlan ragu sejenak. Jika ia tertangkap di atas balkon kamar putri Hendra Kashyap, ia mungkin tidak akan keluar hidup-hidup dari sana. Namun, saat melihat mata Vanya yang penuh kekhawatiran, Arlan membuang jauh rasa takutnya. Dengan ketangkasan yang luar biasa meski punggungnya terluka, ia memanjat pipa air dan tonjolan batu di dinding rumah itu, hingga akhirnya tangannya menggapai pagar balkon.

Vanya segera menarik tangan Arlan, membantunya naik ke atas. Begitu kaki Arlan menginjak lantai balkon, Vanya langsung memeluknya dengan erat. Ia menangis dalam diam di dada Arlan.

"Kau gila... kau benar-benar memanjat," isak Vanya.

Arlan mengusap rambut Vanya dengan tangan yang kasar. "Kau yang memintaku datang, bukan? Aku tidak akan pernah membiarkanmu menunggu sendirian di tengah malam seperti ini."

Vanya menarik Arlan untuk duduk di sudut balkon yang paling gelap agar tidak terlihat dari bawah. Ia segera mengeluarkan kotak obatnya. "Buka kemejamu, Arlan. Aku harus mengganti perbannya."

Arlan melepaskan kancing kemejanya perlahan. Saat kain itu terlepas dari kulitnya, Vanya menutup mulutnya menahan tangis. Luka-luka itu tampak lebih buruk di bawah cahaya bulan; bengkak, merah, dan sangat menyakitkan untuk dipandang.

Dengan tangan yang sangat gemetar, Vanya mulai membersihkan luka itu menggunakan kapas yang sudah diberi antiseptik. Arlan mengerang rendah, tangannya mencengkeram pagar besi balkon hingga buku jarinya memutih, namun ia tetap diam agar tidak memancing perhatian penjaga.

"Maafkan aku... maafkan aku..." bisik Vanya berulang kali sambil meniup luka itu dengan lembut agar rasa perihnya berkurang.

"Jangan minta maaf, Vanya," ucap Arlan, suaranya terdengar serak. "Setiap luka ini adalah bukti bahwa aku tidak menyerah padamu. Ayahmu bisa mencambuk tubuhku, tapi dia tidak bisa mencambuk cintaku."

Vanya terhenti. Ia menatap Arlan dari belakang. "Arlan, kenapa kau melakukan ini semua? Kita baru bertemu beberapa hari. Kenapa kau mau menanggung penderitaan sebesar ini demi gadis yang baru kau kenal?"

Arlan berbalik perlahan setelah perban barunya terpasang rapi. Ia memegang kedua tangan Vanya, menatap lurus ke dalam matanya dengan intensitas yang membuat napas Vanya tertahan.

"Vanya, di Simla ini, semua orang hidup dengan topeng. Ayahmu dengan kekuasaannya, orang-orang pasar dengan ketakutan mereka. Tapi kau... saat kau jatuh di pasar hari itu, aku melihat sesuatu yang murni. Dan saat kau berani datang ke rumahku, lalu membelaku di pasar tadi siang... aku sadar bahwa kau adalah satu-satunya alasan bagiku untuk membuktikan bahwa kebenaran itu masih ada. Aku tidak hanya mencintaimu, Vanya. Aku menghormatimu sebagai pejuang."

Vanya merasa hatinya meluap. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Arlan. "Aku takut, Arlan. Ayah sedang merencanakan sesuatu yang lebih buruk. Aku mendengarnya bicara dengan Gani tentang pertunangan paksa. Dia ingin menjauhkanku darimu dengan cara memberikanku pada pria lain."

Arlan mengeraskan rahangnya. "Dia bisa merencanakan seribu pertunangan, tapi hatimu milikmu sendiri, Vanya. Selama kau tidak menyerah, aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu. Biarkan mereka mencoba. Aku akan berdiri di depan gerbang itu sampai napas terakhirku hanya untuk memastikan kau tahu bahwa kau tidak sendirian."

Tiba-tiba, suara langkah sepatu bot pengawal terdengar mendekat di bawah balkon. Sinar lampu senter menyapu dinding rumah.

"Cepat, Arlan! Kau harus turun!" bisik Vanya panik.

Arlan segera memakai kembali kemejanya. Sebelum turun, ia menarik Vanya ke dalam pelukan singkat namun sangat dalam. Ia mencium kening Vanya dengan lembut. "Tidurlah. Besok pagi, lihatlah ke bawah. Aku akan tetap di sana, di tempat yang sama, untuk memberitahumu bahwa duniamu tidak akan pernah runtuh selama aku masih bernapas."

Arlan dengan lincah merosot turun melalui pipa air dan menghilang ke dalam kegelapan pepohonan tepat saat pengawal melintasi area tersebut.

Vanya berdiri di balkon, menahan napas sampai ia melihat bayangan Arlan kembali dengan selamat ke tenda birunya. Ia melihat Arlan menyalakan kembali api unggunnya yang kecil, memberikan tanda bahwa ia baik-baik saja.

Vanya masuk kembali ke kamarnya dan menutup jendela. Ia merasakan sisa kehangatan Arlan masih tertinggal di tangannya. Malam ini, di Kota Simla yang dingin, Vanya menyadari bahwa ia bukan lagi putri yang rapuh. Ia adalah tunangan dari seorang pria yang harga dirinya lebih tinggi dari gunung mana pun.

Namun, ia tidak menyadari bahwa di balik pintu kamarnya yang terkunci, Hendra berdiri dalam kegelapan lorong rumah. Hendra tidak melihat kejadian di balkon, namun ia bisa mencium bau antiseptik yang menyengat dari dalam kamar Vanya.

Hendra tersenyum dingin. "Kau memberinya obat, Vanya? Baiklah. Besok, aku akan memberinya racun yang tidak akan bisa kau sembuhkan dengan obat mana pun."

Hendra berjalan pergi dengan rencana baru yang jauh lebih licik di kepalanya. Rencana yang akan melibatkan ibu Arlan, Sujati, sebagai umpan untuk menghancurkan Arlan secara total.

1
falea sezi
mending bawa pergi jauh deh arlan
falea sezi
ksian bgt arlan knp semua novel mu isinya sedih teros kapan bahagia nya q baca semua nya tp isinya menderita trs jd g mood baca pdhl mau ksih hadiah jd males
falea sezi
menyimakkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!