Seorang pemulung menemukan jasad tanpa wajah di Kampung Kemarin. Hanya ada cincin bertanda 'S' dan sehelai kertas tentang "kayu ilegal" sebagai petunjuk.
Detektif Ratna Sari menyadari kasus ini tidak biasa – setiap jejak selalu mengarah pada huruf 'S': dari identitas korban, kelompok tersembunyi, hingga lokasi rahasia bisnis gelap.
Ancaman datang dari mana saja, bahkan dari dalam. Bisakah Ratna mengungkap makna sebenarnya dari 'S' sebelum pelaku utama melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24 ( twenty four)
Suara sirine kapal The Eternal Sun memekakkan telinga, bercampur dengan dentuman musik klasik yang kini terdengar seperti mars kematian. Ratna berlari menembus aula dansa, gaun merahnya yang telah sobek berkibar seperti bendera perang.
"Hendra, beri aku denah sistem kendali senjata! Sekarang!" teriak Ratna sambil melumpuhkan seorang penjaga dengan hantaman siku tepat di jakunnya.
"Tiga lantai ke bawah, Ratna! Di bawah dek mesin!" suara Hendra bergetar. "Tapi kau tidak punya waktu. Kapal perusak itu sudah mengunci koordinat gubuk Ibu Sarah. Peluncuran dalam enam puluh detik!"
Ratna melompat menuruni tangga darurat, mengabaikan rasa perih pada luka-luka lamanya yang mulai terbuka kembali. Di pintu masuk ruang kendali, empat tentara bayaran elit dengan seragam tempur lengkap dan senapan mesin ringan sudah menunggunya.
Tanpa senjata api, Ratna menggunakan lingkungan sekitarnya. Ia menarik tuas katup uap panas di dinding.
Wuuushhh!
Uap bertekanan tinggi menyembur, menciptakan tabir putih yang menyengat mata para penjaga. Ratna menerjang masuk seperti bayangan. Ia menangkap pergelangan tangan penjaga pertama, memutarnya hingga senjatanya mengarah ke rekannya sendiri.
Drat-tat-tat!
Dua penjaga tumbang oleh peluru teman mereka sendiri. Ratna kemudian melompat, mendaratkan tendangan ganda ke dada penjaga ketiga, dan menggunakan pisau keramiknya untuk memotong arteri paha penjaga terakhir dalam satu gerakan mengalir yang mengerikan.
Ia sampai di depan konsol komputer pusat. Layarnya menunjukkan peta digital pesisir Jawa Barat dengan tanda silang merah yang berkedip tepat di atas rumah mereka.
[COUNTDOWN: 00:15]
"Sial, kodenya dienkripsi!" Ratna menghantam meja kontrol. "Hendra, aku tidak bisa membatalkannya!"
"Dengarkan aku, Jenderal!" Hendra berteriak dari balik earpiece. "Jangan batalkan peluncurannya. Ubah sasarannya! Masukkan koordinat kapal pesiar ini sebagai target baru. Jika rudal itu mendeteksi sinyal GPS yang sama dengan peluncur, sistem akan mengalami loop dan meledak di peluncuran!"
Ratna bekerja dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Jemarinya menari di atas keyboard yang asing baginya, namun insting militernya menuntun setiap gerakannya.
[00:05... 00:04... 00:03...]
ENTER.
(Ledakan di Cakrawala)
Di atas dek kapal, sebuah tabung peluncur vertikal terbuka. Sebuah rudal taktis melesat keluar dengan raungan yang menggetarkan seluruh badan kapal. Namun, bukannya meluncur menuju daratan, rudal itu tiba-tiba berhenti di udara, mesinnya meronta seolah-olah sedang bingung, sebelum akhirnya menghujam kembali ke arah dek belakang kapal.
BOOOOOM!!!
Bagian belakang The Eternal Sun meledak hebat. Guncangan itu melemparkan Ratna hingga menghantam dinding besi. Air laut mulai masuk melalui celah yang menganga.
Ratna merangkak di tengah api yang mulai menjalar, mencoba mencari jalan keluar. Namun, di tengah asap tebal, sosok Ares berdiri dengan tenang, seolah-olah api di sekitarnya hanyalah dekorasi panggung.
"Langkah yang cerdik, Jenderal," ujar Ares. Ia memegang sebuah koper kecil koper yang berisi data genetik Ratna. "Kau menyelamatkan ibumu, tapi kau membiarkan 'dirimu' tetap berada di tanganku."
"Kembalikan koper itu, Ares!" Ratna mencoba berdiri, meski kakinya terasa lemas.
Ares menggeleng pelan. "Data ini terlalu berharga untuk dihancurkan sekarang. Namun, sebagai tanda rasa hormatku pada sesama 'prajurit hantu', aku akan memberimu sebuah hadiah."
Ares melempar sebuah ponsel satelit ke arah Ratna. "Gunakan itu. Kapal perusak yang menuju gubuk ibumu bukan hanya milik Phoenix. Ada pengkhianat di dalam unit polisi Teguh yang memberi tahu koordinat kalian. Jika kau ingin mereka tetap hidup, kau harus pergi dari sini sebelum tim pembersih yang kedua sampai."
Tanpa menunggu jawaban, Ares melompat ke arah laut yang gelap, menghilang di balik ombak bersama data paling rahasia milik Ratna.
"Bu! Cepat ke lambung kiri! Sekoci sudah siap!" suara Teguh terdengar dari kejauhan.
Ratna berhasil keluar dari ruang mesin yang mulai tenggelam. Kapal pesiar mewah itu kini miring 30 derajat. Para miliarder bertopeng lari tunggang langgang, memperebutkan pelampung layaknya tikus yang ketakutan.
Ratna melompat ke sekoci cepat di mana Teguh sudah menunggu dengan mesin yang menderu.
"Kita harus ke Jawa Barat sekarang, Teguh!" teriak Ratna saat sekoci mereka melesat menjauhi kapal yang terbakar.
"Bagaimana dengan datanya, Bu? Apa Ibu berhasil mengambilnya?" tanya Teguh cemas.
Ratna menatap ke arah laut lepas, di mana sosok Ares menghilang. "Tidak. Phoenix memiliki segalanya sekarang. Mereka tahu siapa aku, dan mereka tahu apa yang bisa kulakukan."
Ratna membuka ponsel yang diberikan Ares. Ada satu pesan singkat di sana:
"Jangan percaya pada siapapun di Jakarta. Phoenix sudah berada di dalam pemerintahanmu. Carilah 'Si Pemahat' di Yogyakarta jika kau ingin tahu cara menghentikan virus itu tanpa darahmu."
"Teguh, kita tidak pulang ke gubuk," ujar Ratna tiba-tiba.
"Lalu ke mana, Bu? Ibu Sarah dan Bagas..."
"Hendra sudah memindahkan mereka ke pangkalan aman kakekku tak lama setelah rudal itu gagal. Kita akan menuju Yogyakarta. Perang ini baru saja naik ke tingkat yang jauh lebih tinggi."