Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.
Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.
Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.
Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.
"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sistem Keamanan Andrey si Cyber King
Tiga hari setelah email terakhir dari Arman, aku masih tidak bisa tidur dengan tenang.
Setiap malam aku terbangun dengan keringat dingin. Mimpi buruk yang sama terus berulang. Arman yang berlutut di basement villa ini. Leonardo yang berdiri di depannya dengan pistol. Dan aku yang hanya bisa menonton, mulut terbungkam, tidak bisa berteriak.
Lalu tembakan.
Dan aku terbangun.
Pagi ini aku turun dengan mata panda yang semakin parah. Sofia sempat komentar bahwa aku terlihat tidak sehat, tapi aku cuma bilang aku baik-baik saja. Bohong yang bahkan anak kecil pun tidak akan percaya kalau lihat wajahku.
Leonardo sudah ada di meja makan seperti biasa. Tapi hari ini ada yang berbeda. Andrey ada di sana. Duduk dengan laptopnya, jari-jarinya mengetik cepat di keyboard. Wajahnya fokus pada layar.
"Selamat pagi," ucapku pelan sambil duduk di kursi biasa.
Leonardo mengangguk. "Pagi, sayang. Kau terlihat lelah. Tidak tidur nyenyak lagi?"
"Mimpi buruk," jawabku singkat. Tidak mau menjelaskan lebih lanjut.
Leonardo menatapku sejenak, lalu kembali ke kopinya. "Mungkin kau butuh obat tidur. Aku akan minta Sofia menyiapkan."
"Tidak usah. Saya baik..."
Suara ketikan Andrey tiba-tiba berhenti. Dia menatap layar laptopnya dengan mata menyipit. Lalu mengetik beberapa hal dengan sangat cepat.
Leonardo menyadari perubahan itu. "Ada apa?"
Andrey tidak menjawab. Tentu saja tidak bisa. Dia bisu. Tapi tangannya bergerak cepat di tablet yang ada di sampingnya. Lalu memutar tablet itu menghadap Leonardo.
Aku tidak bisa lihat apa yang tertulis. Tapi aku bisa lihat ekspresi Leonardo berubah. Rahangnya mengeras. Mata kelabunya menyipit berbahaya.
"Kapan?" tanyanya dengan nada datar yang justru lebih menakutkan dari teriakan.
Andrey mengetik lagi di tabletnya. Menunjukkan.
Leonardo membaca. Lalu mengangguk pelan. "Lacak lokasinya. Sekarang."
Andrey kembali ke laptopnya. Jari-jarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Jantungku mulai berdebar cepat. Ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang berhubungan dengan... dengan Arman?
"Leonardo," aku berusaha menjaga suaraku tetap tenang. "Ada... ada apa?"
Dia menatapku. Lama. Seperti sedang menimbang apakah akan memberitahuku atau tidak.
"Temanmu, Arman," ucapnya akhirnya. "Dia tidak mendengarkan peringatanmu."
Darahku membeku.
"Apa... apa maksudmu?"
Leonardo mengambil tablet Andrey. Memutar layarnya menghadapku.
Di sana ada screenshot email. Bukan email yang dikirim ke akunku. Tapi email yang dikirim Arman ke seseorang yang tidak kukenal. Seorang editor di media online tempatnya kerja.
Aku membaca dengan tangan gemetar:
"Pak Editor,
Saya sudah mengumpulkan cukup bukti awal tentang Leonardo Valerio. Dia bukan pengusaha biasa seperti yang terlihat di permukaan. Ada koneksi mencurigakan dengan beberapa organisasi kriminal internasional.
Teman saya, Nadira Azzahra, menikah dengannya beberapa bulan lalu. Saya punya firasat kuat bahwa pernikahan itu tidak sukarela.
Saya butuh waktu dua minggu lagi untuk menggali lebih dalam. Setelah itu saya akan kirim draft artikel lengkap dengan semua bukti.
Ini bisa jadi investigasi terbesar tahun ini.
Arman Prasetya"
Aku merasa dunia berputar. "Tidak... tidak mungkin... dia... dia sudah kubilang untuk berhenti..."
"Jurnalis yang baik tidak pernah berhenti mengejar kebenaran," ucap Leonardo dengan nada yang sangat dingin. "Sayangnya, di duniaku, kebenaran itu bisa membuat orang mati."
Dia berdiri. Berjalan ke samping Andrey. Melihat layar laptop yang penuh dengan kode-kode dan angka-angka yang tidak kumengerti.
"Sudah dapat lokasinya?" tanya Leonardo.
Andrey mengangguk. Mengetik sesuatu, lalu menunjuk ke salah satu bagian layar.
Leonardo tersenyum tipis. Senyum yang membuat buluku kuduk merinding.
"Jakarta Selatan. Apartemen di daerah Kemang." Dia membaca informasi di layar. "Lantai tujuh. Unit 7B. Tinggal sendirian."
Bagaimana... bagaimana mereka bisa tahu semua itu?
Seolah membaca pikiranku, Leonardo menjelaskan, "Andrey adalah cyber king terbaik yang pernah ada. Dia bisa masuk ke sistem apapun. Email, kamera CCTV, database pemerintah, bahkan satelit kalau perlu. Tidak ada yang bisa bersembunyi darinya."
Andrey tidak bereaksi pada pujian itu. Hanya terus mengetik dengan wajah datar.
"Kau memang cerdik, Andrey. Tidak salah aku mengandalkanmu," ucap Leonardo sambil menepuk pundak Andrey sekali.
Andrey hanya mengangguk. Tidak ada ekspresi bangga atau senang. Hanya... kosong. Seperti dia cuma melakukan pekerjaan rutin.
Leonardo kembali ke mejanya. Mengambil ponselnya. Mengetik sesuatu dengan cepat. Lalu menelepon seseorang.
"Marco. Aku butuh kau ke Jakarta. Sekarang." Suaranya autoritatif. Tidak ada ruang untuk argumen. "Ada target yang perlu diamankan. Jurnalis bernama Arman Prasetya. Alamatnya akan kukirim. Ambil dia. Bawa ke gudang Jakarta Utara. Interogasi tapi jangan bunuh dulu. Aku ingin tahu seberapa banyak dia tahu dan siapa lagi yang dia kasih tahu."
Jeda. Marco sepertinya bicara di seberang sana.
"Tidak peduli dia punya backup data atau tidak. Andrey akan urus semua jejak digital. Kau cukup urus orangnya." Leonardo melirikku sekilas. "Dan Marco... bersih. Jangan ada saksi. Jangan ada kekacauan. Kita tidak mau menarik perhatian polisi lokal."
Dia menutup telepon. Lalu duduk kembali di kursinya. Mengambil cangkir kopinya dengan tenang. Seperti tidak baru saja memerintahkan penculikan.
Aku tidak bisa bicara. Lidahku kelu. Tenggorokanku tercekat.
Arman. Arman akan diculik. Akan diinterogasi. Akan disiksa mungkin. Dan setelah Leonardo dapat semua informasi yang dia mau...
Arman akan mati.
Seperti Riccardo. Seperti ratusan orang lain.
"Jangan." Suaraku akhirnya keluar. Pelan. Gemetar. "Jangan sakiti dia. Kumohon."
Leonardo menatapku. "Dia membahayakan kita, Nadira. Membahayakan mu juga. Kalau artikelnya keluar, kalau identitasku terbongkar, bukan cuma aku yang dalam bahaya. Tapi juga kau. Dan orangtuamu."
"Tapi... tapi dia cuma... dia cuma khawatir pada saya..."
"Dan kekhawatirannya itu akan membuat dia mati." Potong Leonardo dengan nada final. "Aku sudah beri kesempatan. Kau sudah kirim peringatan. Tapi dia tetap melanjutkan. Itu pilihannya. Dan setiap pilihan punya konsekuensi."
Air mataku jatuh. "Ini salah ku... kalau saja saya tidak balas emailnya... kalau saja saya tidak bilang apa-apa..."
"Kalau kau tidak balas, dia akan lebih curiga dan lebih cepat bergerak." Leonardo berdiri. Berjalan ke arahku. Berjongkok di sampingku. "Ini bukan salahmu, Nadira. Ini salah dia yang terlalu ingin jadi pahlawan."
Tangannya mengusap air mataku. Sentuhan yang seharusnya menenangkan tapi malah membuatku merasa lebih buruk.
"Aku tidak mau membunuhnya kalau tidak perlu," lanjut Leonardo. "Kalau dia kooperatif, kalau dia mau bilang siapa lagi yang tahu dan dia mau menghancurkan semua bukti yang dia kumpulkan, mungkin... mungkin aku bisa pertimbangkan untuk membiarkannya hidup."
Mungkin. Kata yang sangat lemah untuk sebuah harapan.
"Tapi itu tergantung padanya," Leonardo berdiri lagi. "Dan tergantung seberapa banyak kerusakan yang sudah dia buat."
Dia kembali ke samping Andrey. "Berapa lama kau butuh untuk bersihkan semua jejak digital dia?"
Andrey mengetik di tabletnya. Menunjukkan angka.
"Dua belas jam?" Leonardo mengangguk. "Cukup. Marco akan sampai Jakarta sekitar empat jam lagi. Dia ambil target sekitar jam tujuh malam waktu Jakarta. Kau punya waktu sampai besok pagi untuk pastikan tidak ada backup data yang tersisa di mana pun."
Andrey mengangguk. Kembali mengetik dengan fokus penuh.
Aku menatap mereka berdua. Leonardo yang tenang seperti sedang mengatur rapat bisnis biasa. Andrey yang fokus pada layarnya seperti sedang main game komputer.
Padahal mereka sedang merencanakan penculikan. Mungkin pembunuhan.
Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.
"Aku... aku mau ke kamar," bisikku sambil berdiri dengan kaki gemetar.
"Kau belum sarapan," Leonardo menunjuk piringku yang masih penuh.
"Saya tidak lapar."
"Nadira..."
"AKU TIDAK LAPAR!" teriakku tiba-tiba. Emosi yang sudah kutahan akhirnya meledak. "Bagaimana aku bisa makan kalau aku tahu teman ku akan diculik dan mungkin dibunuh karena dia cuma khawatir pada ku?!"
Hening.
Andrey berhenti mengetik untuk sesaat. Melirik ke arahku dengan tatapan yang sulit dibaca.
Leonardo hanya menatapku. Wajahnya tidak berubah. Masih tenang. Terlalu tenang.
"Kau boleh ke kamar," ucapnya akhirnya. "Tapi ingat satu hal, Nadira. Aku melakukan ini untuk melindungimu. Bukan untuk menyakitimu. Kalau Arman berhasil mengungkap identitasku, kalau RED ASHES terbongkar, akan ada perang. Perang yang akan menelan banyak nyawa. Termasuk nyawa orangtuamu."
Kata-kata itu seperti tamparan.
"Jadi ya, aku akan ambil temanmu. Aku akan interogasi dia. Dan kalau perlu, aku akan bunuh dia. Untuk melindungi apa yang jadi milikku. Termasuk kau." Dia melangkah mendekat. "Dan cepat atau lambat, kau akan mengerti bahwa semua yang kulakukan ini... demi kita."
Demi kita. Seperti kami pasangan normal yang punya tujuan bersama.
Padahal ini cuma obsesi satu arah dari monster yang kebetulan jatuh cinta atau entah apa pada wanita yang salah di waktu yang salah.
Aku berbalik. Berlari keluar ruang makan. Naik tangga dengan terburu-buru. Masuk ke kamarku dan membanting pintu.
Aku merosot di lantai. Menangis dengan sejadi-jadinya.
Arman. Maafkan aku. Maafkan aku yang tidak bisa menyelamatkanmu. Maafkan aku yang malah jadi alasan kau dalam bahaya.
Seharusnya aku tidak balas emailmu. Seharusnya aku biarkan saja. Atau seharusnya aku lebih tegas memintamu berhenti.
Tapi aku tahu, bahkan kalau aku lebih tegas, kau tidak akan berhenti. Karena kau memang seperti itu. Keras kepala. Idealis. Selalu ingin menegakkan keadilan.
Dan sekarang idealisme itu akan membunuhmu.
Aku menangis sampai tidak ada air mata lagi. Sampai tubuhku lelah dan akhirnya tertidur di lantai dengan baju yang masih sama dari pagi.
Saat terbangun, sudah sore. Cahaya matahari yang masuk dari jendela sudah berwarna oranye.
Aku bangkit dengan kepala pusing. Berjalan ke jendela. Menatap danau di kejauhan yang terlihat damai.
Tapi di tempat lain, sejauh ribuan kilometer dari sini, Marco sedang dalam perjalanan ke Jakarta.
Untuk menculik Arman.
Dan tidak ada yang bisa kulakukan untuk menghentikannya.
Tidak ada.
Karena aku cuma boneka dalam sangkar emas.
Boneka yang bahkan tidak bisa menyelamatkan temannya sendiri.