NovelToon NovelToon
Pendekar Naga Bintang : Perjalanan Yang Sesungguhnya

Pendekar Naga Bintang : Perjalanan Yang Sesungguhnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Anak Genius / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:110.8k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Lanjutan dari Novel Pendekar Naga Bintang

Gao Rui hanyalah murid lemah di Sekte Bukit Bintang, bocah yatim berusia tiga belas tahun tanpa latar belakang, tanpa pelindung, dan tanpa bakat mencolok. Setelah gurunya, Tetua Ciang Mu, gugur dalam sebuah misi, hidup Gao Rui berubah menjadi rangkaian hinaan dan penyingkiran. Hingga suatu hari, ia hampir mati dikhianati oleh kakak seperguruannya sendiri. Dari ambang kematian, Gao Rui diselamatkan oleh Boqin Changing, pendekar misterius yang melihat potensi tersembunyi dalam dirinya.

Di bawah tempaan kejam Boqin Changing di dunia khusus tempat waktu mengalir berbeda, Gao Rui ditempa bukan untuk cepat menjadi kuat, melainkan untuk tidak runtuh. Ketika kembali, ia mengejutkan sekte dengan menjuarai kompetisi bela diri dan mendapat julukan Pendekar Naga Bintang. Namun perpisahan dengan gurunya kembali memaksanya berjalan sendiri. Kali ini, Gao Rui siap menghadapi dunia persilatan yang kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan Patriak

Gerbang kediaman patriak tertutup kembali perlahan di belakang mereka, meredam suara dunia luar. Begitu melangkah masuk, suasana langsung berubah. Udara di dalam terasa lebih hangat, lebih tenang, seolah setiap tarikan napas telah disaring oleh formasi halus yang tertanam di dinding dan lantai rumah itu.

Gao Rui dan Xu Qung berjalan berdampingan melewati lorong utama. Lantai kayu hitam mengilap memantulkan cahaya lembut dari lentera kristal yang tergantung rapi. Tidak ada kemewahan berlebihan, namun setiap detail memancarkan wibawa seorang pemimpin sekte besar.

Di ruang utama, seorang pria paruh baya telah menunggu. Jubahnya berwarna biru tua dengan sulaman rasi bintang keperakan di bagian dada. Rambutnya disisir rapi, sebagian telah memutih di pelipis, namun wajahnya tampak segar dan matanya tajam penuh kehidupan. Ia berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung, posturnya tegak namun santai. Itulah Patriak Sekte Bukit Bintang, Li Xuang.

Begitu melihat mereka masuk, Li Xuang tersenyum tipis. Senyum yang tidak dibuat-buat, namun juga tidak merendahkan wibawanya.

“Tetua Agung,” katanya tenang, “kau datang tepat waktu.”

Xu Qung menangkupkan tangan sedikit.

“Patriak.”

Tatapan Li Xuang kemudian beralih kepada Gao Rui. Untuk sesaat, ia mengamatinya dengan saksama, bukan dengan tekanan atau niat menguji, melainkan seperti seseorang yang sedang menilai sebuah batu giok mentah bernilai tinggi.

“Hohoho, Rui’er...” ujarnya sambil tersenyum. “Murid yang membuat sejarah di sekte ini.”

Gao Rui segera melangkah setengah langkah ke depan dan menangkupkan tangan dengan hormat.

“Hormat murid kepada Patriak.”

Li Xuang mengangguk puas.

“Tidak perlu terlalu tegang. Anggap saja ini percakapan antara orang-orang sekte.”

Xu Qung melangkah sedikit ke samping, memberi ruang. Ia tidak duduk, hanya berdiri di sisi ruangan, posisinya tenang namun jelas menunjukkan dukungan.

Gao Rui memperhatikan sekeliling dengan cepat dan diam-diam. Ruangan itu luas, namun kosong. Tidak ada tetua lain. Tidak ada murid inti. Bahkan tidak terlihat bayangan peringkat kedua kompetisi beladiri murid sekte.

Kesadaran itu membuat pikirannya sedikit bergerak. Tidak ada yang lain… Artinya jelas. Undangan ini bukan pertemuan umum. Bukan penghargaan simbolis. Ini adalah pemanggilan khusus. Hanya dirinya.

Beberapa pelayan masuk dengan langkah ringan. Mereka menunduk hormat, lalu meletakkan nampan berisi cangkir teh hangat di meja rendah di tengah ruangan. Aroma teh menyebar lembut, menenangkan pikiran. Setelah itu, para pelayan mundur tanpa suara, menutup pintu perlahan hingga ruangan kembali sunyi.

Barulah setelah tidak ada orang lain di sana, Li Xuang bergerak. Ia duduk di kursi utama, lalu memberi isyarat ringan agar Gao Rui duduk di hadapannya. Xu Qung juga ikut duduk di samping patriak.

Li Xuang mengangkat cangkir tehnya, menyesap sedikit, lalu meletakkannya kembali.

“Rui’er,” katanya, suaranya kini lebih serius namun tetap hangat, “pertama-tama, izinkan aku mengucapkan selamat.”

Ia menatap lurus ke mata bocah itu.

“Kau memenangkan kompetisi beladiri murid sekte dengan kemampuanmu sendiri. Tanpa kecurangan. Tanpa perlindungan tersembunyi. Dan yang lebih penting… dengan usia tiga belas tahun.”

Gao Rui menunduk sedikit.

“Terima kasih, Patriak.”

Li Xuang tersenyum tipis.

“Kerendahan hati itu baik. Tapi jangan meremehkan pencapaianmu sendiri. Apa yang kau lakukan… belum pernah terjadi dalam sejarah Sekte Bukit Bintang.”

Ia mengangkat tangannya. Dari cincin ruang di jarinya, cahaya lembut berkilat satu per satu. Beberapa benda muncul di atas meja.

Sebuah kotak kayu giok ukuran sedang. Sebotol pil berwarna keemasan dengan aura padat. Sebuah gulungan teknik yang disegel dengan benang spiritual. Dan sebuah lencana perak berbentuk bintang berujung lima.

“Ini adalah sebagian dari sumber daya sekte,” ujar Li Xuang. “Pil pemurnian dasar tingkat tinggi, cukup untuk menstabilkan fondasimu dalam waktu lama. Gulungan teknik ini berisi teknik pedang warisan sekte, hanya boleh dipelajari oleh murid yang diakui langsung oleh patriak. Dan kotak itu…”

Ia mengetuk ringan kotak giok tersebut.

“Berisi akar teratai hitam. Berkualitas tinggi.”

Mata Gao Rui tidak membelalak. Tidak ada reaksi berlebihan. Namun di dalam hatinya, ia tahu nilai benda-benda itu. Bagi murid biasa, bahkan murid inti, sumber daya semacam ini nyaris mustahil diperoleh. Ini jelaa pemberian bernilai besar.

Ia berdiri, menangkupkan tangan dengan sungguh-sungguh.

“Murid berterima kasih atas anugerah Patriak. Gao Rui tidak akan menyia-nyiakannya.”

Li Xuang mengangguk puas. Tatapannya lalu sedikit melunak.

“Ada satu hal lagi,” katanya pelan.

Ia menggeser lencana perak itu ke depan.

“Mulai hari ini, secara resmi, Sekte Bukit Bintang akan menganugerahkan kepadamu sebuah julukan.”

Gao Rui mengangkat kepala.

“Julukan itu adalah…” Li Xuang berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara tegas,

“Pendekar Naga Bintang.”

Ruangan itu seolah menjadi lebih hening. Julukan. Bukan sekadar gelar kosong. Dalam dunia persilatan, julukan adalah pengakuan. Pernyataan bahwa seseorang telah diakui sebagai simbol dari sekte atau aliran tertentu.

Xu Qung menoleh ke arah Gao Rui. Untuk sesaat, ada kilatan emosi halus di matanya. Gao Rui terdiam. Di benaknya, terngiang suara terakhir gurunya, Boqin Changing. Kata-kata yang diucapkan tanpa upacara, di depan patriak dan tetua agungnya.

“Pendekar Naga Bintang.”

Ia menutup mata sejenak, lalu membukanya kembali. Ia berdiri, menangkupkan tangan, dan membungkuk lebih dalam dari sebelumnya.

“Murid… menerima.”

Ia mengangkat kepala, tatapannya jernih dan tenang.

“Sebagai Pendekar Naga Bintang, Gao Rui bersumpah tidak akan mencoreng nama sekte, tidak akan menyimpang dari jalan lurus, dan tidak akan melupakan asal-usulnya.”

Li Xuang tersenyum lebar. Bukan senyum patriak yang penuh perhitungan, melainkan senyum seorang pemimpin yang merasa keputusannya tepat.

“Bagus,” katanya. “Sangat bagus.”

Di dalam ruangan itu, tanpa sorak, tanpa saksi lain, posisi Gao Rui di Sekte Bukit Bintang telah berubah selamanya.

Li Xuang kembali bersandar di kursinya. Senyumnya perlahan memudar, digantikan ekspresi tenang namun sarat makna. Jari-jarinya mengetuk ringan sandaran kursi, seolah menimbang kata-kata yang akan ia ucapkan berikutnya.

“Rui’er,” katanya kembali, kali ini dengan nada yang lebih dalam, “ada alasan mengapa aku memanggilmu secara khusus ke tempat ini.”

Gao Rui duduk tegak. Ia sudah menduganya. Semua yang terjadi sejauh ini, hadiah, julukan, bahkan suasana percakapan jelas bukan hanya tentang kompetisi murid sekte internal.

Li Xuang menatapnya lurus, tanpa mengelak.

“Dua bulan lagi,” lanjutnya, “akan diselenggarakan Pertarungan Murid Sekte Kekaisaran Zhou. Tempatnya… Sekte Pedang Langit.”

Xu Qung yang sejak tadi diam, sedikit menyipitkan mata. Sementara Gao Rui tetap tenang, meski di dalam hatinya gelombang pemikiran mulai bergerak. Sekte Pedang Langit.

Li Xuang melanjutkan, seolah membaca reaksi mereka berdua.

“Kompetisi itu bukan sekadar pertarungan antar murid. Itu adalah panggung tempat kekaisaran menilai kekuatan generasi muda dari setiap sekte besar. Panggung tempat reputasi sekte dipertaruhkan.”

Ia menghela napas pelan.

“Dan selama lima kali penyelenggaraan terakhir berturut-turut, murid Sekte Pedang Langit selalu keluar sebagai juara.”

Tidak ada nada cemburu dalam suaranya. Hanya pengakuan fakta.

“Hal itu wajar,” sambung Li Xuang. “Sekte Pedang Langit diakui sebagai sekte aliran putih terbesar dan terkuat di Kekaisaran Zhou. Fondasi mereka dalam, warisan mereka panjang, dan sumber daya mereka… melimpah.”

Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum samar.

“Banyak orang menyebut mereka puncak dunia persilatan.”

Gao Rui mendengarkan tanpa menyela. Ia sudah lama memahami hierarki dunia ini. Dalam struktur besar kekaisaran, nama Sekte Pedang Langit memang berada di posisi yang hampir tak tergoyahkan.

“Adapun Sekte Bukit Bintang,” lanjut Li Xuang, “saat ini dianggap sebagai sekte aliran putih terkuat kedua.”

Kata kedua tidak diucapkan dengan nada rendah, melainkan tenang dan jujur.

“Kita kuat. Kita disegani. Namun… masih ada jarak yang belum bisa ditembus.”

Ruangan kembali hening. Lentera kristal di atas mereka berayun pelan, memantulkan cahaya lembut di wajah ketiganya.

Li Xuang kemudian mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.

“Rui’er,” katanya perlahan, “kau tahu mengapa aku memberimu julukan hari ini?”

Gao Rui berpikir sejenak, lalu menjawab jujur,

“Karena murid telah melampaui batas yang seharusnya bagi usianya.”

Li Xuang tersenyum kecil.

“Itu salah satunya.” Ia mengangguk. “Namun yang lebih penting… karena aku melihat kemungkinan.”

Ia menatap mata Gao Rui dengan tajam.

“Kemungkinan untuk mematahkan dominasi Sekte Pedang Langit.”

Xu Qung akhirnya berbicara, suaranya rendah namun mantap.

“Patriak…”

Li Xuang mengangkat tangan, memberi isyarat agar ia tidak melanjutkan. Pandangannya tidak beralih dari Gao Rui.

“Aku tahu,” katanya tenang. “Beban ini berat. Terutama bagimu.”

Ia menghela napas, lalu bersandar kembali.

“Namun dunia persilatan tidak menunggu seseorang tumbuh dengan nyaman. Dunia ini kadang hanya melihat hasil.”

Gao Rui menunduk sedikit, lalu mengangkat kepalanya kembali.

“Patriak,” katanya dengan suara jernih, “apakah Sekte Bukit Bintang akan mengirim murid lain?”

Li Xuang mengangguk.

“Tentu. Murid terbaik lainnya akan ikut serta. Namun…” Ia berhenti sejenak. “Perhatian utama mereka akan tertuju padamu.”

Tidak ada kebohongan di sana.

“Mulai saat ini,” lanjut Li Xuang, “setiap langkahmu akan diperhatikan. Oleh sekte lain. Oleh kekaisaran. Dan tentu saja… oleh Sekte Pedang Langit.”

Ia tersenyum tipis.

“Mereka sekarang mungkin belum menganggapmu ancaman. Tapi itu hanya soal waktu.”

Gao Rui mengepalkan tangannya perlahan di bawah meja, lalu mengendurkannya kembali. Ekspresinya tetap tenang.

“Patriak percaya aku bisa menjadi juara?” tanyanya pelan.

Li Xuang tidak menjawab segera. Ia menatap cangkir tehnya, lalu menatap kembali bocah di hadapannya. Ia lalu tertawa kecil...

“Aku sangat percaya,” katanya jujur. “Aku telah memimpin sekte ini puluhan tahun. Aku tahu betapa kejamnya kompetisi itu.”

Ia berhenti.

“Namun dengan kekuatanmu, aku yakin kau yang akan menjadi juaranya.”

Tatapannya mengeras, penuh keyakinan.

“Bukan sekadar berharap. Aku percaya bahwa Gao Rui… Pendekar Naga Bintang… memiliki peluang terbesar untuk menjadi juara.”

Kata-kata itu menggema dalam dada Gao Rui.

“Dua bulan lagi...,” lanjut Li Xuang, “akan menjadi masa persiapan terpenting. Sumber daya, perlindungan, dan wewenang tertentu akan kuberikan. Namun satu hal tidak bisa kuberikan.”

Ia menatap Gao Rui dengan tajam.

“Tekad.”

Gao Rui berdiri. Ia menangkupkan tangan, lalu membungkuk dalam.

“Murid tidak berani menjanjikan kemenangan mutlak,” katanya tenang. “Namun murid berjanji… akan bertarung sampai batas terakhir kemampuan ini.”

Ia mengangkat kepalanya, matanya jernih tanpa keraguan.

“Dan tidak akan membiarkan Sekte Bukit Bintang dipermalukan.”

Li Xuang tertawa pelan. Tawa pendek, namun penuh kepuasan.

“Bagus,” katanya. “Sangat bagus.”

Xu Qung menatap Gao Rui, lalu mengangguk perlahan. Dalam hatinya, ia tahu mulai hari ini, jalan bocah itu tidak akan pernah sama lagi.

Di kediaman patriak yang sunyi itu, keputusan telah diambil. Dua bulan ke depan… dunia persilatan Kekaisaran Zhou akan mulai bergerak. Sosok yang akan mengguncang masa depan dunia persilatan Kekaisaran Zhou akan keluar dari sektenya.

1
Zainal Arifin
joooooooosssss 💪💪💪
Kadek Erdiyasa
semangat thor💪💪 perbanyak lgi upnya mkin seru critanya ni
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagi 🔁🔁
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
Eko Lana
mantap ayooo tunjukkan kemampuan mu Gao Rui
Andi Heryadi
ayo Gao Rui basmi semua siluman,biar mereka tahu kehebatanmu.
Tosari Agung
persis seperti gurunya chang er muridmu berkembang
Mamat Stone
🐲💥
Mamat Stone
Pria sejati 😈💥
Mamat Stone
🔪💥
Mamat Stone
👊💥
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Tongue/
Mamat Stone
/Drool/
Mamat Stone
💥
Mamat Stone
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!