Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri.
Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie.
Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn.
Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertamuan Dengan Ibu Baskara
Pertemuan Ririn dengan ibu Baskara berjalan jauh di luar perkiraan keduanya. Tidak ada ketegangan canggung seperti yang Ririn bayangkan sejak tadi di perjalanan. Justru suasana hangat langsung terasa sejak langkah pertama mereka memasuki ruang tamu.
“Mah,” ujar Baskara sambil melirik Ririn sejenak, seolah memberi isyarat agar dia tenang. “Ini Ririn, calon istri Bas.”
Ririn refleks menelan ludah, lalu melangkah maju dengan sopan.
“Tante, saya Ririn,” ucapnya pelan sambil mencium tangan ibu Baskara.
Riani tersenyum lembut. Tangannya yang hangat menahan tangan Ririn sedikit lebih lama, matanya menatap Ririn dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan penuh perhatian bukan menilai, tapi seolah ingin mengenalnya lebih dalam.
“Oh…” ucap Riani pelan, masih tersenyum. “Jadi ini yang namanya Ririn.”
Matanya kemudian melirik ke arah Baskara, senyum di bibirnya berubah sedikit menggoda.
“Cantik ya, Bas.”
Baskara berdeham kecil, sedikit kikuk.
“Mah,”
Ririn tersenyum malu, pipinya menghangat mendengar ucapan itu. dia menunduk sopan, tak berani terlalu lama menatap.
Mereka duduk hampir bersamaan di sofa. Riani mengambil posisi di hadapan mereka, sikapnya santai tapi sorot matanya serius seperti seorang ibu yang ingin memastikan sesuatu yang penting.
“Jadi,” Riani membuka pembicaraan, menatap Baskara lalu beralih ke Ririn. “Kalian datang ke sini mau minta izin menikah?”
“Iya, Mah,” jawab Baskara mantap.
Riani mengangguk pelan. Senyumnya meredup sedikit, berganti ekspresi penuh makna.
“Bas,” katanya lembut tapi tegas, “pernikahan itu bukan hal main-main itu suci, dan butuh tanggung jawab besar.”
Riani lalu menatap Ririn dengan sorot mata yang sama hangatnya.
“Kalian paham, kan?”
Baskara dan Ririn sama-sama menunduk sejenak. Kata-kata itu terasa masuk ke hati mereka, terutama Ririn, yang dadanya mendadak terasa sesak.
“Iya, Mah,” kata Baskara akhirnya. “Makannya Bas ke sini minta restu mamah.”
Baskara melirik Ririn sebentar, seolah memastikan gadis itu baik-baik saja, lalu kembali menatap ibunya.
Riani tersenyum lagi, kali ini lebih lembut.
“Mamah pasti dukung kamu, Bas. Dan mamah selalu doain kebahagiaan kamu.”
“Terima kasih, Mah,” ucap Baskara tulus, Riani lalu menoleh ke arah Ririn.
“Kamu sudah bicara dengan keluarga kamu, Rin?”
Ririn tersentak kecil, bukan karena pertanyaan itu mengejutkan, tapi karena dia baru benar-benar menyadari kenyataan yang selama ini berusaha dia abaikan.
Dia tersenyum kikuk, jarinya saling menggenggam.
“Euh, orang tua saya sudah meninggal, Tante,” ucapnya pelan. “Saya anak tunggal dan keluarga semuanya tinggal di luar negeri.”
Sejenak mata Riani terlihat nanar. Ada kilat rasa iba yang cepat sekali muncul, namun segera dia sembunyikan di balik senyum yang hangat dan menenangkan.
Riani menggeser duduknya sedikit lebih dekat ke Ririn, lalu menggenggam tangan Ririn dengan lembut.
“Sekarang,” katanya pelan, “Ririn punya ibu.”
Mata Ririn langsung berkaca-kaca.
“Terima kasih, Tante,”
Riani tersenyum sambil mengusap punggung tangan Ririn.
“Kalau Ririn mau, panggil tante ‘mamah’ saja.”
Kalimat sederhana itu membuat dada Ririn bergetar. dia mengangguk pelan, suaranya nyaris tak keluar.
“Iya, Mah.”
Baskara memperhatikan pemandangan itu dalam diam. Ada sesuatu yang mengusik di dadanya.perasaan lama yang hampir dia lupakan. Dulu, dia juga selembut itu dulu, dia juga hangat seperti ibunya.
Pertemuan itu berlanjut dengan obrolan ringan. Riani banyak bertanya tentang Ririn tentang pekerjaannya, kesehariannya, hal-hal kecil yang justru membuat Ririn merasa diterima apa adanya. Tawa kecil beberapa kali terdengar, mencairkan suasana sepenuhnya.
Saat mereka pamit, Riani bahkan sempat memeluk Ririn dengan penuh kasih.
“Jaga Bas baik-baik ya, Rin,” ucapnya lembut. “Dia kelihatan kuat, tapi sebenarnya anaknya rapuh.”
Ririn mengangguk pelan.
“Iya, Mah.”
Hari itu berakhir dengan kesan hangat. Riani jelas sangat menyukai Ririn dan tanpa Ririn sadari, pertemuan itu perlahan menanamkan ikatan yang akan membuat segalanya menjadi jauh lebih rumit ke depannya.