NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tak Terduga

Pewaris Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Percintaan Konglomerat / Konflik etika / CEO Amnesia
Popularitas:72
Nilai: 5
Nama Author: Her midda

Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Malam turun tanpa suara di Pradikta Group cabang satu.

Lampu di ruang pimpinan masih menyala, memantulkan bayangan dua sosok di balik dinding kaca...seorang ayah dan seorang anak, terikat oleh darah sekaligus ambisi yang terluka.

Arya berdiri di dekat jendela, jasnya masih rapi seolah ia menolak mengakui kenyataan bahwa pusat kekuasaan kini bukan lagi miliknya. Di tangannya, ponsel tergeletak dengan layar mati...berita tentang Pradikta Group yang kembali sepenuhnya ke tangan Gibran sudah ia baca berulang kali, namun tak satu pun mampu ia terima.

Di kursi seberang meja, Zane duduk tegang. Wajahnya muda, namun matanya menyimpan kegelisahan yang tak kalah dalam. Keputusan dewan direksi itu bukan hanya menjatuhkan ayahnya, tetapi juga menyeretnya ke posisi yang tak pernah ia pilih.

Malam itu, tidak ada percakapan basa-basi. Hanya kebenaran pahit dan kemarahan yang mencari jalan keluar.

“Jadi… semuanya benar-benar berakhir di sana.”

Arya tidak menoleh. Rahangnya mengeras.“Tidak. Ini hanya cara mereka menyingkirkanku dengan sopan.”

Ia berbalik perlahan, menatap Zane dengan mata tajam.“Mereka menyerahkan perusahaan itu kembali ke Gibran, seolah aku tidak pernah melakukan apa pun untuk Pradikta Group.”

Zane mengepalkan tangan.

“Aku juga tidak terima, Pa. Keputusan itu… seolah kita ini kesalahan yang harus disingkirkan.”

Arya tertawa pendek, pahit.

“Gibran selalu pandai bermain sebagai korban. Mati sebentar, lalu kembali sebagai pahlawan.”

Ia melangkah mendekat ke meja, menekan telapak tangannya di atasnya.

“Dan semua orang langsung lupa siapa yang selama ini menjaga perusahaan tetap berdiri.”

Zane mengangkat kepala, suaranya lebih rendah namun penuh tekanan.“Kalau perusahaan itu terus di tangannya… kita tidak akan punya tempat.”

Arya menatap putranya lama, lalu mengangguk pelan.“Itulah sebabnya aku tidak akan membiarkannya.”

Zane menelan ludah.“Bagaimana caranya?”

Arya tersenyum tipis...senyum yang dingin dan penuh perhitungan.“Setiap kekuasaan punya celah. Dan Gibran… terlalu percaya pada orang-orang di sekelilingnya.”Ia mendekat, suaranya nyaris berbisik.“Kita akan menunggu. Mengamati. Dan saat waktunya tiba… kita rebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku.”

Zane berdiri, berdampingan dengan Arya di depan jendela. Kota terbentang di hadapan mereka, berkilau namun terasa jauh.“Kalau kita melangkah sejauh itu… tidak ada jalan kembali.”

Arya menoleh, menatap putranya tanpa ragu.“Aku sudah tidak punya apa-apa untuk kembali, Zane.”

Ia mengangkat dagunya sedikit.

“Bagaimanapun caranya, Pradikta Group akan kembali ke tangan kita. Dan Gibran… akan merasakan apa artinya kehilangan.”

Zane terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. Ia melihat Arya bukan sebagai korban... melainkan ancaman yang sedang bersabar.

********

Pagi itu, ruang rapat utama Pradikta Group dipenuhi cahaya matahari yang masuk melalui dinding kaca setinggi langit-langit. Meja panjang berlapis kayu gelap tampak rapi, kursi-kursi eksekutif telah terisi, dan puluhan pasang mata tertuju ke satu sosok yang berdiri di ujung meja.

Gibran Pradikta.

Untuk pertama kalinya, ia berdiri di sana bukan sebagai bayangan, bukan sebagai nama yang disembunyikan, bukan pula sebagai sosok yang dianggap telah mati. Hari pengesahan itu telah berlalu. Hari di mana kebenaran akhirnya berdiri tegak, dan perusahaan ini...yang sejak awal adalah darah dan napas keluarganya...kembali ke tangannya.

Gibran mengedarkan pandangan, lalu tersenyum. Bukan senyum kemenangan yang angkuh, melainkan senyum lega. Senyum seseorang yang telah berjalan terlalu jauh, jatuh terlalu dalam, dan akhirnya berhasil kembali berdiri.

Dalam hatinya, ia berucap syukur.

Semua pengorbanan itu tidak sia-sia.

Namun di tengah gemuruh pencapaian, pikirannya justru melayang… pada seorang gadis sederhana dengan mata jujur dan senyum yang selalu tampak rapuh tapi tulus.

Nadia.

Beberapa hari telah berlalu sejak pertemuan mereka di rumah kecil itu. Sejak tatapan canggung, kata-kata yang tertahan, dan perasaan yang tak sempat ia jelaskan sepenuhnya. Gibran menarik napas pelan.

Bagaimana keadaannya sekarang?

“Aku ingin mengucapkan terima kasih,” suara Gibran terdengar tenang namun tegas, memecah keheningan ruang rapat. “Bukan hanya atas kepercayaan kalian hari ini, tapi juga atas kesediaan untuk tetap bertahan… di tengah kekacauan yang sempat melanda perusahaan ini.”

Beberapa direktur saling bertukar pandang, lalu mengangguk.

“Kita semua tahu,” lanjut Gibran, jemarinya bertumpu di meja, “Pradikta Group hampir kehilangan arah. Dan aku… hampir kehilangan segalanya.” Ia tersenyum tipis. “Tapi hari ini, kita memulai ulang. Bersama.”

Tepuk tangan menggema. Hangat. Tulus.

Di sela itu, Rangga yang duduk tak jauh darinya mencondongkan tubuh, berbisik pelan, “Kau berhasil, Bran. Mendiang Ayahmu pasti bangga.”

Gibran menoleh sekilas, matanya berkilat.“Semoga,” jawabnya singkat. “Aku hanya ingin memastikan semua ini… benar-benar selesai.”

Rangga tersenyum samar, seolah tahu, ada satu hal yang belum benar-benar usai di hati sahabatnya.

Beberapa saat kemudian, rapat ditutup. Ruangan kembali lengang. Gibran berdiri sendiri di balik jendela kaca, menatap kota yang bergerak tanpa henti di bawah sana. Tangannya merogoh saku jas, mengeluarkan ponsel.

Nama Nadia tertera di layar.

Ia terdiam cukup lama, jarinya menggantung di udara.

“Bagaimana kabarmu sekarang…?” gumamnya lirih, lebih pada dirinya sendiri.

Kenangan pertemuan terakhir itu kembali berkelebat...Ia tahu, gadis itu masih menyimpan banyak pertanyaan. Dan kini, tak ada lagi alasan baginya untuk bersembunyi.

Gibran menghembuskan napas panjang.

“Sedikit lagi,” bisiknya pelan. “Tunggu aku, Nadia.”

Di luar sana, dunia mungkin melihatnya sebagai pemimpin baru Pradikta Group.

Namun di dalam hatinya, Gibran tahu… ada satu peran yang jauh lebih penting yang belum ia tuntaskan...

menjadi laki-laki yang jujur atas perasaannya sendiri.

Selama menjabat sebagai CEO perusahaan, tentunya Gibran sudah terbiasa berada di tengah perempuan-perempuan cantik, cerdas, berkelas, dan berasal dari keluarga ternama. Mereka hadir dengan pesona yang nyaris sempurna, dengan percakapan yang terukur dan sikap yang selalu tahu bagaimana menempatkan diri di dunia elit yang sama dengannya. Namun anehnya, tak satu pun dari mereka mampu tinggal lama di benaknya.

Justru Nadia.

Gadis sederhana itu datang tanpa gemerlap, tanpa ambisi yang berlebihan, tanpa upaya untuk terlihat istimewa. Senyumnya lembut, tutur katanya jujur, dan matanya selalu memancarkan ketenangan yang sulit dijelaskan. Gibran sering kali bertanya pada dirinya sendiri... dari sekian banyak perempuan yang “seharusnya” cocok dengannya, mengapa justru sosok seperti Nadia yang mampu membius perasaannya?

Ia tak mengerti mengapa jantungnya kerap berdegup kencang setiap kali berada di dekat gadis itu. Mengapa tangannya terasa dingin, napasnya sedikit tercekat, dan pikirannya mendadak kehilangan kendali saat Nadia menatapnya dengan senyum kecil yang hangat. Semua reaksi itu terasa asing, mengganggu, sekaligus menakutkan bagi seseorang sepertinya.

Gibran mencoba menyangkalnya. Ia menyebutnya sekadar rasa penasaran, mungkin juga simpati. Namun jauh di lubuk hatinya, ada getar halus yang tak bisa ia abaikan... perasaan aneh yang muncul tiba-tiba, tumbuh diam-diam, dan semakin hari terasa semakin nyata.

Untuk pertama kalinya, Gibran diliputi kebingungan yang tak mampu ia jelaskan dengan logika. Dan di tengah kebingungan itu, sebuah pertanyaan sederhana muncul di benaknya. Apakah tanpa ia sadari… ia mulai jatuh cinta pada Nadia?

bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!