NovelToon NovelToon
Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 17 – LIMA BAYANGAN

Mereka mulai merasa tidak sendirian sejak pagi itu.

Bukan karena suara, bukan karena jejak yang jelas. Melainkan karena cara hutan memandang balik. Raka merasakannya saat melangkah di antara batang-batang pohon yang rapat-seolah setiap celah menyimpan mata yang menunggu.

Langit tertutup awan tipis. Cahaya turun miring, membuat bayangan memanjang di tanah. Bayangan itu bergerak pelan mengikuti langkah mereka, lalu berhenti saat mereka berhenti.

Kelompok berjalan lebih rapat hari itu. Tidak ada yang mengatakannya, tapi semua menyesuaikan jarak. Seorang perempuan muda sesekali menoleh ke belakang, lalu mempercepat langkah ketika tidak menemukan apa-apa.

Raka berada dekat dengan nenek tua. Ia tidak lagi menyembunyikan kebiasaan itu. Rasa canggungnya telah digantikan kewaspadaan.

"Nek," bisiknya, "apakah kita sedang diikuti seseorang?"

Nenek itu tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangan, memberi isyarat agar Raka tetap berjalan.

Menjelang siang, mereka melintasi jalur sempit di tepi rawa kecil. Airnya tenang, permukaannya memantulkan langit pucat dan dedaunan. Saat Raka menatap ke air, ia melihat pantulan gerak yang bukan milik mereka.

Bukan satu.

Bukan dua.

Lima bayangan.

Ia berkedip, menoleh ke sekeliling. Tidak ada siapa pun di sana. Hanya rawa, pepohonan, dan angin yang menggerakkan ilalang. Hanya desir angin yang semakin membuat Raka tercekam.

"Nek…" suaranya bergetar.

Nenek tua itu berhenti. Ia menatap air sekilas, lalu menghela napas pelan.

"Jangan menatap terlalu lama," katanya. "Air suka mempermainkan pikiran."

Tapi Raka tahu. Bayangan itu terlalu teratur untuk disebut ilusi.

Perjalanan dilanjutkan dengan keheningan yang lebih berat. Setiap suara kecil-ranting patah, daun jatuh-membuat bahu menegang.

Sore hari, mereka menemukan tempat singgah di dataran berbatu. Bekas perapian lama terlihat, tanda orang lain pernah berhenti di sana. Tapi tidak ada jejak baru.

Api dinyalakan kecil. Asap dijaga rendah.

Seorang lelaki muda berdiri agak menjauh, memeriksa sekitar. "Saya merasa kita diawasi," katanya akhirnya, memecah keheningan.

Beberapa orang mengangguk. Tidak ada yang menertawakannya.

"Sudah sejak kemarin," sahut yang lain. "Tapi mereka tidak mendekat."

"Kenapa?" tanya perempuan paruh baya dengan suara tertahan.

Tidak ada yang menjawab.

Raka duduk memeluk lutut. Matanya mengikuti gerak api, lalu beralih ke gelap di balik cahaya. Ia merasa, di sana-di batas terang dan gelap-sesuatu berdiri menunggu.

Malam turun tanpa peringatan.

Api dipadamkan lebih awal. Mereka memilih gelap.

Di tengah malam, Raka terbangun.

Bukan karena mimpi. Karena perasaan ditatap.

Ia membuka mata perlahan. Gelap. Tapi tidak sepenuhnya. Cahaya bulan menyelinap di sela daun.

Di kejauhan, di antara batang pohon, sesuatu bergerak.

Lima sosok.

Tidak mendekat. Tidak menjauh. Hanya berdiri.

Raka menahan napas. Jantungnya berdentum begitu keras, ia takut suaranya terdengar.

Salah satu bayangan melangkah setengah depa ke depan. Lalu berhenti. Seolah memastikan mereka terlihat.

Kemudian… menghilang.

Seperti asap tertiup angin.

Raka menutup mulutnya, menahan desah yang hampir lolos. Tubuhnya gemetar.

Nenek tua itu sudah bangun. Ia duduk bersila, menatap ke arah yang sama.

“Tidur,” katanya pelan, tanpa menoleh.

“Tidak bisa Nek, takut” bisik Raka.

“Bisa,” jawab nenek itu singkat. “Kalau tidak, mereka menang.”

Raka menelan ludah. Ia memejamkan mata, memaksa napasnya pelan. Tapi tidur tidak datang.

Pagi tiba dengan tanda-tanda aneh.

Di dekat tempat mereka bermalam, ditemukan jejak kaki—lima pasang. Tidak masuk ke perkemahan. Tidak keluar. Seolah mereka hanya berputar di sekitar, memastikan kehadiran mereka diketahui.

Seorang lelaki memeriksa jejak itu. “Langkahnya ringan,” katanya. “Bukan orang sembarangan.”

Nenek tua itu mengangguk. “Mereka tidak ingin bertarung.”

“Lalu apa?” tanya yang lain.

“Menunggu,” jawabnya.

Hari itu mereka berjalan lebih cepat. Tidak ada percakapan panjang. Semua fokus pada langkah dan arah.

Di tengah perjalanan, Raka merasakan sesuatu jatuh di dekat kakinya. Ia menoleh.

Sebuah anak panah kecil tertancap di tanah. Bukan panah perang. Tidak bermata besi. Hanya kayu runcing, seperti penanda.

Pesan.

Tidak ada yang mengambilnya. Nenek tua itu menendangnya ke samping, menutupinya dengan tanah.

“Mereka ingin kita tahu jaraknya,” katanya. “Tidak lebih.”

Raka menggigil. Ia merasa seperti binatang buruan yang dibiarkan berlari, bukan untuk kabur, tapi untuk lelah.

Menjelang sore, bayangan itu muncul lagi. Kali ini di punggung bukit, siluet mereka jelas melawan langit senja.

Lima orang.

Diam.

Mengawasi.

Tidak ada senjata terangkat. Tidak ada teriakan.

Hanya kehadiran yang menekan dada.

Seorang perempuan muda menutup mulutnya, menahan isak.

“Nek Kenapa mereka tidak menyerang, apa yang sedang meraka ingin lakukan?” bisiknya.

“Jangan terlalu difikri nduk, persiapkan dirimu” jawab nenek tua itu. “Yang mereka lakukan barulah ini awal dari tujuan mereka.”

Malam kembali turun.

Raka duduk di dekat nenek tua, lebih dekat dari sebelumnya. Tidak ada jarak yang ia jaga lagi.

“Nek,” katanya lirih, “mereka mencari siapa?”

Nenek itu menatap api kecil yang hampir padam. “Kadang yang dicari bukan orangnya,” katanya. “Tapi reaksinya.”

Raka terdiam. Ia merasa kata-kata itu mengarah padanya.

Ia menunduk, memeluk lutut lebih erat. Di dalam dadanya, rasa takut berubah bentuk. Bukan lagi takut akan mati, tapi takut menjadi alasan orang lain mati.

Di kejauhan, seekor burung malam berteriak.

Dan di balik suara itu, lima bayangan kembali bergerak—tidak terlihat, tapi terasa.

Teror tidak lagi mengetuk pintu.

Ia sudah duduk di dalam, menunggu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!