Bagi Fatih, mencintai Zalina adalah sebuah ketidakmungkinan yang logis. Zalina adalah putri dosen terpandang, primadona kampus yang dikejar banyak lelaki bermobil mewah. Sementara Fatih? Ia hanyalah pemuda perintis usaha yang ke kampus pun masih menggunakan motor tua.
Ketika saingan terberatnya, Erlangga, maju membawa segala kemewahan dunia dan restu orang tua untuk melamar Zalina, Fatih tahu ia kalah telak dalam urusan harta. Logika menyuruhnya mundur, namun hati kecilnya menolak menyerah sebelum janur kuning melengkung.
Jika Erlangga sibuk mengetuk pintu rumah Zalina dengan hadiah-hadiah mahal, maka Fatih memilih jalan senyap. Ia mengetuk pintu langit di sepertiga malam. Ia merayu Sang Pemilik Hati dengan sujud-sujud panjang, menjadikan nama Zalina sebagai doa yang paling sering ia langitkan.
Ini adalah kisah tentang pertarungan dua cara mencintai: Jalur Bumi yang bising dengan pameran materi,
Siapakah yang pada akhirnya akan menjadi jodohnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moch Sufyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Mabuk Darat dan Bubur Ayam Legendaris
Minggu ke-6 Kehamilan.
Pukul 05.30 WIB.
Suara ayam berkokok di kejauhan bersahut-sahutan dengan suara... orang muntah.
Fatih terbangun bukan karena alarm, melainkan karena suara retching (muntah) yang menyiksa dari arah kamar mandi. Tempat tidur di sebelahnya kosong.
"Zal?"
Fatih melompat turun dari kasur, setengah berlari menuju kamar mandi sempit di belakang rumah kontrakan. Pintunya sedikit terbuka.
Di sana, Zalina sedang berlutut di depan kloset jongkok. Wajahnya pucat pasi seperti kertas, keringat dingin membasahi pelipisnya. Tubuhnya berguncang hebat setiap kali rasa mual itu datang.
"Hueek..."
Fatih langsung berlutut di samping istrinya. Ia memijat tengkuk Zalina dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menahan rambut panjang Zalina agar tidak terkena kotoran.
"Keluarin, Sayang... Keluarin aja," bisik Fatih cemas. Hatinya mencelos melihat istrinya menderita begini.
Zalina terbatuk-batuk, mengatur napasnya yang putus-putus. "Udah... kayaknya udah, Mas."
Zalina menyandar lemas ke dinding kamar mandi yang dingin. Matanya berair. "Rasanya nggak enak banget. Perutku kayak diaduk-aduk blender."
Fatih memapah Zalina berdiri, membantunya berkumur di wastafel kecil, lalu menuntunnya kembali ke kasur. Ia menyelimuti istrinya dengan selimut tebal, lalu berlari ke dapur membuatkan teh manis hangat—resep andalan ibunya kalau masuk angin.
Saat Fatih kembali membawa teh hangat, Zalina sudah meringkuk lagi sambil memegangi perutnya.
"Minum dulu, Zal. Biar anget."
Zalina menyeruput teh itu sedikit. Wajahnya sedikit lebih berwarna.
"Maafin aku ya, Mas," lirih Zalina.
"Maaf kenapa?"
"Mas Fatih jadi kurang tidur. Padahal nanti jam 8 harus meeting sama tim struktur di lokasi. Aku... aku ngerepotin terus."
Fatih tersenyum, mengusap pipi istrinya. "Zal, dengerin Mas. Kamu itu lagi berjuang membentuk manusia baru di dalam rahim kamu. Itu kerjaan paling berat di dunia. Mas cuma kurang tidur dikit, nggak ada bandingannya sama mual kamu."
Fatih mencium kening Zalina. "Masakin bubur ya? Atau mau roti bakar?"
Mendengar kata "masak", wajah Zalina berubah hijau lagi. "Jangan masak, Mas... Bau bawang goreng... aku nggak kuat..."
Zalina menutup hidungnya.
Fatih bingung. Padahal dia belum menyalakan kompor, tapi Zalina seolah sudah bisa mencium bau bawang imajiner. Inilah yang disebut hyperosmia pada ibu hamil; indera penciuman yang tajamnya ngalahin anjing pelacak polisi.
"Oke, oke. Nggak masak. Mas beli bubur di depan gang aja ya. Kamu istirahat."
Pagi itu, Fatih menyadari bahwa musuh barunya bukanlah Handoko, melainkan Hormon HCG. Musuh yang tidak bisa diajak negosiasi, tidak bisa disogok pasar rakyat, dan tidak bisa dilawan dengan demo mahasiswa.
Pukul 11.00 WIB. Lokasi Proyek Cluster Griya Harapan.
Matahari Padalarang sedang terik-teriknya. Debu proyek beterbangan. Suara excavator mengeruk tanah terdengar bising.
Fatih berdiri di tengah lapangan mengenakan rompi oranye dan helm proyek putih. Ia sedang berdebat—secara sehat—dengan Pak Maman, kepala mandor.
"Pak Maman, ini campuran semennya tolong diperhatiin ya. Jangan terlalu banyak pasir. Kita mau tekan biaya, tapi jangan korupsi kualitas. Ini rumah buat rakyat, Pak. Kasian kalau baru setaun udah retak rambut," tegas Fatih sambil menunjuk adukan semen.
"Siap, Mas Arsitek. Tenang aja. Saya udah pengalaman 20 tahun," jawab Pak Maman sambil menyeka keringat.
"Woy! Mas Fatih!"
Suara menggelegar memanggilnya. Bang Baron berjalan gagah mendekat. Penampilannya sudah berubah total. Tidak ada lagi jaket kulit dan kaos kutang. Baron kini mengenakan seragam satpam lengkap berwarna biru tua (meski kancing kemejanya terlihat sesak menahan perut buncitnya), lengkap dengan topi pet dan pentungan di pinggang.
Anak buahnya juga sama, berseragam rapi, menjaga setiap sudut proyek dengan wajah garang tapi disiplin. Tidak ada lagi preman mabuk. Mereka kini adalah Satuan Pengamanan Griya Harapan.
"Gimana, Bang? Aman?" tanya Fatih.
"Aman terkendali, Komandan!" Baron memberi hormat (sedikit kaku). "Tadi ada dua orang mencurigakan mau masuk motret-motret, langsung anak buah gue giring keluar. Katanya wartawan amplop suruhan sebelah."
"Bagus. Lanjutkan, Bang."
Baron mendekat, menurunkan suaranya. Wajah garangnya berubah menjadi wajah bapak-bapak yang kepo. "Eh, ngomong-ngomong... Mbak Zalina gimana? Gue denger dari Nisa katanya dia lagi isi ya?"
Berita kehamilan Zalina rupanya menyebar secepat virus di kalangan "keluarga besar" proyek ini.
Fatih tersenyum. "Iya, Bang. Baru 6 minggu. Doain ya."
"Alhamdulillah!" Baron menepuk punggung Fatih keras sekali sampai Fatih hampir terjungkal. "Tokcer juga lu, Tih! Arsitek mah beda ya, rancang bangunnya presisi!"
Fatih hanya bisa tertawa canggung mendengar candaan bapak-bapak itu.
"Tapi dia lagi mabok parah, Bang. Mual terus. Susah makan," curhat Fatih.
Baron mengangguk-angguk sok tahu. "Wah, itu fase 'ngidam', Tih. Gue anak lima, jadi gue khatam. Bini gue dulu pas hamil anak pertama, beuh... galaknya ngalahin macan. Gue napas aja salah di mata dia."
"Terus Abang gimana ngadepinnya?"
"Sabar. Kuncinya cuma satu: Iya-in aja." Baron memberi petuah bijak. "Dia bilang tembok warna item itu putih? Iya-in. Dia minta mangga muda jam 3 pagi? Cariin. Jangan pake logika, Tih. Hamil itu nggak logis. Itu emosional. Lu bantah dikit, dia nangisnya tiga hari tiga malem."
Fatih mencatat nasihat itu dalam hati. Iya-in aja.
"Oiya," Baron merogoh saku celananya, mengeluarkan bungkusan plastik hitam kecil. "Nih. Titipan dari bini gue. Rujak Cingur buatan dia sendiri. Katanya obat mual paling ampuh."
Fatih menerima bungkusan itu dengan haru. Preman paling ditakuti di Bandung Barat ini ternyata punya sisi manis.
"Makasih, Bang. Sampaikan salam buat Ibu."
Pukul 02.00 WIB (Dini Hari). Di Kontrakan.
Fatih sedang bermimpi indah. Dalam mimpinya, proyek perumahan sudah jadi, dia dan Zalina sedang piknik di taman bersama seorang anak kecil yang lucu.
Tiba-tiba, ada guncangan di bahunya.
"Mas... Mas Fatih..." suara isak tangis.
Fatih langsung terbangun, nyawanya belum kumpul 100%. "Hah? Kenapa? Ada maling? Ada api?"
Fatih menyalakan lampu tidur. Ia melihat Zalina duduk di sampingnya, menangis sesenggukan. Wajahnya basah air mata.
"Kenapa, Sayang? Perutnya sakit lagi?" Fatih panik, memegang perut Zalina.
Zalina menggeleng. "Bukan... hiks..."
"Terus kenapa nangis?"
Zalina menatap Fatih dengan mata sembab yang menyedihkan sekaligus menggemaskan.
"Aku... aku laper, Mas."
Fatih menghela napas lega. Kirain kenapa. "Ya Allah, kirain kenapa. Yaudah, Mas bikinin mie rebus ya? Atau roti?"
Zalina menggeleng lagi, makin kencang nangisnya. "Nggak mau mie... Nggak mau roti... Rasanya kayak karet..."
"Terus mau apa?"
Zalina menunduk, memainkan ujung selimut. "Aku mau... Bubur Ayam."
"Bubur ayam?" Fatih melirik jam dinding. Jam 2 pagi. "Sayang, tukang bubur depan gang baru lewat jam 6 pagi nanti. Tahan bentar ya?"
"Nggak mau bubur depan gang!" rengek Zalina. "Buburnya lembek banget. Aku mau Bubur Ayam 'Mang Oleh' yang di deket kampus lama aku. Yang kuahnya kuning, terus kerupuknya warna oranye."
Fatih terdiam. Kampus lama Zalina itu di daerah Dipatiukur. Jaraknya sekitar 10 kilometer dari kontrakan mereka di Dago Atas. Dan ini jam 2 pagi. Udara Bandung sedang dingin-dinginnya, mungkin sekitar 18 derajat Celcius.
"Zal... itu jauh banget. Dan belum tentu buka jam segini," Fatih mencoba bernegosiasi pakai logika (melupakan nasihat Bang Baron). "Lagian rasanya sama aja kan?"
Kesalahan fatal.
Tangis Zalina meledak. "Mas Fatih jahat! Mas Fatih males! Mas Fatih nggak sayang sama anaknya! Ini bukan aku yang mau, ini dedek bayi yang mau! Hwaaa!"
Fatih panik. Suara tangis Zalina bisa membangunkan tetangga (terutama Bu RT yang dinding rumahnya nempel).
"Ssst... Iya, iya! Mas berangkat! Mas berangkat sekarang!" Fatih langsung lompat dari kasur, menyambar jaket tebal dan kunci motor.
Zalina seketika berhenti menangis. "Beneran?"
"Iya beneran. Demi dedek bayi, gunung pun ku daki, lautan ku seberangi, apalagi cuma Dago-Dipatiukur," Fatih memaksakan senyum pahlawan, meski matanya masih lengket.
"Hati-hati ya, Mas. Jangan ngebut. Mintanya jangan pake kacang, jangan pake seledri, ati ampelanya dua tusuk, kerupuknya dipisah biar nggak lembek."
"Siap, Bos."
Fatih keluar rumah, menyalakan motor Supra bututnya. Brum... Suara motor memecah keheningan malam.
Perjalanan malam itu sungguh perjuangan. Angin malam menusuk sampai ke tulang rusuk, meski Fatih sudah pakai jaket rangkap dua. Jalanan sepi, hanya ada beberapa truk ekspedisi dan anjing liar.
Sesampainya di Dipatiukur, ternyata Bubur Ayam Mang Oleh... TUTUP.
Fatih lemas. Ia menatap gerobak yang tertutup terpal itu dengan putus asa. Kalau dia pulang tangan kosong, bisa terjadi perang dunia ketiga di rumah.
Fatih tidak menyerah. Ia berkeliling daerah itu. Mencari tukang bubur lain yang "mirip". Akhirnya, ia menemukan satu gerobak yang buka 24 jam di dekat Rumah Sakit Borromeus. Buburnya mirip, kuah kuning, kerupuk oranye.
"Mang, bubur satu. Bungkus. Jangan pake kacang, jangan pake seledri, ati ampela dua tusuk, kerupuk pisah," pesan Fatih cepat.
"Siap, Kang. Buat orang ngidam ya?" tanya si Mamang sambil terkekeh.
"Tau aja, Mang."
"Muka Akang keliatan muka-muka suami pasrah soalnya. Semangat Kang, pahala besar," ledek si Mamang.
Fatih tersenyum kecut. Pahala besar, bensin besar, ngantuk besar.
Fatih memacu motornya kembali menanjak ke arah Dago Atas. Ia memeluk bungkusan bubur itu di balik jaketnya agar tetap hangat sampai rumah.
Sesampainya di kontrakan, jam menunjukkan pukul 03.15 WIB.
"Assalamualaikum..." Fatih masuk dengan menggigil.
Zalina sudah menunggu di ruang tamu, matanya berbinar. "Wa'alaikumussalam! Mana Mas? Dapet?"
Fatih menyerahkan "harta karun" itu. "Dapet dong. Spesial buat kamu."
Zalina membuka bungkusan itu. Aromanya memenuhi ruangan. Zalina menyendoknya, memakannya dengan lahap.
"Hmm... Enak banget! Beda emang rasanya kalau Mang Oleh yang bikin," puji Zalina.
Fatih menahan diri untuk tidak memberitahu bahwa itu Bubur Mang Udin, bukan Mang Oleh. Biarlah itu menjadi rahasia ilahi demi keutuhan rumah tangga.
"Mas mau?" tawar Zalina.
"Nggak, Mas ngantuk. Mas tidur lagi ya, bentar lagi Subuh."
Fatih merebahkan diri di kasur. Baru saja matanya terpejam lima menit...
"Mas..."
"Hmm?"
"Aku mual lagi..."
Dan siklus itu berulang. Zalina lari ke kamar mandi, memuntahkan semua bubur yang baru saja diperjuangkan Fatih sejauh 20 kilometer.
Fatih memijat tengkuk istrinya lagi dengan sabar. Dalam hati ia berzikir: Sabar, Fatih. Surga itu mahal. Ini cicilannya.
Satu Bulan Kemudian. Usia Kehamilan 10 Minggu.
Fatih sedang presentasi di depan Pak Gunawan dan Investor di kantor Grand Horizon. Proyek berjalan lancar. Pondasi rumah-rumah subsidi sudah mulai dicor.
"...Dan untuk area pasar, kami sudah menyelesaikan struktur atap baja ringan. Targetnya bulan depan sudah bisa topping off," Fatih menjelaskan slide di layar.
Ponselnya di meja bergetar terus menerus. Fatih melirik. Panggilan dari Nisa.
Perasaan Fatih tidak enak. Nisa tidak akan menelepon jam kerja kalau tidak darurat. Zalina hari ini sedang di rumah sendirian karena merasa kurang enak badan.
"Maaf Pak Gunawan, saya izin angkat telepon sebentar. Darurat keluarga," pinta Fatih.
Gunawan mengangguk.
Fatih mengangkat telepon. "Halo, Nis?"
"Tih! Lu di mana? Zalina pingsan!" suara Nisa panik.
Jantung Fatih berhenti. "Pingsan? Di mana?"
"Di rumah. Tadi gue mampir mau ngasih buah, gue ketuk pintu nggak ada jawaban. Pas gue intip jendela, dia udah geletak di lantai ruang tamu. Sekarang gue lagi bawa dia ke IGD Rumah Sakit Limijati. Lu buruan ke sini!"
"Gue jalan sekarang!"
Fatih langsung menutup telepon, menyambar tasnya. Wajahnya pucat pasi.
"Pak Gunawan, saya harus pergi. Istri saya masuk rumah sakit," ucap Fatih cepat, tidak peduli lagi pada sopan santun rapat.
"Pergilah. Urusan lapangan biar Maman yang handle. Kabari saya kalau butuh bantuan," jawab Gunawan bijak.
Fatih berlari keluar gedung, memacu motornya seperti orang kesetanan membelah kemacetan Bandung. Pikirannya kalut.
Ya Allah, selamatkan istri dan anak hamba. Jangan ambil kebahagiaan ini... Hamba mohon...
Bayangan Zalina yang tergeletak di lantai menghantui Fatih sepanjang jalan. Apakah karena kelelahan? Apakah karena stres? Atau... apakah ada yang berbuat jahat lagi?
Sesampainya di IGD, Fatih langsung menerobos masuk. Ia melihat Nisa sedang duduk di ruang tunggu.
"Nis! Zalina gimana?"
"Lagi diperiksa dokter di dalem, Tih. Tenang dulu," Nisa menahan bahu Fatih yang gemetar. "Tadi dia sempet sadar dikit pas di mobil. Dia megangin perutnya terus."
Dokter jaga keluar dari tirai. Fatih langsung menghampiri.
"Dok, istri saya gimana? Kandungannya?"
Dokter itu, seorang wanita paruh baya yang terlihat tenang, tersenyum tipis. "Bapak suaminya Ibu Zalina?"
"Iya, Dok."
"Tenang Pak. Istrinya sudah sadar. Janinnya juga kuat, detak jantungnya bagus. Tidak ada pendarahan."
Fatih menghembuskan napas panjang. Kakinya lemas saking leganya. "Alhamdulillah... Terus kenapa dia pingsan, Dok?"
"Dehidrasi berat dan anemia, Pak," jelas Dokter. "Ibu Zalina cerita dia muntah-muntah terus tiap makan, jadi nutrisinya kurang. Ditambah tekanan darahnya rendah banget. Dia butuh dirawat inap 2-3 hari untuk infus nutrisi dan istirahat total. Nggak boleh banyak pikiran, nggak boleh kerja berat."
Fatih mengangguk cepat. "Lakukan yang terbaik, Dok. Saya akan jaga dia."
Fatih masuk ke balik tirai. Zalina terbaring lemah dengan infus di tangan kirinya. Wajahnya sangat pucat, bibirnya kering.
Melihat Fatih datang, Zalina mulai menangis. "Mas... maafin aku... aku nggak bisa jaga dedek..."
Fatih memeluk istrinya, mencium keningnya berkali-kali.
"Sstt... nggak boleh ngomong gitu. Kamu hebat. Dedek kuat. Ini salah Mas yang kurang perhatiin makan kamu. Sekarang kamu fokus sembuh ya. Urusan kantor, urusan rumah, biar Mas yang handle semua. Kamu ratu, kamu tidur aja."
Zalina mengangguk lemah, air matanya membasahi baju kerja Fatih.
Di momen itu, Fatih membuat keputusan besar. Uang termin kedua proyek sudah cair. Dia tidak akan menundanya lagi. Dia akan menyewa asisten rumah tangga untuk bantu-bantu di kontrakan, dan dia akan membeli mobil bekas. Murah tak apa, asal Zalina tidak perlu kepanasan atau kehujanan lagi naik motor.
Kesehatan keluarganya adalah prioritas nomor satu. Ambisi mengejar target proyek bisa nomor dua.
Dan di tengah cobaan medis ini, sebuah kejutan manis menanti. Saat USG nanti sore untuk mengecek kondisi janin lebih detail, Dokter akan memberitahukan satu hal yang membuat Fatih pingsan (hampir).
"Pak Fatih, Bu Zalina... coba lihat di layar. Ini detak jantungnya... ada dua."
KEMBAR.