Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.
Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.
Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Thaddeus mengetahui mitos itu
Malam itu berakhir tanpa percakapan panjang. Setelah menutup buku Heterochromia, Arion berdiri lebih lalu mengajak istrinya untuk kembali ke kamar.
Jemarinya masih menekan sampul buku itu, seolah ingin memastikan isinya tidak berubah ketika ia berpaling.
Chelyne memperhatikannya dari ranjang, tidak bertanya lagi. Ia tahu, ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan mengendap lebih dulu.
Arion berjalan menuju meja yang dipenuhi buku, ia membuka laci paling bawah meja kerjanya. Laci yang jarang disentuh, berisi dokumen lama, catatan pemerintahan, dan arsip yang tak lagi dibuka bertahun-tahun.
Buku Heterochromia ia letakkan paling bawah.
Ia ingin memastikan buku itu tidak mudah ditemukan oleh siapapun termasuk Greta.
Setelah itu, Arion kembali ke ranjang.
Chelyne sudah berbaring, selimut menutup hingga dada. Saat Arion mendekat, ia menoleh pelan
"Greta sudah tidur." Ujar Chelyne sambil mengelus kepala Greta.
Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan,
"Dia tidur memeluk toples kecilnya." Ujar Arion
Chelyne tersenyum tipis.
"Dia menyukai kumbang kecil itu."
"Lebih dari itu," jawab Arion pelan.
"Greta merasa tidak sendirian."
Mereka kembali diam. Malam itu, tidak ada keputusan baru. Hanya kesepakatan tak terucap bahwa apa pun yang tertulis di buku itu, hidup mereka harus tetap berjalan.
...****************...
Waktu berjalan pelan tidak terasa.
Greta tumbuh dari balita menjadi anak kecil berusia tiga tahun. Rambut cokelatnya mulai lebih panjang sebahu. Matanya yang berbeda warna kini tak lagi tampak asing bagi orang tuanya, justru menjadi bagian paling biasa dari dirinya.
Ia masih jarang keluar castle. Hari-hari Greta diisi dengan berjalan di koridor, bermain di taman dalam, dan mengamati serangga kecil yang kadang masuk lewat jendela.
Thaddeus, di sisi lain, tumbuh jauh lebih cepat.
Usianya menginjak tiga belas tahun. Tubuhnya mulai tinggi, bahunya mengeras, dan suaranya berubah perlahan. Ia mulai menghabiskan lebih banyak waktu di halaman latihan, memanah dan berlatih pedang bersama pengawal istana.
Dua tahun lagi, Thaddeus akan dikirim keluar kerajaan. Itu bukan rahasia. Semua bangsawan muda melaluinya. Mereka belajar strategi, bahasa asing, diplomasi, dan dunia di luar Castavia. Arion sering membicarakannya dengan para penasihat.
Chelyne mendengarnya dalam diam. Thaddeus sendiri jarang membahasnya.
Setiap kali topik itu muncul, ia hanya mengangguk, seolah itu adalah kewajiban yang harus diterima, bukan sesuatu yang benar-benar ia pahami.
Greta tidak mengerti apa artinya pergi. Baginya, Thaddeus selalu ada. Selalu menemaninya membaca gambar, membawakan daun dan batu kecil, atau berdiri di dekat jendela bersamanya saat ia melihat kakaknya latihan memanah dari jauh.
Saat terus latihan memanah, Thaddeus sesekali pergi ke tempat rakyat bersama beberapa pengawal.
Thaddeus pernah mendengar rakyat berkata mengapa matanya tidak mirip seperti ayahnya. Dan diusia yang baru 13 tahun itu, Thaddeus mulai menyadari bahwa ada mitos kerajaan. Ia hanya diam dan mendengarkan bisik-bisik rakyat.
"Mungkin ayah sengaja menyembunyikan mitos itu," batinnya
...****************...
Pagi itu Thaddeus kembali latihan memanah diluar castle. Panahnya selalu menancap tepat pada saran walau sesekali sering meleset.
Arion keluar dari kamar dan menemui Thaddeus yang sedang memanah
"Latihan lagi?" tanya Arion sambil berdiri dibelakang Thaddeus
Thaddeus mengangguk lalu mendekati ayahnya
"Ayah, aku ingin menanyakan sesuatu."
Thaddeus mungkin sudah menebak pertanyaan itu.
"Sewaktu aku pergi ke tempat rakyat, aku mendengar mereka saling bertanya kenapa mataku tidak mirip dengan ayah?"
Arion menghela nafas lalu mengajak putranya duduk disampingnya, didekat air pancuran itu.
"Itu faktor genetik, Thaddeus. Kita tidak bisa memaksakan itu." Ujar Arion
"Mungkin diusiamu sekarang kau sudah mengerti. Kau pernah mendengar mitos itu?" tanya Arion
"Aku mendengarnya dari rakyat." Jawabnya
"Jadi setelah mendengar itu, apa yang ada dipikiranmu?"
Thaddeus teringat ada seorang wanita juga yang mengatakan bahwa mitos kerajaan kembali beredar tentang kupu-kupu kaca dan heterochromia itu.
"Mereka berkata bahwa heterochromia hanya diturunkan kepada anak laki-laki dan dianggap baik sementara perempuan akan dianggap pembawa sial." Ujar Thaddeus agak gugup.
"Jadi setelah mendengar mitos itu, kau membenci adikmu?" tanya Arion
Thaddeus menghela nafas pelan, tidak mungkin Ia membenci adiknya sendiri.
"Aku tidak sanggup untuk membenci Greta, ayah. Tapi aku juga merasa iri mengapa bukan aku yang memiliki keturunan mata seperti ayah.” Ungkapnya jujur
Arion mengerti maskud Thaddeus, Ia juga tahu bagaimana perasaannya. Tapi ia sengaja menyembunyikan mitos itu supaya Thaddeus tidak membenci adiknya. Namun takdir berkata lain, justru Thaddeus mendengar mitos itu dari telinganya sendiri.
"Ayah tidak ingin kau membenci Greta. Kalau kau membencinya, sama saja kau membenci ibumu. Mereka sama-sama perempuan, kan?"
Thaddeus mengangguk. Ia perlahan mengerti walaupun belum sepenuhnya merelakan keturunan genetik tersebut.
...****************...
Suatu sore, Greta berlari kecil ke kamar orang tuanya. Ia membawa bunga kecil yang ia petik dari taman dalam castle.
"Ibu!" panggilnya ceria.
Chelyne tersenyum dan membuka tangan. Greta memanjat ke ranjang, meletakkan bunga itu di dada ibunya.
"Untuk ibu," katanya bangga.
Chelyne menahan batuk yang tiba-tiba datang. Ia menelan sakit di dadanya, lalu mengelus rambut Greta.
"Terima kasih, sayang."
Greta menatap wajah ibunya lama.
"Ibu kenapa?"
Chelyne terdiam sejenak.
"Tidak apa-apa sayang, ibu hanya sedikit lelah"
"Ibu, lihat! Aku bawa kumbang lagi." Ujar Greta sambil menunjukkan serangga itu
"Kau tidak takut, sayang?" tanya Chelyne
Greta menggelengkan kepalanya. Ia lalu memasukkan kumbang baru itu ke toples, Greta sekarang punya serangga tambahan.
Arion dan Thaddeus masuk ke kamar dan memperhatikan putrinya bermain dengan serangga kesayangannya.
"Kakak, lihat! Aku dapat kumbang lagi." Ujar Greta pada Thaddeus dengan perlakuan polosnya
Thaddeus harus bisa bersikap layaknya seorang kakak.
"Aku tidak bisa membenci Greta karena mata itu.” Batinnya
Greta menarik tangan Thaddeus
"Kakak..." panggilnya
Thaddeus lalu tersadar dari lamunannya
"Iya, Greta. Kumbang itu cantik seperti dirimu." Ujar Thaddeus
Di balik rutinitas yang tampak tenang itu, tubuh Chelyne mulai kembali melemah.
Awalnya hanya batuk kecil di malam hari. Arion mengira itu sisa sakit lama yang belum sepenuhnya sembuh.
Ia menyuruh Grace membuatkan ramuan hangat, memastikan Chelyne cukup istirahat.
Namun suatu malam, Arion terbangun oleh suara batuk yang berbeda. Ia duduk di samping ranjang, menyentuh punggung istrinya. Chelyne menutup mulutnya dengan kain kecil, berusaha tidak bersuara. Saat batuk itu reda, Arion melihat noda merah di kain itu.
Darah.
Chelyne cepat-cepat melipat kain itu, menyelipkannya ke bawah bantal.
"Tidak apa-apa," katanya sebelum Arion sempat bicara.
"Hanya iritasi."
Arion tidak menjawab. Matanya tertuju pada kain itu terlalu lama.
"Kita panggil tabib," katanya Arion.
Chelyne menggeleng.
"Tidak sekarang. Anak-anak bisa mendengar."
"Greta masih kecil. Thaddeus juga tidak bodoh."
"Aku tidak ingin mereka takut." Lanjut Chelyne
"Kalau begitu, aku akan menyuruh Grace membuatkanmu obat."
"Tidak perlu, Arion. Ini sudah malam dan Grace pasti sudah pulang. Kita tidak boleh mengganggunya."
Arion mengangguk pelan dan menyetujui perkataan istrinya.