Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.
Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Hampa di Lobi
Lampu neon di langit-langit lobi apartemen berkedip pelan, memancarkan spektrum hijau kebiruan yang membuat kulit siapa pun di bawahnya tampak seperti porselen retak. Arlan berdiri mematung di dekat pintu kaca besar, tangannya mencengkeram erat manifes usang dari tahun 2012 yang baru saja ia baca di halte. Napasnya terasa berat, bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena setiap inci oksigen di ruangan ini seolah-olah telah kehilangan bobotnya. Ini adalah hampa akustik yang lebih pekat daripada di koridor lantai empat tadi; suara detak jantungnya sendiri terdengar seperti dentum palu di dalam ruang kosong.
"Anda masih di sini, Arlan?"
Suara itu datang dari balik meja resepsionis yang dingin. Satpam itu, yang tag namanya bertuliskan Mulyono, berdiri tegak tanpa sedikit pun perubahan posisi sejak Arlan keluar sepuluh menit yang lalu. Matanya yang datar mengikuti setiap gerakan kecil Arlan, seolah-olah sedang memindai anomali di tingkat seluler.
"Udara di luar terlalu dingin, Pak Mul. Saya hanya sedang mengatur napas," jawab Arlan, mencoba menstabilkan suaranya. Ia teringat wanita di dapurnya—sosok yang menyerupai ibunya namun memiliki tahi lalat di posisi yang salah. Di depan matanya kini, Pak Mul menunjukkan tanda-tanda serupa.
"Sektor 7 memang sedang mendingin. Itu wajar. Suhu stabil pada sepuluh derajat Celcius adalah standar keamanan yang baru," Pak Mul keluar dari balik meja. Langkah kakinya tidak mengeluarkan bunyi gesekan kulit sepatu dengan ubin, melainkan suara ketukan keras yang steril.
Arlan memperhatikan leher pria itu saat dia bicara panjang lebar. Tidak ada otot yang menegang, tidak ada pori-pori yang mengeluarkan setetes pun peluh meskipun lobi itu tertutup rapat. "Standar keamanan? Sejak kapan suhu sepuluh derajat dianggap normal untuk hunian manusia?"
"Sejak keteraturan menjadi prioritas, Arlan. Anda terlihat sangat gelisah. Apa ada sesuatu di dalam tas kurir Anda yang membuat Anda ketakutan?"
"Hanya barang-barang hilang yang belum sempat dikembalikan, Pak Mul. Tugas rutin," Arlan merapatkan tasnya ke dada. Ia merasakan getaran halus dari koin perak di saku rahasianya. Getaran itu seolah-olah menjadi peringatan bahwa predator sedang mendekat.
Pak Mul melangkah selangkah lagi, masuk ke dalam radius pribadi Arlan. "Barang hilang harus segera dilaporkan. Jika tidak, barang itu dianggap terhapus. Begitu juga dengan orang yang membawanya."
"Apakah itu ancaman?" Arlan menatap langsung ke mata satpam itu. Di bawah cahaya merkuri ini, pupil mata Pak Mul tidak mengecil. Ia menyadari sebuah jeda tidak natural; pria di depannya ini baru saja bicara hampir tiga puluh kalimat tanpa satu kali pun menarik napas. Napas manual yang ia lihat di dapur tadi kini benar-benar berhenti di hadapannya.
"Ini bukan ancaman, Arlan. Ini adalah audit. Sebagai kurir, Anda seharusnya paham tentang integritas data. Anda membawa manifes tahun 2012, bukan?"
Jantung Arlan berdegup kencang. Bagaimana pria ini tahu apa yang ia bawa di dalam map tertutup? "Bagaimana Anda bisa tahu?"
"Setiap kertas yang masuk ke gedung ini meninggalkan jejak statik. Manifes itu seharusnya sudah dimusnahkan. Gedung ini tidak memiliki sejarah kebakaran. Gedung ini abadi," suara Pak Mul tetap datar, namun nadanya mulai menajam, mengikuti protokol konfrontatif yang dingin.
"Gedung ini tidak abadi, Pak Mul. Gedung ini seharusnya sudah jadi abu empat belas tahun lalu. Begitu juga dengan Anda, jika Anda memang Pak Mul yang asli," Arlan mulai memundurkan langkahnya menuju lift yang kebetulan terbuka.
"Jangan masuk ke sana, Arlan. Lift itu sedang dalam pemeliharaan suhu," Pak Mul mempercepat langkahnya, gerakannya kini tidak lagi menyerupai manusia, melainkan seperti mesin yang dipaksa bergerak luwes.
Arlan melompat masuk ke dalam kotak logam sempit itu dan menekan tombol lantai bawah tanah dengan kalap. Sebelum pintu tertutup sepenuhnya, sebuah tangan pucat dan keras menahan sensor pintu. Pak Mul masuk ke dalam lift dengan tatapan yang kini benar-benar hampa.
"Anda butuh bantuan untuk mendinginkan kepala," ujar Pak Mul sambil menekan tombol berhenti darurat.
Lift terhenti di antara lantai satu dan basement. Suhu di dalam ruangan sempit itu jatuh secara drastis, menyebabkan uap napas Arlan membeku menjadi kristal-kristal halus di udara. Inilah fenomena endotermik yang menandakan bahwa entitas di depannya sedang mengisap seluruh energi panas di sekitarnya.
"Keluar dari radius oksigen saya, Pak Mul," desis Arlan, tangannya meraba scanner suhu portabel di saku celananya. "Atau apa pun sebutan untuk Anda sekarang."
"Oksigen tidak lagi relevan di sini, Arlan. Serahkan manifes itu. Serahkan semua koin yang Anda temukan. Itu bukan milik manusia," Pak Mul mengulurkan tangannya yang kaku. Kulitnya terasa seperti plastik dingin saat tanpa sengaja menyentuh lengan jaket Arlan.
"Anda tidak punya detak jantung, Anda tidak punya napas, dan sekarang saya tahu Anda bahkan tidak punya suhu tubuh," Arlan mengeluarkan scanner suhunya dan mengarahkannya tepat ke wajah satpam itu. "Mari kita lihat berapa derajat kepalsuan yang Anda simpan."
Alat di tangan Arlan mengeluarkan bunyi bip yang melengking di tengah hampa akustik lift. Layar digitalnya menunjukkan angka yang mustahil bagi makhluk hidup: nol derajat mutlak pada permukaan kulit wajah.
"Anda rusak, Pak Mul. Sistem Anda sedang mengalami feedback karena Anda mencoba meniru rasa takut saya," Arlan menekan tombol kalibrasi pada alatnya, mengirimkan gelombang frekuensi panas buatan yang dirancang untuk menguji sensor termal barang logistik.
Pak Mul tersentak. Kepalanya miring ke samping dengan sudut yang tidak manusiawi, suaranya berubah menjadi statik radio yang menyakitkan telinga. "Arlan... sistem... tidak... sinkron..."
"Ini solusi ketiga, Pak Mul. Saya tidak akan melawan Anda dengan tinju, karena Anda tidak akan merasa sakit. Saya akan melawan Anda dengan data yang tidak bisa Anda proses," Arlan menekan alat itu lebih keras ke dada sang satpam, memicu kekacauan pada sistem suhu internal entitas tersebut.
Tubuh Pak Mul bergetar hebat di bawah tekanan frekuensi panas dari scanner Arlan. Suara sendi-sendinya berderak, serupa plastik yang memuai karena paksaan termal. Di dalam ruang lift yang membeku, pemandangan itu terasa mengerikan; seorang pria yang dikenal Arlan selama sepuluh tahun kini meliuk kaku seperti boneka rusak yang kehilangan benang penggeraknya.
"Data... tidak... autentik..." Pak Mul bergumam dengan suara yang terpecah menjadi beberapa lapisan frekuensi berbeda. Matanya berputar ke atas, menyisakan bagian putih yang bersih tanpa pembuluh darah sedikit pun.
Arlan menahan napasnya, mencoba tidak menghirup bau ozon yang mendadak menyeruak memenuhi kabin lift. Ia menekan tombol pintu darurat berkali-kali hingga akhirnya gerendel baja itu terbuka dengan sentakan kasar. Lift itu berhenti menggantung, sekitar satu meter di atas lantai basement. Dengan tenaga terakhirnya, Arlan mendorong tubuh kaku satpam itu hingga terjatuh ke sudut kabin, lalu ia melompat keluar menuju lantai beton yang gelap.
Ia mendarat dengan lutut yang beradu keras dengan ubin. Perihnya nyata, dan bagi Arlan, rasa sakit itu adalah martabat. Hanya manusia asli yang bisa merasakan perih seperti ini. Di belakangnya, sosok Pak Mul mencoba bangkit, namun gerakannya tersendat-sendat seolah-olah sistem motoriknya sedang mengalami lag parah.
"Tetaplah di sana, Pak Mul. Atau siapa pun kau," bisik Arlan sambil mengatur napas yang memburu.
Saat satpam itu berusaha meraih tepian pintu lift, sebuah benda jatuh dari saku seragamnya dan berdenting di atas lantai beton. Bunyinya nyaring, memecah hampa akustik yang mencekam di lantai bawah tanah tersebut. Sebuah koin perak. Koin itu berputar sebentar sebelum tergeletak diam, memancarkan pendar redup di tengah kegelapan.
Arlan merangkak mendekat. Tangannya yang gemetar terulur untuk mengambil koin itu. Begitu ujung jarinya menyentuh permukaan logam yang dingin, dunia di sekitarnya mendadak meledak dalam kilasan warna yang menyakitkan.
Pandangan Arlan kabur. Ia tidak lagi berada di basement yang lembap. Ia melihat kobaran api raksasa yang melahap gedung apartemennya. Suara teriakan manusia asli memenuhi telinganya, suara yang penuh ketakutan, bukan suara datar para peniru. Ia melihat Pak Mul—Pak Mul yang asli—sedang menggendong seorang anak kecil keluar dari kepulan asap hitam. Wajah satpam itu penuh keringat dan jelaga, napasnya tersengal-sengal karena paru-parunya terbakar udara panas. Pak Mul asli itu tewas saat langit-langit lobi runtuh menimpanya tepat setelah ia melempar anak itu ke arah petugas penyelamat.
Visi itu terputus secepat ia datang. Arlan tersentak kembali ke realitas, terengah-engah di atas lantai beton. Air mata menetes di pipinya tanpa ia sadari. Ia baru saja menyaksikan martabat terakhir seorang manusia yang mengorbankan nyawa demi orang lain, sebuah tindakan yang tidak akan pernah bisa disalin oleh mesin mana pun di dunia ini.
"Kau benar-benar pahlawan, Pak Mul," gumam Arlan, sambil menggenggam koin itu erat-erat ke dadanya. Rasa pedih dari memori koin itu meresap ke dalam sarafnya, namun ia membiarkannya. Ia harus membawa duka ini sebagai bukti bahwa mereka yang asli pernah ada.
Dari dalam lift, peniru yang menyerupai satpam itu kini hanya menatap Arlan dengan posisi kepala yang miring permanen. Kerusakannya sudah mencapai level sistemik. Sosok itu tidak lagi mengejar, hanya diam mematung di dalam kotak logam yang perlahan bergerak naik kembali ke lantai atas secara otomatis.
Arlan berdiri, menyeka sisa air matanya dengan punggung tangan. Ia harus segera pergi. Ia tahu satpam di lobi bukan satu-satunya ancaman. Seluruh gedung ini mungkin sudah mulai "bernapas" dalam frekuensi yang salah. Ia berjalan menuju area parkir yang sunyi, di mana motor kurirnya terparkir di pojok yang remang-remang.
Di bawah lampu jalan yang memancarkan cahaya hijau kebiruan di luar sana, Arlan merasa seluruh kota sedang mengawasinya. Ia bukan lagi sekadar kurir yang paranoid. Ia adalah saksi. Ia adalah wadah dari memori-memori yang hendak dihapus oleh dunia salinan ini.
Ia menghidupkan mesin motornya. Suara knalpotnya terdengar ganjil, sedikit diredam oleh distorsi ruang di Sektor 7, namun ia tidak peduli. Tujuannya sekarang jelas. Ia harus menemukan koordinat yang terselip di balik manifes 2012, sebuah lokasi di pinggiran distrik yang disebut sebagai tempat persembunyian terakhir bagi mereka yang masih memiliki detak jantung nyata.
"Aku akan menemukanmu, Dante," ucap Arlan pada kegelapan jalanan.
Saat motornya melaju meninggalkan gerbang apartemen, ia sempat melirik ke arah cermin cembung di tikungan jalan. Di sana, bayangannya tampak tertinggal hampir dua detik di belakang gerakan aslinya. Realitas sedang retak, dan Arlan baru saja melewati retakan yang pertama.