NovelToon NovelToon
DEWA PETIR EMAS

DEWA PETIR EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Slice of Life / Misteri / Cinta setelah menikah / Pusaka Ajaib / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTUKARAN JIWA

Vion menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan suara yang sangat kasar, seolah ingin membuang semua beban di dadanya.

Ia mendongak, menatap tajam kedua lelaki yang berdiri di hadapannya dengan ekspresi penuh keheranan.

​"Sekarang gue tanya sama kalian, siapa yang bawa gue ke sini?" tuntut vion dengan nada tinggi.

"Siapa yang udah nyelamatin gue dari amukan binatang malam itu? Elo?" Ia menunjuk tepat ke arah hidung Shen dengan gaya yang dianggap sangat tidak sopan bagi budaya istana.

Shen mengerjapkan mata beberapa kali. Meskipun ia menguasai banyak ilmu, ia tetap tidak paham dengan kosa kata yang digunakan pria di tubuh pangeran ini.

"Yang Mulia," ujar Shen dengan sangat tenang,

"bisakah Anda berbicara dengan bahasa yang lebih... wajar? Bahasa yang Anda gunakan terdengar seperti dialek yang belum pernah hamba dengar sebelumnya."

​"Huufftt...." vion mendengus frustrasi. Secara spontan, ia mengangkat tangan kanannya, bermaksud ingin mengacak-acak rambutnya yang biasanya bergaya undercut pendek.

​Namun, tangannya justru terhenti di udara. Matanya membelalak kaget saat merasakan jemarinya menyentuh helaian rambut yang sangat panjang hingga sebatas punggung, terikat rapi dengan pita sutra dan jepit perak di bagian tengah.

Penampilannya persis seperti tokoh-tokoh dalam film kolosal abad pertengahan yang paling tidak ia sukai.

​"Astaga!" keluhnya pelan, menyapu wajahnya dengan kedua telapak tangan.

​Wajah tampan yang kini ia miliki terlihat sangat frustrasi. Ia memijat pangkal hidungnya, mencoba mencerna kegilaan ini.

"Ini gue beneran tersesat di dunia abu-abu ya, Lord. Mana HP gak ada, rambut jadi kayak drupadi begini lagi," gerutunya pelan.

​Raja Valerius hanya bisa terpaku melihat tingkah laku putranya yang aneh. Ia menatap Shen seolah meminta jawaban, sementara vion mulai bergumam sendiri tentang "hp", "motor", dan "mi chat" yang sama sekali tidak dimengerti oleh sang Raja maupun sang Tabib.

"Yang Mulia... sebenarnya, Anda berasal dari mana?" Shen bertanya lagi dengan nada yang sangat hati-hati, matanya menyelidiki setiap gerak-gerik vion.

​"Alaric, apa kau benar-benar tidak mengenal Ayah?" Raja Valerius menunjuk dirinya sendiri dengan tangan gemetar, wajahnya menyiratkan luka yang amat dalam melihat putra tunggalnya menatapnya seperti orang asing.

​vion menggeleng kuat-kuat dengan wajah yang semakin frustrasi. Ia mencoba mengatur bicaranya agar lebih mudah dipahami oleh mereka.

"Gue... maksudku, aku tidak mengenal kalian semua. Sumpah, aku nggak tahu kalian siapa."

Shen dan Raja Valerius saling berpandangan sejenak, sebuah ketakutan yang sama mulai merayap di benak mereka.

​"Aku nggak tahu kenapa aku bisa ada di sini. Seingatku, malam itu... aku kehilangan kesadaran setelah beberapa hewan buas—mungkin anjing hutan atau serigala—menggigit seluruh tubuhku. Sakit banget," tutur vion, menceritakan kembali ingatan terakhirnya sebelum semuanya menjadi gelap.

​Ia memandangi tangan dan kakinya yang kini terlihat mulus tanpa bekas luka gigitan hewan.

"Lalu... begitu bangun, aku sudah ada di tempat ini. Ini... aku ada di mana sebenarnya? Dan kalian ini siapa? Kenapa pakai baju ribet kayak pemain teater begini?"

​Raja Valerius terperangah. Alaric tidak pernah diserang hewan buas; ia diracun di tengah perjamuan makan malam yang megah. Cerita pria ini sama sekali tidak cocok dengan kenyataan yang terjadi di istana.

​"Binatang buas?" bisik sang Raja dengan suara tercekat. "Tangannya... kakinya... tidak ada satu pun bekas luka gigitan di tubuh putraku. Shen, apa yang sebenarnya masuk ke dalam raga Alaric?"

​Shen menghela napas panjang, ia mulai memahami bahwa ini adalah fenomena "Pertukaran Jiwa" yang sangat langka.

"Pangeran... maksud hamba, Tuan... Anda saat ini berada di Kerajaan Valerius, di benua Eropa. Dan pria yang Anda sebut 'Om' ini adalah penguasa tertinggi negeri ini. Beliau adalah ayah dari raga yang Anda tempati sekarang."

Vion terdiam seribu bahasa. "Eropa? Kerajaan? Jadi gue... transmigrasi?" gumamnya tak percaya.

"Alaric, Ayah tidak tahu kegilaan apa yang sebenarnya menimpa jiwamu. Tapi, bagaimanapun keadaanmu sekarang, kau tetaplah putra tunggalku," ujar Raja Valerius dengan suara rendah yang sarat akan beban.

Ia menatap vion dengan binar mata yang penuh harapan sekaligus kepedihan.

"Kau adalah satu-satunya tumpuan Ayah untuk meneruskan takhta dan menjaga kehormatan garis keturunan kita di kerajaan ini."

​Vion hanya bisa terdiam, tak tahu harus merespons apa pada pria yang baru saja mengaku sebagai ayahnya itu. Ia hanya menatap kosong hingga Sang Raja dan Shen melangkah keluar, meninggalkan kamar yang luas itu kembali dalam kesunyian.

​Setelah pintu tertutup rapat, vion mengembuskan napas panjang. Ia memilih untuk kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang besar yang empuk.

Ia meraba perutnya; luka tusuk yang diderita "pemilik tubuh ini" memang sudah mengering berkat pengobatan ajaib Shen. Ia sudah bisa bergerak, meskipun setiap gerakan yang terlalu tiba-tiba masih menyisakan rasa nyeri yang tajam.

​Sambil berbaring, matanya mulai meneliti setiap sudut ruangan. Langit-langit kamar itu tinggi dengan ukiran malaikat yang rumit. Dindingnya ditutupi permadani tenunan tangan yang menggambarkan adegan perburuan. Lampu-lampu minyak dari perunggu tergantung di sana-sini, mengeluarkan aroma wangi yang menenangkan.

​"Mewah sih... tapi kok horor ya," gumam vion lirih.

​Semuanya terlihat megah dalam versi zaman kuno yang sangat asing. Tidak ada televisi, tidak ada lampu LED, apalagi stopkontak. Hanya ada perabotan kayu jati yang berat dan udara dingin yang menembus celah jendela batu.

vion memejamkan mata sejenak, berharap jika ia membukanya lagi, ia akan terbangun di kamarnya yang sempit di Jakarta, lengkap dengan suara bising knalpot motor di jalanan.

Merasa bosan terus berbaring, vion mulai beranjak bangun. Kakinya yang masih agak lemas melangkah perlahan, mengamati deretan barang antik milik Pangeran Alaric.

Ada beberapa hiasan giok yang terasa sangat dingin saat disentuh, serta kantong-kantong sutra berisi rempah harum yang biasanya digunakan pangeran untuk berendam di pemandian air hangat.

​Langkah vion terhenti di depan sebuah lemari kayu yang tak terlalu besar, namun terlihat sangat kokoh. Di dalamnya, tersusun rapi banyak sekali buku kuno dan gulungan-gulungan naskah. Kening vion berlipat dengan kedua alis yang saling bertaut saat melihat tulisan di sana.

​Bukan alfabet Latin, melainkan aksara Mandarin kuno yang sangat rapi terukir di atas bilah-bilah kayu halus berwarna kekuningan. Ada banyak sekali gulungan seperti itu di sana, seolah pangeran aslinya adalah seorang kutu buku yang sangat jenius.

​"Gila!" umpatnya lirih, merasa ngeri membayangkan harus mempelajari semua ini.

​Rasa penasaran mulai mengalahkan rasa pusingnya. Ia mengambil satu gulungan kayu yang terlihat paling tebal, membukanya dengan sangat hati-hati agar tidak merusaknya. Ia melangkah menuju sebuah kursi kayu kecil yang terletak tepat di depan lemari, lalu duduk dengan nyaman di sana.

"Generasiku adalah penengah. Hukum yang licik akan kubasmi, penjahat akan kubasmi. Menyelamatkan rakyat dari bencana, menegakkan keadilan di dunia. Tak butuh reputasi hingga ratusan generasi, tak masalah jika disalah pahami. Namun, tak akan mengecewakan langit, bumi, dan diri sendiri."

​Lagi-lagi kening vion berlipat.

Ia terdiam sejenak, mencoba meresapi rentetan kalimat heroik yang baru pertama kali ia baca seumur hidupnya itu. Sebuah prinsip hidup yang terasa sangat berat dan kaku bagi orang modern sepertinya.

​"Cck, kirain bacaan rahasia atau peta harta karun. Ternyata cuma quotes motivasi," gumamnya sambil menyunggingkan senyum miring.

Ia merasa pangeran asli pemilik tubuh ini mungkin adalah tipe cowok "sad boy" yang terlalu idealis.

​vion kembali berdiri, lalu mengembalikan gulungan kayu itu ke tempat semula dengan gerakan asal.

​Tok! Tok! Tok!

​"Yang Mulia, waktunya makan malam," suara seorang wanita menyahut dari balik pintu.

Suara itu terdengar lembut namun memiliki nada ketegasan, benar-benar asing di telinga vion.

​Mengingat posisi dan wibawa tubuh yang ia tempati, vion mencoba berakting. Ia menyembunyikan satu tangannya di belakang punggung, lalu melangkah turun dari panggung kecil tempat lemari buku itu berada. Dengan suara yang dibuat seberat mungkin, ia menyahut.

​"Masuk."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!