Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.
Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.
Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
“Mas Alvar?!” Teriakan itu memecah riuh pasar malam.
Kiara berdiri kaku beberapa langkah dari mereka. Matanya membesar, bukan hanya terkejut, tapi juga tersayat. Namun, ia tidak mendekat. Ia berbalik begitu saja, langkahnya cepat, menjauh menelan keramaian.
Alvar tersentak, dia mendorong Hesti menjauh dengan kasar.
“Hesti, cukup!” suaranya meninggi. “Jangan pernah lakukan itu lagi!”
“Hesti—” panggil perempuan itu panik.
“Tidak!” bentak Alvar. Dadanya naik turun. “Kau sudah tidak ada lagi di hatiku. Sekarang—” suaranya bergetar namun tegas, “di hatiku hanya ada Kiara.”
Hesti terpaku.
“Mungkin aku terlambat sadar,” lanjut Alvar, rahangnya mengeras.
“Tapi perasaanku ke Kiara jauh lebih besar dibanding apa pun yang pernah aku rasakan saat bersamamu. Dibanding dia, kamu tidak ada apa-apanya.”
Kata-kata itu menghantam tanpa ampun.
“Aku kecewa padamu, Hesti,” lanjutnya dingin. “Dengan sikapmu yang tak tahu malu. Dulu aku pikir semua orang cuma memfitnah kamu ... katanya kamu suka menggoda laki-laki di desa. Tapi sekarang aku sadar … kamu memang tak pernah benar-benar menjaga diri setelah aku pergi.”
Wajah Hesti pucat.
“Jangan kira aku bodoh,” suara Alvar makin rendah, tapi tajam.
“Kamu sadar, kan? Waktu dulu kamu dekat denganku, kamu juga menggoda pamanku.”
“Itu nggak benar!” Hesti memotong.
“Bibi aku sangat terluka waktu tahu,” lanjut Alvar tanpa peduli.
“Dan ternyata Tuhan lebih dulu memanggil paman sebelum lukanya makin dalam.”
Hesti menangis, suaranya pecah.
“Itu bohong! Itu fitnah! Paman kamu yang ganggu aku, Var! Aku nggak pernah menggoda dia!”
Alvar tidak menoleh lagi, dia berbalik dan pergi, meninggalkan Hesti yang terisak di tengah gemerlap lampu pasar malam yang kini terasa dingin.
Sementara itu, di area parkiran, Kiara berjalan cepat dengan pandangan kosong. Dadanya sesak, napasnya pendek.
Kiara tak sengaja bertabrakan dengan seorang perempuan.
“Astaghfirullah, maaf, Mbak...”
Perempuan itu menatap Kiara lebih saksama, lalu terkejut.
“Eh … kamu istrinya Mas Alvar, ya?”
Kiara terdiam sesaat, lalu mengangguk kecil.
“Saya Siti,” lanjut perempuan itu lembut. “Kamu kenapa? Kok kelihatannya pucat banget?”
Kiara memaksakan senyum.
“Kepala saya sakit, Mbak. Saya mau pulang.”
Sorot mata Siti langsung berubah iba.
“Mau saya antar? Rumah kamu kan searah sama rumah saya.”
Kiara ragu sepersekian detik, lalu mengangguk pelan.
“Boleh … terima kasih.”
Siti segera menyalakan motor Vario-nya. Kiara naik tanpa banyak bicara, memeluk tasnya erat seolah itu satu-satunya penopang.
Di saat yang sama, Alvar baru tiba di parkiran. Di bawah lampu temaram, ia melihat Kiara, istrinya telah duduk dibonceng motor orang lain. Motor itu melaju perlahan, menjauh darinya.
Alvar mengejar Kiara sampai ke rumah. Ternyata Bu Sulastri dan Pak Yono sudah lebih dulu tiba. Begitu melihat Kiara masuk tanpa Alvar, keduanya langsung saling pandang.
“Lho … kenapa pulangnya pisah?” tanya Bu Sulastri heran. “Tadi bukannya berangkat bareng?”
Alvar buru-buru menyahut sebelum Kiara bicara.
“Cuma salah paham, Bu.” Nada suaranya tenang, tapi wajahnya tidak.
Kiara langsung melangkah ke kamar tanpa menoleh. Alvar menghela napas panjang, lalu menyusul. Saat pintu kamar dibuka, pemandangan itu membuat dadanya seakan diremas, Kiara sedang memasukkan bajunya ke dalam koper.
“Kia—” Alvar mendekat.
“Dengerin aku dulu.”
Kiara tidak menoleh, tangannya terus melipat, memasukkan pakaian satu per satu dengan gerakan kaku.
“Aku bisa jelasin soal tadi,” lanjut Alvar, suaranya lebih rendah.
“Itu bukan seperti yang kamu lihat.”
Kiara berhenti sejenak, lalu tertawa kecil, tawa yang sama sekali tidak terdengar lucu.
“Mas nggak perlu jelasin apa-apa,” katanya dingin.
“Aku tahu kok, dari awal juga aku bukan siapa-siapa di hati Mas.”
Alvar tertegun.
“Apa maksud kamu?”
Kiara akhirnya menoleh, matanya merah, tapi tidak menangis.
“Aku pernah dengar pembicaraan Mas sama Bapak di gudang bawang,” ucapnya pelan namun menusuk.
“Mas bilang … Kiara cantik, baik, tapi belum bisa membuat Mas jatuh cinta.”
Darah Alvar seakan berhenti mengalir.
“Kia, itu—”
“Itu jujur,” potong Kiara.
“Dan aku hargai kejujuran itu. Makanya aku nggak nuntut apa-apa dari Mas. Tapi malam ini…” suaranya bergetar, “aku lihat sendiri, ternyata hatimu memang masih punya ruang buat orang lain.”
Alvar melangkah maju, panik.
“Dengerin aku, Kia. Yang barusan itu bukan—”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, ponsel Kiara berdering. Nama Mama muncul di layar.
Kiara langsung mengangkat.
“Halo, Ma?”
Wajahnya seketika berubah pucat.
“Apa?” napasnya tersengal. “Papa … Papa kenapa?”
Alvar membeku, memperhatikan perubahan raut wajah istrinya.
“Serangan jantung?” suara Kiara bergetar hebat.
“Sekarang di rumah sakit? Aku pulang sekarang, Ma. Sekarang!”
Panggilan terputus, ponsel itu hampir terlepas dari tangan Kiara. Ia menoleh pada Alvar, matanya panik dan berkaca-kaca.
“Papaku masuk rumah sakit. Serangan jantung mendadak.”
Tanpa menunggu respons, Kiara menyeret koper keluar kamar. Di ruang tengah, Bu Sulastri dan Pak Yono langsung berdiri.
“Ada apa, Nak?” tanya Bu Sulastri cemas.
Kiara berusaha tegar.
“Bapak … papa saya masuk rumah sakit, Bu. Saya harus pulang ke kota sekarang.”
“Ya Allah…” Bu Sulastri refleks memeluk Kiara. “Alvar, antar istrimu.”
“Saya ikut saja sekalian,” lanjut Bu Sulastri, tapi lalu teringat sesuatu.
“Ah! Nggak bisa. Besok ibu masih harus melayat lagi ke rumah ipar.”
Kiara hendak menolak.
“Nggak usah, Bu. Saya bisa—”
“Kamu nggak mungkin naik kendaraan umum malam begini,” potong Pak Yono tegas. Ia meraih kunci mobil dari meja dan menyerahkannya pada Alvar.
“Pakai mobil bapak. Antar Kiara sampai Jakarta.”
Kiara terdiam, dia tahu jika bukan Alvar yang mengantar, perjalanannya akan jauh lebih lama. Dengan berat hati, ia mengangguk.
Alvar menggenggam kunci itu erat. jika kali ini ia terlambat mengejar Kiara, mungkin bukan hanya jarak yang akan memisahkan mereka, tapi takdir.
outhor nih selalu aja g suka liat alvar seneng