NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Perjodohan / Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:58.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Alvar terdiam lama. Dadanya naik turun, napasnya berat, seolah ada sesuatu yang selama ini ia kunci rapat akhirnya mendesak keluar. Sulastri tidak mendesak, hanya menunggu, menatap anak laki-lakinya dengan sabar yang getir.

“Aku…” suara Alvar serak. “Aku sudah mencintai Kiara, Bu.”

Sulastri menahan napas.

“Bahkan… lebih dari dulu aku mencintai Hesti.”

Kalimat itu keluar begitu saja, jujur, tanpa hiasan. Seperti pengakuan yang akhirnya berani ia ucapkan pada dirinya sendiri.

Alvar menunduk, kedua tangannya saling menggenggam.

“Dulu aku pikir Kiara sombong, manja, nggak peduli sekitar. Aku pikir dia cuma gadis kota yang nggak akan pernah cocok tinggal di desa.”

Ia tertawa kecil, getir.

“Tapi ternyata aku yang salah. Kiara bukan jahat, bukan angkuh, dia cuma … belum terbiasa. Belum tahu caranya bertahan di tempat yang asing buat dia.”

Sulastri menatap Alvar tanpa menyela.

“Dia belajar, Bu. Pelan-pelan. Jatuh di sawah, demam, kepanasan, dimarahin warga, digosipin … tapi dia tetap berusaha. Bahkan waktu aku dingin, waktu aku nyebelin … dia tetap sopan sama aku.”

Alvar mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca.

“Dan aku baru sadar … rasa nyaman itu tumbuh tanpa aku sadari. Cara dia tersenyum, cara dia berusaha bikin aku bangga, cara dia diam tapi menghargai orang lain … itu semua jauh lebih dalam dari perasaanku ke Hesti dulu.”

Sulastri akhirnya mendekat, duduk di samping Alvar. Tangannya terulur, menggenggam tangan anaknya.

“Kalau begitu,” ucapnya lembut tapi tegas, “kamu tahu apa yang harus kamu lakukan.”

Alvar mengangguk pelan.

“Aku nggak mau kehilangan Kiara, Bu. Bukan karena kasihan. Tapi karena aku benar-benar butuh dia. Aku ingin dia kembali … sebagai istriku.”

Sulastri tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca.

“Kalau begitu, kejar dia. Perbaiki dan jangan ulangi kesalahan yang sama dua kali.”

Sementara itu, Delia yang baru tahu Kiara sudah kembali ke Jakarta dan sedang berada di rumah sakit, langsung panik setengah mati. Tanpa banyak tanya, dia segera meluncur ke rumah sakit.

Begitu melihat Kiara duduk sendiri di bangku lorong, wajahnya pucat dan matanya sembab, Delia langsung menghampiri dan memeluknya erat.

“Ya Allah, Ki … kamu kenapa sih? Kok kurusan gini?” suara Delia melembut, jauh dari nada cerewetnya yang biasa.

Kiara tak langsung menjawab, dia hanya membalas pelukan itu sebentar, lalu menggeleng pelan.

“Capek, Del … aku capek banget.”

Delia menahan banyak pertanyaan. Ia tahu, Kiara bukan tipe yang bisa dipaksa bicara saat hatinya masih berantakan. Setelah memastikan kondisi papa Kiara stabil dan sudah dijaga ibunya, Delia menggandeng tangan Kiara.

“Udah, kita keluar sebentar. Kamu belum makan kan? Jangan bantah, aku yang traktir.”

Kiara ingin menolak, tapi perutnya memang kosong dan kepalanya terasa berat. Akhirnya ia mengangguk lemah.

Mereka memilih restoran kecil yang tenang, tak jauh dari rumah sakit. Begitu duduk, Delia memesan makanan favorit Kiara, tanpa bertanya.

“Masih ingat kan?” Delia tersenyum tipis. “Kamu selalu bilang, makan ini bikin kamu ngerasa hidup nggak sejahat itu.”

Kiara tersenyum kecil, pahit.

“Dulu mungkin iya.”

Makanan datang, Kiara memandangi piringnya lama sebelum akhirnya menyuap perlahan. Delia memperhatikannya tanpa mengganggu.

“Aku denger kamu balik dari desa,” ujar Delia akhirnya, hati-hati. “Sama suami kamu.”

Sendok Kiara berhenti di udara, tangannya sedikit gemetar.

“Aku gagal, Del,” ucap Kiara lirih. “Aku jatuh cinta … tapi sepertinya aku jatuh sendirian.”

Delia mengernyit.

“Kamu yakin?”

Kiara menunduk.

“Aku lihat sendiri. Aku dengar sendiri. Dan aku capek selalu jadi orang yang harus mengerti.”

Delia menghela napas, lalu meraih tangan Kiara di atas meja.

“Dengerin aku, kamu boleh marah, boleh kecewa, boleh kabur sebentar. Tapi jangan langsung nyimpulin semuanya dari satu kejadian saat hatimu lagi rapuh.”

Kiara menggeleng.

“Aku nggak mau jadi penghalang, Del. Aku nikah sama dia bukan karena cinta. Kalau dia masih terikat sama masa lalunya … aku lebih baik mundur.”

Delia menatap sahabatnya lama, lalu berkata pelan namun tegas,

“Kiara, orang yang benar-benar nggak peduli itu nggak akan bikin kamu segalau ini. Dan laki-laki yang nggak cinta … nggak mungkin bikin kamu merasa sedalam ini.”

Delia tersenyum lembut.

“Sekarang makan dulu. Urusan hati bisa tunggu. Kamu terlalu baik buat hancur sendirian.”

Di tengah suasana yang mulai sedikit menghangat karena makanan, pintu restoran kembali terbuka.

Kiara yang sedang menunduk, sama sekali tak menyadari siapa yang baru masuk, hingga Delia tiba-tiba berhenti mengunyah. Wajah sahabatnya berubah tegang.

“Ki…” suara Delia merendah, penuh peringatan.

Kiara mengangkat wajahnya perlahan, dan dadanya seketika terasa diremas keras.

Yoga datang bersama dengan Lala. Mereka berdiri tak jauh dari meja, tertawa kecil, terlihat begitu luar biasa. Seolah tak pernah ada pengkhianatan, seolah tak pernah ada Kiara yang dulu percaya pada mereka berdua.

Tatapan Yoga langsung terkunci pada Kiara. Wajahnya berubah canggung, lalu refleks melangkah mendekat.

“Kiara?” panggilnya ragu. “Kamu … kamu di sini?”

Lala yang berdiri di samping Yoga tampak jelas tidak senang. Sorot matanya dingin, bibirnya mengeras. Namun, ia diam, mungkin sadar bahwa Yoga dan Kiara punya masa lalu yang tak bisa dihapus begitu saja.

Kiara menatap Yoga tanpa ekspresi. Muak pada pria yang pernah ia cintai. Muak pada sahabat yang pernah ia percaya. Muak pada hidup yang terasa seperti terus mempermainkannya.

Yoga hendak bicara lagi, “Ki, aku—”

Belum sempat kalimat itu selesai, Kiara mendorong kursinya ke belakang dan berdiri.

“Del,” katanya pelan tapi tegas, tanpa menatap siapa pun.

“Aku pulang.”

“Kiara, tunggu—” Yoga refleks mengulurkan tangan.

Namun, Kiara sudah melangkah pergi, bahkan tak sudi menoleh. Delia ikut berdiri, menatap Yoga dan Lala dengan wajah penuh amarah yang selama ini ia tahan.

“Berani-beraninya kalian datang dan sok kaget,” sembur Delia.

“Pacar berkhianat sama sahabat, sekarang tampil kayak pasangan paling suci sedunia?”

Lala mendengus kesal.

“Jaga mulut kamu, Delia.”

“Oh, aku jaga mulut?” Delia tertawa sinis. “Kamu yang harusnya jaga moral. Sahabat sendiri kamu tikung, sekarang masih punya nyali duduk manis di depan orang yang kamu hancurkan?”

Yoga mencoba menengahi.

“Del, ini nggak sesederhana itu...”

“Diam!” potong Delia tajam. “Kamu nggak pantas jelasin apa pun. Kalau masih punya sedikit rasa malu, jangan pernah muncul di hidup Kiara lagi.”

Delia mengambil tasnya, lalu melangkah pergi menyusul Kiara.

Di belakang, Yoga berdiri terpaku. Sementara Lala mengepalkan tangan, wajahnya gelap, antara kesal, cemburu, dan takut.

Di luar restoran, Kiara sudah berdiri di trotoar, napasnya memburu. Dadanya terasa penuh, seolah semua luka lama dan baru menumpuk jadi satu.

Delia mendekat dan memeluknya dari samping.

“Maaf, Ki. Kita harusnya pergi lebih jauh.”

Kiara menggeleng pelan, air matanya akhirnya jatuh.

“Bukan salah kamu, Del. Aku cuma … capek. Semua orang yang aku percaya, satu-satu bikin aku ngerasa bodoh.”

Delia merangkulnya lebih erat.

“Dengerin aku, kamu bukan bodoh. Kamu cuma terlalu tulus di dunia yang kejam.”

Kiara dan Delia sudah berada di dalam mobil. Mesin menyala, tapi Kiara belum juga menjalankan kendaraan. Tangannya gemetar di setir, napasnya pendek-pendek.

Delia menoleh.

“Ki … kamu kenapa, sih? Dari tadi kamu diem. Tadi di restoran juga kamu aneh banget. Aku tahu kamu marah, tapi marahnya bukan cuma ke Yoga dan Lala, kan?”

Kiara menelan ludah, matanya berkaca-kaca, tapi ia memaksa tersenyum, senyum yang gagal total.

“Aku capek, Del,” ucapnya lirih.

“Capek kenapa?” Delia mendesak, nadanya melunak.

“Kalau kamu nggak cerita, aku nggak akan ngerti.”

Kiara menarik napas dalam-dalam. Seolah ia sedang mengumpulkan keberanian untuk membuka luka lama.

“Aku menjauh dari Mas Alvar bukan karena aku nggak peduli,” katanya akhirnya.

“Justru karena aku peduli.”

Delia terdiam.

“Aku pernah lihat Yoga sama Lala,” lanjut Kiara, suaranya bergetar.

Delia mengepalkan tangan. “Sialan mereka.”

Kiara menggeleng pelan, air matanya akhirnya jatuh.

“Masalahnya, luka itu kebuka lagi.”

“Maksud kamu?”

“Hari itu … aku lihat Mas Alvar sama Hesti.” Kiara tertawa hambar.

"Cara yang sama, saat Yoga bersama Lala, kini aku melihat Alvar bersama Hesti juga seperti itu,"

Delia membeku.

“Aku tahu mungkin orang lain bakal bilang aku lebay. Bilang itu cuma masa lalu. Tapi buat aku … rasanya kayak ditampar dua kali.” Kiara memejamkan mata.

“Aku ngerasa kecil, ngerasa nggak pernah cukup. Dulu aku kalah sama Lala, sekarang aku takut kalah sama masa lalu Mas Alvar.”

“Kiara…” suara Delia serak.

“Aku nggak mau jadi perempuan yang terus-terusan pura-pura kuat,” lanjut Kiara. “Aku menjauh karena kalau aku tetap di dekat Mas Alvar, aku bakal hancur pelan-pelan. Aku nggak sanggup ngelihat dia berpaling, meski cuma dengan tatapan.”

Delia langsung memeluk Kiara tanpa banyak kata. Kiara terisak di bahunya, menangis sejadi-jadinya.

“Kamu nggak salah,” kata Delia tegas. “Perasaan kamu valid. Trauma itu bukan sesuatu yang bisa hilang cuma karena waktu.”

Kiara mengangguk kecil.

“Aku cuma pengin berhenti sakit, Del. Hanya itu aja.”

"Aku yang akan membantu kamu bangkit. Besok aku bawa kamu temui seseorang, aku yakin kamu akan lupa sama semua masalah kamu," kata Delia sembari tersenyum pada Kiara, menyeka air mata yang jatuh, lalu Delia menggenggam erat tangan Kiara.

1
Lilis Yuanita
aduh keringetan😄😄
Gadis misterius
Ini nanti darius yg jd duri liht dech krn klu setiap hr bertmu bklan ada rs nyaman
Eva Karmita
orang yang kalem ternyata bisa agresif juga ya 😅😅
biby
POV alvar : siapa sih.. ganggu aja, g tau apa org lg berusaha baikan
outhor nih selalu aja g suka liat alvar seneng
Aisyah Alfatih: sabar ya kak 🤭 kasih bonus deh nanti bab selanjutnya 🤭
total 1 replies
Nar Sih
ungkapan cinta juga cemburu ahir nya keluar dri hti alvar yg berahir dgn ciuman yg mungkin awal dri kebahagiaan kalian ,
Ika Wahyuni
wah itu pasti mamanya Kiara yg datang disaat tidak tepat 🤭
iza
up lgi thor
Naufal Affiq
dengar kan omongan orang tua mu kiara,jangan dengar cakap orang belum tentu benar
Nar Sih
hamil di luar nikah kok bangga ,🤣
Naufal Affiq
kau tau lala,pembantu lebuh tinggi lagi di banding kan kau,yang gak ada harga diri,yang hamil di luar nikah,bangga banget kamu,gaya manusia gak berpendidikan kalau ngomong
Teh Euis Tea
yeyyy nganggu aj deh yg ketuk pintu🤭
Ariany Sudjana
betul kata ibumu Kyara, kalau kamu bercerai dengan dokter Alvar, dimana lagi kamu akan menemukan suami seperti dokter Alvar? sudahlah lupakan semua masa lalu kalian, mulai dengan lembaran baru, dan jangan kasih celah buat Darius masuk Kyara, juga Hesty jufa jangan pak dokter Alvar
Wiwi Sukaesih
ahh ganggu aj sgla ad iklan ngetok pintu🤭
Resa05
up kayak gini terus yah min
dyah EkaPratiwi
maaf ya pak dr diganggu sebentar
iqha_24
Ternyata Alvar agresif juga, kira orangnya pendiam malu2 🤭
Lilis Yuanita
mmh...🤭🤭
Cindy
lanjut
Erna Waq
lanjut...
Naya En-lish
/Heart//Heart//Heart//Rose//Rose//Rose/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!