Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.
Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Makan Siang Kaki Lima
"Masuk mobil. Kita makan siang."
Alea melempar kunci mobil-nya ke arah Rigel. Kunci itu melayang di udara, dan dengan refleks yang terlatih, Rigel menangkapnya dengan satu tangan tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
"Tumben. Dalam rangka apa Ratu Saham mau ngajak dokter miskin makan?" tanya Rigel, memutar kunci mobil di jari telunjuknya dengan gaya santai.
"Anggap aja syukuran karena tensi gue normal," Alea mengibaskan rambutnya, berjalan mendahului menuju parkiran VIP kantor. "Dan gue udah reservasi di Le Grandeur. Restoran Prancis paling mahal di Jakarta. Jangan malu-maluin ya, di sana ada aturan table manner. Sendok sup beda sama sendok dessert."
Alea tersenyum licik dalam hati. Rencananya sempurna. Dia akan membawa Rigel ke tempat super mewah, membiarkan pria itu canggung melihat menu berbahasa asing tanpa harga, dan membuatnya merasa kecil di hadapan kekayaan Alea. Biar dokter songong ini tahu bedanya kasta mereka.
Rigel hanya mengangkat alis sebelah, lalu membukakan pintu mobil untuk Alea. "Silahkan, Tuan Putri."
Namun, begitu mobil sport mewah itu meluncur keluar dari gedung perkantoran, Rigel bukannya berbelok ke arah Sudirman tempat restoran itu berada, dia malah memutar setir ke arah gang sempit di belakang area perkantoran.
"Heh! Heh! Lo mau ke mana?! Le Grandeur itu lurus!" protes Alea panik. "Jangan bilang lo mau nyulik gue minta tebusan!"
"Siapa yang mau nyulik kamu? Berisik, bawel, makannya susah. Rugi bandar," jawab Rigel tenang. "Kita nggak ke restoran Prancis. Porsi di sana kayak makanan burung, harganya kayak cicilan rumah. Nggak kenyang."
"Tapi gue udah reservasi! Depositnya lima juta!"
"Ikhlaskan. Itung-itung sedekah," Rigel memarkirkan mobil mulus itu di pinggir jalan yang berdebu, tepat di depan sebuah tenda terpal biru yang ramai pengunjung. Asap bakaran sate dan aroma bawang goreng mengepul di udara.
Alea melotot horor melihat spanduk lusuh yang berkibar ditiup angin: KETOPRAK LEGENDARIS PAK KUMIS MACO.
"Turun," perintah Rigel.
"Nggak! Gila lo ya?!" Alea memeluk sabuk pengamannya erat-erat. "Gue CEO, Rigel! Masa gue makan di pinggir got begini?! Liat tuh, bangkunya dari kayu reyot! Debunya tebel! Higienisnya minus!"
"Alea," Rigel mematikan mesin, lalu menatap Alea tajam. "Tempat ini legendaris. Antrenya bisa satu jam kalau jam makan siang. Ini lagi hoki aja sepi. Lagian, lambung kamu butuh makanan lunak yang gampang dicerna. Ketoprak itu isinya lontong, tahu, bihun. Aman."
"Bumbu kacang itu jahat buat lambung! Berminyak! Pedes!" Alea mencoba berargumen medis. "Lo dokter macam apa ngajak pasien gastritis makan ginian?!"
"Siapa bilang pake cabe? Saya pesankan nol cabe. Kacang itu protein nabati, bagus buat energi kamu yang abis dipake marah-marah," Rigel keluar dari mobil, berjalan memutari kap mesin, lalu membuka pintu Alea.
Dengan paksa, dia menarik tangan Alea. "Turun atau saya gendong kayak karung beras di depan tukang parkir?"
"Argh! Iya! Lepas!" Alea turun dengan wajah ditekuk tujuh lipatan. Dia berjalan jinjit-jinjit, takut heels mahalnya kena becekan air cucian piring.
Mereka duduk di bangku kayu panjang. Alea langsung mengeluarkan tisu basah, mengelap meja di depannya dengan heboh seolah sedang membersihkan limbah nuklir.
"Pak, Ketoprak dua," teriak Rigel pada penjualnya. "Yang satu pedes sedang, yang satu lagi buat Nona ini... nol cabe. Bumbunya yang halus banget ya, Pak. Kerupuknya jangan yang alot."
"Siap, Dok! Tumben bawa cewek bening, Dok? Pasien apa pacar?" goda Pak Kumis sambil mengulek bumbu.
"Calon investor, Pak," jawab Rigel asal, membuat Alea mendengus keras.
Lima menit kemudian, dua piring ketoprak tersaji. Punya Rigel merah menggoda, punya Alea warnanya cokelat pucat karena tanpa cabai sama sekali.
Alea menatap piring itu dengan tatapan curiga. "Ini aman dimakan? Nggak ada bakteri E.coli?"
Rigel mengambil sendok Alea, mengelapnya lagi dengan tisu bersih yang dia bawa sendiri, lalu menyiramnya sedikit dengan teh panas tawar untuk sterilisasi manual.
"Nih, udah steril," Rigel menyodorkan sendok itu. "Makan. Kalau dalam lima menit nggak abis, saya suapin pake tangan."
Alea cemberut, tapi perutnya memang keroncongan karena belum makan siang. Dengan ragu, dia menyendok potongan lontong dan tahu yang berlumuran bumbu kacang.
Dia memasukkannya ke mulut dengan hati-hati.
Alea mengunyah pelan. Matanya mengerjap.
Tunggu.
Rasanya... gurih. Manis kecapnya pas, aroma bawang putihnya wangi, dan tahunya lembut sekali. Tekstur bumbunya creamy, tidak bikin eneg.
"Gimana?" tanya Rigel yang sudah melahap kerupuknya.
"Lumayan," jawab Alea gengsi, padahal tangannya langsung menyendok suapan kedua dengan lebih cepat. "Not bad lah buat makanan pinggiran. Bumbunya... oke juga."
"Bilang aja enak, susah banget," cibir Rigel. "Habisin. Itu karbohidrat kompleks, bagus buat otak kamu mikir saham."
Tanpa sadar, Alea makan dengan lahap. Suasana pinggir jalan yang bising, suara klakson, dan teriakkan pengamen jalanan entah kenapa terasa lebih hidup daripada keheningan kaku di restoran mewah. Dan yang paling penting, melihat Rigel makan dengan santai tanpa jaim, menggulung lengan kemejanya, membuat Alea betah berlama-lama.
Tiba-tiba, seorang pengamen tua dengan gitar lecet mendekat ke meja mereka. Dia tidak bernyanyi lagu dangdut berisik, melainkan memetik senar gitar dengan melodi akustik yang lembut dan romantis. Lagu lawas tentang seseorang yang jatuh cinta pada pandangan pertama.
Suara pengamen itu serak-serak basah, menyatu dengan hiruk pikuk jalanan Jakarta siang itu.
Alea berhenti mengunyah sejenak, mendengarkan lagu itu. Ada sisa bumbu kacang menempel di sudut bibirnya, tapi dia tidak sadar. Dia terlalu sibuk menikmati momen aneh ini—makan ketoprak di pinggir jalan bersama dokter yang paling menyebalkan sedunia.
Rigel meletakkan sendoknya. Dia tidak mengusir pengamen itu, malah memberikan lembaran uang biru ke dalam kaleng bekas cat yang disodorkan.
Rigel lalu menatap Alea lekat-lekat. Tatapannya intens, membuat Alea yang sedang memegang kerupuk di tangan kanan jadi salah tingkah.
"Kenapa? Ada belek di mata gue?" tanya Alea ketus, mencoba menutupi kegugupannya.
Rigel menggeleng pelan. Dia mengambil selembar tisu, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan.
Tangan Rigel terulur, menyapu lembut sudut bibir Alea, membersihkan noda bumbu kacang di sana. Gerakannya begitu hati-hati, seolah bibir Alea adalah porselen mahal yang mudah pecah.
Alea membeku. Napasnya tercekat. Kerupuk di tangannya nyaris jatuh.
"Kamu tau, Alea?" ucap Rigel pelan, matanya mengunci manik mata Alea, mengabaikan dunia di sekitar mereka. "Kamu jauh lebih cantik kalau makan belepotan bumbu kacang begini daripada makan steak sambil jaim di restoran mahal."
Rigel tersenyum miring, lalu menarik kembali tangannya.
"Lebih nyata. Lebih... manis."
aya Aya wae nich dokter satu......
Alea di tantangin......
papa jual......Alea beli....