NovelToon NovelToon
JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Menjadi Pengusaha / Preman
Popularitas:755
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: RUNTUHNYA KESOMBONGAN

#

Lima bulan sejak Dyon pergi.

Berita itu menyebar seperti api—cepat, panas, menghancurkan.

**"KELUARGA HARTAWAN TERSANGKA KORUPSI! AYAH ARMAN DITANGKAP POLISI!"**

Headline di koran lokal. Di TV. Di media sosial. Dimana-mana.

Bapaknya Arman—Pak Budi Hartawan, pengusaha properti yang terkenal—ditangkap KPK gara-gara korupsi proyek pembangunan jalan tol. Uang negara ratusan miliar digelapkan. Bukti-bukti lengkap. Nggak ada jalan keluar.

Aset keluarga disita. Rumah mewah. Mobil-mobil mahal. Rekening dibekukan. Semua... hilang dalam semalam.

---

Sekolah. Senin pagi.

Arman datang—tapi bukan dengan mobil mewah kayak biasanya. Dia jalan kaki. Seragam kusut—nggak disetrika. Sepatu udah lecet, kotor. Rambut nggak di-gel rapi kayak biasanya—acak-acakan, berminyak.

Dia jalan masuk gerbang sekolah—kepala nunduk.

Tapi...

"Eh, liat tuh! Arman si tajir melintir!" suara anak kelas sepuluh—keras, sengaja.

Ketawa-ketawa.

"Sekarang mah bukan tajir lagi! Bapaknya masuk penjara! Hartanya disita!"

"Kasian banget sih! Dari tajir jadi melarat!"

"Karma, Bro! Karma!"

Arman jalan terus—tangan ngepal erat. Gigi gemeretak. Tapi dia nggak bisa ngapa-ngapain. Nggak bisa lawan. Karena... mereka bener.

Masuk kelas. Duduk di bangku—sendirian. Dulu, ada Edward di sebelahnya. Ada Sulaiman. Ada anak-anak buahnya yang selalu ngikutin kemana dia pergi.

Sekarang? Kosong.

Edward pindah tempat duduk—ke depan, deket anak-anak kaya lainnya. Sulaiman malah pura-pura nggak kenal Arman—liat ke arah lain tiap Arman lewat.

Teman... teman yang dia pikir setia ternyata cuma... cuma opportunis. Mereka deket sama Arman bukan karena sayang. Tapi karena uang. Karena kekuasaan.

Sekarang uang hilang. Kekuasaan hilang.

Mereka pun... hilang.

---

Istirahat kedua. Arman ke kantin—beli nasi bungkus murah. Cuma punya uang Rp 5.000. Itu pun uang terakhir dari jual sepatu bekas.

Duduk di meja pojok—meja yang dulu... meja yang dulu sering diduduki Dyon.

Arman makan—pelan. Nasi kering. Tempe tipis. Nggak ada lauk.

Rasanya... pahit.

Bukan karena makanannya. Tapi karena... dia ingat.

Ingat dia dulu sering ngejek Dyon yang makan nasi bungkus murah kayak gini.

Ingat dia pernah bilang: "Gimana rasanya jadi miskin, Sampah? Enak nggak?"

Sekarang... dia yang ngerasain.

Dan rasanya...

Menyakitkan.

"Eh, Arman!" suara dari meja sebelah. Anak kelas sebelas—cowok gendut yang dulu suka ikutan ngejek Dyon. "Lo sekarang udah kayak Dyon ya! Makan nasi bungkus murahan! Wkwkwk!"

Tawa keras.

Arman diam—gigit bibir bawah. Pengen marah. Pengen mukul. Tapi... tangannya lemas.

Karena dia tau... dia yang salah.

---

Pulang sekolah. Arman jalan kaki—ke rumah kontrakan kecil yang sekarang jadi tempat tinggal keluarganya. Rumah sempit di gang kumuh—dinding papuk, atap seng bocor.

Jauh banget dari rumah mewah tiga lantai yang dulu.

Masuk rumah. Ibunya—Ibu Siti—lagi duduk di kasur tipis, nangis. Mata bengkak. Muka pucat.

"Ibu..." panggil Arman pelan.

Ibu Siti nengok—cepet ngelap air mata. "Arman... kamu udah pulang? Udah... udah makan?"

"Udah, Bu."

Bohong. Nasi bungkus tadi cuma setengah—setengahnya dia simpen buat makan malam.

"Ayah... Ayah gimana?" tanya Arman—meskipun dia tau jawabannya.

Ibu Siti geleng—nangis lagi. "Ayah... Ayah divonis lima belas tahun penjara. Nggak... nggak ada banding. Semua aset... disita negara. Kita... kita nggak punya apa-apa lagi, Arman."

Arman duduk di samping ibunya—peluk. "Maafin aku, Bu. Maafin... maafin Arman yang nggak bisa ngapa-ngapain."

"Bukan salah kamu," Ibu Siti ngelus rambut Arman—lembut. "Ini... ini salah Ayah. Ayah yang serakah. Ayah yang... yang korupsi."

Mereka peluk—lama. Nangis bareng.

---

Seminggu kemudian.

Arman berhenti sekolah. Nggak ada uang buat bayar SPP. Nggak ada uang buat beli seragam baru—yang lama udah robek di beberapa tempat.

Dia cari kerja—kemana-mana. Tapi... siapa yang mau nerima anak mantan koruptor?

Ditolak di sana-sini.

"Maaf, Dik. Kita nggak bisa terima."

"Bapak kamu koruptor. Takutnya kamu juga kayak gitu."

"Cari tempat lain aja ya."

Penolakan demi penolakan.

Sampai akhirnya... Arman jadi gelandangan.

Tidur di bawah jembatan—jembatan yang sering dilalui anak-anak sekolah. Kasur karton. Selimut koran bekas. Dingin. Kotor.

Makan dari tempat sampah—sisa-sisa makanan orang. Kadang masih layak. Kadang udah basi.

Tapi... dia makan juga.

Karena laper.

Karena... nggak ada pilihan.

---

Suatu sore. Arman duduk di bawah jembatan—ngeliatin anak-anak SMA lewat. Mereka pada ketawa, ngobrol, bawa tas ransel bagus, sepatu bersih.

Dia ingat... dulu dia kayak mereka.

Bahkan lebih.

Tapi sekarang...

"Eh, liat tuh! Arman!" suara anak perempuan—kelas sebelas. Dia nunjuk Arman sambil ketawa. "Astaga, dia beneran jadi gelandangan!"

"Kasian banget! Dari tajir jadi... jadi gini!"

"Karma, sih! Dia dulu jahat banget!"

Mereka foto Arman—pakai hape. Terus upload ke media sosial. Caption: "Dari pangeran jadi... kodok wkwk!"

Arman cuma bisa nunduk—malu, sedih, marah campur jadi satu.

Air mata jatuh—tapi dia tahan keras. Jangan nangis di depan mereka.

Mereka pergi—ketawa-ketawa, ninggalin Arman sendirian.

---

Malam hari. Hujan turun—deras. Arman nggak punya tempat berteduh yang bener. Dia cuma ngelindungin badan pakai kardus—basah, nggak guna.

Dingin.

Dingin banget.

Dia meringkuk—peluk lutut. Gigi gemeletuk.

"Dyon..." bisiknya tiba-tiba—ke kegelapan malam. "Maafin aku."

Air mata keluar—campur sama air hujan di wajah.

"Aku... aku jahat sama kamu. Aku... aku mukul kamu. Aku ejek kamu. Aku... aku bikin hidup kamu sengsara."

Suaranya pecah—nangis keras. "Dan sekarang... sekarang aku ngerasain gimana rasanya... jadi kamu. Rasanya... rasanya sakit. Rasanya... rasanya pengen mati."

Dia nangis keras—kayak anak kecil. "Maafin aku, Dyon! Maafin aku! Kalau... kalau aku bisa balik waktu, aku... aku nggak akan jahat lagi! Aku... aku akan jadi teman yang baik! Aku—"

Tapi nggak ada yang denger.

Cuma hujan.

Cuma angin dingin.

Cuma... penyesalan yang datang terlambat.

---

Keesokan paginya, Arman bangun—basah kuyup. Demam tinggi. Badan menggigil.

Tapi dia nggak punya uang buat ke dokter.

Jadi dia cuma... berbaring di kardus basah. Ngeliatin langit mendung.

"Mama... Papa..." bisiknya—lemah. "Maafin Arman. Arman... Arman jadi beban kalian."

Mata merem—pelan.

*Mungkin... mungkin lebih baik aku mati.*

*Mungkin... mungkin itu karma yang aku pantas terima.*

---*BERSAMBUNG**

**NASIHAT PENULIS:**

*"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: 'Barangsiapa yang tidak menyayangi manusia, maka Allah tidak akan menyayanginya.' (HR. Bukhari dan Muslim)*

*Kesombongan dan kezaliman akan selalu berakhir dengan keruntuhan. Karma bukan hanya cerita—ia nyata. Tapi ingatlah, meskipun karma datang, pintu taubat selalu terbuka. Allah Maha Pengampun bagi yang benar-benar menyesal.*

*Jangan tunggu sampai kita kehilangan segalanya untuk baru menyadari betapa berharganya kebaikan."*

---

*

---

**RUNTUHNYA KESOMBONGAN**

*- andrimyth chapter 24 -*

**"Kesombongan adalah tangga menuju kehancuran. Dan ketika kau jatuh... penyesalan adalah satu-satunya teman yang tersisa."**

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 👍🙏
Dri Andri: Terima kasih semoga sehat selalu ya... simak kisah kelanjutannya dan jangan lupa cek juga cerita lainnya barang kali ada yg lebih cocok dan lebih seru
total 1 replies
checangel_
Nangis dalam diam itu, sekuat apa sih batinnya 🤧🤭
Dri Andri: 🤣 gimana caranya
total 3 replies
checangel_
Belum nikah, tapi sudah layaknya suami istri /Sob/
checangel_
Lelah hati lebih melelahkan dari semua lelah yang menyapa di dunia ini😇, karena yang tahu hanya dirinya sendiri
checangel_
Janji mana yang kau lukiskan, Dyon/Facepalm/ janji lagi, lagi-lagi janji 🤭
checangel_
Dengar tuh kata Dyon, kesempatan kedua tidak datang untuk yang ketiga /Facepalm/
Dri Andri
seperti kisah cinta ini maklum cinta monyet
checangel_
Iya musuh, kalian berdua tak baik berduaan seperti itu, bukan mahram /Sob/
Dri Andri: tenang cuma ngobrol biasa ko gak ada free nya 😁🤣😁🤣😁
total 3 replies
checangel_
Ismi, .... sebaiknya jangan terlalu lelap dalam kata 'cinta', karena cinta itu berbagai macam rupa /Facepalm/
checangel_
Sampai segitunya Ismi🤧
checangel_
Nggak semua janji kelingking dapat dipercaya, maka dari itu janganlah berjanji, jika belum tentu pasti, Dyon, Ismi /Facepalm/
checangel_
Ingat ya, kisah cinta di masa sekolah itu belum tentu selamanya, bahkan yang bertahan selamanya itu bisa dihitung 🤧
checangel_
Ismi kamu itu ya /Facepalm/
checangel_
Nah, tuh kan, jadi terbayang-bayang sosok Ismi /Facepalm/. Fokus dulu yuk Fokus /Determined/
checangel_
Jangan balas dendam ya/Sob/
Dri Andri: balas dendam dengan bukti... bukti dengan kesuksesan dan keberhasilan bukan kekerasan💪
total 1 replies
checangel_
Jangan janji bisa nggak/Facepalm/
checangel_
Jangan gitu Dyon, mencintai itu wajar kok, mereka yang pergi, karena memang sudah jalannya seperti itu 😇
checangel_
Bisa kok, tapi ... nggak semudah itu perjuangannya 🤧, karena jurusan itu memang butuh biaya banyak/Frown/
checangel_
Ismi kamu ke realita aja gimana? banyak pasien yang membutuhkan Dokter sepertimu /Smile/
checangel_
Iya Dyon, don't give up!/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!