(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 2)
Setelah menaklukkan Laut Selatan dan membawa Long Tian ke Ranah Inti Emas, Han Luo menuju Kekaisaran Pusat untuk Turnamen Raja Laut. Di sana, ia mendeteksi potongan Pedang Darah Iblis lain yang dipegang oleh monster Ranah Jiwa Baru Lahir yang juga mengincar Mata Iblis Es.
Turnamen Raja Laut tahun ini akan sangat meriah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggung Berdarah
Arena Bawah Tanah Sekte Iblis Langit bukanlah tempat untuk pertarungan kehormatan. Tempat itu dibangun di dalam kawah alami yang dindingnya dilapisi duri besi berkarat, menyisakan noda darah dari generasi ke generasi. Di sini, yang kalah jarang keluar hidup-hidup.
Ribuan murid sekte iblis bersorak liar di tribun, kehausan akan tontonan brutal. Di kursi tertinggi, duduklah Ketua Sekte Iblis Langit, seorang pria tua dengan aura Jiwa Baru Lahir Puncak yang menekan napas semua orang di ruangan itu. Wajahnya disembunyikan di balik tirai manik-manik hitam.
Di tribun VIP sisi timur, Han Luo—dalam wujud Kakek Bungkuk Tabib Qiu—duduk di kursi empuk yang dilapisi kulit harimau. Di sebelahnya, Tetua Mo Wu berdiri tegap, menjaga sang tabib dengan penuh hormat.
"Hari ini, karya agung Anda akan diuji, Tabib Qiu," kata Tetua Mo Wu, matanya menatap bangga ke arah panggung. "Tuan Muda Xue akan menghancurkan wanita jalang itu."
Han Luo terbatuk pelan ke saputangannya, memasang wajah lelah namun bijak. "Obatku hanya membukakan jalan. Sisanya adalah bakat Tuan Muda sendiri. Aku hanya berharap dia tidak melupakan pesanku untuk... menjaga keseimbangan."
Mo Wu menepuk dadanya, tempat dia menyimpan Pil Darurat hitam dari Han Luo. "Jangan khawatir. Saya sudah siap untuk kemungkinan terburuk. Walaupun saya ragu itu akan terjadi."
Han Luo menyembunyikan senyumnya di balik cangkir teh. Ya, kau memang sudah siap, Mo Wu. Siap menjadi pelatuk bom yang kubuat.
TENG!
Gong perunggu dipukul tiga kali.
Sorak-sorai meledak saat dua sosok melangkah ke tengah arena.
Dari sisi timur, Xue Mochen berjalan masuk dengan langkah arogan. Dia bertelanjang dada, memamerkan otot-ototnya yang memancarkan uap panas dan dingin secara bergantian. Matanya liar, dipenuhi kepercayaan diri yang absolut.
Dari sisi barat, Su Qingxue melangkah anggun. Gaun sutra hitamnya berkibar pelan, tidak menyentuh tanah. Wajahnya tertutup cadar, tapi aura iblis yang memancar dari bayangannya membuat tanah di bawah kakinya retak.
"Menyerahlah, Qingxue," suara Xue Mochen menggema di arena. "Dulu kau mungkin bisa menekan racun apiku. Tapi sekarang, aku telah disembuhkan oleh tabib suci! Es dan Apiku telah menyatu. Kau bukan lagi tandinganku!"
Su Qingxue melirik sinis ke arah tribun VIP, matanya sempat bertemu dengan Han Luo (Tabib Qiu) sejenak. Dia tahu tabib itu disewa olehnya, jadi dia berasumsi tabib itu berpihak padanya.
"Anjing yang baru sembuh dari kurap selalu menggonggong paling keras," balas Su Qingxue dingin.
"Mati!"
Xue Mochen tidak membuang waktu. Dia menerjang maju.
Seni Iblis Api Darah: Cakar Naga Neraka!
Tangan kanannya berubah menjadi cakar api raksasa yang menyapu udara, membakar oksigen di sekitarnya.
Su Qingxue tidak menangkis. Dia melebur ke dalam bayangannya sendiri, meluncur di lantai arena menghindari serangan itu, lalu muncul tepat di belakang Xue Mochen.
Tusukan Bayangan Kematian!
Tiga paku bayangan melesat ke leher Xue Mochen.
Tapi Xue Mochen tertawa. Tangan kirinya bergerak ke belakang.
Metode Kondensasi Es Kutub!
Perisai es tebal terbentuk dalam sekejap, mematahkan paku bayangan Su Qingxue menjadi serpihan.
"Kombinasi Es dan Api-ku sekarang sempurna!" teriak Xue Mochen, memutar tubuhnya dan menendang Su Qingxue hingga gadis itu terpental beberapa meter.
Di tribun, para Tetua faksi Xue Mochen bersorak kegirangan.
"Tuan Muda sangat luar biasa! Transisi elemennya tanpa jeda!" "Tabib Qiu itu benar-benar dewa medis! Dia menyatukan dua Qi yang bertolak belakang!"
Han Luo, yang sedang dipuji-puji, hanya membelai jenggot palsunya sambil meminum teh. Transisi yang sempurna? Tentu saja. Karena aku membuatkan 'katup es' di Dantiannya. Selama dia bertarung di bawah 90% kapasitasnya, Qi-nya akan mengalir seperti jalan tol.
Di arena, pertarungan semakin brutal.
Su Qingxue mulai kewalahan. Serangan bayangannya terus-menerus dipatahkan oleh perpaduan brutal serangan area api dan pertahanan absolut es milik Xue Mochen.
Gadis iblis itu terengah-engah, jubahnya robek di beberapa tempat. Matanya memancarkan kepanikan yang jarang terlihat.
"Sialan," batin Su Qingxue. "Kenapa tabib tua itu benar-benar menyembuhkannya?! Di mana 'cacat tersembunyi' yang dia janjikan?! Apakah si kakek serakah itu berkhianat dan benar-benar beralih pihak ke Xue Mochen demi kekayaan?!"
Su Qingxue menatap tajam ke arah Tabib Qiu di tribun. Han Luo menangkap tatapan itu dan hanya mengangkat bahu pelan, seolah berkata: 'Sabar sedikit.'
Xue Mochen merasa kemenangannya sudah di depan mata. Arogansinya mencapai puncaknya. Dia ingin mempermalukan Su Qingxue di depan seluruh sekte, membuktikan bahwa hanya dialah yang pantas mewarisi takhta.
"Mari kita akhiri tarian ini, Jalang!" raung Xue Mochen.
Dia mengangkat kedua tangannya ke atas. Dia menarik seluruh—seratus persen—Qi dari Dantian-nya. Dia ingin menciptakan serangan gabungan Es dan Api terbesar yang pernah dilihat sekte ini.
"MATILAH DALAM KEBESARANKU! NERAKA KEMBAR ES DAN API!"
Energi raksasa berkumpul di atas kepalanya, membentuk bola raksasa yang separuh membara dan separuh membeku. Tekanannya membuat lantai arena retak parah. Su Qingxue memucat, menyadari dia tidak bisa menangkis serangan ini.
Di tribun VIP, Han Luo menghentikan ketukan jarinya di atas meja.
"Sekarang," bisik Han Luo.
Di tengah arena, tepat saat Xue Mochen hendak melempar bola energi pemusnah massal itu...
KRAK.
Suara retakan kecil terdengar dari dalam perut Xue Mochen. Itu adalah suara 'katup es' buatan Han Luo—yang menjaga jarak antara Qi Api dan Qi Es di dalam Dantiannya—hancur karena tidak kuat menahan aliran Qi 100%.
Tanpa katup itu, Api dan Es di dalam Dantian Xue Mochen bertabrakan secara langsung.
BZZZZZT!
Bola energi raksasa di atas kepala Xue Mochen tiba-tiba padam seperti lilin ditiup angin.
"U-Ugh...?"
Xue Mochen membeku. Matanya melotot hingga urat merahnya pecah. Dia mencengkeram perutnya.
"AAAAAARRRGHHHH!"
Jeritan yang merobek pita suara menggema di seluruh arena. Xue Mochen jatuh berlutut. Kulitnya melepuh terbakar di satu sisi, dan membeku menghitam di sisi lain. Darah yang dimuntahkannya adalah lumpur mendidih.
Penyimpangan Qi Ekstrem.
Seluruh penonton berdiri kaget. Ketua Sekte di balik tirai mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Tuan Muda!" Tetua Mo Wu berteriak panik dari tribun VIP. Dia menoleh ke arah Han Luo. "Tabib Qiu! Apa yang terjadi?!"
Han Luo memasang ekspresi syok dan ketakutan yang luar biasa (akting tingkat dewa). Dia menjatuhkan cangkir tehnya dengan tangan gemetar.
"T-Tidak mungkin! Dia memaksakan batasnya! Es dan Apinya bertabrakan! Cepat, Tetua Mo Wu! Nyawanya dalam bahaya absolut! Pil Darurat! Berikan Pil Darurat yang kuberikan padamu!"
Otak Mo Wu sedang panik melihat pewarisnya sekarat. Mendengar instruksi dari "Tabib Jenius" yang dipercayainya, dia tidak berpikir dua kali.
Mo Wu melesat turun dari tribun seperti kilat, mendarat di samping Xue Mochen yang sedang kejang-kejang.
"Bertahanlah, Tuan Muda!"
Mo Wu mengeluarkan pil hitam pekat itu dan memaksakannya masuk ke mulut Xue Mochen. Dia menekan tenggorokan pemuda itu agar pilnya tertelan.
Di tribun VIP, Han Luo (Tabib Qiu) berdiri, dan dengan sangat perlahan, mulai melangkah mundur menuju pintu keluar.
Di bawah sana, pil hitam itu larut di dalam perut Xue Mochen.
Pil itu bukan pereda Qi. Pil itu adalah Pil Pemicu. Ia dirancang untuk bereaksi secara instan dengan Qi yang kacau balau, mengubah tubuh kultivator menjadi bom daging spiritual.
Mata Xue Mochen yang awalnya memutih karena sakit, tiba-tiba membelalak menatap Mo Wu. Cahaya di dalam pupilnya sangat terang, seolah ada matahari yang terbit di dalam kepalanya.
"Lari..." bisik Xue Mochen, suara terakhirnya.
Mo Wu menyadari kesalahannya. Energi yang memancar dari tubuh Xue Mochen bukanlah energi penyembuhan, melainkan tekanan sebelum ledakan.
"Celak—"
KABOOOOOOOOOMMMMMM!!!!!
Ledakan dahsyat terjadi di tengah arena. Bukan ledakan elemen biasa, melainkan ledakan dari sebuah Dantian Jiwa Baru Lahir Awal yang didetonasi paksa.
Gelombang kejut berwarna ungu-merah menyapu arena dengan kecepatan suara.
Tetua Mo Wu, yang berada tepat di jarak nol, hancur menjadi debu dalam hitungan milidetik tanpa sempat menjerit.
Lantai arena batu hancur berkeping-keping. Badai energi menghantam dinding pelindung arena hingga retak, menerbangkan ratusan penonton di barisan depan ke udara.
Su Qingxue, yang berada cukup dekat, segera membungkus dirinya dengan kepompong bayangan maksimal. Namun dia tetap terlempar menghantam dinding arena dengan keras, memuntahkan darah hitam, organ dalamnya terguncang parah.
Kepanikan absolut melanda. Jeritan, debu, darah, dan puing-puing memenuhi udara.
"LINDUNGI KETUA SEKTE!"
"TUAN MUDA XUE TELAH HANCUR!"
Di tengah kekacauan itu, Han Luo yang sudah berada di ambang pintu keluar tribun VIP, membiarkan tubuh "rentannya" terlempar oleh sisa angin ledakan. Dia sengaja membenturkan kepalanya sedikit ke pilar untuk membuatnya berdarah, lalu jatuh pingsan (pura-pura).
Skakmat, batin Han Luo sambil memejamkan mata di lantai yang bergetar.
Analisis Situasi Pasca Ledakan (Di dalam kepala Han Luo):
Xue Mochen mati dengan cara paling spektakuler dan tak terbantahkan.
Tetua Mo Wu, satu-satunya saksi yang memberinya pil itu, mati hancur bersama Xue Mochen. Tidak ada bukti bahwa itu pil Han Luo.
Seluruh arena melihat Xue Mochen meledak saat sedang bertarung melawan Su Qingxue.
Bagi ribuan mata yang menonton, kesimpulannya hanya satu: Su Qingxue menggunakan sihir iblis terlarang untuk memicu penyimpangan Qi pada Xue Mochen dan meledakkannya.
Su Qingxue, yang saat ini terkapar terluka parah di dasar kawah arena, belum menyadari bahwa dia bukan saja kehilangan saingannya, tapi dia baru saja dijadikan Tersangka Utama Pembunuhan Pewaris Sekte di depan mata Ketua Sekte langsung.
Han Luo telah menyingkirkan targetnya, membunuh saksi ahlinya, dan menjebak 'sekutu' semunya sendiri dalam satu gerakan efisien, sambil mempertahankan posisinya sebagai Kakek Tabib yang menjadi korban keadaan.
Dunia bawah tanah Sekte Iblis Langit baru saja runtuh. Dan Sang Penipu sedang tidur siang di atas puing-puingnya.
tpi gw demen....