NovelToon NovelToon
San Sekai No Koi Monogatari

San Sekai No Koi Monogatari

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Anime / Tamat
Popularitas:380
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Shin Kurogane bukanlah remaja biasa. Di balik penampilannya yang santai dengan jaket kulit dan ikat kepala merah, ia membawa beban harapan kakeknya untuk menjadi sosok yang bermanfaat. Namun, hidupnya berubah total saat ia menginjakkan kaki di Kamakura Private High School, sebuah institusi elit tempat bertemunya tiga dunia yang berbeda.
​Tiba-tiba, sebuah suara sarkastik dari entitas bernama Miu bergema di kepalanya, memperkenalkan "Template Pekerjaan". Kini, Shin bukan hanya harus menyeimbangkan hidupnya sebagai siswa, tapi juga sebagai penulis novel jenius, koki berbakat, dan ahli medis dadakan.
​Di sekolah ini, ia terjebak di antara sepupu-sepupunya yang dingin seperti Yukino dan Eriri, guru-guru yang butuh perlindungan emosional seperti Shizuka dan Mafuyu, hingga gadis-gadis misterius seperti Utaha dan Megumi. Tanpa kekuatan supranatural atau sihir, Shin harus menggunakan kecerdasan analitis, karisma alami, dan bantuan sistemnya untuk menavigasi drama remaja, persaingan kreatif, da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kunjungan Tak Diundang

Malam itu, hujan gerimis mulai membasahi kaca jendela apartemen mewah keluarga Nakano, menciptakan pola aliran air yang abstrak dan melankolis. Di dalam ruang tengah, suasana justru sedang dalam kondisi "pemanasan mesin". Setelah kemenangan di aula sekolah tadi siang, semangat kelima gadis ini sedang berada di titik tertinggi. Meja makan kini penuh dengan buku catatan, stabilo berbagai warna, dan laptop yang menampilkan grafik fungsi matematika.

Aku duduk di kursi kayu di sudut ruangan, mengamati mereka. Sifat analitisku mencatat adanya peningkatan efisiensi sebesar 20% dalam cara mereka memproses informasi. Miku tidak lagi ragu saat menghadapi soal sejarah dunia, dan Nino mulai bisa menikmati logika di balik reaksi kimia.

[Keahlian Analitis: Master]

[Status: Sesi Belajar Mandiri Terpantau Aman]

[Bahasa Sistem: Tingkat Fokus Kelompok Stabil pada 85%]

"Ren-kun, coba lihat ini," Miku memanggilku dengan suara lembut. Ia menunjukkan hasil ringkasannya tentang Revolusi Industri. "Aku mencoba menghubungkan motif ekonomi dengan emosi para pekerja saat itu, seperti yang kau sarankan. Apakah ini terlalu jauh dari kurikulum?"

Aku berdiri dan berjalan mendekatinya, membungkuk sedikit untuk melihat catatannya. Aroma teh hijau yang baru diseduh Miku menguar, memberikan sensasi tenang yang kontras dengan tekanan ujian yang membayangi. "Tidak, Miku. Menghubungkan data dengan empati adalah cara terbaik untuk mengingat sejarah. Kau tidak sedang menghafal tahun; kau sedang memahami manusia."

Tepat saat aku hendak memberikan catatan tambahan, sensor pendengaranku menangkap suara yang tidak asing di lorong depan. Suara langkah sepatu kulit yang berat, teratur, dan penuh wibawa. Langkah itu bukan milik kurir makanan atau petugas kebersihan.

Klik.

Pintu apartemen terbuka tanpa ketukan.

Suasana riuh belajar mendadak senyap. Yotsuba yang tadinya sedang mengunyah biskuit langsung mematung. Itsuki berdiri dengan wajah pucat, sementara Nino mengepalkan tangannya di bawah meja.

Di ambang pintu, berdiri Maruo Nakano. Ia tidak sendirian. Di belakangnya, seorang pria paruh baya dengan kacamata berbingkai perak dan tas koper hitam elegan berdiri dengan ekspresi wajah sedingin es.

[Keahlian Analitis: Master]

[Identifikasi Subjek: Maruo Nakano & Pengacara Keluarga]

[Status: Intervensi Otoritas Ekstrem]

[Bahasa Sistem: Ancaman Hukum Terdeteksi]

"Ayah..." Itsuki berbisik, suaranya hampir hilang tertelan kesunyian ruangan.

Maruo tidak segera bicara. Ia melangkah masuk, matanya memindai ruangan yang berantakan dengan buku-buku. Tatapannya berhenti tepat di wajahku. Tidak ada amarah yang meledak-ledak; yang ada hanyalah kedinginan seorang pria yang merasa hartanya sedang dimanipulasi oleh orang asing.

"Kalian tampak sangat sibuk," Maruo memulai, suaranya datar namun berwibawa. "Aku mendengar tentang simulasi di sekolah tadi. Sebuah pertunjukan yang cukup menarik, Saiba Ren. Kau berhasil meyakinkan dewan sekolah dengan trik psikologismu."

"Itu bukan trik, Nakano-san. Itu adalah hasil kerja keras mereka," balasku, melangkah maju untuk berdiri di depan kembar lima, menciptakan pembatas tak kasat mata antara mereka dan otoritas Maruo.

Maruo memberikan isyarat pada pria di belakangnya. Sang pengacara maju dan meletakkan sebuah map tebal di atas meja belajar, tepat di atas buku matematika Yotsuba.

"Ini adalah draf kontrak pemisahan legal dan pemindahan sekolah," ujar sang pengacara dengan suara yang lugas tanpa emosi. "Mengingat pengaruh Saiba Ren-kun telah melampaui batas bimbingan akademik dan mulai mencampuri urusan privasi keluarga Nakano, klien kami memutuskan untuk menggunakan haknya sebagai wali sah untuk memindahkan Nakano bersaudara ke sekolah asrama tertutup di Tokyo, efektif mulai lusa."

"Apa?!" Nino berteriak, ia berdiri dan memukul meja. "Lusa? Tapi ujian tengah semester tinggal dua minggu lagi! Kau berjanji akan memberikan kami waktu satu bulan!"

Maruo menatap Nino dengan pandangan yang membuat nyali siapa pun menciut. "Janji itu berlaku jika situasi tetap terkendali. Namun, saat Saiba mulai menggunakan masa lalu kriminalnya untuk memengaruhi cara berpikir kalian, situasi tersebut dianggap darurat secara hukum. Aku sedang melindungi kalian dari pengaruh yang merusak."

[Bahasa Sistem: Analisis Kontrak Terdeteksi]

[Status: Maruo Menggunakan Celah 'Perlindungan Anak' untuk Membatalkan Perjanjian Lisan]

Aku mengambil map tersebut, membacanya dengan kecepatan pemindaian sistem. Sifat dewasaku tetap tenang, meskipun di dalam hati aku merasa mual melihat bagaimana kekuasaan digunakan untuk membungkam pertumbuhan manusia.

"Anda takut, Nakano-san," ujarku, menatap langsung ke dalam mata Maruo. "Anda melihat mereka mulai memiliki suara sendiri, dan Anda takut suara itu akan mengatakan bahwa mereka tidak lagi membutuhkan kontrol Anda. Pengacara ini hanyalah alat untuk menutupi rasa tidak aman Anda sebagai seorang ayah."

"Beraninya kau..." sang pengacara mencoba menyela, namun Maruo mengangkat tangannya.

"Kau bisa bicara apa pun, Saiba. Tapi secara hukum, kau tidak punya posisi di sini. Kau bukan keluarga, kau bukan wali, dan kau bukan guru resmi," Maruo melangkah lebih dekat, suaranya kini berbisik namun tajam seperti sembilu. "Kemasi barang-barangmu dan tinggalkan apartemen ini sekarang. Jika kau mendekati mereka lagi dalam jarak seratus meter, polisi akan menunggumu dengan berkas masa lalumu di Tokyo."

Miku melangkah maju, tangannya gemetar namun ia berdiri tegak di sampingku. "Kalau Ren-kun pergi, aku tidak akan ikut ke Tokyo. Aku akan tinggal di sini, atau pergi ke tempat lain. Aku bukan aset yang bisa kau pindahkan sesukamu, Ayah!"

"Miku, diam," perintah Maruo.

"Tidak!" Itsuki ikut bersuara, matanya berkaca-kaca namun penuh tekad. "Kami sudah membuat janji. Kami akan membuktikan kemampuan kami di ujian nanti. Jika Ayah memindahkan kami sekarang, Ayah mengakui bahwa Ayah kalah dari seorang murid pindahan!"

Pertengkaran ini mulai memanas. Ruang tamu yang tadinya merupakan tempat belajar yang hangat kini berubah menjadi medan pertempuran hukum dan emosi. Aku menatap kelima gadis itu, lalu kembali ke kontrak di tanganku. Sifat analitisku mulai mencari variabel yang bisa membalikkan keadaan.

Ada satu paragraf kecil di bagian belakang kontrak tentang "Hak Persetujuan Siswa yang Sudah Berusia 17 Tahun". Sebuah celah kecil, namun butuh pengorbanan besar untuk mengaktifkannya.

"Nakano-san," panggilku, suaraku kembali ke nada analitis yang sangat dalam. "Bagaimana jika kita melakukan satu pertaruhan terakhir? Pertaruhan yang akan membuat Anda menang secara absolut, atau kehilangan kontrol Anda selamanya."

Maruo berhenti sejenak, rasa ingin tahunya sebagai seorang pria yang haus akan efisiensi mulai muncul. "Pertaruhan apa lagi, Saiba?"

Keheningan yang menyusul tawaranku terasa begitu tebal hingga detak hujan di kaca jendela terdengar seperti hantaman palu. Maruo Nakano berdiri tegak, tidak bergeming, sementara pengacaranya hanya menaikkan bingkai kacamatanya, menunggu instruksi. Di belakangku, aku bisa merasakan napas tertahan dari kelima gadis itu. Mereka menatap punggungku, menggantungkan seluruh nasib mereka pada variabel yang akan segera kulepaskan.

"Pertaruhan terakhir?" Maruo mengulang kata-kataku dengan nada yang kering, hampir seperti tawa yang mati di tenggorokan. "Kau berada di posisi di mana kau tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan, Saiba Ren. Kau tidak punya status, tidak punya otoritas, dan mulai detik ini, kau tidak punya izin untuk berada di sini."

Aku tidak gentar. Aku melangkah maju satu langkah lagi, memasuki zona personal pria yang menganggap dirinya penguasa takdir ini.

"Saya punya masa depan saya sendiri, Nakano-san," jawabku dengan suara yang rendah namun sangat jernih. "Anda ingin menghancurkan saya secara permanen karena saya telah mengganggu rencana Anda. Jadi, mari kita buat ini menjadi adil secara sistemik."

[Keahlian Analitis: Master]

[Status: Menghitung Risiko Pengorbanan Diri]

[Bahasa Sistem: Membuka Protokol Taruhan Mutlak]

Aku mengambil pena dari meja belajar dan menunjuk pada dokumen pemindahan tersebut. "Biarkan mereka tinggal dan mengikuti ujian tengah semester di Akademi Sakura. Jika ada satu saja—hanya satu—dari mereka yang gagal mendapatkan nilai 65, saya tidak hanya akan mengundurkan diri dan menghilang dari kehidupan mereka. Saya akan menandatangani pengakuan tertulis bahwa saya telah melakukan manipulasi psikologis terhadap mereka, menyerahkan seluruh hak cipta karya sastra saya kepada yayasan Anda, dan menerima tuntutan hukum apa pun yang ingin Anda ajukan terkait masa lalu saya di Tokyo."

Suasana di ruangan itu mendadak mendingin hingga titik beku. Pengacara Maruo tampak terkejut, matanya membelalak menatap dokumen yang sedang kubicarakan. Itu bukan sekadar pengunduran diri; itu adalah penyerahan diri secara total. Itu berarti aku memberikan Maruo senjata untuk memasukkanku ke penjara atau menghancurkan karierku selamanya.

"Saiba-san, jangan!" Yotsuba berteriak, suaranya pecah karena panik. "Jangan lakukan itu! Itu terlalu berbahaya!"

"Ren! Kau gila?!" Nino mencoba menarik bahuku, namun aku tetap berdiri kokoh. Mataku tidak lepas dari Maruo.

Maruo terdiam. Untuk pertama kalinya, aku melihat variabel keraguan di matanya. Dia adalah pria yang logis; dia tahu bahwa penawaran ini adalah kemenangan mutlak baginya jika aku gagal. Dia mendapatkan segalanya: pembersihan nama keluarganya, penghancuran musuhnya, dan kontrol penuh kembali atas putri-putrinya.

"Dan jika mereka semua berhasil?" Maruo bertanya, suaranya kini lebih tajam.

"Jika kelimanya melampaui angka 65, Anda akan menandatangani dokumen pembatalan hak perwalian pendidikan," jawabku dengan nada dewasa yang tak tergoyahkan. "Anda akan tetap menjadi ayah mereka, tetapi Anda akan memberikan mereka kebebasan penuh untuk memilih sekolah, jurusan, dan karier mereka tanpa campur tangan hukum dari pihak Anda. Anda akan menjadi penonton dalam hidup mereka, bukan lagi sutradaranya."

Sang pengacara berbisik ke telinga Maruo, kemungkinan besar memperingatkannya tentang risiko kehilangan kontrol legal tersebut. Namun, Maruo mengangkat tangannya, membungkam pria itu.

"Kau sangat percaya diri pada 'produk' yang gagal ini, Saiba," Maruo menatap kelima putrinya dengan pandangan yang meremehkan, namun kali ini ada tantangan di dalamnya. "Baiklah. Dua minggu. Aku akan menunda pemindahan ini hingga hasil ujian keluar. Tapi ingat, pengacaraku akan menyiapkan dokumen yang kau janjikan malam ini juga. Sekali kau menandatanganinya, tidak ada jalan kembali."

"Saya tahu cara kerja kontrak, Nakano-san," balasku datar.

Maruo berbalik, berjalan menuju pintu tanpa mengucapkan kata perpisahan pada putri-putrinya. Namun, sebelum ia melangkah keluar, ia berhenti sebentar. "Nikmatilah dua minggu terakhirmu sebagai manusia bebas, Saiba Ren. Karena setelah ini, kau hanya akan menjadi catatan kaki dalam kegagalan mereka."

Pintu apartemen tertutup dengan bunyi berdebam yang final.

Begitu Maruo pergi, ketegangan di ruangan itu pecah menjadi emosi yang meledak. Itsuki terduduk lemas di sofa, sementara Miku langsung menghampiriku dengan wajah yang sangat pucat.

"Kenapa kau melakukan itu, Ren?" suara Miku bergetar. "Kenapa kau mempertaruhkan dirimu seperti itu? Kami... kami bisa mencari cara lain. Kami bisa kabur, atau..."

"Tidak ada cara lain melawan pria seperti Maruo selain dengan taruhan yang lebih besar dari egonya sendiri, Miku," aku duduk di sampingnya, membiarkan sifat pelindungku mengambil alih. Aku menatap mereka satu per satu, wajah-wajah yang kini dipenuhi rasa bersalah dan ketakutan.

"Dengar," ujarku, suaraku menjadi sangat lembut namun penuh kekuatan. "Aku tidak mempertaruhkan masa depanku pada sebuah koin keberuntungan. Aku mempertaruhkannya pada kalian. Aku melihat cara kalian belajar tadi. Aku melihat bagaimana kalian saling membantu. Angka 65 itu bukan lagi dinding yang mustahil; itu hanya variabel yang perlu kita taklukkan."

Nino berdiri di depanku, matanya memerah karena menahan tangis. "Kalau kau kalah... kau akan masuk penjara karena tuduhan palsu itu, kan? Ayah akan melakukan apa pun untuk menghancurkanmu."

"Maka pastikan aku tidak kalah, Nino," jawabku sembari tersenyum tipis—sebuah senyum yang jarang kulihatkan, yang penuh dengan kepercayaan manusiawi yang tulus. "Kalian punya waktu empat belas hari. Empat belas hari untuk menulis akhir yang berbeda dari apa yang diinginkan Maruo."

[Status Pekerjaan: Taruhan Hidup Mati Aktif]

[Variabel Hubungan: Ikatan Takdir (Maksimal)]

[Bahasa Sistem: Semua subjek memasuki fase 'Tekad Mutlak']

Malam itu, tidak ada yang tidur lebih awal. Kami kembali ke meja belajar, namun atmosfernya telah berubah. Tidak ada lagi keluhan, tidak ada lagi rasa malas. Suara goresan pulpen di atas kertas terdengar lebih cepat, lebih fokus. Aku berkeliling di antara mereka, memberikan bimbingan dengan ketelitian yang belum pernah kulakukan sebelumnya.

Di bawah lampu ruang tamu yang temaram, aku melihat mereka berlima—lima kelopak bunga yang sedang dipaksa mekar di tengah badai. Dan aku, sang penulis naskah ini, bersumpah dalam hati bahwa bab ini tidak akan berakhir dengan tragedi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!