Selama empat tahun pernikahan, Laras menjadi mesin ATM bagi keluarga suaminya. Sebagai wanita karier dengan posisi mapan dan gaji besar, ia tidak hanya menafkahi rumah tangganya sendiri, tetapi juga menanggung gaya hidup mewah ibu mertua dan adik iparnya, sementara suaminya, Arga, lepas tangan dengan alasan gajinya yang kecil.
Puncak kesabaran Laras habis ketika ia menyadari bahwa kebaikannya tidak pernah dihargai dan justru dianggap sebagai kewajiban mutlak. Laras memutuskan untuk melakukan "pemogokan finansial". Ia memotong uang bulanan secara drastis, berhenti membayar cicilan mobil sang adik ipar, dan mulai menikmati hasil jerih payahnya untuk dirinya sendiri.
Keputusan Laras memicu "perang" dalam keluarga besar. Arga yang manipulatif, serta ibu mertua dan adik ipar yang parasit, mulai melakukan berbagai cara untuk menekan Laras, mulai dari intimidasi, adu domba dengan keluarga besar, hingga ancaman perceraian. Namun, Laras yang kini lebih berdaya tidak lagi bisa ditindas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angel Hamil???
Matahari sudah meninggi, nyaris menyentuh angka setengah delapan pagi saat Angel mengerjap pelan. Tubuhnya terasa remuk, setiap sendinya seolah menagih istirahat setelah pergulatan panjang hingga fajar menyingsing. Semalam, Arga benar-benar kehilangan kendali. Bahkan saat subuh baru saja mengetuk pintu, pria itu kembali menuntut. Angel tentu tidak menolak. Baginya, setiap sentuhan Arga adalah jerat yang semakin kuat untuk mengunci pria itu dalam genggamannya.
"Lebih baik aku mandi, sarapan, lalu ke dokter. Aku harus memastikan beni ini sudah tertanam." gumam Angel sembari menyibakkan selimut sutra yang menutupi tubuh polosnya.
Ia terkekeh pelan. Matanya menatap pantulan dirinya di cermin besar, tubuh yang penuh dengan bercak kemerahan di area dada. Alih-alih merasa malu karena melakukan hal sejauh itu tanpa ikatan sah, Angel justru merasa bangga. Tanda-tanda itu adalah bukti kemenangannya atas Laras.
"Sebentar lagi, aku yang akan menjadi Nyonya Arga di rumah ini. Dan semua kemewahan milik Laras... akan jatuh ke tanganku." bisiknya penuh ambisi.
Angel melangkah ke kamar mandi, meraih handuk tebal berwarna krem yang aromanya masih menyisakan wangi parfum Laras. Ia menyalakan shower, membiarkan air hangat membasuh kulitnya sembari matanya menjelajahi deretan botol di rak marmer.
"Luar biasa... Bathup, rain shower, bahkan koleksi perawatannya selengkap ini?" Angel tercengang. Ia mengambil satu per satu botol kaca elegan di sana. "Lulur organik, serum tubuh, sampo merek Prancis... gila, ini pasti harganya jutaan."
Seumur hidup, ibunya, Bu Sitti tak pernah mau membelikan barang-barang se-estetik ini. Bagi keluarganya, menghabiskan empat juta hanya untuk printilan mandi adalah pemborosan yang tak masuk akal.
"Pasti Arga yang membelikan ini semua. Dia royal sekali pada istrinya." gumam Angel dengan rasa iri yang membakar. Ia segera mengambil sebuah paper bag besar yang ia temukan di lemari. Tanpa ragu, ia menyapu bersih semua produk perawatan Laras ke dalam tas itu, hanya menyisakan sabun batang dan pasta gigi milik Arga. "Anggap saja ini uang muka untuk masa depanku."
Setelah berpakaian rapi, Angel mengendap-endap keluar menuju mobilnya yang terparkir di halaman, lalu menyembunyikan jarahannya di sana.
"Kenapa rumah ini sepi sekali? Di mana Bu Ajeng dan Tiara?" Angel menggerutu sambil mengusap perutnya yang mulai keroncongan.
"Heh... Siapa kamu???" sebuah suara melengking menginterupsi lamunannya.
Angel terlonjak, nyaris menjatuhkan kunci mobilnya. Seorang wanita paruh baya berdiri di pagar rumah sebelah, menatapnya dengan tatapan penuh selidik yang tajam. Sebelum Angel sempat mengarang jawaban, Bu Ajeng muncul dari pintu utama, tampak terengah-engah.
"Eh, Bu Lena. Ini... ini Angel. Saudara jauh saya dari luar kota, baru sampai semalam." potong Bu Ajeng cepat, mencoba menambal kecurigaan tetangganya.
Angel mengembuskan napas lega. Ia hanya tersenyum kaku saat Bu Lena menyipitkan mata.
"Saudara jauh ya? Kok tidak pernah kelihatan?" tanya Bu Lena masih belum puas. "Lalu, apa sudah izin sama Mbak Laras? Kemarin pagi saya lihat Laras bawa koper, katanya mau ke rumah orang tuanya."
Wajah Bu Ajeng seketika berubah masam. "Kenapa harus izin Laras? Ini rumah anak saya, Arga. Ibu kan tahu sendiri, rumah saya di kampung sudah disita Bank Orange karena utang-utang Laras yang tidak jelas itu. Jadi wajar kalau saya mau ajak saudara menginap di rumah anak saya sendiri. Sudah ya, Bu, jangan terlalu mencampuri urusan orang."
Bu Ajeng langsung menarik tangan Angel masuk ke dalam rumah, meninggalkan Bu Lena yang masih bergeming dengan dahi berkerut. Di lingkungan itu, Bu Ajeng memang gigih menyebarkan fitnah bahwa Laraslah penyebab kebangkrutan keluarga mereka, meski kenyataannya justru keluarga Argalah yang terus-menerus mengerogoti penghasilan Laras sebagai karyawati kantoran.
Di ruang makan, aroma ayam goreng menyambut mereka. Angel langsung duduk dan menyambar sepotong paha ayam tanpa permisi.
"Tetangga Ibu kepo sekali, sih. Di tempatku tidak ada yang seperti itu." keluh Angel dengan mulut penuh makanan.
"Namanya juga orang kampung, Sayang. Sabarlah, nanti kalau kamu sudah menikah dengan Arga dan tinggal di sini, kamu akan terbiasa." sahut Bu Ajeng manis, sembari menyendokkan nasi ke piring Angel. "Oh ya, Tiara tadi sudah berangkat kuliah. Arga mana? Belum bangun?"
Angel tersenyum penuh arti. "Biarkan saja Mas Arga istirahat, Bu. Semalam dia... kerja keras sekali. Kasihan kalau dibangunkan."
Bu Ajeng hanya tersenyum tipis, meski dalam hati ia merasa cemas jika para warga melakukan penggerebekan. Namun, demi menyingkirkan Laras, ia rela menutup mata.
**
Sore harinya, suasana berubah menjadi penuh euforia sekaligus ketegangan. Sepulang dari klinik, Angel membawa kabar yang dinantikan, ia positif hamil dua minggu.
"Kenapa bisa secepat ini, Arga? Kamu tidak pakai pengaman?" tanya Bu Ajeng di ruang tengah, meski matanya berbinar senang.
Arga tertawa lebar, merasa menjadi pria paling beruntung. "Ini namanya takdir, Bu. Justru dengan begini, Angel tidak akan bisa lepas. Orang tuanya, Pak Komar dan Bu Sitti, pasti akan setuju kami segera menikah. Mana ada orang tua yang mau menanggung malu anaknya hamil tanpa suami?"
"Tapi kamu dan Laras belum resmi bercerai." Bu Ajeng mengingatkan.
"Gampang, Bu. Kita nikah siri dulu. Nanti kalau urusan dengan Laras sudah beres, tinggal didaftarkan ke KUA. Ibu tenang saja, Arga akan membuang batu kali seperti Laras dan mendapatkan bongkahan berlian seperti Angel." ucap Arga penuh percaya diri.
Ia tidak tahu saja, bahwa Laras bukanlah sekadar karyawati biasa dan rumah yang ia tempati saat ini adalah aset milik Laras pemberian orang tuanya yang kaya raya di desa.
"Ya sudah, atur saja. Nanti malam kita makan malam di rumah Angel. Ibu ingin lihat rumah orang tuanya yang katanya mewah itu." ujar Bu Ajeng antusias.
**
Di saat yang sama, ratusan kilometer dari sana, Laras sedang duduk di beranda rumah joglo milik paman dan bibinya di desa. Udara pedesaan yang sejuk sedikit mengobati luka hatinya setelah empat tahun pernikahan yang penuh kepura-puraan dengan Arga.
"Laras, kenapa Arga tidak diajak?" tanya Pak Darso, kakak ibunya, sembari menyesap teh hangat.
Laras memaksakan senyum tipis. "Mas Arga sedang sibuk dengan proyek kantornya, Paman. Nanti kapan-kapan Laras bawa dia ke sini."
"Paman ingin sekali bertemu suamimu. Dulu saat kalian menikah, Paman sedang sakit, jadi tidak bisa datang." lanjut lelaki tua itu tulus.
Laras hanya mengangguk pelan. Tiba-tiba, ponsel di pangkuannya bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk yang ia abaikan, diikuti dua pesan singkat dari ibu mertuanya.
[Laras, transfer 500 ribu sekarang. Kamu pergi tidak belanja, tidak ninggalin uang. Kami mau makan apa?]
[Beras habis, kulkas kosong. Ibu tidak punya uang. Terserah kamu mau pergi sebulan pun, yang penting kirim uangnya sekarang. Cepat!!!]
Laras menghela napas panjang, matanya menatap hamparan kebun cengkeh milik ayahnya yang menghijau di kejauhan. Beras habis? Kulkas kosong?
"Bukannya baru lusa kemarin aku beli beras sepuluh kilo dan telur dua kilo? Masih ada stok udang dan daging juga." gumam Laras heran.
Instingnya mendadak tajam. Selama ini ia diam bukan berarti buta. Seminggu sebelum ia memutuskan pergi menenangkan diri ke desa, Laras secara diam-diam telah memasang empat titik kamera CCTV tersembunyi di sudut-sudut strategis rumahnya. Kamar utama, ruang tamu, dapur dan ruang keluarga.
Dengan jari sedikit gemetar, Laras membuka aplikasi di ponselnya. Ia ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi di rumahnya selama ia tidak ada. Ia tidak tahu, bahwa layar ponsel itu sebentar lagi akan menghancurkan sisa-sisa rasa hormat yang ia miliki untuk suaminya.