Fang Yuan kehilangan kedua orang tuanya karena ulah kultivator.Lalu Ia hidup bersama kakeknya hingga akhirnya sang kakek pun meninggalkannya seorang diri.
Di tengah kerasnya dunia, Fang Yuan menemukan sebuah buku kultivasi. Tanpa bakat, tanpa dukungan, hanya dengan tekad.
“Aku akan melakukan apa pun 1000 kali… sampai berhasil.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Elang Mengejar Kelinci(fix)
Angin gunung menderu di telinga Fang Yuan, membawa aroma tanah basah dan bahaya yang pekat.
Chi Yan Zhu berlari dengan kecepatan penuh, otot-otot kakinya yang besar berkedut setiap kali menghantam tanah berbatu.
Di punggungnya, Fang Yuan memegang erat kotak kayu yang terus bergetar hebat.
"Lebih cepat, Chi Yan Zhu! Lebih cepat!" teriak Fang Yuan.
Namun, di langit, sebuah bayangan hijau melesat dengan tenang, membelah awan.
Bai Lie, sang Kultivator Pendirian Fondasi, menatap ke bawah dengan senyum dingin.
Baginya, pelarian Fang Yuan hanyalah tarian serangga yang menunggu untuk diinjak.
"Mencoba lari dari Kultivator Pendirian Fondasi? Nak, kau punya nyali, tapi kau tidak punya otak." suara Bai Lie menggema, diperkuat oleh Qi, terdengar seperti guntur di atas kepala Fang Yuan.
Bai Lie mengayunkan tangannya. Dua bilah angin hijau melesat dari langit, menebas pepohonan di sekitar Fang Yuan seperti memotong rumput.
BOOM! BOOM!
Fang Yuan merogoh tasnya dengan gerakan kilat. Ia tidak bisa hanya diam. Ia mengeluarkan botol 'Kabut Penghisap Jiwa' dan melemparkannya ke belakang saat mereka melewati celah sempit di antara dua tebing.
PRANK!
Asap kelabu pekat segera memenuhi area tersebut. Fang Yuan berharap kabut ini bisa mengaburkan penglihatan Bai Lie atau setidaknya mengganggu pernapasannya. Namun, ia meremehkan apa artinya ranah ke-2.
Bai Lie hanya mendengus. Dengan satu lambaian lengan bajunya, sebuah gelombang energi besar tercipta, menyapu seluruh kabut itu dalam sekejap. "Mainan anak-anak," ejeknya.
Ia kemudian mempercepat pedang terbangnya. Dalam hitungan detik, ia sudah berada tepat di atas Fang Yuan.
Bai Lie membentuk segel tangan, dan energi Qi di sekitarnya memadat menjadi tangan raksasa transparan.
"Teknik Penekan Bumi!"
Tangan energi itu menghantam punggung Chi Yan Zhu dengan kekuatan berton-ton.
DUAAARRR!
Tanah di bawah mereka ambles sedalam setengah meter.
Chi Yan Zhu meraung kesakitan, kakinya patah seketika karena tidak mampu menahan beban tersebut. Tubuh raksasa babi itu terguling hebat, menyeret Fang Yuan bersamanya.
Fang Yuan terlempar seperti boneka kain. Tubuhnya menghantam bongkahan batu tajam sebelum akhirnya terjatuh ke dalam lumpur di pinggir lereng yang curam.
"Ugh ... Aaakh!"
Fang Yuan mencoba bangkit, namun rasa sakit yang menusuk di bahu dan kakinya membuatnya jatuh kembali.
Tulang rusuknya terasa retak, dan darah segar mulai mengalir dari pelipisnya, membasahi matanya. Ia terengah-engah, paru-parunya terasa seperti terbakar.
Mutiara Petir di dalam kotak kayu itu terlempar beberapa meter darinya, masih mengeluarkan percikan listrik yang tidak stabil.
Suara deru pedang terbang perlahan mereda. Bai Lie mendarat dengan elegan beberapa langkah di depan Fang Yuan.
Pakaian hijaunya sama sekali tidak kotor oleh debu, sangat kontras dengan Fang Yuan yang kini terlihat seperti mayat hidup yang berlumuran lumpur dan darah.
"Apa hanya ini kemampuanmu?" Bai Lie berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa seperti detak lonceng kematian. "Kondensasi Qi Puncak memang hebat untuk ukuran bocah desa, tapi di hadapan Pendirian Fondasi, kau tetaplah semut."
Bai Lie menatap kotak kayu itu dengan mata berbinar lapar, lalu melirik ke arah Fang Yuan yang masih berusaha merangkak meraih belati di sepatunya.
"Jangan repot-repot, Nak." Bai Lie menginjak tangan Fang Yuan yang hendak mencabut belati.
KREK!
"AAAAAARGH!" Fang Yuan berteriak, suaranya parau. Jarinya patah di bawah sepatu Bai Lie.
"Berikan Mutiara itu padaku, dan aku mungkin akan memberimu kematian yang cepat. Jika tidak ..." Bai Lie berjongkok, menatap mata Fang Yuan yang dipenuhi amarah dan kekosongan. "Aku akan menggunakan teknik pencarian jiwa padamu. Kau akan melihat otakmu hancur sebelum kau mati."
Fang Yuan terengah-engah, darah menetes dari mulutnya ke tanah.
Meskipun tubuhnya hancur, meskipun ia berada di bawah kaki musuh yang jauh lebih kuat, matanya tidak menunjukkan ketakutan.
Ada sesuatu yang lebih gelap di sana—sebuah kegilaan yang sudah ia pupuk selama seribu kegagalan.
"Bai ... Lie ..." bisik Fang Yuan lirih. "Kau ... membuat satu kesalahan besar."
Bai Lie mengernyitkan dahi. "Apa katamu?"
"Kau ... membiarkanku ... menyentuh Mutiara itu ... lebih dulu."
Fang Yuan sedang terpojok, namun ia masih memiliki satu kartu terakhir.
ini mengingatkanku pada wang lin.
tapi aku menyukai alur ini, sangat menarik.