"Cantiknya memikat, pelukannya menjerat, malam ketujuhnya... membunuhmu tanpa sempat bertaubat."
Dihina sebagai gadis penghibur tak laku, Syifa berubah menjadi primadona VIP yang dipuja setelah menerima minyak keramat dari Nenek Lamiang, dukun pedalaman Kalimantan. Syifa memiliki daya tarik mistis yang membuat setiap pria merasa dialah wanita paling suci yang pernah mereka sentuh. Namun, kecantikan itu menyimpan rahasia gelap tentang sebuah hitungan malam yang tak boleh dilanggar.
Pelariannya ke Kalimantan
Mempertemukannya dengan Agung, arsitek yang terobsesi pada wanginya, dan Penyang, pemuda lokal yang mencium aroma maut di balik pesonanya. Di tengah persaingan dua pria itu, Syifa menyadari satu hal: ada harga nyawa yang harus dibayar tepat di malam ketujuh. Kini, sebelum hitungan terakhir tiba, Syifa harus memilih antara mengikuti nafsu yang menghancurkan atau melakukan pengorbanan terakhir yang akan mengubah wujudnya selamanya.
BERANI MELEWATI MALAM KE-6?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau akan mati ditanganku
..."Pulang adalah Pilihan, Bertahan adalah Kematian."...
......................
Cahaya matahari menerobos masuk melalui celah gorden, menghujam tajam ke mata Syifa. Ia tersentak bangun dengan napas memburu. Peluh membanjiri tubuhnya, membuat pakaian yang ia kenakan terasa lembap dan tidak nyaman. Syifa mengerjap, menyadari bahwa matahari sudah terlalu tinggi.
Secara refleks, tangannya meraba-raba nakas, mencari benda yang paling ia butuhkan: ponselnya. Namun, jemarinya hanya menyentuh permukaan kayu yang dingin. Detik itu juga, memori pahit menghantamnya. Ponsel itu telah lenyap, tertelan arus sungai yang deras saat ia hampir kehilangan nyawa tempo hari.
Syifa memukul keningnya sendiri. Rasa pening mulai menjalar. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Ini bukan pinggir sungai. Ia berada di dalam sebuah kamar hotel yang tak asing. Seharusnya ia masih tergeletak di pinggir sungai, bukan di atas kasur empuk dengan seprai putih yang rapi.
"Siapa yang membawaku ke sini?" bisiknya parau pada kesunyian.
Pandangannya tiba-tiba terpaku pada secarik kertas yang tergeletak di meja sudut ruangan. Seolah ditarik oleh kekuatan magnetis, ia menyeret langkahnya yang masih lemas menuju meja tersebut. Dengan tangan gemetar, ia meraih kertas itu dan membaca baris kalimat yang tertulis di sana:
...Pergilah, Syifa. Jangan tinggal di Kalimantan lagi. Kau bisa membahayakan semua orang. — Penyang....
Jantung Syifa seakan berhenti berdetak. Deg! Diusir dari tanah Kalimantan? Syifa ambruk, terduduk lemas di pinggir ranjang. Kata-kata itu terasa lebih dingin daripada air sungai yang nyaris menenggelamkannya. Ada rasa sakit yang mendadak menusuk ulu hatinya—sebuah kepedihan mendalam karena harus meninggalkan tanah yang sudah mulai ia cintai ini.
Suasana di dalam kamar itu mendadak mendingin, seolah-olah suhu udara turun drastis dalam sekejap. Syifa berdiri terpaku, menatap bayangan dirinya di cermin besar yang menempel di dinding.
Pantulan itu tampak begitu asing. Di sana, ia terlihat sangat indah—mungkin terlalu indah untuk ukuran seseorang yang baru saja hampir tenggelam. Kulitnya nampak bersinar secara tidak alami, namun di balik kecantikan itu, ada gurat kesedihan yang mendalam.
"Apakah... benar-benar tak ada jalan lagi untuk menebus kutukan ini?" bisiknya, suaranya bergetar menahan tangis yang tertahan di tenggorokan.
Seolah digerakkan oleh firasat, jemari Syifa membalikkan secarik kertas di tangannya. Di balik peringatan pertama, muncul baris kalimat baru yang muncul perlahan seperti tinta yang merembes dari balik serat kertas. Kali ini, nadanya bukan lagi nasihat, melainkan ancaman yang mematikan:
...Jika kau mencari tumbal di sini, kau akan mati di tanganku....
Napas Syifa tertahan. Belum sempat ia mencerna ancaman tersebut, keajaiban yang mengerikan terjadi. Tulisan hitam itu mulai berpendar redup, lalu perlahan-lahan mengabur. Seperti kepulan asap tipis di pagi hari, kata-kata itu menguap ke udara, meninggalkan permukaan kertas yang kini kembali putih bersih dan kosong.
Syifa melepaskan kertas itu hingga jatuh ke lantai. Ia sendirian, namun ia tahu, ada mata yang mengawasinya dari kegelapan hutan Kalimantan yang rimbun di luar sana.
Syifa terengah, dadanya naik turun tak beraturan. Bayangan wajah Penyang yang penuh welas asih mendadak terdistorsi dalam ingatannya, berubah menjadi siluet gelap yang dingin di atas perahu malam itu.
"Kau terlalu baik, Penyang..." bisiknya parau, nyaris meratap. "Kenapa kau hanya mengusirku? Kenapa tak kau biarkan sungai itu merenggut nyawaku sekalian?"
Keheningan kamar itu mendadak menjadi pekat dan berat, seolah oksigen mendadak lenyap. Lalu, sebuah getaran ganjil mulai merayap dari telapak kaki Syifa, menjalar ke tulang belakangnya. Tubuhnya bergetar hebat—bukan karena menggigil, tapi seperti ada sesuatu di dalam darahnya yang bereaksi terhadap panggilan dari luar.
Udara di sekitar jendela hotel mendadak membeku, memburamkan pemandangan hutan di baliknya. Tiba-tiba, terdengar suara goresan halus di kaca... srit... srit... seperti kuku panjang yang ditarik perlahan.
PRANG!!!
Bukan sekadar pecah, kaca jendela itu meledak ke arah dalam seolah dihantam godam raksasa yang tak terlihat. Serpihan kristal tajam melesat di udara, menyayat tirai hingga terkoyak. Namun, yang mengerikan bukan hanya hancurnya kaca itu.
Angin hitam yang berbau busuk lumpur sungai dan anyir bunga kamboja menyerbu masuk, memadamkan cahaya matahari yang tadinya terang. Di tengah pusaran angin itu, suara bisikan ribuan orang seolah bergema di sudut-sudut plafon, menyebut satu nama dengan nada mengancam:
"Tumbal... Tumbal... Syifa..."
"Kau minta makan terus! Seperti tak pernah kenyang!" Syifa mendesis tajam. Amarahnya meluap, namun tak ada sahutan dari Lamiang, sang kukang yang meringkuk diam. Tatapan binatang itu kosong, namun Syifa tahu ada rasa lapar kukang yang sedang merongrong di balik bulu-bulu halus itu.
Syifa berbalik dengan napas memburu. Ia menatap bingkai jendela hotel yang kini melompong. Sebagian besar kaca telah rontok, terjun bebas dan hancur berkeping-keping di lantai bawah, menyisakan lubang menganga yang membiarkan hawa hutan masuk tanpa permisi.
Tok! Tok! Tok!
"Housekeeping! Ada pecahan kaca jatuh dari kamar ini!" suara petugas hotel terdengar panik dari balik pintu.
Syifa menarik napas dalam-dalam, lalu membuka pintu sedikit. "Maaf, tidak sengaja," ucapnya datar, wajahnya sepucat kertas. Ia membiarkan petugas itu masuk dengan peralatan pembersihnya, sementara ia sendiri bergerak cepat.
Tangannya menyambar koper. Satu per satu pakaian dilemparkannya ke dalam dengan gerakan kasar, seolah ia sedang mencoba membuang sisa-sisa aroma tanah Kalimantan dari kain-kain itu.
Pulang. Kata itu berdenging di kepalanya seperti mantra pelindung.
Jakarta. Kota beton itu mungkin kejam, tapi setidaknya Jakarta tidak akan mencoba membunuhnya dengan cara seperti ini. Di sini, ada Penyang yang siap membungkamnya kapan saja. Dan yang lebih mengerikan, ada Sang Nenek, ruh di balik sosok kukang itu yang tak pernah berhenti membisikkan kata "tumbal" di telinganya.
Ia menyeret kopernya keluar kamar tanpa menoleh lagi. Ia meninggalkan segalanya. Meninggalkan Agung yang mungkin takkan pernah ia temui lagi. Meninggalkan Penyang, pria yang kini menjadi ancaman nyata.
Langkah kaki Syifa bergema di lorong hotel, memacu waktu sebelum hutan Kalimantan benar-benar menelan jiwanya untuk selamanya.
Langkah kaki Syifa terasa berat, seolah bumi Kalimantan enggan melepaskannya begitu saja. Suasana Bandara diselimuti udara yang lembap dan dingin. Syifa terus melangkah, menggerek kopernya dengan satu tujuan pasti: Pintu Keberangkatan. Di tangannya, selembar tiket penerbangan malam menuju Jakarta digenggam erat, seperti satu-satunya pelampung di tengah samudra yang ganas.
Ia tidak menoleh lagi ke belakang. Ia takut jika ia menoleh, hutan-hutan itu akan memanggilnya kembali. Ia takut jika ia berhenti, Penyang akan muncul dari kegelapan untuk menuntaskan ancamannya. Penyang akan membunuhnya.
Namun, tepat saat ia akan melewati gerbang pemeriksaan, sebuah tangan yang kokoh tiba-tiba mencengkeram lengannya dengan kuat.
Cekal!
Syifa tersentak, jantungnya nyaris melompat keluar dari rongga dada. Ia menoleh dengan sisa-sisa keberanian yang ada, mengira itu adalah Penyang atau mungkin sosok utusan sang Nenek yang datang untuk menagih tumbal.
Tetapi, sosok di hadapannya bukanlah mahluk halus atau pembunuh yang dingin.
Pria itu berdiri di sana dengan napas yang terputus-putus. Kemejanya kusut, keringat bercucuran di pelipisnya, menunjukkan betapa keras ia berlari mengejar waktu yang kian menipis. Matanya menatap Syifa dengan campuran antara rasa tidak percaya, amarah, dan kerinduan yang mendalam.
"Agung..." desis Syifa pelan. Nama itu meluncur dari bibirnya seperti sebuah pengakuan dosa.
Dunia seakan berhenti berputar di tengah hiruk-pikuk bandara. Agung masih memegangi lengan Syifa, dadanya naik turun dengan hebat, mencoba mengatur napas sebelum kata-kata pertama keluar dari mulutnya yang gemetar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
karena apa coba