NovelToon NovelToon
Aku Tidak Sengaja Menyatu Dengan Artefak Dan Sekarang Semua Orang Ingin Membunuhku!!

Aku Tidak Sengaja Menyatu Dengan Artefak Dan Sekarang Semua Orang Ingin Membunuhku!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Perperangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: celvinworks

Berabad-abad setelah perang yang menghancurkan dunia Avalon, perdamaian tidak lebih dari sebuah tirai rapuh yang menyembunyikan ambisi-ambisi kuno dan rahasia-rahasia yang telah lama terkubur. Kael Ashvern, seorang remaja dari desa Ashfall, menjalani kehidupan yang tenang—hingga sebuah tragedi mendadak memaksanya melangkah jauh melampaui batas segala yang pernah ia kenal, dan mengungkapkan bahwa kalung warisan orang tuanya adalah salah satu dari dua puluh Philosopher Stones, artefak paling kuat yang lahir dari sisa-sisa The Great War.
Diburu oleh faksi-faksi yang saling bersaing dan dibayangi oleh kekuatan gelap yang mulai menggeliat kembali, Kael perlahan memahami bahwa dirinya bukan sekadar korban takdir. Untuk bertahan hidup, ia harus menghadapi dunia di mana kekuatan besar tidak pernah datang tanpa pengorbanan.
Mampukah Kael melewati ujian-ujian yang menantinya dan mengungkap kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon celvinworks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perpisahan dan Kepergian

Hari pertama di Wilderness, aku hampir mati—bukan karena monster, bukan karena kelaparan, melainkan karena aku sudah tidak peduli lagi.

Aku berjalan tanpa arah, tidak memperhatikan jalan, tidak menghindari semak berduri yang merobek celanaku dan menggores kulit. Tidak peduli ketika kakiku tersandung akar pohon tua, jatuh keras ke tanah berbatu, berdarah. Aku hanya bangkit, lalu berjalan lagi. Otak tidak berpikir—hanya tubuh yang bergerak maju karena tidak tahu harus melakukan apa lagi.

Sampai sore kedua, ketika aku menyadari dengan kepala yang berputar dan pandangan mulai mengabur—tidak ingat kapan terakhir kali aku minum.

Bibirku pecah-pecah hingga terasa seperti kertas kasar. Tenggorokan kering seperti ampelas yang menggosok daging. Kepala berputar setiap kali berusaha fokus. Aku berhenti di tengah hutan entah di mana, menatap sekeliling dengan pandangan kosong.

Pepohonan, semak-semak, tanah.

Tidak ada sungai.

"Bodoh."

Suara Kakek di kepalaku—bukan dari Azure Codex, ini lebih dalam, lebih nyata, seperti ia masih berdiri di sampingku dengan tangan di bahuku. "Jika kamu tersesat di hutan, cari air. Dengarkan suara gemericik. Ikuti kemiringan tanah—air selalu mengalir ke bawah, Kael. Selalu."

Aku menutup mata, memaksa diri untuk fokus meski kepala terasa seperti akan terbelah. Mendengarkan. Angin membawa aroma daun basah. Kicauan burung di kejauhan. Gemerisik dedaunan. Dan di antara semua itu, sangat samar, hampir hilang—suara gemericik air.

Aku berjalan ke arah suara itu dengan langkah yang terseret, seperti mayat hidup yang dipaksa bergerak. Sepuluh menit kemudian, atau mungkin tiga puluh—aku sudah tidak tahu lagi—aku menemukan aliran kecil tidak lebih besar dari lengan orang dewasa, tapi airnya jernih seperti kristal.

Aku berlutut dengan lutut yang gemetar, mencelupkan kedua tangan, lalu minum dengan rakus sampai perut terasa seperti akan meledak.

Dingin, dan segar. Seperti kehidupan yang mengalir kembali ke dalam tubuh yang hampir mati.

Setelah minum sepuasnya dan kepala mulai jernih, aku duduk di tepi aliran itu, menatap aliran air yang tidak pernah berhenti bergerak. Dan untuk pertama kalinya sejak malam itu—aku benar-benar berpikir. Bukan sekadar berjalan seperti zombie.

Berpikir.

Kakek sudah mati.

Desa terbakar hingga tidak tersisa apa-apa kecuali abu dan kenangan.

Aku sendirian.

Dan aku tidak tahu harus melakukan apa.

Tanganku gemetar saat membuka tas dengan gerakan lambat, menarik peta yang sudah terlipat dan sedikit robek di tepinya. Rute yang Kakek tandai dengan tinta merah sangat jelas—ikuti sungai ke utara selama tiga hari, menuju rumah aman. Tapi ada rute kedua yang ditandai dengan tinta biru, lebih panjang, berkelok-kelok melalui pegunungan dan hutan berbahaya, menuju tempat yang tertulis dalam huruf-huruf kecil: Arcanum Academy.

Aku menatap kedua rute itu sampai mataku perih.

Rumah aman—perbekalan lengkap, tempat berlindung, aman untuk sementara. Academy—tempat orang tuaku pernah belajar, tempat teman Kakek berada, tempat aku bisa mendapatkan pelatihan untuk mengendalikan batu itu. Tapi juga ratusan kilometer jauhnya, melewati wilayah yang bahkan Kakek bilang berbahaya untuk orang berpengalaman. Dan kemungkinan besar, mereka—siapa pun yang membunuh Kakek—tahu aku akan pergi ke sana.

Kulipat peta dengan gerakan lambat, menyimpannya kembali ke dalam tas.

Keputusan belakangan. Sekarang... bertahan hidup dulu.

Malam itu, aku mencoba membuat api dengan tangan yang masih gemetar karena kelelahan.

Mengumpulkan ranting-ranting kering dari bawah semak-semak, menyusunnya dengan hati-hati seperti rumah kartu yang Kakek ajarkan—ranting kecil di dalam, ranting besar di luar membentuk tipi. Mengambil batu api dari tas, memukul dengan punggung pisau dalam gerakan cepat dan presisi.

Tidak menyala.

Aku mencoba lagi dengan lebih keras, lebih fokus. Percikan lebih banyak kali ini, beterbangan seperti kunang-kunang kecil, tapi tetap tidak ada yang menyambar. Tanganku mulai gemetar—bukan karena dingin malam yang menembus tulang, melainkan karena frustrasi yang terbakar dari dalam.

Kenapa tidak mau menyala?

Kakek mengajarkan ini puluhan kali sampai hafal di luar kepala. Setiap detailnya kuingat dengan sempurna—sudut pukulan tiga puluh derajat, kecepatan stabil tidak terlalu cepat, bahan yang tepat harus serat kayu kering atau kapas—tapi tetap tidak mau menyala. Tidak berguna.

Aku membanting batu api ke tanah dengan keras, menggeram frustrasi.

Tidak berguna. Kamu tidak berguna, Kael.

Air mata mulai menggenang lagi di sudut mata, panas dan pahit. Kakek mengajarkan semua ini dengan sabar, menghabiskan berjam-jam waktu, dan kamu bahkan tidak bisa membuat api sederhana—

"Berhenti."

Aku berbisik pada diri sendiri dengan suara serak yang hampir tidak terdengar.

"Berhenti mengasihani diri sendiri seperti anak kecil."

Kuambil lagi batu api itu dengan napas dalam yang gemetar. Fokus. Ini bukan soal kekuatan atau seberapa keras pukulannya. Tentang presisi. Tentang kendali.

Memukul lagi—sudut yang tepat, kecepatan terkontrol, napas ditahan. Percikan jatuh tepat di atas serat kayu kering yang sudah dihaluskan.

Menyala.

Api kecil, rapuh seperti nyawa bayi yang baru lahir—tapi hidup.

Aku meniupnya pelan dengan bibir yang masih pecah-pecah, menambahkan ranting-ranting tipis satu per satu dengan gerakan yang hati-hati. Api tumbuh, merayap naik, menyebar, hangat. Untuk pertama kalinya dalam dua hari penuh kegelapan, aku tersenyum.

Hari ketiga, aku bertemu monster pertamaku dan hampir mati untuk kedua kalinya.

Fangwolf. Seekor serigala sebesar kuda dewasa dengan bulu hitam mengkilap dan taring sepanjang lengan yang berkilat di bawah cahaya fajar yang baru menyingsing. Matanya kuning terang, bersinar seperti lentera dalam kegelapan, penuh dengan kecerdasan predator yang dingin.

Ia sedang mengendus-endus di sekitar tempat aku tidur dengan gerakan lambat yang terkalkulasi—aku terbangun karena geraman rendah yang membuat bulu kudukku berdiri. Jantung langsung berdegup keras hingga terdengar di telingaku sendiri, darah mengalir deras melalui pembuluh.

Aku meraih pedangku dengan gerakan yang sangat lambat, pelan sekali hingga otot terasa kram—berharap ia tidak melihatku.

Fangwolf itu menatapku langsung. Menilai. Mengukur apakah aku mangsa yang layak atau ancaman yang harus dihindari.

Aku bangkit perlahan dengan kaki yang gemetar, pedang terangkat di depan dada dalam posisi bertahan yang Kakek ajarkan.

Jangan lari. Predator selalu mengejar apa yang berlari—kamu akan kalah dalam kecepatan.

Suara Kakek lagi, jelas seperti berbisik di telingaku. Buat dirimu tampak lebih besar. Mata tetap pada matanya, jangan berkedip. Tunjukkan bahwa kamu bukan mangsa yang mudah.

Aku melangkah maju—satu langkah kecil tapi mantap, kaki tertanam kuat ke tanah.

Fangwolf mundur sedikit, kepala merunduk, posisi bertahan.

Bagus.

Aku melangkah lagi dengan napas yang tertahan—

Ia menyerang.

Begitu cepat hingga hampir tidak ada waktu untuk bereaksi—pedang terayun dengan refleks murni, memblokir taring yang mengarah tepat ke leherku dengan kekuatan yang membuat lenganku mati rasa.

CLANG!

Gigi bertemu logam dengan suara yang mengerikan. Getaran merambat dari pedang ke lengan, ke bahu, hingga gigiku bergemeletuk.

Fangwolf mendarat dengan anggun di tanah tiga meter dariku, berputar cepat seperti penari, lalu menyerang lagi tanpa jeda—kali ini dari samping, cepat dan rendah mengincar kakiku.

Azure Codex berpendar di benakku seperti kilat biru.

Kuingat gerakan ini dengan sempurna—dari ratusan sesi latihan bersama Kakek di halaman belakang. Ia selalu menyerang dari samping setelah serangan frontal gagal, bilang itu pola alami predator untuk mencari celah.

Aku mengayunkan pedang horizontal dengan sekuat tenaga, menebas udara—

Meleset.

Fangwolf jauh lebih cepat dari Kakek.

Taring menyerempet bahuku dalam, merobek kulit dan daging hingga terasa seperti terbakar. Darah hangat mengalir deras, meresap ke tunikku. Aku mengguling ke samping dengan gigi terkatup menahan jeritan, bangkit dengan napas yang tersengal, pedang siap lagi meski lengan terasa seperti akan terlepas.

Fangwolf mengelilingiku dengan geraman rendah yang bergema di dadanya—seperti gemuruh guntur yang jauh.

Ia tidak akan berhenti. Ini wilayahnya. Aku adalah penyusup. Aku harus lebih cepat atau lebih cerdas.

Gunakan lingkungan sekitar. Kamu tidak perlu lebih kuat—cukup lebih cerdik.

Aku mundur perlahan dengan langkah terukur, menuju pohon besar di belakangku dengan batang selebar dua orang dewasa. Fangwolf mengikuti, otot-otot tegang di balik bulu hitamnya, siap menerkam.

Ia menyerang lagi—lurus, cepat, seperti anak panah hitam.

Aku melompat ke samping di detik terakhir dengan timing yang hampir terlambat—

Fangwolf menghantam pohon dengan kekuatan penuh, kepala membentur keras hingga tanah bergetar.

THUD.

Terhuyung. Kaki depan gemetar.

Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

Pedang kutusukkan dengan berat tubuh penuh—menembus tulang rusuk, merobek bulu dan daging dan tulang dengan suara menjijikkan yang membuat perutku mual. Fangwolf meraung keras, mencakar dengan kaki belakang dalam gerakan putus asa—cakar menghantam dadaku, merobek tunik hingga ke kulit, meninggalkan tiga goresan panjang yang terbakar seperti api.

Tapi aku tidak melepas pedang. Tidak bisa. Kutekan lebih dalam dengan gigi terkatup hingga rahang terasa sakit, sampai gerakan itu berhenti, sampai tubuh besar itu perlahan-lahan ambruk ke tanah dengan napas terakhir yang terdengar seperti desahan.

Aku jatuh berlutut di samping bangkainya, napas tersengal keras dan cepat. Darah—milikku dan milik monster itu—meresap ke tanah, membentuk genangan gelap yang perlahan meresap masuk.

Tapi... aku menang.

Sendirian. Tanpa Kakek. Tanpa bantuan siapa pun.

Aku menatap tanganku yang gemetar tak terkendali, dilapisi darah merah tua yang mulai mengering di antara jari-jari.

Aku bisa bertahan. Aku bisa.

Hari kelima, dengan tubuh penuh luka dan kelelahan yang terasa hingga ke sum-sum tulang, akhirnya aku menemukan rumah aman yang Kakek tandai di peta.

Sebuah pondok kayu kecil yang hampir tidak terlihat, tersembunyi sempurna di balik air terjun kecil yang bergemericik lembut. Pintu terkunci dengan gembok tua yang berkarat, tapi kuncinya ada di bawah batu ketiga dari kiri—persis seperti yang tertulis di peta dengan tulisan kecil Kakek.

Di dalam—kasur jerami yang tampak bersih dan kering, perbekalan makanan kering dalam stoples kedap udara, air dalam tong kayu, obat-obatan dalam botol kaca, pakaian bersih yang terlipat rapi, dan sebuah pedang cadangan tergantung di dinding dengan sarung kulit yang masih bagus.

Aku mandi di aliran kecil di belakang pondok—air begitu dingin hingga gigiku bergemeletuk, tapi membersihkan semua darah dan kotoran dan keringat yang menempel. Berganti pakaian bersih, terasa seperti surga. Membalut luka-luka dengan perban dan salep yang baunya aneh tapi menenangkan.

Kemudian duduk di kasur dengan tubuh yang akhirnya bisa relaks, menatap amplop berlilin merah yang tergeletak di meja kecil di sudut ruangan.

Surat dari Kakek.

Ada catatan kecil di luar amplop dengan tulisan tangan yang familiar: "Jangan dibuka kecuali aku sudah pergi."

Tanganku gemetar saat menyentuhnya, jari-jari menelusuri lilin merah yang sudah mengeras.

Aku mematahkan segel dengan gerakan lambat, membukanya dengan hati-hati. Tulisan tangan Kakek rapi seperti biasa, tapi ada urgensi dalam beberapa coretan yang terburu-buru—seperti ia menulis ini dengan waktu yang terbatas.

Kael,

Jika kamu membaca ini, berarti aku sudah pergi. Maafkan aku, cucuku. Aku berharap punya lebih banyak waktu untuk mempersiapkanmu lebih baik, mengajarimu lebih banyak, memberikanmu lebih banyak kenangan indah sebelum dunia ini merenggutmu dariku.

Banyak yang ingin kukatakan, tapi waktu terbatas bahkan untuk menulis surat ini. Jadi aku langsung pada intinya.

Jangan menyalahkan dirimu atas apa pun yang terjadi. Ini bukan salahmu, tidak akan pernah jadi salahmu. Azure Codex bukan kutukan seperti yang orang-orang katakan. Itu hadiah—langka dan berharga. Gunakan dengan bijaksana, jangan biarkan ia mengendalikanmu.

Pergi ke Arcanum Academy. Temukan Profesor Eldrin Thorne—lelaki tua dengan janggut putih panjang, Kepala Sekolah dengan mata biru yang tajam. Ia sahabat dekatku sejak muda. Ia akan melindungimu, sudah kujamin itu.

Jangan percaya siapa pun sepenuhnya, bahkan di Academy. Ada mata-mata di mana-mana—Shadow Syndicate punya tentakel yang panjang.

Orang tuamu masih hidup, Kael. Aku tidak tahu di mana, tapi aku yakin mereka tidak mati dalam kebakaran itu. Temukan mereka. Jangan menyerah.

Kamu lebih kuat dari yang kamu kira. Jauh lebih kuat. Percayalah pada dirimu sendiri bahkan ketika tidak ada orang lain yang melakukannya.

Aku tidak bisa memberikanmu kehidupan normal yang seharusnya kamu miliki—kehidupan damai tanpa bahaya, tanpa berlari, tanpa bersembunyi. Tapi aku harap aku sudah memberikanmu fondasi yang cukup kuat untuk bertahan di dunia yang kejam ini.

Jangan terburu-buru untuk membalas dendam. Fokus dulu menjadi lebih kuat, karena musuh-musuhmu bukan orang biasa. Mereka kuat, terorganisir, dan tidak kenal ampun.

Hiduplah, Kael. Hiduplah panjang dan dengan tujuan yang jelas.

Aku akan selalu bangga padamu, apa pun yang terjadi.

— Aldric Veyron

Aku membaca surat itu tiga kali dengan air mata yang terus mengalir, sampai tulisan-tulisan itu mulai mengabur.

Kemudian melipatnya dengan hati-hati seperti menggendong bayi, menyimpannya dalam tas di kantong paling dalam dan paling aman. Air mata mengalir lagi—tapi kali ini terasa berbeda dari sebelumnya.

Tekad. Sesuatu yang terasa seperti api kecil yang mulai menyala di dadaku.

Aku bangkit dengan gerakan lambat, berjalan ke jendela kecil dengan kaca yang retak, menatap hutan lebat di luar yang membentang tanpa ujung.

Utara. Ratusan kilometer jauhnya. Melewati Wilderness yang berbahaya, melewati monster dan perampok dan bahaya yang belum kuketahui—menuju Arcanum Academy, tempat yang hanya kukenal dari cerita-cerita Kakek.

Tempat yang sama dengan orang tuaku dulu.

Tempat di mana aku bisa belajar mengendalikan Azure Codex dengan benar.

Tempat di mana aku bisa menjadi lebih kuat—cukup kuat untuk melindungi diri sendiri, cukup kuat untuk menemukan kebenaran, cukup kuat untuk suatu hari membuat mereka yang membunuh Kakek membayar dengan darah.

Aku menyentuh kalung di leherku dengan jari-jari yang gemetar.

Batu biru itu berdenyut lembut di bawah sentuhanku—seperti jantung yang berdetak, hangat dan hidup.

Aku tidak sepenuhnya sendirian, pikirku dengan napas yang lebih stabil. Aku punya kenangan. Kenangan Kakek yang akan selalu hidup di kepalaku. Kenangan orang tuaku, samar tapi nyata. Dan kenangan siapa pun yang pernah memiliki batu ini—semua pengetahuan mereka, semua pengalaman mereka, semua kekuatan mereka.

Aku berbalik dengan gerakan yang mantap, mengambil tas dari kasur.

Mengisi kembali perbekalan dengan teliti—makanan kering, air, obat-obatan, batu api baru, pisau cadangan. Pedang baru di pinggang kiriku, lebih ringan dan lebih seimbang. Pedang lama dari Kakek disimpan dalam tas terbungkus kain—kenangan yang terlalu berharga untuk ditinggalkan.

Satu hari istirahat untuk memulihkan diri. Besok pagi ketika matahari terbit, aku akan memulai perjalanan sesungguhnya.

Menuju Arcanum Academy.

Menuju masa depan yang tidak pasti dan penuh bahaya.

Tapi setidaknya menuju sesuatu. Menuju sebuah tujuan.

Malam itu, sebelum tidur di kasur yang jauh lebih nyaman dari tanah keras selama lima hari, aku berbisik pada kegelapan ruangan dengan suara yang lebih kuat dari sebelumnya.

"Aku berjanji, Kakek. Aku akan hidup. Aku akan belajar. Aku akan mencari kebenaran tentang orang tuaku, tentang Azure Codex, tentang kenapa mereka membunuhmu. Dan aku akan membuat mereka membayar—bukan sekarang, tapi suatu hari nanti. Aku berjanji."

Angin berhembus lembut melalui jendela yang sedikit terbuka, membawa aroma pinus dan tanah basah—seperti bisikan lembut yang menjawab.

Dan untuk pertama kalinya sejak malam berdarah itu—malam yang mengubah seluruh hidupku dalam sekejap—aku tidur tanpa mimpi buruk, tanpa terbangun sambil berteriak, tanpa air mata.

Hanya kegelapan yang damai.

Dan sebuah janji yang akan kupenuhi.

Profesor Eldrin Thorne berdiri di ruang kerjanya yang luas dengan rak buku dari lantai hingga langit-langit, menatap kristal komunikasi yang meredup di atas meja mahoni tua.

Ia sudah menunggu tiga hari—tiga hari yang terasa seperti tiga minggu.

Dan akhirnya, tepat ketika jam berdentang tengah malam—kristal itu bersinar dengan cahaya biru yang lembut.

Wajah seorang perempuan muda muncul dalam proyeksi hologram, rambut cokelat pendek dan mata yang tajam—Lyra, asisten peneliti kepercayaannya.

"Kepala Sekolah, ada laporan dari patroli perbatasan sektor selatan. Seorang anak laki-laki, sekitar tujuh belas tahun, sedang menuju ke sini dari arah Ashfall. Sendirian. Membawa pedang dan tas perjalanan."

Eldrin tersenyum tipis, tapi ada kesedihan dalam mata birunya yang sudah tua.

"Kael Ashvern. Cucu Aldric."

Lyra menatapnya dengan ekspresi terkejut. "Apakah Anda yakin? Kami belum mengkonfirmasi identitasnya—"

"Aku sudah cukup lama mengenal Aldric untuk tahu persis apa yang akan ia lakukan dalam situasi seperti ini." Eldrin berjalan ke jendela besar, menatap ke selatan di mana bulan purnama menerangi pegunungan yang jauh. "Ia akan mengirim Kael ke sini—ke satu-satunya tempat yang ia percaya bisa melindungi cucunya. Kirim patroli untuk mengawasi rutenya—jangan mendekati, jangan mencampuri, tapi pastikan ia tiba dengan selamat."

"Dipahami, Kepala Sekolah. Tapi..." Lyra ragu sejenak. "Jika Shadow Syndicate mengetahui ia sedang dalam perjalanan—"

"Mereka tidak akan menyerang di wilayah Wilderness yang netral. Terlalu banyak saksi, terlalu berisiko." Eldrin berbalik menghadap proyeksi dengan ekspresi serius. "Mereka akan menunggu sampai ia masuk ke Academy—sampai ia merasa aman, barulah mereka bergerak. Dan ketika itu terjadi, kita akan sudah siap."

Lyra mengangguk mantap. "Aku akan mengatur semuanya. Patroli akan mulai besok saat fajar."

Komunikasi terputus dengan bunyi klik yang pelan.

Eldrin menatap foto tua yang tergantung di dinding dalam bingkai kayu berukir—foto dua orang pemuda mengenakan baju zirah perak, berdiri bahu-membahu dengan senyum lebar seusai pertempuran besar. Dirinya dan Aldric Veyron. Tiga puluh tahun lalu, ketika dunia masih terasa sederhana.

"Aku akan melindungi cucumu, sahabat lama," bisiknya pada foto itu dengan suara yang serak. "Seperti kamu dulu melindungi putraku. Aku berjanji dengan darahku sendiri."

Ia menyentuh bingkai foto dengan jari-jari yang gemetar.

Kemudian kembali ke meja, mulai menulis surat kepada Dewan, mempersiapkan perlindungan untuk Kael Ashvern.

Badai sudah datang.

Dan kali ini, ia akan memastikan anak itu selamat.

1
NightShadeス
Review novelnya sampe chapter 27, sejauh ini ceritanya cukup seru dan agak santai, mungkin dibeberapa chapter awal emang agak dark sih pengenalan ceritanya. Terus sepertinya world buildingnya agak luas soalnya ada beberapa part yang ngebandingin tempat tempat gitu, yah karena ini masi awal awal jadinya belum bisa review terlalu banyak, intinya mc bisa pake sihir void sama make pedang. Rekomen buat yang suka mc zero to hero👍 mc nya ga langsung op dari awal, ada perkembangan karakternya
celvin: makasi kak udah mau review novelnya, semoga betah ya disini, perjalanan kita masi panjang/Shhh/
total 1 replies
NightShadeス
Temennya turu
Dzakyyy
up min
Dzakyyy: semangattt minnn
total 2 replies
Dzakyyy
ibunya se op apa tuh
Dzakyyy
wkwkwk adaa matematika😭
NightShadeス: ga ekspek/Skull/
total 1 replies
Dzakyyy
badut
Dzakyyy
kekk😭😭 siapa yang naroh bawang sini woyy/Sob/
Dzakyyy
feeling ku ga enak..
Dzakyyy
SERUU BANGETTTT, alurnya ga terlalu cepet, mc nya ga langsung op di awal/Doge/
anggita
ikut ng👍like, sama kasih iklan saja.
celvin: jangan lupa dikasi rating ya kalo suka👀
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!