NovelToon NovelToon
HATI EMAS

HATI EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.

Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:

• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.

Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.

Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Proposal from the throne

Istana Araluen, Aula Emas

Aula Emas Araluen tenggelam dalam keheningan yang tidak wajar.

Para bangsawan berdiri rapi di sisi kiri dan kanan, gaun sutra dan mantel kebesaran berkilau di bawah cahaya kristal. Musik telah berhenti sejak Kaisar Whiston melangkah naik ke singgasananya.

Anthenia berdiri di barisan Duke dan Marquess, bahunya tegak, wajahnya tenang—terlalu tenang untuk seorang gadis berusia delapan belas tahun.

William berdiri beberapa langkah di depan, di sisi kanan tahta, sebagai Putra Mahkota dan Panglima Perang Aurelius. Wajahnya dingin seperti biasa, tapi matanya waspada.

Kaisar mengangkat tangannya.

“Aku memanggil seluruh bangsawan Araluen hari ini,” suaranya berat dan berwibawa, “bukan untuk perayaan, melainkan keputusan kekaisaran.”

Bisik-bisik langsung menyebar, lalu mati kembali ketika tatapan Kaisar menyapu aula.

“Kerajaan membutuhkan stabilitas,” lanjutnya. “Dan stabilitas lahir dari ikatan yang kuat.”

Pandangan Kaisar berhenti pada satu titik.

“Duke Kaelen Blackwood.”

Duke Blackwood melangkah maju satu langkah. Tubuhnya tegap, ekspresinya keras seperti batu—namun sorot matanya berubah saat menyadari arah pembicaraan ini.

“Putrimu,” kata Kaisar, “Anthenia Blackwood.”

Aula bergetar oleh napas tertahan.

Anthenia melangkah maju, menundukkan kepala dengan sopan. Gaun hitam-emas Blackwood membuatnya tampak tenang, anggun… dan berbahaya.

Kaisar menatapnya lama. “Gadis muda, kau menunjukkan kecerdasan, ketenangan, dan keberanian yang jarang kulihat.”

Beberapa selir menegang. Heilen Valerius menyipitkan mata.

“Karena itu,” lanjut Kaisar tanpa ragu,

“aku berniat melamarmu secara resmi—sebagai calon Permaisuri Kekaisaran,

istri Putra Mahkota Araluen, William Whiston.”

Dunia seakan berhenti.

Beatrice hampir menjatuhkan kipasnya. Frederick menelan ludah keras. Alistair tersenyum… lalu membeku.

Nelia membulatkan mata. “Eh…?”

Duke Blackwood terkejut—sangat jarang terjadi—matanya melebar sesaat sebelum kembali dingin.

William menoleh tajam ke arah Kaisar.

“Yang Mulia,” ucapnya, suaranya rendah namun tegas. “Keputusan ini—”

“Bukan permintaan,” potong Kaisar. “Ini niat kekaisaran.”

Keheningan kembali jatuh, kali ini lebih berat.

Permaisuri Lunara akhirnya berbicara, suaranya lembut tapi jelas.

“Yang Mulia… apakah gadis itu telah dimintai pendapatnya?”

Kaisar terdiam sejenak.

Semua mata beralih ke Anthenia.

Ia mengangkat kepala.

Wajahnya tenang, tidak gemetar, tidak pucat. Hanya sepasang mata tajam yang menatap langsung ke arah tahta—tanpa rasa takut.

“Sebelum saya menjawab,” ucap Anthenia pelan namun jelas,

“izinkan saya bertanya.”

Beberapa bangsawan terkejut oleh keberaniannya.

Kaisar mengangguk. “Bicaralah.”

“Apakah lamaran ini,” lanjut Anthenia,

“berdasarkan kehendak Putra Mahkota—

atau murni strategi kekaisaran?”

William terdiam.

Aula menahan napas.

Kaisar menatap gadis itu lama, lalu tersenyum tipis—senyum seorang penguasa yang menemukan lawan bicara sejajar.

“Kau cerdas,” katanya. “Dan jujur.”

Ia melirik William. “Putraku akan menjawab itu.”

William melangkah maju satu langkah.

Matanya bertemu dengan mata Anthenia.

“Jika kau menolak,” ucapnya tanpa ragu,

“aku tidak akan memaksamu.”

Beberapa bangsawan tersentak.

William melanjutkan, “Tapi jika kau menerimanya—

aku akan berdiri di pihakmu.

Sebagai calon suami,

dan sebagai Panglima Araluen.”

Kejujuran itu membuat aula kembali sunyi.

Anthenia menarik napas perlahan.

Dalam hatinya, suara masa lalu berbisik:

Pernikahan adalah aliansi. Tahta adalah medan perang.

Ia menunduk sekali lagi.

“Kalau begitu,” katanya pelan,

“izinkan saya mempertimbangkannya.

Bukan sebagai putri Duke—

melainkan sebagai diriku sendiri.”

Kaisar mengangguk. “Kau diberi waktu.”

Namun semua orang tahu:

sejak detik itu—

Anthenia Blackwood telah menjadi pusat kekuasaan Araluen.

Dan permainan…

naik ke tingkat yang jauh lebih mematikan.

Sidang Aula Emas berakhir tanpa tepuk tangan.

Para bangsawan meninggalkan ruangan dengan wajah berbeda-beda—ada yang kagum, ada yang iri, ada pula yang menyimpan niat gelap. Bisik-bisik menyebar cepat, seperti api kecil yang merambat di balik dinding marmer.

Anthenia melangkah keluar aula dengan langkah terukur. Duke Blackwood segera berada di sampingnya.

Begitu mereka memasuki koridor privat Blackwood, pintu ditutup rapat.

Kaelen Blackwood berhenti mendadak.

“Sejak kapan,” suaranya rendah namun bergetar menahan emosi,

“kau bisa berdiri setenang itu di hadapan tahta?”

Anthenia menoleh. “Sejak aku sadar bahwa rasa takut tidak menyelamatkan siapa pun.”

Duke Blackwood menatap putrinya—bukan seperti ayah melihat anak, melainkan seperti panglima menilai medan perang.

“Kau sadar apa arti lamaran itu?” tanyanya.

“Aku sadar,” jawab Anthenia tenang. “Itu bukan tentang pernikahan. Itu tentang kontrol.”

Kaelen menghela napas panjang. “Dan kau tetap meminta waktu.”

“Aku tidak menolak,” lanjut Anthenia. “Tapi aku juga tidak menyerahkan diriku begitu saja.”

Untuk pertama kalinya, Duke Blackwood tersenyum tipis—bangga, sekaligus khawatir.

“Kau membuat Kaisar menunggu,” katanya. “Itu berbahaya.”

“Aku hidup di dunia yang lebih kejam,” balas Anthenia lirih. “Menunggu adalah senjata.”

Di sayap lain istana, suasana jauh lebih dingin.

Heilen Valerius memecahkan cangkir porselen di tangannya.

“Calon permaisuri,” gumamnya, matanya menyala. “Gadis Blackwood itu melangkahi kita semua.”

Alistair berdiri di dekat jendela, ekspresinya sulit dibaca. “Dia tidak menolak.”

“Itu lebih buruk,” desis Heilen. “Penolakan bisa kita serang. Pertimbangan? Itu memberi waktu baginya untuk membangun dukungan.”

Alistair mengepalkan tangan. “Liam membelanya di depan tahta.”

“Dan itu kesalahan Kaisar,” kata Heilen dingin. “Ia membiarkan Putra Mahkota menunjukkan pilihan.”

Heilen menoleh. “Kita percepat rencana.”

“Target?” tanya Alistair.

Heilen tersenyum tipis. “Reputasi. Jika dia runtuh, lamaran itu runtuh.”

Sementara itu, di taman dalam Araluen, Nelia duduk di bangku batu, kakinya mengayun pelan. Anthenia menghampirinya.

“Kak Anthenia…” Nelia menatapnya ragu. “Apa Kakak akan pergi? Jadi permaisuri?”

Anthenia duduk di sampingnya. “Aku belum tahu.”

Nelia menunduk. “Aku tidak ingin Kakak terluka.”

Anthenia tersenyum lembut—sangat berbeda dari sikapnya di aula. “Aku tidak mudah terluka.”

Nelia menatapnya polos. “Kak Liam bilang… orang-orang jahat tidak suka perempuan yang tidak takut.”

Anthenia tertawa kecil. “Berarti aku sedang di jalur yang benar.”

Malam menjelang.

William berdiri di balkon timur, memandangi Araluen yang diterangi obor. Langkah ringan terdengar di belakangnya.

“Aku tahu kau akan ke sini,” kata Anthenia.

William tidak menoleh. “Aku tidak berniat menekanmu.”

“Aku tahu.”

Ia akhirnya menoleh. “Lamaran itu… tidak sepenuhnya rencanaku.”

“Namun kau tidak menolaknya.”

“Tidak,” jawab William jujur. “Karena aku melihat sesuatu padamu.”

Anthenia menyilangkan tangan. “Apa?”

“Kau tidak ingin kekuasaan,” kata William pelan. “Tapi kau tahu cara menggunakannya.”

Keheningan menyelimuti mereka.

“Aku akan memberimu waktu,” lanjut William. “Tapi selama itu—aku akan melindungimu.”

Anthenia menatapnya lama. “Itu bukan tugas kecil, Panglima.”

William tersenyum tipis. “Aku tidak pernah memilih tugas yang mudah.”

Di kejauhan, lonceng malam Araluen berdentang.

Dan tanpa mereka sadari—

di balik bayangan istana,

sebuah fitnah mulai disiapkan.

_

Pagi berkabut

Kabut tipis menyelimuti halaman dalam Araluen ketika lonceng pagi berbunyi.

Anthenia berjalan menyusuri koridor marmer, diiringi dua pelayan Blackwood. Tatapan para bangsawan yang berpapasan terasa berbeda dari kemarin—lebih lama, lebih menilai.

Ia menangkap bisikan.

“…katanya bukan gadis biasa…” “…asal-usulnya aneh…” “…terlalu berani untuk putri Duke…”

Cepat sekali, pikirnya.

Baru satu malam.

Di ruang minum teh bangsawan wanita, suasana tampak ramah—terlalu ramah.

Genevieve Kesan menyambutnya dengan senyum tulus. “Lady Anthenia, silakan duduk.”

Beatrice Miller meliriknya dari ujung ruangan, kipasnya terbuka setengah. Adelaide Lavenza berbisik pada seorang bangsawan lain, lalu tertawa kecil.

Seorang bangsawan tua membuka percakapan dengan nada manis.

“Lady Blackwood, kami mendengar Yang Mulia Kaisar sangat… terkesan pada kecerdasanmu.”

Anthenia tersenyum sopan. “Beliau terlalu baik.”

“Oh tentu,” sambung yang lain, “bahkan katanya kau memahami strategi militer?”

Beberapa cangkir berhenti bergerak.

Anthenia menyesap tehnya. “Aku hanya tahu dasar. Ayahku mengajarkanku membaca peta.”

Beatrice terkekeh pelan. “Menarik. Jarang gadis seusiaku—eh, seusiamu—mengerti peta perang.”

Nada itu tidak ramah.

Sebelum Anthenia menjawab, seorang pelayan masuk dengan membawa baki surat.

“Surat untuk Lady Anthenia Blackwood.”

Ruangan senyap.

Anthenia menerima surat itu. Segelnya… bukan Blackwood.

Ia membukanya perlahan.

Dan tepat seperti yang ia duga—

tulisan tangan halus, tanpa tanda tangan.

“Seorang wanita yang terlalu dekat dengan medan perang

akan membawa darah ke singgasana.”

Bisikan meledak.

“Surat apa itu?” “Ancaman?” “Atau peringatan?”

Adelaide tersenyum kecil. “Siapa yang mengirimi surat seperti itu, Lady Anthenia?”

Anthenia melipat kertas itu dengan tenang. “Seseorang yang takut.”

Beatrice menyipitkan mata. “Atau seseorang yang tahu sesuatu tentang masa lalu Lady?”

Keheningan menegang.

Genevieve hendak bicara, tapi Anthenia sudah berdiri.

“Jika ada yang ingin menuduh,” katanya lembut namun dingin,

“lakukanlah secara terbuka. Aku tidak keberatan.”

Tidak ada yang menjawab.

Karena fitnah yang baik… tidak pernah disuarakan terang-terangan.

Di ruang kerja Panglima, William menerima laporan dari Leopold.

“Rumor menyebar,” kata Leopold. “Tentang Anthenia. Tentang ‘kecenderungan kekerasan’.”

William memejamkan mata sesaat. “Sumber?”

“Tidak jelas. Tapi polanya… Valerius.”

William membuka mata, dingin. “Jangan sentuh mereka dulu.”

Leopold terkejut. “Mengapa?”

“Karena ini ujian,” jawab William. “Jika dia runtuh sekarang, Araluen akan melahapnya hidup-hidup.”

Leopold terdiam. “Dan jika dia bertahan?”

William menatap ke luar jendela. “Maka mereka yang memulai ini… akan menyesal.”

Sore hari, Anthenia berdiri di halaman latihan.

Pedang kayu ada di tangannya.

Beberapa bangsawan berhenti berjalan saat melihatnya.

“Dia benar-benar berlatih…” “Setelah rumor itu?”

Duke Blackwood muncul, wajahnya muram.

“Surat ancaman,” katanya pelan. “Aku sudah dengar.”

Anthenia mengangguk. “Fitnah tahap pertama.”

Kaelen mengepalkan tangan. “Aku bisa menghentikan ini.”

Anthenia menoleh, tatapannya tajam namun tenang.

“Jika Ayah turun tangan sekarang, mereka akan berkata aku bersembunyi di balik nama Blackwood.”

Ia mengangkat pedang kayu itu.

“Biarkan aku berdiri sendiri.”

Untuk pertama kalinya, Duke Blackwood melihat putrinya bukan sebagai gadis yang harus dijaga—

melainkan sekutu di medan perang istana.

Di kejauhan, Alistair Valerius mengamati dari balkon.

“Dia tidak panik,” gumamnya.

Heilen tersenyum tipis. “Bagus.”

“Bagus?” ulang Alistair.

“Ya,” jawab Heilen lembut.

“Karena tahap berikutnya… akan menyakitkan.”

Kabut mulai terangkat.

Dan Araluen bersiap menyaksikan

apakah calon permaisuri itu

akan patah—

atau justru mengasah dirinya

menjadi pisau paling tajam di istana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!