Rangga rela banting tulang siang-malam sebagai kuli dan tukang ojek demi membahagiakan istrinya, Laras. Tapi bagi Laras, kerja keras Rangga cuma "recehan" yang memalukan. Puncaknya, Laras tertangkap basah berselingkuh dan malah berbalik menghina Rangga hingga meminta cerai.
Dengan hati hancur, Rangga menjatuhkan talak dan pergi membawa putri kecil mereka, Rinjani, ke Bandung. Di tengah perjuangan hidup dari nol, hadir Syakira—gadis salafi yang tidak cuma membawa kesuksesan pada usaha Rangga, tapi juga menjadi ibu sambung yang dicintai Rinjani.
Saat Rangga mulai meraih kebahagiaan dan kesuksesan, karma datang menjemput Laras. Hidupnya hancur, disiksa suami barunya, hingga menderita penyakit kronis. Laras merangkak memohon ampun, tapi bagi Rinjani, ibunya sudah lama mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SETIA YANG SIA-SIA
Gerimis tipis mengguyur Jakarta malam itu, bikin aspal jalanan jadi licin dan berkilau tertimpa lampu jalan yang remang-remang. Rangga mengendarai motor tuanya dengan bahu yang merosot, menahan angin dingin yang menusuk sampai ke tulang. Jaket ojeknya sudah kusam, warnanya sudah tidak jelas lagi karena saking seringnya terpapar panas dan hujan. Tangannya yang kasar, dengan kulit yang pecah-pecah di sela jari akibat kerja keras di bengkel dan menarik ojek sampai tengah malam, mencengkeram stang motor dengan sisa tenaga yang ada. Lelahnya bukan main, tapi di dalam dadanya ada debar yang hangat. Dia meraba saku jaketnya, memastikan kotak kecil di sana masih aman.
Tadi siang, Rangga sengaja tidak makan. Dia cuma minum air putih banyak-banyak buat mengganjal perutnya yang keroncongan supaya uang tip dari pelanggan bisa dia belikan hadiah kecil untuk Laras, istrinya. Dia ingin merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang kelima, walau telat dua hari karena uangnya baru terkumpul sekarang. Sebuah bros perak berbentuk kelopak mawar. Sederhana sekali sih, tapi bagi Rangga, itu adalah simbol cintanya yang tidak pernah luntur. Dia membayangkan Laras akan tersenyum manis, lalu menyambutnya dengan teh hangat seperti dulu saat mereka baru menikah. Rangga rela jadi budak korporat di siang hari dan kuli di malam hari, asal Laras tetap bahagia dan tidak kekurangan satu apa pun.
Motor butut itu akhirnya berhenti di depan rumah kontrakan mereka yang mungil. Rangga menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa penat yang menghimpit dada. Begitu melangkah masuk, suasana dingin seketika menyambutnya. Bukan dingin karena AC, tapi hawa yang terasa asing dan hampa. Di ruang tamu, Laras sedang duduk di sofa sambil menyilangkan kaki. Matanya terpaku pada layar ponsel pintar keluaran terbaru yang harganya mungkin setara dengan gaji Rangga selama enam bulan. Laras bahkan tidak menatap ke arah pintu saat suaminya datang dengan baju yang basah kuyup.
"Laras, aku pulang..." bisik Rangga pelan. Suaranya serak, terdengar letih sekali.
Laras cuma berdehem malas. Matanya masih asyik scrolling layar ponsel, jemarinya lincah mengetik pesan sambil sesekali tersenyum kecil ke arah layar. "Kok baru pulang sih? Bau apek tahu, jangan dekat-dekat deh," ketus Laras tanpa mengalihkan pandangan.
Rangga tertegun. Dia menelan ludah, mencoba menelan rasa pahit yang mendadak muncul di tenggorokan. Dia berjalan mendekat, mencoba mengabaikan tatapan istrinya yang dingin. "Maaf ya, tadi ada tarikan jauh, jadi agak malam. Oh iya, ini ada sesuatu buat kamu. Selamat ulang tahun pernikahan, Sayang."
Rangga menyodorkan kotak kecil itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Dia berharap ada binar di mata wanita yang sangat dicintainya itu. Dia sudah membayangkan betapa indahnya jika Laras mau menghargai tetes keringatnya yang mengering di jalanan demi kotak kecil ini. Tapi, Laras meraih kotak itu dengan malas, membukanya cuma dengan satu tangan. Begitu menatap isinya, wajahnya bukan berubah senang, tapi malah mencibir sinis. Dia mengangkat bros itu dengan dua jari, seolah-olah sedang memegang sampah yang menjijikkan.
"Apaan sih ini? Perak murahan begini? Kok selera kamu makin buruk aja sih?" Laras melempar bros itu ke atas meja kayu yang sudah mulai lapuk. Bunyi klotak perhiasan itu menghantam meja terasa seperti palu yang memukul jantung Rangga. "Teman-temanku di kantor kalau ulang tahun dapetnya tas branded atau minimal makan malam di hotel bintang lima. Lah aku? Cuma dapet besi rongsok begini? Malu-maluin tahu nggak kalau sampai ketahuan orang kantor!"
"Laras, itu aku beli pakai uang hasil lembur seminggu ini. Aku pilih yang paling bagus menurutku..." suara Rangga makin lirih. Dia merasa harga dirinya hancur seketika. "Aku sudah berusaha semampuku, Ras. Semua uangku kan sudah aku kasih ke kamu buat bayar kontrakan dan susu Rinjani."
"Ya makanya kerja yang bener dong! Jangan cuma jadi kacung bengkel sama tukang ojek terus! Capek tahu nggak hidup susah begini. Aku ini cantik, aku berhak dapet hidup yang layak, bukan cuma mendekam di rumah pengap ini!" suara Laras makin meninggi. "Lihat deh suami temenku, si Badru, dia sukses, mobilnya ganti-ganti. Lah kamu? Motor aja udah mau turun mesin gitu. Ah, tau deh, bikin emosi aja!"
Laras bangkit berdiri dengan kasar, lalu melangkah masuk ke kamar dan membanting pintu dengan sangat keras. Blam! Suara itu bergema di seluruh ruangan yang sempit itu, meninggalkan Rangga yang masih berdiri mematung di tengah ruangan. Dadanya sesak sekali. Rasanya seperti ada ribuan jarum yang menusuk paru-parunya. Bagaimana mungkin wanita yang dulu bersedia hidup susah bersamanya, sekarang berubah menjadi sosok yang begitu kejam?
Rangga terduduk lemas di sofa. Dia menatap langit-langit rumah yang mulai berjamur. Pikirannya kosong, cuma ada rasa sakit yang berdenyut-denyut. Dia mencoba menghela napas panjang untuk menenangkan jantungnya yang berdegup tak beraturan. Pandangannya terjatuh pada tas kerja Laras yang tergeletak sembarang di atas meja makan kecil di sudut ruangan. Tas itu terbuka sedikit, memperlihatkan isinya yang berantakan.
Rangga bermaksud merapikannya, cuma ingin membantu istrinya agar besok pagi Laras tidak kesulitan mencari barang-barangnya. Dia mendekat, lalu dengan tangan gemetar, ia mulai memasukkan kembali beberapa perlengkapan kosmetik yang keluar dari tas itu. Tapi, saat jemarinya menyentuh dasar tas, ia merasakan selembar kertas kecil yang agak kaku.
Rangga menarik kertas itu keluar. Dia mengira itu cuma sampah nota minimarket biasa. Tapi, saat ia menatap tulisan di atasnya di bawah lampu ruang tamu yang agak redup, matanya seketika membelalak.
Kertas itu adalah struk pembayaran dari sebuah restoran mewah di pusat kota. Sebuah tempat yang harganya tak akan pernah sanggup Rangga bayar meski ia bekerja siang malam selama sebulan penuh. Matanya terpaku pada nominal yang tertera di sana. Rp 2.450.000. Sebuah angka yang luar biasa besar, angka yang seharusnya bisa digunakan untuk membayar cicilan motor dan biaya sekolah Rinjani.
Lalu, jantung Rangga terasa berhenti berdetak saat menatap bagian bawah struk itu. Ada tulisan tangan yang sangat ia kenali sebagai tulisan istrinya, ditulis dengan tinta biru yang masih tampak jelas: "Makan malam yang sangat indah, Mas Badru sayang. Terima kasih untuk semuanya hari ini."
Seketika itu juga, dunia Rangga seolah runtuh. Tubuhnya lemas sampai dia harus berpegangan pada pinggiran meja agar tidak jatuh terjembab. Kertas struk itu bergetar hebat di jemarinya yang kasar. Selama ini dia rela menahan lapar, cuma makan nasi dengan garam supaya Laras bisa hidup nyaman. Dia bekerja sampai badannya remuk, tapi ternyata di belakangnya, Laras berpesta pora dengan pria lain dan menghabiskan uang jutaan rupiah untuk sekali makan.
Rasa sakit itu begitu nyata, menyayat hatinya sampai ke dasar yang paling dalam. Rangga memejamkan mata, menelan semua pahit yang mengganjal di tenggorokan. Ternyata, pengabdiannya selama ini cuma dibalas dengan pengkhianatan yang sangat kejam di balik punggungnya. Kertas struk itu ia remas kuat-kuat, seiring dengan air matanya yang jatuh membasahi lantai rumah yang dingin.
doa laki laki yang terani Aya juga bisa merubah nasibmu seperti debu
jahat selingkuh dan membiarkan suami dan Anaknya ,,