"Jangan sentuh apa pun. Jangan duduk di sofa sebelum mandi. Dan singkirkan remah kerupuk itu dari jangkauan radar saya!" — Calvin Harvey Weinstein.
Nirbita Luminara Rein mengira hidupnya sudah berakhir saat orang tuanya pergi dan kakaknya, Varro, menyatakan mereka bangkrut. Tapi ternyata, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia "digadaikan" oleh kakaknya sendiri kepada Calvin—CEO jenius yang punya alergi akut pada segala sesuatu yang tidak rapi.
Bagi Calvin, Nirbi adalah sumber kuman berjalan. Bagi Nirbi, Calvin adalah kulkas dua pintu yang cerewetnya minta ampun. Namun, di balik semprotan disinfektan dan aturan ketatnya, Calvin menyimpan rahasia: Ia sudah jatuh cinta pada "si kuman kecil" ini sejak insiden pelukan salah sasaran di kampus dulu.
Bisakah rumah super steril Calvin bertahan dari badai keberantakan Nirbi? Atau justru hati Calvin yang akhirnya "terkontaminasi" cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Perpisahan Berdarah (Air Mata)
Satu koper besar berwarna merah muda dengan stiker kartun yang sudah mengelupas tergeletak di tengah lobi penthouse Calvin. Di sampingnya, Nirbita sedang memegangi lengan jaket Varro seolah-olah kakaknya itu hendak pergi ke medan perang, bukan ke luar kota untuk merintis bisnis.
"Abang... jangan tinggalin Nirbi! Nanti kalau Nirbi laper tengah malem siapa yang masakin mi instan? Kalau ada kecoa siapa yang gebuk?" raung Nirbi dengan suara serak. Air matanya mengalir deras, membasahi pipi hingga hidungnya memerah.
Varro memeluk adiknya dengan gaya dramatis, matanya juga berkaca-kaca (antara sedih dan lega karena beban hidupnya berkurang satu). "Sabar, Bi. Ini demi masa depan kita. Kamu harus kuat di sini. Inget pesan Abang tadi di taksi kan?" bisik Varro sangat pelan di telinga Nirbi.
Flashback singkat di taksi:
"Bi, nanti kalau gue udah pergi, lo nangis yang kenceng. Akting sedih seakan-akan lo terzalimi. Calvin itu kaku, tapi dia nggak tahan liat cewek nangis. Itu kunci supaya dia nggak berani galak-galak sama lo!"
Nirbi mengingat pesan itu dan menambah volume tangisannya dua kali lipat. "Abanggg! Jangan pergiii!"
Calvin, yang berdiri tiga meter dari mereka sambil melipat tangan di dada, merasa dunianya sedang runtuh. Bukan karena haru, tapi karena ia melihat butiran air mata dan (astaga!) cairan hidung Nirbi berisiko menetes ke lantai marmer Italia miliknya yang baru saja dipoles.
"Navarro, bawa dramamu keluar sekarang. Taksimu sudah menunggu di bawah," ucap Calvin datar, meski matanya berkedut melihat pemandangan tidak higienis itu.
"Gue titip ya, Vin! Jagain permata gue ini!" Varro melepaskan pelukan Nirbi, lalu lari terbirit-birit menuju lift sebelum Calvin berubah pikiran.
"ABANGGGG!" Nirbi terduduk di lantai, menangis sesegukan. Bahunya naik turun. "Tega banget... Nirbi dibuang kayak bungkus gorengan..."
Calvin memijat pangkal hidungnya. Suara tangisan Nirbi yang melengking mulai membuat kepalanya berdenyut. "Nirbita, bangun. Lantai itu bersih, jangan kamu kotori dengan air mata kotor."
Nirbi tidak mendengarkan. Ia justru sengaja berguling sedikit ke samping, membuat rambutnya yang berantakan menyapu lantai. Ia teringat instruksi kakaknya: Akting menyedihkan.
"Nggak mau! Nirbi mau ikut Abang aja! Di sini dingin! Kak Calvin galak! Nirbi takut disemprot disinfektan tiap jam!"
"Nirbita Luminara! Berhenti menangis!" bentak Calvin akhirnya. Suaranya yang menggelegar membuat ruangan itu seketika sunyi.
Nirbi terlonjak. Ia menatap Calvin dengan mata bulat yang basah. Bukannya berhenti, bibirnya justru mulai gemetar lebih hebat.
"Hwaaaaa! Tuh kan! Baru semenit Abang pergi, Kak Calvin udah bentak Nirbi! Jahat! Kejam! Nggak punya perikemanusiaan!" Nirbi menangis lebih histeris, kali ini sambil menutup wajahnya dengan tangan yang—tentu saja—bekas mengusap ingus.
Calvin hampir pingsan di tempat. "Jangan sentuh wajahmu dengan tangan itu! Astaga, kuman!"
Calvin melangkah maju dengan panik, ia ingin menarik tangan Nirbi tapi ia juga takut bersentuhan dengan cairan di wajah gadis itu. Ia mondar-mandir seperti setrikaan, sementara Nirbi terus mengeluarkan suara tangisan yang terdengar seperti sirine ambulans.
"Oke, oke! Berhenti nangis! Saya minta maaf!" seru Calvin frustrasi. "Saya tidak bermaksud membentak! Tolong, diamlah!"
Nirbi mengintip dari celah jarinya. "Beneran? Kak Calvin nggak galak lagi?" tanyanya dengan suara serak yang dibuat sesedih mungkin.
"Iya, asal kamu berdiri dan masuk ke kamar mandi sekarang juga. Cuci mukamu dengan sabun antiseptik yang sudah saya sediakan," perintah Calvin dengan nada yang lebih melunak (meski masih terdengar tertekan).
Nirbi berdiri perlahan, sesekali masih terisak kecil. "Nirbi laper... tadi belum sempet makan karena nangis terus."
Calvin menghela napas panjang, meratapi nasibnya yang kini harus berurusan dengan makhluk paling tidak teratur di bumi. "Ada salad di meja makan. Jangan berceceran, atau saya kirim kamu balik ke kakakmu lewat paket kilat."
Nirbi mengangguk patuh, berjalan menuju kamar tamu sambil menyeret kopernya. Saat punggungnya membelakangi Calvin, sebuah senyum kemenangan terukir di wajahnya. 'Berhasil! Ternyata Kak Calvin emang lemah sama air mata,' batinnya girang.
Sementara itu, Calvin segera mengambil botol spray disinfektan dan menyemprot bekas tempat Nirbi menangis tadi dengan brutal. "Navarro... kamu benar-benar mengirimkan bom atom ke rumahku," gumamnya sambil bergidik ngeri melihat sisa-sisa "kuman kesedihan" Nirbita.
udah ngasih beban nitipin NOBITA eehh.. maksudku Nirbita...
nglunjak lagi..🤣🤣🤣🤣🤣
dari sahabat jadi musuh ini kah... bukan musuh dari awal.
Nirbita lucu banget ... ini bukan kembaran nya Nobita kan ??? /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
udah ini mah lucu lucu romantis gemes dan lebbayyy tapi aku suka