NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewa Kehampaan

Reinkarnasi Dewa Kehampaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nnot Senssei

Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.

Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.

Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.

Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.

Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.

Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.

Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.

Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertarung Melawan Algojo Bayangan

Tiga hari berikutnya adalah masa di mana Dunia Bawah seolah-olah kehilangan kewarasannya. Di bawah manipulasi halus Paviliun Senyap dan sabotase yang dilakukan Ye Chenxu sebelumnya, api peperangan antar faksi meledak tanpa terkendali.

Sekte Racun Roh dan Aula Pemburu Langit bentrok hebat di Pegunungan Kabut Hitam. Mereka saling tuduh atas hilangnya suplai berharga mereka.

Ratusan kultivator tewas, energi mereka yang meledak mewarnai langit dengan aura merah dan hijau yang mengerikan. Wilayah perbatasan berubah menjadi lautan darah yang menggenang di antara bebatuan.

Sementara itu, Gerombolan Elang Gurun yang liar menyerang jalur suplai utama Paviliun Darah di sisi timur, memaksa para tetua Paviliun Darah untuk mengerahkan pasukan besar guna menekan kekacauan internal.

Seluruh kekuatan besar sedang sibuk menjilati luka dan mengasah pedang. Tidak ada yang memperhatikan, atau setidaknya tidak ada yang peduli, pada satu konvoi kecil yang bergerak perlahan di jalur lembah sunyi.

Konvoi itu terdiri dari beberapa kereta besi hitam yang ditarik oleh siluman kuda tanpa kulit.

Di dalam salah satu kereta yang paling belakang, seorang wanita berlutut dengan tangan dan kaki terikat rantai hitam.

Tubuhnya lemah, pakaiannya compang-camping, namun matanya tetap jernih dan memancarkan ketabahan yang luar biasa. Ia memandang melalui celah kecil kereta ke arah langit kelam Dunia Bawah yang tak pernah memberikan harapan.

"Xu’er ..." bisiknya nyaris tak terdengar. Suaranya kering, namun penuh dengan cinta yang melampaui kematian.

Di punggung tebing yang menjulang tinggi di atas jalur lembah, Ye Chenxu berdiri mematung. Ia mengenakan jubah tempur yang telah dirajah dengan simbol-simbol penyerap aura.

Keberadaannya benar-benar lenyap dari persepsi indra spiritual mana pun, seolah dia telah menyatu dengan batu, angin, dan kehampaan.

Darah di dalam tubuhnya mendidih, meronta untuk dilepaskan, namun ia tetap diam seperti patung dewa kematian.

Di sebelahnya, Luo Yan sedang melakukan pemeriksaan terakhir pada formasi penghalang mini yang akan mengisolasi area pertempuran agar tidak terdeteksi oleh radar pusat Paviliun Darah.

“Ingat, Ye Chenxu,” bisik Luo Yan tanpa menoleh. “Begitu kita bergerak, seluruh pengawal konvoi yang merupakan ahli Pengumpul Qi akan segera turun tangan. Mereka tidak akan menahan diri.”

“Berapa jumlah mereka?” tanya Ye Chenxu.

“Dua ahli Transformasi Roh tahap awal. Lima ahli Pembentuk Inti puncak sebagai pendukung. Dan ...” Luo Yan berhenti sejenak, wajahnya berubah sangat serius. “Tapi ada satu aura yang sangat berbahaya. Dia adalah Algojo Bayangan.”

Nama itu membuat udara di sekitar mereka seolah membeku.

Algojo Bayangan.

Di Dunia Bawah, nama itu adalah sinonim dari kematian yang tak terelakkan. Dia adalah legenda pembunuh Paviliun Darah yang berada di Tahap Transformasi Roh tahap menengah.

Dikabarkan, ada puluhan ribu nyawa yang telah ia panen dengan tangan dinginnya.

Ye Chenxu mengembuskan napas perlahan, uap dingin keluar dari mulutnya.

“Bagus,” gumamnya.

Luo Yan meliriknya dengan tatapan heran. “Kau terdengar sangat tenang untuk seseorang yang akan menghadapi kematian.”

Ye Chenxu menatap kereta besi di bawah sana, tatapannya melembut hanya untuk sedetik sebelum kembali menjadi tajam seperti mata pisau.

“Karena jika aku takut dan membiarkan tanganku bergetar, maka ibu tidak akan pernah bisa pulang.”

Saat kereta konvoi memasuki titik paling sempit di lembah, Luo Yan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dengan satu sentuhan jari pada jimat kontrol, ia mengaktifkan segalanya.

Formasi Pembungkam!

Gelombang energi kelabu menyapu lembah seperti tsunami yang tak bersuara. Dalam sekejap, langit di atas lembah seolah runtuh.

Cahaya dipadamkan, dan suara pun diredam. Puluhan kultivator pengawal yang tadinya waspada tiba-tiba terpaku di tempat, merasa seolah-olah jiwa mereka dipaku ke dalam tubuh yang lumpuh. Jeritannya tercekik di tenggorokan, tidak mampu keluar.

Dan pada saat itulah, bayangan bergerak.

Ye Chenxu meluncur turun dari tebing seperti elang yang menukik mangsa. Langkah Sunyi Tanpa Jejak mencapai batas ekstremnya, membuat tubuhnya benar-benar tembus pandang di tengah kabut kelabu.

Dalam satu tarikan napas yang sangat singkat, tiga pengawal di tahap Pengumpul Qi roboh. Mereka bahkan tidak sempat merasakan sakit.

Lehernya terputus dengan presisi milimeter, dan inti spiritual di dalam Dantian mereka dihancurkan oleh ledakan energi kehampaan yang murni.

Darah menyembur ke udara, hangat dan merah, menciptakan kontras yang mengerikan dengan kabut kelabu yang dingin.

Namun, sebelum tubuh-tubuh itu jatuh menyentuh tanah, sebuah dentang pedang yang memekakkan telinga bergema.

TRANGG!

Lantai lembah retak hebat. Seorang pria berjubah merah gelap dengan topeng besi hitam muncul tepat di hadapan Ye Chenxu.

Aura Transformasi Roh yang terpancar darinya begitu kuat hingga membuat udara di sekitarnya terdistorsi, menekan Ye Chenxu seperti sebuah gunung yang jatuh dari langit.

“Bayangan Kehampaan ...” suara itu terdengar dingin, keluar dari balik topeng besi dengan nada meremehkan. “Akhirnya, tikus kecil itu berani menampakkan hidungnya di bawah sinar fajar.”

Algojo Bayangan telah tiba!

Tanah di bawah kaki mereka runtuh saat keduanya bertabrakan. Ye Chenxu menggunakan pisau hitamnya, sementara Algojo Bayangan menggunakan pedang panjang yang memancarkan aroma darah yang kental.

Setiap benturan senjata mereka menciptakan retakan ruang kecil, sebuah anomali spasial yang menghisap udara di sekitarnya.

“Cepat sekali gerakanmu, bocah,” ejek Algojo Bayangan.

Ia lalu mengayunkan pedangnya dalam pola yang rumit dan menciptakan jaring energi merah yang mematikan. “Namun kau belum cukup matang. Kecepatan tanpa fondasi hukum hanyalah tarian badut di mata seorang ahli.”

Pedang itu turun dengan kecepatan yang mustahil dihindari. Satu tebasan telak menghantam bahu Ye Chenxu, memaksanya terpental sejauh sepuluh meter.

Darah menyembur dari mulut Ye Chenxu, membasahi tanah lembah.

Aih-alih menyerah, Ye Chenxu justru memutar tubuhnya di udara dan memanfaatkan gaya benturan lawan untuk menstabilkan diri.

Ia mendarat dengan satu lutut di tanah, tangannya gemetar namun matanya menyala.

Sutra Kehampaan Awal di dalam dirinya berputar liar, lebih kencang dari yang pernah dilakukan sebelumnya.

Inti spiritualnya yang baru terbentuk berdenyut dengan ritme yang menyakitkan.

“Pemadatan Kehampaan ...” gumamnya parau.

Untuk pertama kalinya dalam pertempuran hidup-mati, Ye Chenxu mengaktifkan teknik yang ia dapatkan dari fragmen hukum.

Udara di sekeliling tubuhnya tiba-tiba mengerut, seolah ruang itu sendiri sedang diperas. Energi di sekitarnya memadat, menjadi kental dan berat.

Gerakan Ye Chenxu kini terlihat melambat di mata lawan, namun setiap langkah yang ia ambil terasa seperti membawa beban seluruh dunia.

Tekanan yang dihasilkan juga membuat tanah di bawah kakinya hancur menjadi debu halus.

Benturan berikutnya antara mereka menciptakan ledakan sunyi—sebuah fenomena di mana suara ditelan oleh kepadatan energi.

Algojo Bayangan, untuk pertama kalinya sejak ia menjadi pembunuh, terhuyung setengah langkah mundur. Matanya di balik topeng besi membelalak ngeri.

“Kau ... kau benar-benar mampu memadatkan hukum kehampaan di tahap ini?!” teriaknya tak percaya.

1
Daryus Effendi
bertele tele,kebanyakan penjelasan
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
alurnya terlalu cepat 🤔
Optimus prime
ad cincin ruang kenapa di simpan dlm jubah ..aduh thor2...
iwakali
ga dpt 1000 koin dong
Mommy Dza
Menarik ditunggu kelanjutannya 👍💪
Mommy Dza
Semakin sulit rintangannya💪
Mommy Dza
Kasihan Ibunya Chenxu 😩
Mommy Dza
Bayangan kehampaan yg menanen jiwa dalam diam 💪
Mommy Dza
tekanan adalah tungku terbaik untuk menempa emas sejati ❤️
Mommy Dza
Up 💪
Mommy Dza
Menarik 👍👍💪
Mommy Dza
Semangat up author 👍💪
Mommy Dza
Selamat datang pewaris 💪
Mommy Dza
Semangat author 👍💪
Mommy Dza
Chenxu semakin kuat 👍💪
Semangat
Mommy Dza
Ditunggu up nya 👍
Mommy Dza
Pembantaian dimulai 💪
Habiskan
Mommy Dza
Terus bergerak maju
Ye Chenxu 💪💪
Mommy Dza
Up 👍💪
Mommy Dza
Ceritanya menarik 👍💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!