NovelToon NovelToon
Balasan Seorang Istri Untuk Suami Dan Mertua Jahat

Balasan Seorang Istri Untuk Suami Dan Mertua Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Shafira Azzahra, tidak menyangka laki-laki yang dulu selalu baik dan royal berubah ketika dirinya sudah menikah dengan Aris Permana. Aris, suaminya menunjukkan sifat aslinya yang pelit dan perhitungan dengannya. Apalagi sikapnya yang lebih mengutamakan keluarganya dibandingkan dirinya yang sebagai istri.

Setiap hari Shafira akan dikasih jatah belanja 20 ribu sehari oleh suaminya, Aris. Setiap hari Shafira harus memutar otak, harus dibuat apa dengan uang 20 ribu rupiah. Jika lauk tak enak, Sharifa'lah yang akan mendapatkan makian dari mulut julid keluarga suaminya.

Akhirnya Shafira memanfaatkan waktunya dirumah dengan menulis novel dan berjualan online dengan nama pena dan nama tokonya memakai nama samaran agar suami dan keluarganya tidak tahu kalau Sahfira juga memiliki penghasilan.

Suatu hari Shafira tidak sengaja melihat sang suami sedang jalan dengan seorang wanita. Karena mencium bau bau perselingkuhan, Shafira pun mulai masa bodoh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Empat

Mata Shafira langsung melebar melihat siapa yang datang, senyumnya langsung merekah menyambut wanita paruh baya yang sudah ia anggap sebagai ibunya itu.

"Eh, Neng Fira. Lagi bersih-bersih rumah ya? "

seru Bi Sari, tersenyum tampak lebar dan tulus.

"Iya Bi. Kebetulan Bibi kesini, ada yang mau aku sampein, hayuk duduk dulu bi." seru Shafira tersenyum senang.

"Owalah, ada apa Neng? Kayaknya serius sekali."

keduanya duduk di kursi plastik yang ada didepan teras.

"Jadi begini, bi. Rencananya, aku mau bangun ulang rumah peninggalan ayah sama ibu. Gimana menurut bibi?" Shafira bertanya pada bi Sari. Karena memang bi Sari dan suaminya orang yang sangat baik, sudah seperti orang tuanya sendiri. Jadi ia tidak sungkan lagi untuk bertanya.

"Alhamdulillah kalau Neng ada niat mau memperbaiki rumah orang tuanya Neng. Ya bagus kalau memang sudah ada uangnya, sayang juga 'kan, tanahnya luas dan lokasi nya strategis begini." ujar bi Sari.

"Iya, bi. Tapi aku kan gak ngerti masalah perbangun-bangunan. Makanya aku mau minta tolong paman Ilham untuk mengurus pembangunannya. Kira-kira paman ilham mau gak ya, bi?" tanya Shafira, karena memang suaminya bi Sari, paman Ilham seorang tukang bangunan.

"Ya pasti mau Neng, kebetulan paman mu juga lagi nganggur tuh dirumah. Ayok kamu ngomong langsung aja ke paman mu. Lagian bibi juga mana ngerti masalah pembangunan rumah begini." ujar bik Sari nyengir.

Keduanya lalu tertawa

"Ayo, Bi." dengan semangat, Shafira mengandeng tangan bi Sari yang sudah ia anggap ibunya itu. kebetulan rumah mereka tepat bersebelahan.

Setelah bertemu dengan suami bi Sari, Shafira segera mengutarakan niatnya. Shafira juga meminta bantuan paman Ilham untuk mengurus masalah pembangunan rumahnya, dan mencari pekerja yang lain juga.

Untuk bahan bangunan juga semua ia percayakan pada paman Ilham. Pokoknya ia tinggal mengurus masalah biayanya saja. Kalau soal desain rumah, ia sudah mempunyai desain sendiri. Karena sedari dulu ia sudah bercita-cita ingin sekali memperbaiki rumah orang tuanya ketika nanti mempunyai uang.

Ia selalu merasa sakit hati karena mertuanya selalu menghina rumah peninggalan orang tuanya yang hanya berbentuk gubuk dan tidak layak huni.

Shafira akan datang sesekali saja, karena jarak yang lumayan jauh dan takut suami atau mertuanya tahu. Setelah selesai berdiskusi, Shafira pun langsung pamit pulang karena takut Nyai mertuanya mengamuk lagi jika ia terlalu lama keluar rumah.

Sebelum pulang, ia mampir dulu di warung makan padang, untuk makan siang. Sesekali jika ia bosan dengan lauk dirumah. Shafira akan makan enak diluar, memanjakan dirinya yang sudah lelah mengerjakan seluruh pekerjaan rumah.

Bukan ia pelit tidak mau berbagi, mertua dan suaminya juga sering membawa makanan enak dari luar. Tapi Shafira tidak pernah sekalipun di bagi, ia hanya kebagian aromanya saja.

Begitulah kelakuan suami dan keluarganya. Tidak hanya pelit materi. Jadi jangan salahkan dirinya kalau ia juga berlaku sama.

Malam harinya saat semua orang sudah masuk kamar masing-masing.

Tok! Tok! Tok!

Bu Ratna kembali mengetuk pintu kamar Aris.

"Ris!" panggil Bu Ratna.

"Ya bu sebentar." sahut Aris, kemudian beranjak dari tempat tidur membuka pintu.

"Istrimu udah tidur, Ris?" tanya Bu Ratna sambil menarik tangan Aris ke dapur.

"Belum, emang ada apa bu?"

"Gini, Ris. Ibu minta uang dong. Ibu belum bayar arisan bulan ini." todong bu Ratna pada putra, sambil matanya celingak-celinguk memastikan tidak ada Shafira yang menguping.

"Kemarin gajian kan Aris sudah kasih Ibu 2 juta. Masa sih sudah habis aja bu?" Aris mengernyit heran pada ibunya, sudah dijatah 2 juta sebulan untuk keperluan pribadi ibunya, dan untuk bayar arisan, tapi sekarang malah minta lagi.

"Uangnya sudah ibu pakai buat nambahin beli emas kemarin, Ris. Itu buat simpanan dihari tua. Itu juga nanti buat kamu juga, Ris. Ibu minta sejuta lagi buat bayar arisan." ucap bu Ratna dengan entengnya.

"Tapi Aris gak pegang uang sekarang bu. Aris mana pernah pegang uang banyak-banyak, takut nanti ketahuan sama Shafira kalau Aris banyak uang. Shafira kan tahunya Aris masih jadi buruh pabrik." ucap Aris pelan pada ibunya.

Deg!

Shafira yang sejak tadi menguping pembicaraan suami dan mertuanya langsung terkejut dengan apa yang didengarnya.

'Jadi selama ini mas Aris sudah bohongin aku?

mengaku masih bekerja sebagai buruh pabrik, padahal mas Aris sudah naik jabatan.' jerit Shafira dalam hati.

Dadanya mulai naik-turun, ia begitu emosi karena Aris sudah tidak jujur padanya.

Dengan emosi yang masih membara, Shafira segera kembali ke kamarnya sebelum ia ketahuan mengintip. Kembali ia berpura-pura sibuk pada ponselnya.

Ceklek!

Pintu dibuka lalu ditutup kembali oleh Aris.

Aris melihat Shafira, istrinya sudah bersiap untuk tidur.

"Kok tidur sih, jangan tidur dulu dong." Aris menggoyang-goyangkan babu istrinya.

"Apa sih mas!" Shafira mendengus kesal. Ia kembali kesal mengingat selama ini ia seperti orang bodoh yang sudah ditipu suaminya.

"Ayolah, dosa loh nolak suami." ujarnya tanpa merasa bersalah.

Shafira menggeram, ingin sekali ia menjerit dan mencakar wajah suaminya itu. Sudahlah dibohongi, berani meminta jatah lagi.

Tapi Shafira diam saja, pasrah tubuhnya disentuh-sentuh. Kalau saja menolak ajakan suami itu diperbolehkan, mana sudi ia tubuhnya disentuh-sentuh.

Shafira diam saja, tapi dalam hatinya ia mencibir suami durjananya itu.

Shafira langsung membalikkan tubuhnya, memunggungi suaminya itu. Ia tertidur sambil membawa sakit hatinya.

Selesai mandi, Shafira segera melaksanakan shalat subuh. Didalam do'anya ia keluarkan semua keluh kesahnya.

Didunia ini, Shafira sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi, alias sebatannya kara. Hanya kepada TUHAN-nya 'lah, Shafira bisa mencurahkan segala isi hatinya. Setelah selesai, ia pun melanjutkan mengerjakan rutinitas setiap harinya dirumah mertuanya itu.

Tidak lupa, setiap pergerakannya selalu diawasi oleh ibu mertuanya. Tidak jarang mulutnya berkomentar jika ada pekerjaannya yang tidak sesuai dengan keinginan mertuanya.

Setelah selesai, ia melanjutkan dengan mengerjakan pekerjaan sampingannya itu. Mengumpulkan pundi-pundi uang untuk menyenangkan dirinya sendiri. Jika ia tidak pintar-pintar memanfaatkan gadget satu-satunya miliknya itu, mungkin saja sekarang ia sudah stres karena tidak mempunyai uang.

Mengharapkan belas kasihan dari suaminya, mungkin saja sekarang ia sudah kurus kering. Ia juga kadang berpikir, mungkin saja suatu hari nanti ia sudah tidak bisa mentolerir sifat suaminya itu.

Apalagi mertuanya selalu ikut campur dalam urusan rumah tangganya.

"Alhamdulillah... Tabunganku sudah lebih dari cukup untuk membuat rumah ayah dan ibu lebih bagus lagi. Andai saja mereka masih ada, mereka pasti bisa merasakan tinggal dirumah yang lebih nyaman." gumam Shafira, mengingat mendiang kedua orang tuanya yang sudah lama pergi meninggalkannya.

1
Desi Belitong
aku suka dia melawan bukan hanya bisa nangis💪💪
Aisyah Sabilla
THOR KAPAN UPDATE
Iry: kemungkinan bsk aku update langsung banyak yah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!