Inara Zahra Putri seorang siswi SMA kelas XI, ia pandai dalam seni lukis dan memiliki bakat bernyanyi.
Namun ia selalu menyembunyikan kemampuannya karena takut tidak diterima atau di anggap tidak serius dalam akademik.
Karena, sang ayah ingin ia menjadi seorang dokter di masa depan dan mengambilan pelajaran tentang kedokteran.
ia merasa dilema!!!
Apakah ia tetap memenuhi harapan keluarga menjadi dokter...?
Atau memperdalam bakatnya dalam bidang seni...?
••《 Inara juga memiliki rahasia kecil yang selalu ia simpan dalam hatinya, ia menyukai seseorang secara diam-diam...!》••
☆☆Dalam cerita mengacu pada paduan budaya Minang kabau dan kehidupan perkotaan modern.
●● Cerita ini hanya fiktif belaka murni karangan author tidak sesuai dengan sejarah..!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Membujuk ayah
《Iya, bunda memang memasak banyak, untuk apa kamu bertanya jika bunda masak lebih, apa untuk tetangga sebelah, tenang sudah bunda antar tadi siang kesana. Ini hanya sisa untukmu.》
"Bukan bunda, untuk Aira dan Naura mereka ingin camilan buatan bunda, menurutku onde-onde ini bagus untuk mereka." Ucap Inara lagi sambil memakan onde-onde lagi.
"Oh untuak kawan kawu!, tapi onde-onde indak bisa tahan lamo do bisa busuak nyo, karena saat mambueknyo hanyo di kukuih indak di goreang." Ucap bunda Dewi lagi.
《 oh untuk temanmu, tapi onde-onde ini tidak bisa tahan lama bisa basi , karena cara membuatnya hanya dikukus tidak digoreng."》
"A ka denai bawo bisuak bun, janji lah tabuek!" Ucap Inara terkulai lemas
《 apa yang harus aku bawa besok bun! Aku sudah buat janji dengan mereka.》
"Awak padusi tapi ndak bisa masak!, tananglah masuakan dalam kulkas, bisuak pagi angekan liak onde-onde tu, kalau mode itu ndak ba'a doh lae bisa dimakan." Ucap bunda Dewi sambil mengejek Inara.
《Kamu perempuan tapi tidak bisa masak!, tenanglah ada solusinya masukan kekulkas lalu esok pagi panaskan kembali, dengan begitu masih bisa dimakan dengan rasa utuh.》
"Bunda jangan fitnah ya! Apa bunda lupa uwo yang mengajari aku masak" ucap Inara lagi membalas ucapan bundanya
《Uwo :nenek》
Bunda Dewi hanya tertawa, lalu ia pergi kedapur untuk mempersiapkan makan malam.
"Ayo bantu bunda masak untuk makan malam, buktikan bahwa kamu bisa masak." Ucap bunda Dewi sambil membawa Inara kedapur.
"Baiklah, akan aku buktikan." Ucap Inara ia bangkit dari duduknya lalu menyimpan onde-onde kedalam kulkas.
Setelah itu ia pergi kedapur membantu bunda Dewi memasak. Untuk membuktikan bahwa ia bisa memasak.
"Bunda masak apa malam ini." Ucap Inara lalu ia membantu mencuci piring, karena ia melihat masih berantakan.
"Malam ko, bunda masak ikan asam padeh, dan gulai tauco ayahmu suko kaduonyo." Ucap bunda Dewi.
《malam ini, bunda masak ikan asam pedas dan gulai tauco ayahmu suka keduanya》
"Oke! Aku bisa memasak keduanya, uwo sudah mengajari aku, tetapi aku mau masak nasi lebih dahulu." Ucap Inara lalu bersiap untuk masak nasi, setelah semuanya beres baru ia membantu bundanya memasak.
Awal mulanya ia memotong tahu dengan potongan kecil berbentuk dadu, setelah itu ia memotong buncis dengan miring.
Setelah itu ia menyiapkan santan untuk kuahnya, sedangkan bumbunya sudah disiapkan oleh bundanya.
Setelah itu ia menyiapkan bahan membuat gulai asam padeh setelah semuanya selesai bunda dewi hanya tinggal menyiapkam bumbu.
Tidak lama setelah itu mereka berdua menyelesaikan acara masak memasak, inara kembali kekamarnya untuk sholat melaksanakan sholat maghrib, begitu pula dengan bunda Dewi.
Tidak lama setelah itu ayah Inara kembali dari pondok pesantren tempat adiknya Varel.
"Ayah apa ada masalah dipondok, mengapa wali murid dipanggil kesana." Ucap Inara ia juga penasaran apakah telah terjadi sesuatu.
"Tidak ada masalah, hanya menyampaikan tahun ajaran baru aja."
" dan satu lagi pihak yayasan pondok meminta kepada wali santri ikut sertaan dalam pembangunan gedung kedua!, hal ini pihak pondok tidak memaksa hanya kesadaran masing-masing saja." Ucap Hendry ayah Inara.
"Berarti mereka minta sumbangan lagi, untuk pembangunan gedung kedua apanya sampai sekarang gedung itu belum dibangun juga!"
" Berapa yang kamu sumbangkan, bang!" Ucap Bunda Dewi ia sedikit sebal karena pondok pesantren tempat putranya itu selalu mengeluarkan uang pembangunan.
"Tidak banyak hanya lima ratus ribu rupiah." Ucap ayah Hendry santai.
"Apa lima ratus!, mengapa tidak seratus saja kamu menyumbang, bang! Kan sayang uangnya." Ucap Bunda dewi lagi.
Lalu inara menambahkan dan ikut mengobrol dengan ayahnya.
"Kalau sayang mengeluarkan uang bagaimana pindahkan kembali Varel kesekolah SMP Negeri, dikota padang ini banyak sekolah negeri yang bangus." Ucap Inara mengusulkan pendapatnya.
"Atau sekolah SMP IT disana anak-anak juga dididik dan dibentuk karakternya dan keagamaannya tetapi biaya spp cukup besar walaupun besar sepadanlah dengan mata pelajarannya disana, kita tidak rugi." Kata Inara lagi.
"Abang, bagaimana kalau kita pindahin aja Varel sekolah dekat sini, dia juga tidak perlu tinggal diasrama bisa pulang setiap hari." Ucap Bunda Dewi, dia bukan bermasalahkan uang tetapi putranya jauh dari matanya.
"Diasrama kita tidak tahu bagaimana makannya apakah teratur atau tidak, kita tidak tahu bagaimana ada yang membulllinya, kita juga tidak tahu jam berapa dia tidur." Tambah Inara, sebenarnya ia juga kurang setuju adiknya sekolah dipondok pesantren.
Ayah hendry termenung cukup lama, memikirkan apa yang dikatakan Inara, memang masuk sedikit kedalam otaknya yang keras.
"Baiklah akan aku pikirkan, sebaik kita makan lebih daahulu kasihan makanan dianggurin dari tadi." Ucap ayah lalu ia mengambil makan.
Sedangkan Inara dan Bunda Dewi saling pandang lalu tersenyum secara diam, mereka yakin kali ini ayah Hendry pasti terbujuk.
Lalu ia berbisik kepada bundanya. " apa bunda yakin ini berhasil." Bisiknya ditelinga ibundanya
"Percaya pada bunda, nanti dikamar akan bunda ingatkan kembali." Ia juga berbisik, setelah itu ia juga ikutan makan.
Tak lama setelah itu mereka selesai makan malam, Inara kembali membujuk ayahnya.
"Ayah cobalah pikirkan perkataanku tadi, bagaimanapun juga ayah hanya punya satu anak laki-laki, pendidikan formalnya harus bagus."
"Aku juga tahu dipesantren pendidikan juga bagus dan karakternya dibentuk disana, tetapi Varel jauh dari sana, kita tidak tahu bagaimana dengan pertumbuhannya, dia hanya satu-satunya adik laki-lakiku yang masih kecil sudah terpisah dari orang tua." Ucap Inara lagi, Saat ayahnya ingin protes ia berbicara lagi.
"Ayah, pikirkanlah baik-baik!, kalau begitu aku kekamar dulu mengerjakan pr-ku" ucap Inara lalu ia kabur lari keatas lalu hanya tersisa bundanya.
Disanpai dikamar inara mengeluarkan ponselnya sambil melihat photonya bersama kenzo tadi siang, sambil tersenyum ia memandangi foto mereka berdua.
Setelah puas memandangnya, baru ia mengerjakan pekerjaan rumahnya, tugasnya tidaklah banyak dengan kepintaran ia bisa menyelesaikannya.
Setelah semuanya selesai ia bersiap untuk tidur, tetapi sebelum itu ia tidak lupa memakai skin care dan handbody sebelum tidur, supaya kulitnya tetap halus dan cantik setiap hari.
"Selamat malam, bang ken?" Ia mengechat Kenzo untuk mengucapkan selamat malam, tidak lama setelah itu ia mendapatkan balasan.
"Malam! Belum tidur?." Balas Kenzo ia dengan cepat membalas chat dari Inara
"Belum, ini juga mau tidur." Balas Inara ia berkata dengan jujur.
"Met bobok, oh ya besok sekolah bareng aku saja tidak usah naik angkot, aku jemput kamu kerumah, jangan telat bangun.!" Balas chat Kenzo kepada Inara.
.
.
.
terima atau tidak masalah nanti?