Yohan, seorang pemuda urban, mewarisi rumah bobrok di Yalimo dan bertekad menjualnya. Rencananya terhalang oleh roh ibunya, Sumiati, yang terikat pada tanah itu oleh 'Janji Darah'. Dalam upaya investigasi yang membawanya jauh ke pedalaman Papua, Yohan harus mengorbankan identitas modernnya (Pertukaran Jiwa) demi membebaskan Sumiati. Setelah berhasil, ia secara tidak sengaja melepaskan Kutukan Primordial yang lebih tua—energi jahat yang sebelumnya ditahan Sumiati—dan dipaksa menjadi 'Penjaga Pusaka' sejati. Yohan memimpin komunitas melawan serangan hukum dan militer korporat, yang berpuncak pada kemenangan spiritual atas kekayaan. Perjalanannya berakhir ketika ia menyadari bahwa pengorbanan terbesar bukanlah aset, melainkan kemampuan untuk memimpin dengan kerendahan hati dan tanpa kepastian diri, mengubahnya dari pewaris sinis menjadi pemimpin spiritual yang utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianatan Terungkap
Yohan berdiri membeku dalam kabut tengah malam, tatapannya terkunci pada selembar kertas kalkir tipis di genggamannya. Di sana, di dalam keremangan cahaya rembulan, tersaji kebenaran paling menjijikkan dari Yalimo.
Di pusat sketsa, Batu Persembahan yang besar terlukis dominan. Lima wajah kaku para sesepuh mengapit Yosef. Namun, mata Yohan hanya terfokus pada wajah keenam, digambar dengan garis tebal kebencian, mulut mencibir—itu adalah Marta. Ekspresinya saat itu bukan cemas, tetapi menuntut, seperti pemburu yang menunggu buruannya tumbang.
Di bagian bawah, tertulis goresan tangan Yosef yang histeris: Pusaka telah dibayar, kamu akan menjual Pusaka jika dia dilepaskan! Aku menolak.
“Mereka membayarmu,” bisik Yohan ke udara dingin, seolah sedang berbicara dengan roh ibunya yang telah tenang.
“Ayah tidak dibunuh karena kegilaan ritual, dia dibunuh karena menghalangi penjualan Pusaka.”
Kebenaran tidak akan datang di balik gunung spiritual, pikir Yohan. Kebenaran terletak pada sehelai kertas tipis ini, dan para pembunuh yang bernapas.
Kemarahan Yohan membara, memberikan energi yang menenangkan dirinya dari keraguan. Bukan untuk kekayaan atau jabatan, tetapi keadilan untuk keluarganya yang dibunuh dan dimanipulasi—Sumiati, korban ritual; Yosef, korban politik lokal. Kekuatan spiritual terbaik adalah menuntut pertanggungjawaban.
Dia berbalik dari jalur yang menuju ke Batu Persembahan, dan melangkah kembali ke desa.
Pertukaran Jiwa Total bisa menunggu. Pertama, keadilan harus dipenuhi.
***
Fajar merayap naik, menyinari Yalimo dengan cahaya yang tipis, dingin, dan masih tertutup embun tebal. Di tengah desa, Balai Komunitas berdiri sunyi, tempat pertemuan kecil diadakan oleh warga yang bertani atau berdagang kebutuhan dasar harian. Yohan tahu, inilah saatnya Marta berada dalam wibawanya, menjalankan peran sebagai kepala desa.
Yohan mendekat dari pinggir hutan, auranya berbeda. Perjalanannya ke Ina, pengakuan pada roh Sumiati, dan Patung Pusaka di punggungnya memberinya otoritas tak terlihat. Penduduk yang sibuk membuka lapak mendongak, merasakan pergeseran energi di Yalimo.
Marta ada di Balai Komunitas. Dia berbicara dengan beberapa tetua lain—tetua yang wajahnya persis dengan yang digambar Yosef dalam kalkir itu—mereka sedang mendiskusikan kegagalan patroli semalam untuk menakuti Yohan.
“Pokoknya, jika Yohan kembali hari ini, kita harus bertindak,” suara Marta sedikit melengking.
“Dia mengancam Janji Darah kita. Jika dia berhasil menjualnya—”
“Tidak, dia tidak akan menjual, Marta,” potong Yohan, suaranya pelan tapi kuat, menusuk melalui kabut pagi.
Marta dan lima tetua lainnya serentak menoleh. Raut wajah Marta segera berubah dari seorang perencana yang percaya diri menjadi seorang pemimpin yang kaget sekaligus defensif. Jelas mereka menyangka Yohan sudah jauh di hutan.
“Yohan!” seru Marta, mengeras.
“Kenapa kau masih di sini? Kau harusnya menjaga warisanmu atau meninggalkannya!”
“Aku ada di sini, Marta, bukan sebagai penjual yang sinis lagi, tapi sebagai Pewaris yang sah,” Yohan memasang tatapan tajam.
“Dan aku punya pertanyaan spesifik tentang warisan yang sudah lama disembunyikan dariku.”
“Kami sudah menjawab semua pertanyaanmu,” balas salah satu tetua, Waya, suaranya goyah karena kelelahan rohani dari gangguan Sumiati beberapa hari ini.
“Mengenai Janji Darah, itu urusan mendiang Ibumu.”
“Ah, Janji Darah,” kata Yohan, tersenyum pahit.
“Tentu. Janji Darah adalah ikatan spiritual di mana seorang pewaris menukarkan cinta atau kehormatan seseorang yang sangat berharga, mengikatnya sebagai penjaga abadi tanah Yalimo, setuju?”
Marta mengeraskan rahangnya. Yohan tidak hanya tahu soal janji itu, ia tahu kosakata spesifiknya. Dari mana ia dapat pengetahuan sekelas Dukun Ina?
“Itu tradisi kami, kamu tidak berhak mencampuri,” Marta membela diri, berusaha menarik perhatian warga yang menonton.
“Aku harus campur tangan, karena ritual itu mengikat ibuku paksa dan itu membuatmu dan Ayahku berebut otoritas, sampai kamu dan tetua memutuskan untuk membunuhnya!”
Kata ‘membunuhnya’ menggantung di udara. Suasana sunyi, sedingin Pusaka Batu di punggung Yohan.
Waya terkesiap dan menggeleng panik.
“Gila! Kamu ini menyebar fitnah! Semua orang tahu, mendiang Ayahmu, Yosef, tewas dalam insiden kecelakaan!”
“Insiden kecelakaan, atau karena dia menghalangi kalian menjual tanah leluhur ini kepada korporasi besar yang kalian harapkan dapat mengambil alih aset yang kalian sembunyikan di perbatasan?” tantang Yohan.
“Jaga bicaramu! Aku ini Kepala Desa!” raung Marta, wajahnya merah. Marta mencoba melangkah maju untuk memegang bahu Yohan, sebagai simbol pengekangan otoritas.
Yohan menahan. Energi yang tenang dari Jimat Tulang Ina, yang berada di dalam jaketnya, memberinya kekuatan. Dia mundur selangkah.
“Kamu bukan kepala desa. Kamu hanyalah boneka dari kepentingan yang haus darah,” Yohan merendahkan suaranya, menarik kembali wibawa spiritual yang membuatnya diterima di Desa Api. Dia tidak ingin kekerasan, dia ingin penyingkapan.
“Aku tahu tujuan Ayah melakukan Janji Darah. Dia melindungi tanah dari ancaman tambang yang sudah lama mengintai. Tapi niat mulianya terdistorsi, membuat Sumiati menderita.” Yohan mengambil jeda, memandang lurus ke mata Marta yang kini berkedip gugup.
“Setelah ikatan spiritual ibuku bekerja sebagai penyangga spiritual di Batu Persembahan, kamu dan tetua muncul, memaksa Ayah mengambil janji dari perusahaan tambang, menggunakan tanah yang ia lindungi sebagai tawarannya! Sketsa Ayah membuktikannya. Itu bukti kepanikan sesaat sebelum Ayah terbunuh!” Yohan berbicara dengan penuh amarah yang terkontrol.
“Dan ibuku menuliskan pesannya: Ayahku adalah ikatan yang menahan Pusaka, bukan Ibuku, karena kehendak Ayah kalian rampas melalui Janji Darah yang berdarah itu!”
Marta, yang biasanya memiliki kontrol diri sempurna, tiba-tiba panik. Rahasia itu telah terkubur belasan tahun, kini ditelanjangi di depan umum oleh pemuda sinis yang baru datang dari kota.
“Itu gila! Kamu sudah gila, Yohan! Kamu mendengar bisikan roh!” teriak Marta.
“Kami hanya menjaga tanah warisan dari ketamakan orang luar sepertimu!”
“Orang luar sepertiku, atau korporasi yang akan membeli pusaka itu dengan dokumen kotor?” balas Yohan, menusuk tajam.
“Mengapa kalian begitu gigih mengusirku? Karena jika aku melepaskan Ibuku melalui Pertukaran Jiwa sejati, itu akan memurnikan janji itu dan memutus otoritasmu atas tanah. Kalian tidak bisa lagi menjual perbatasan! Itu akan membuat Kutukan Primordial dari Patung Pusaka itu keluar, yang selama ini tertahan, bukan?”
Kata-kata "Patung Pusaka" dan "Kutukan Primordial" menyebabkan para warga di belakang Yohan, yang tadinya penasaran, kini tersentak mundur dengan ketakutan luar biasa. Kosakata itu terlalu spesifik. Ini bukan gosip.
Seorang tetua, Gede, yang tampak paling lemah, mencondongkan tubuhnya ke depan dan berbisik keras,
“Marta, tolong… dia tidak boleh menyelesaikan ritual di Batu itu. Jangan biarkan Patung itu bersih…”
Marta memotong tetua itu dengan lirikan mata mematikan.
“Tutup mulutmu, Gede!” seru Marta, nadanya semakin histeris, menandakan dia kehilangan kendali.
“Tidak ada Pusaka yang perlu dibersihkan! Ini hanya delusi seorang anak kota yang dendam!”
“Mendapatkan pengetahuan spiritual itu menuntut pertukaran besar, Marta,” Yohan maju satu langkah terakhir, aura kemenangannya memancar.
“Aku sudah membuktikan niatku tulus dan pengorbananku. Aku membawa kebenaran yang ditolak Ayahmu, bahwa kekuasaan tidak membuatmu menjadi Penjaga. Kamu hanya penjajah yang haus harta.”
“Bohong!” desis Marta, meludahi debu.
“Kau tidak punya bukti. Semuanya di luar sana adalah cerita fiktif dari jurnal ay— ”
Yohan menarik keluar kertas kalkir tersembunyi Ayahnya dari saku jaket. Dengan gemetar, ia membentangkan kertas yang penuh sketsa mengerikan itu di depan mata Marta, hanya berjarak beberapa senti darinya.
“Sketsa Ayah, Marta. Gambaran terakhirnya,” Yohan menahan napas.
“Inilah wajah ketamakan dan pengkhianatanmu, disaksikan Ayah saat ia mengira dia sendirian. Kau pikir Ayahku fanatik gila. Dia martir, Marta. Dia melindungiku, dengan cara menempatkan semua bukti itu di balik lipatan terkecil. Siapa yang ada di Batu Persembahan, mencoba menjebaknya dan akhirnya menghabisinya, persis di saat ibuku diikat sebagai budak spiritual abadi?”
Marta tidak lagi berusaha keras. Dia tidak menjerit. Dia hanya menatap sketsa wajahnya sendiri, tergambar kejam oleh tangan sekarat Yosef, seolah melihat bayangannya yang berlumuran darah belasan tahun yang lalu.
Napasnya tercekat di tenggorokan, dan wajahnya kehilangan seluruh rona, menjadi sepucat kertas kalkir itu.
“Aku tanya padamu. Katakan pada desa ini, siapa yang membunuh Yosef dan memaksa Janji Darah ini terus berjalan, demi hak penambanganmu?” desak Yohan.
“Katamu dia kecelakaan, tetapi ini—ini adalah rencana busuk yang harus kulunasi dengan jiwaku yang lama!”
Marta mendongak dari kertas itu. Dia mencoba mengucapkan sepatah kata untuk menyangkal, tetapi dari balik air matanya yang tidak sengaja menetes karena trauma sketsa itu, suara bisu keluar.
Wajahnya kini ditutup oleh rasa malu dan kekalahan total yang tidak bisa ia tutupi, bahkan di depan warga yang melihat pengkhianatannya terkuak oleh Yohan.
Warga yang berkerumun itu tersentak, berbisik keras. Sketsa itu adalah paku terakhir di peti matinya. Wajah Marta mengkonfirmasi kebenaran Ayahnya. Sebuah pengkhianatan besar yang disembunyikan dalam wibawa spiritual palsu Yalimo, kini terungkap total.
Yohan melipat kertas itu, membiarkan mata warga fokus pada Marta yang lumpuh oleh rasa takut dan rasa bersalah, di hadapan cahaya Pusaka Batu yang terpancar dingin di balik punggung Yohan.