NovelToon NovelToon
'SUAMI BUTA' Ku Yang Kaya Raya

'SUAMI BUTA' Ku Yang Kaya Raya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

"Dasar pria buta, dia cuma hidup dari sumbangan keluarga Wijaya!" cibir seorang wanita.

Sepertinya kehadiran Elang telah menjadi tontonan bagi mereka. Semua orang mengatainya sebagai pria tak berguna,

"Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan."

Entah naif atau bodoh, ucapan Nila berhasil menarik perhatian Elang.

Setelah kecelakaan 10 tahun lalu, pria itu kembali dari pengasingan panjang. Diam-diam bertingkah lemah demi membalaskan dendam,

Namun siapa sangka? di tengah sandiwara dia justru bertemu seorang gadis liar yang membuat hidupnya berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengundurkan diri

"Ada apa? Kenapa kamu pulang cepat?" celetuk Elang muncul dari arah lain. Sepertinya dia keluar setelah mendengar jeritan Nila,

"Ha? Gapapa kok." sahut Nila bangkit dari tidurnya, berusaha bersikap normal seakan tidak terjadi apa-apa.

Jangan sampai Elang tahu kalau Nila kehilangan pekerjaan,

Pria itu berjalan menuntun tongkatnya lalu menduduki sofa. Menghampiri Nila yang datang lebih awal,

"Cerita aja. Bukannya kamu sendiri yang bilang, kalau kita harus saling cerita biar makin akrab." pinta Elang merendahkan suara,

Nila yang awalnya ragu mulai berani buka suara tentang kejadian tadi. Tentang pergantian pemilik tempat kerjanya yang ternyata dibeli oleh Keluarga Wijaya,

Kemudian tentang keputusan Nila yang mengundurkan diri.

"..." Elang mengernyit mendengarkan semuanya, tak menyangka kalau Rangga akan bertindak sejauh itu.

Wajar kalau Rangga bertingkah kekanak-kanakan, tapi bagaimana bisa pamannya setuju sampai membeli bisnis orang lain. Apa yang sedang mereka rencanakan?

"Maaf aku belum cerita, sebenarnya dulu aku sama Rangga pernah pacaran." ungkap Nila merasa gugup, takut terjadi salah paham.

Lagi pula semua itu hanyalah masa lalu, semoga saja pria itu bisa mengerti.

"Tapi aku berani sumpah. Aku udah ga punya perasaan apapun ke dia," mengangkat satu tangan ke atas.

"Iya, aku percaya itu." Elang mengangguk santai,

"Syukurlah, terima kasih udah mendengarkanku---Tenang saja, besok aku akan cari kerjaan di tempat lain." tegas Nila menerbitkan senyuman.

Jangan sampai Elang berpikir kalau Nila terbebani karena harus bersusah payah menafkahi mereka.

"Gimana kalau kamu ngelamar di DaungFood? Mereka lagi buka loker..."

"Kamu tahu dari mana?" tanya Nila dengan raut polos, menatap penuh tanda tanya.

"Kamu lupa? Herman temenku kan CEO DaungGroup..." 

Sekejap gadis itu menganga, mengingat hal penting yang dia lupakan.

"Tapi itu kan perusahaan besar, mana mungkin nerima karyawan kaya aku." rengek Nila merasa tak cukup pantas.

Sudah bukan rahasia lagi kalau DaungGroup adalah perusahaan global yang memiliki bisnis hampir di segala bidang manufaktur.

"Kuliah aja ga selesai. Mana mungkin di terima di perusahaan besar, kayaknya bakal kalah sama yang sarjana..." ocehnya menekuk bibir, Nila kehilangan rasa percaya diri.

"Coba saja dulu, DaungGroup itu perusahaan ternama yang ga cuma mandang gelar pendidikan. Mereka benar-benar mengedepankan SDM yang berkualitas," ujar Elang berusaha membujuk,

"Emang iya?" gumam Nila menunduk lesu, masih merasa bimbang.

"Kemana perginya kucing garong tadi? Padahal kemarin dia berlagak mau menafkahiku," batin Elang tertawa melihat suasana hati Nila yang begitu mudah berubah. 

"Aku udah lama, kenal sama Herman. Jadi pasti perusahaannya memiliki visi misi yang baik," 

"..." Nila mendongak memandang pria yang terlihat begitu yakin kepadanya.

"Apa kamu pikir aku bisa kerja disana?"

"Iya. Aku sangat yakin, kamu pasti bisa!" angguk Elang mengharapkan tontonan yang lebih menarik.

Nila tidak tahu kalau suaminya itu pemilik asli dari perusahaan yang sedang mereka bicarakan. Bukankah mudah bagi Elang kalau ingin memperkerjakan Nila?

Tapi sepertinya dia tidak berniat curang, melihat reaksi Nila bukankah lebih menarik kalau mengamati dari kejauhan.

Sampai mana gadis itu bisa bekerja keras mengandalkan kemampuannya sendiri?

Lagipula Nila sendiri yang bilang akan bertanggung jawab menanggung kehidupan mereka.

"Baiklah, karena kamu percaya padaku. Aku akan mencoba---kapan wawancaranya?" tanya Nila memberanikan diri.

"Minggu depan--"

Kring...Kring...Kring...

Bunyi dering ponsel menghentikan pembicaraan, Elang melirik ke arah suara sebelum bersiap bangun.

"Biar aku aja yang ngangkat!" lugas Nila berlari memasuki kamar,

Elang tak sempat menolak karena lagi-lagi Nila bertindak sesuka hati. Secepat kilat menghilang demi mengambil ponsel milik Elang yang tertinggal di dalam kamar,

"Halo?" sapa Nila dengan ramah,

"Halo, apa Elang---sedang--sibuk?" tanya Herman terbata-bata, ini pertama kalinya dia memanggil nama Elang secara langsung.

Sedikit gugup karena takut dianggap tidak sopan,

"Tidak, dia sedang bersantai..."

"Bawa kesini hpnya! Biar aku yang angkat!" pekik Elang memanggil gadis yang masih di dalam.

Teriakannya begitu keras sampai terdengar dari balik telfon, membuat Herman merasa takut. Mungkinkah Elang mendengar saat Herman menyebut namanya tanpa panggilan hormat?

"Aku ingin bicara dengan Elang," pinta Herman merendahkan suara.

"Iya, tunggu sebentar..." Nila berlari menghampiri pria tadi, 

Kembali duduk setelah memberikan ponsel kepada pemiliknya. Dengan kedua mata membulat dia menatap Elang seakan ingin menyimak pembicaraan mereka, 

"Kamu tunggu disini saja." seru Elang beranjak bangun, meninggalkan Nila dengan perasaan kecewa.

"Emangnya mereka mau ngobrolin apa sih jam segini?" gerutunya kesal. 

Bahkan Elang mengunci pintu dari dalam, sebegitu rahasia kah perbincangan mereka?

"Cepat katakan. Ada hal penting apa yang membuatmu menelponku?" 

"Saya mendapat info kalau paman anda membeli usaha katering, tempat Nyonya Nila bekerja." ujar Herman memberi kabar yang telah Elang ketahui lebih dulu.

"Ya, aku sudah tahu." sahutnya singkat,

"Sepertinya Pak Rangga mencoba untuk mendekati nyonya. Apa tidak apa-apa membiarkan nyonya tetap bekerja disana?"

"Dia sudah mengundurkan diri, jadi mereka ga akan ketemu." ucap Elang menyebar keputusan yang telah Nila ambil.

"Oh gitu. Maaf, barusan saya sudah berpikiran buruk. Haha...lagi pula mana mungkin nyonya kembali dengan Pak Rangga," jawab Herman tertawa kaku, merasa bersalah karena telah memberi tuduhan palsu.

"Aku akan membuatnya bekerja di DaungFood," 

"Ha? Kerja di---DaungFood? Apa Tuan yakin? Terus sandiwaranya----nanti gimana kalau ketahuan..." ujar Herman terkejut, dibuat panik dengan keputusan tadi.

"Ga akan ketahuan. Karena selama Nila kerja disana, kamu yang berpura-pura menjadi CEO kayak kemarin."

Mengingatkan pada peristiwa saat Nila berkunjung ke salah satu bisnis miliknya. Dia berniat menjadikan Herman sebagai pion untuk menutupi identitasnya,

"S--saya?"

"Kenapa? Kamu gamau?" tanya Elang dengan nada datar,

Membuat pria itu bergidik ngeri, "Siapa bilang? Saya siap kok."

"Baguslah. Kalau begitu siapkan semuanya, dan satu lagi----selidiki darimana dana yang paman pakai untuk membeli bisnis itu."

"Dewan direksi ga akan setuju kalau Perusahaan Wijaya ngebeli usaha katering rumahan. Paman pasti menyembunyikan sesuatu..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!