Arkan, seorang pemuda yang dianggap sampah kultivasi, ternyata menyimpan kekuatan terlarang di telapak tangannya. Saat 5 elemen bersatu dengan kehampaan Void, satu galaksi pun harus tunduk. Saksikan perjalanan Arkan
Body Tempering
Qi Gathering
Qi Foundation
Core Formation
Soul Realm 2 pengikut nya
Earth Realm
Sky Realm cici
Nirvana Realm arkan
Dao Initiate
Dao Master Dao arkan& cici
Sovereign
Divine
Universal (Kaisar Drak)
Eternal Ruin (Puncak Arkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roni alex saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIAPA YANG MENGEKSEKUSI SIAPA
Matahari baru saja naik di ufuk timur, menyinari lapangan utama Sekte Awan yang sudah dipenuhi oleh ribuan murid. Di tengah lapangan, sebuah panggung kayu besar telah didirikan. Ketua Sekte berdiri dengan jubah kebesarannya, sementara di sampingnya, Mahesa tampak tersenyum lebar seolah baru saja memenangkan lotre dewa.
"Hari ini," suara Ketua Sekte menggelegar, diperkuat oleh energi ranah Inti Emasnya. "Kita akan mengeksekusi seorang pengkhianat yang telah mencuri pusaka sekte dan membunuh gurunya sendiri. Arkan akan menjadi peringatan bagi siapa pun yang berani melanggar hukum kita!"
Mahesa melangkah maju, menatap ke arah lubang penjara bawah tanah yang masih tertutup rapat oleh segel batu raksasa. "Bawa dia keluar! Biarkan dia memohon ampun di bawah kakiku sebelum kepalanya dipisahkan dari tubuhnya!"
Namun, saat para penjaga hendak membuka segel, sebuah getaran hebat mengguncang seluruh gunung. Bukan getaran gempa biasa, melainkan getaran yang terasa seolah-olah fondasi bumi sedang runtuh.
BRAKKKK! BOOOM!
Segel batu raksasa seberat puluhan ton itu meledak, hancur menjadi debu halus yang menutupi pandangan semua orang. Dari dalam lubang yang gelap, sebuah aura hitam pekat melesat tinggi ke langit, membelah awan pagi dan mengubah warna langit menjadi kelabu kelam dalam sekejap
Asap debu perlahan menipis, dan sebuah sosok berjalan keluar dengan tenang. Kostum jingganya yang sobek kini memancarkan pendaran lima warna yang diselimuti kabut hitam. Setiap langkah kaki sosok itu membuat lantai marmer lapangan sekte menghitam dan hancur, seolah-olah kehidupan di bawah kakinya telah disedot habis.
"Arkan?!" Mahesa berteriak, suaranya melengking karena syok. "Bagaimana mungkin... Rantai anti-energi itu... Penjara itu..."
Arkan menghentikan langkahnya tepat di bawah panggung eksekusi. Ia mendongak, menatap Ketua Sekte dan Mahesa dengan mata yang kini tidak lagi memiliki pupil—hanya dua pusaran Black Hole yang haus akan kehancuran.
"Mengeksekusi?" suara Arkan bergema rendah, namun getarannya membuat ribuan murid di lapangan langsung jatuh berlutut karena sesak napas. "Tuan Ketua Sekte, kau membangun panggung yang sangat megah untuk kematianmu sendiri."
Ketua Sekte gemetar. Ia merasakan tekanan aura yang jauh melampaui ranah Pembentukan Pondasi. "Kau... kau sudah mencapai Inti Emas? Tidak mungkin! Hanya dalam satu malam?!"
Arkan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat tangan kanannya, dan sebuah tekanan gravitasi dari Dao Keruntuhan Abadi meledak secara horizontal.
KRETEKKK!
Panggung kayu yang kokoh itu hancur berkeping-keping seolah-olah baru saja dihantam oleh godam raksasa yang tak kasat mata. Ketua Sekte dan Mahesa terpental jatuh ke tanah, mendarat tepat di depan kaki Arkan.
Sekarang," Arkan menginjak dada Mahesa dengan perlahan, membuat tulang rusuk pemuda itu mulai berderak. "Katakan padaku, Mahesa... di panggung yang kau buat ini, siapa sebenarnya yang mengeksekusi siapa?
Mahesa membelalak, wajahnya membiru menahan beban kaki Arkan yang terasa seberat gunung. "Argh... Arkan... ampun... ini... ini pasti salah paham!" rintihnya dengan suara terputus-putus. Darah segar mulai mengalir dari sudut bibirnya, membasahi lantai marmer yang kini mulai menghitam karena terpapar aura Entropy dari tubuh Arkan.
Arkan tidak bergeming. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya, menatap Mahesa dengan pusaran kegelapan di matanya. "Salah paham? Kemarin kau tertawa saat aku diseret ke penjara. Kau bilang akan memisahkan kepalaku, bukan?"
KRETEKKK!
Satu tulang rusuk Mahesa patah. Jeritan melengking memecah keheningan lapangan, membuat ribuan murid yang menonton bergidik ngeri. Mereka melihat kostum jingga Arkan berkibar tertiup angin yang membawa hawa kematian.
"Berhenti!" Ketua Sekte berteriak sambil bangkit berdiri, wajahnya memerah karena malu dan marah. "Arkan! Kau telah jatuh ke dalam jalan iblis! Lepaskan Mahesa atau seluruh kekuatan sekte akan menghancurkanmu!"
Arkan menoleh perlahan, tatapannya begitu dingin hingga membuat bulu kuduk Ketua Sekte meremang. "Seluruh kekuatan sekte? Kau maksud... kumpulan semut ini?"
Tanpa mengangkat kakinya dari dada Mahesa, Arkan mengibaskan tangan kirinya ke arah barisan murid penegak hukum yang mencoba mengepungnya. Sebuah gelombang energi hitam pekat dari Black Hole menyapu mereka secara horizontal
WUUUSSSHHH!
Bukan ledakan yang terjadi, melainkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Pedang-pedang baja milik para murid itu mendadak karatan dan hancur menjadi debu sebelum sempat menyentuh aura Arkan. Jubah mereka koyak, dan puluhan murid itu terpental mundur dengan tubuh yang mendadak lemas, seolah seluruh energi kehidupan mereka baru saja disedot paksa oleh kehampaan..
Aku tidak jatuh ke jalan iblis," suara Arkan bergema, namun kali ini ada getaran suara Dewi Qi Lin yang ikut menimpali. "Aku hanya meruntuhkan jalan yang kalian anggap benar. Jika hukum kalian adalah menindas yang lemah, maka biarkan kekuatanku menjadi hukum yang baru bagi kalian semua."
Ketua Sekte gemetar, ia mengeluarkan sebuah pedang pusaka dari cincin ruangnya—Pedang Awan Putih. Pedang itu bersinar terang, namun saat ia mencoba menebas ke arah Arkan, cahaya pedang itu justru tersedot masuk ke dalam pusaran aura hitam di sekitar Arkan.
"Tidak mungkin! Teknik apa ini?!" teriak Ketua Sekte histeris.
"Ini bukan teknik," Arkan menekan kakinya lebih keras ke dada Mahesa, membuat pemuda licik itu pingsan karena rasa sakit yang luar biasa. "Ini adalah Keruntuhan Abadi. Di hadapanku, semua energi kalian hanyalah bahan bakar untuk kegelapanku."
Arkan mengangkat tangannya ke langit. Seketika, elemen Petir yang telah dimurnikannya menyambar-nyambar di dalam awan hitam, namun petir itu berwarna ungu gelap. Di bawah kaki Arkan, elemen Tanah mulai bergerak, membentuk duri-duri batu yang tajam yang mengunci posisi setiap murid dan tetua di lapangan itu.
Sekarang," Arkan menatap Ketua Sekte dengan tatapan predator. "Mari kita bicarakan tentang siapa yang sebenarnya layak disebut 'Sampah' di sini."
Di sudut lapangan, Cici terpaku dengan napas memburu. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dadanya. Ia menatap sosok Arkan yang berdiri tegak di tengah reruntuhan panggung, kostum jingganya kini tampak seperti jubah seorang kaisar kegelapan yang baru bangkit dari neraka
Mata Cici bergetar. Ada rasa takut yang dingin menjalar di punggungnya saat melihat tatapan Arkan yang tanpa pupil—kosong dan mematikan. Namun, di saat yang sama, setetes air mata haru jatuh membasahi pipinya. Ia ingat betul bagaimana Mahesa dan para tetua ini menertawakan Arkan, menyebutnya sampah, dan hampir memisahkan mereka selamanya
"Arkan..." bisik Cici lirih. Suaranya tenggelam di antara gemuruh petir ungu di langit, namun Arkan seolah bisa mendengarnya.
Cici melihat Mahesa yang sudah tidak berdaya di bawah kaki Arkan—sosok yang dulu begitu ia takuti kini tak lebih dari serangga yang menunggu ajal. Rasa kagum yang luar biasa menyapu ketakutannya. Bagi Cici, Arkan bukan lagi pemuda yang perlu ia lindungi; Arkan adalah langit yang kini menaunginya.
"Hancurkan mereka, Arkan..." gumam Cici dalam hati, tangannya mengepal erat di atas dadanya. Ia tidak lagi peduli pada hukum sekte. Jika seluruh dunia menyebut Arkan iblis, maka ia akan menjadi pengikut iblis yang paling setia.
Arkan menoleh sedikit ke arah Cici. Hanya sekilas, namun pusaran hitam di matanya meredup sejenak, memberikan sinyal hangat yang hanya bisa dirasakan oleh gadis itu. Kehangatan itu adalah janji: Tak akan ada lagi yang bisa menyentuhmu.
Kembali menatap Ketua Sekte, Arkan melepaskan tekanan gravitasi yang lebih dahsyat. "Cici adalah saksi bagaimana kalian membuang keadilan demi keserakahan," suara Arkan berat, bergema di setiap sudut telinga murid yang hadir. "Maka hari ini, Cici juga akan menjadi saksi... bagaimana aku mencabut akar busuk dari sekte ini!"
Ketua Sekte gemetar hebat. Pedang Awan Putih di tangannya mulai retak. "Arkan, tunggu! Kita bisa bicara! Kau bisa menjadi Murid Inti nomor satu! Kau bisa memiliki segalanya!"
"Segalanya?" Arkan menyeringai tipis, sebuah seringai yang membuat bulu kuduk semua orang berdiri. "Aku sudah memiliki Black Hole dan Dewi Qi Lin. Segalanya di dunia ini... hanyalah debu yang menunggu untuk kusedot masuk ke dalam kehampaan."