Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.
Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ego Yang Buta
12 hari sebelum duel
Sebuah lorong bawah tanah yang lembap dan gelap di pinggiran Wilayah Selatan. Cahaya redup dari satu lampu bohlam yang hampir mati menciptakan bayangan-bayangan mengerikan di dinding beton yang penuh lumut. Udara terasa pengap, bercampur dengan bau tanah basah dan sesuatu yang membusuk.
Dian, tangan kanan Nanda, berdiri tegak di depan sesosok tubuh yang terikat erat di kursi kayu tua. Pria itu adalah begal yang dilepaskan oleh Tino di perbatasan Selatan beberapa hari lalu dan ditemukan oleh Dian dalam kondisi setengah sadar, tergeletak di antara tumpukan sampah.
Dian tahu persis apa yang terjadi. Tino—si licik dari Timur—sengaja membuang masalah ini ke wilayah mereka untuk menguji bagaimana reaksi Selatan, atau mungkin untuk membuat mereka sibuk dengan urusan yang tidak perlu sementara ia sendiri fokus pada persiapan duel.
"Si Tino itu," ujar Dian dengan nada meremehkan sambil berjalan memutar mengelilingi begal yang sudah babak belur itu, "cuma anjing penakut yang tidak mau tangannya kotor. Dia gagal membuatmu bicara, jadi dia lempar masalah ini ke kami. Dia pikir kami bodoh seperti dia."
Begal itu hanya merintih kesakitan. Wajahnya penuh memar, bibir pecah-pecah, dan salah satu matanya bengkak hingga hampir tidak bisa dibuka. Ia sudah disiksa oleh Dian selama hampir dua jam—bukan dengan kekuatan kasar ala Nanda yang brutal dan tanpa kontrol, melainkan dengan teknik interogasi yang sangat dingin dan terukur.
Sebuah ironi yang menyakitkan: Dian, yang sangat membenci Misca karena sikapnya yang dingin dan terlalu perhitungan, tanpa sadar justru menggunakan metode yang jauh lebih mirip dengan cara Misca daripada cara Nanda. Ia menggunakan logika, timing, dan tekanan psikologis yang tepat—bukan hanya kekuatan fisik mentah.
"Kamu bekerja untuk siapa?" tanya Dian untuk kesekian kalinya, kali ini sambil menusuk begal itu dengan tatapan matanya yang sangat tajam dan intens. "Aku tahu kamu cuma pion kecil. Tapi bahkan pion harus tahu siapa yang menggerakkan mereka di papan catur."
Tidak ada jawaban. Hanya napas tersengal-sengal dan rintihan kesakitan.
Dian menghela napas, lalu mengambil sebotol air dan menyiramkannya ke wajah begal itu dengan kasar. Pria itu tersentak, tersedak, batuk-batuk keras.
"Aku bukan Tino yang akan main-main dengan janji uang atau ancaman kosong," ujar Dian dengan suara yang sangat tenang namun menakutkan. "Aku akan memberimu dua pilihan sangat sederhana: bicara sekarang dan aku lepaskan kamu dengan sedikit uang di saku, atau tetap diam dan kamu akan hilang tanpa jejak. Tidak ada yang akan mencarimu. Tidak ada yang akan peduli. Kamu hanya akan menjadi satu lagi mayat tanpa nama di sungai."
Ancaman itu, disampaikan dengan nada yang sangat datar dan tanpa emosi, justru jauh lebih menakutkan daripada teriakan marah atau kekerasan fisik. Karena Dian terdengar sangat... serius. Tidak ada keraguan, tidak ada bluff—hanya pernyataan fakta.
Dan akhirnya, ketakutan begal itu terhadap Dian melampaui ketakutannya terhadap bosnya sendiri. Pertahanan terakhirnya runtuh. Ia berbicara dengan suara yang sangat bergetar, hampir tidak terdengar.
"Kami... kami cuma pion," bisik begal itu dengan suara parau yang nyaris habis. Air mata mulai mengalir dari mata yang masih bisa terbuka. "Kami dipekerjakan oleh orang-orang dari kota besar. Orang-orang dengan uang banyak dan koneksi kemana-mana. Mereka memberi kami banyak uang—lebih banyak dari yang pernah kami lihat seumur hidup—dan kami cuma diperintahkan untuk menciptakan kekacauan di wilayah ini. Merampok, memukul, mengancam, bikin warga takut keluar malam. Itu saja."
Dian mengerutkan kening, tidak puas dengan jawaban yang terlalu general itu. "Untuk apa? Kenapa mereka mau bayar mahal cuma untuk bikin kekacauan kecil-kecilan? Pasti ada tujuan lebih besar."
"Aku... aku tidak tahu tujuan lengkapnya," jawab begal itu sambil menggelengkan kepala dengan lemah. "Kami tidak diberi tahu detail. Kami cuma diberi target area dan dibayar per aksi. Tapi... tapi aku pernah dengar bos kami bicara di telepon. Mereka bilang... mereka mau wilayah ini kacau dulu, supaya polisi sibuk, supaya geng-geng lokal sibuk berantem satu sama lain, dan saat semua orang lengah... mereka akan masuk dan ambil alih."
"Ambil alih untuk apa?" desak Dian sambil mencengkeram bahu begal itu dengan keras, membuat pria itu meringis kesakitan. "Narkoba? Pelacuran? Perdagangan senjata? Apa?!"
"Aku tidak tahu! Sumpah aku tidak tahu!" jerit begal itu dengan panik. "Tapi yang aku tahu... ini bukan operasi kecil-kecilan. Ini jaringan yang sangat besar. Mereka punya orang di mana-mana—..." suaranya turun menjadi bisikan yang ketakutan, "mereka tahu segalanya tentang kita. Mereka tahu nama keluarga kami. Mereka tahu di mana kami tinggal. Mereka bilang kalau kami bicara terlalu banyak atau mengkhianati mereka, keluarga kami akan... akan..."
Ia tidak bisa melanjutkan. Tangisnya pecah—bukan tangis pura-pura untuk mencari simpati, tapi tangis ketakutan yang genuine dari seseorang yang tahu betul apa yang dipertaruhkan.
"Makanya Tino tidak bisa membuatmu bicara," gumam Dian sambil melepaskan cengkeramannya dan mundur beberapa langkah. Ia mulai memahami situasinya. "Ini bukan sekadar geng kecil pinggiran. Ini adalah jaringan kriminal yang sangat luas dan sangat berbahaya."
Informasi ini membuat Dian terkejut dan juga... sedikit takut. Ia menyadari bahwa Tino bukan sekadar penakut yang membuang masalah—Tino mungkin sudah mengkalkulasi bahwa masalah ini terlalu besar untuk ia tangani sendiri, jadi ia lempar ke wilayah lain sambil ia fokus pada hal yang bisa ia kontrol: duel.
Smart move, meski sangat licik.
"Siapa yang paling kuat di organisasi ini? Siapa pemimpinnya? Siapa yang bisa menyewa kalian?" desak Dian dengan lebih mendesak. Ini adalah informasi paling penting.
Begal itu terdiam sejenak, seolah masih berjuang dengan dirinya sendiri—apakah ia harus memberikan informasi terakhir ini atau tidak. Tapi rasa sakit di tubuhnya dan ketakutan di mata Dian akhirnya membuatnya menyerah total.
Dengan suara yang sangat pelan, hampir tidak terdengar, ia menyebutkan sebuah nama—nama yang asing bagi Dian, nama yang tidak pernah ia dengar di dunia geng sekolahan atau bahkan di dunia jalanan lokal. Tapi dari cara begal itu mengucapkannya dengan gemetar dan penuh ketakutan, Dian tahu bahwa nama itu memiliki bobot yang sangat berat di dunia kriminal yang lebih gelap.
Dian menyimpan nama itu baik-baik dalam memorinya, mengulanginya berkali-kali dalam hati agar tidak lupa. Ini adalah kartu as—informasi yang sangat berharga yang bisa mengubah segalanya.
"Ada lagi yang perlu aku tahu?" tanya Dian terakhir kali.
Begal itu menggeleng lemah. "Itu... itu semua yang aku tahu. Sumpah demi Tuhan. Aku cuma pion paling bawah. Aku tidak tahu lebih dari ini."
Dian menatapnya dalam-dalam, mencoba membaca apakah ada kebohongan. Tapi yang ia lihat hanya ketakutan murni dan kelelahan—tidak ada indikasi bohong.
Ia memutuskan untuk tidak memberitahu siapa pun tentang hal ini, termasuk—terutama—Nanda.
Alasannya sangat sederhana dan sangat masuk akal, sesuatu yang ironisnya ia pelajari dari cara berpikir Misca yang ia benci. Pertama, Nanda terlalu mudah tersulut emosi . Kalau ia tahu ada organisasi sebesar dan seberbahaya ini, ia pasti hanya akan menggunakan informasi ini untuk memicu perkelahian besar-besaran, menyerang membabi buta tanpa rencana matang, dan akhirnya membuat situasi jadi jauh lebih buruk. Nanda akan mati dengan sia-sia melawan musuh yang tidak bisa ia kalahkan hanya dengan otot.
Kedua, dan ini yang paling penting: ini adalah kartu as bagi Dian sendiri. Jika Misca memenangkan duel nanti—dan secara realistis, kemungkinan itu cukup besar mengingat kecerdasan dan kemampuan bertarungnya—Dian harus memiliki sesuatu yang sangat berharga untuk ditawarkan. Sesuatu yang bisa membuat Misca tidak menghancurkan total Wilayah Selatan. Sesuatu yang bisa melindungi posisi Wilayah Selatan agar tidak sepenuhnya tunduk pada Misca.
Informasi tentang organisasi kriminal besar yang sedang mengincar wilayah mereka adalah chip yang sempurna.
Dan ketiga, bagian yang paling tersembunyi dan paling pribadi: kalau Nanda benar-benar kalah dan mati atau terluka parah dalam duel, Dian harus siap mengambil alih kepemimpinan Selatan. Dan untuk itu, ia perlu amunisi yang kuat—informasi yang bisa membuat wilayah lain respect atau setidaknya tidak meremehkan Selatan setelah pemimpin terkuatnya jatuh.
Dian membenci Misca karena sikapnya yang sangat dingin, sangat kalkulatif, dan selalu berhitung untung-rugi dalam setiap keputusan. Tapi ironisnya, di saat-saat seperti ini, ia terpaksa meniru cara berpikir yang persis seperti itu demi melindungi Nanda dari kecerobohannya sendiri—dari kebodohan emosionalnya yang bisa membunuh mereka semua.
Dendam pribadinya kepada Vino—yang masih berkobar panas di dadanya—kini bercampur aduk dengan beban berat yang harus ia tanggung sendirian untuk menjaga wilayahnya. Ia merasa seperti sedang bermain catur sendirian melawan lawan yang tidak terlihat, sementara raja di papannya sendiri—Nanda—terus bergerak dengan ceroboh dan membahayakan seluruh permainan.
"12 hari lagi," gumam Dian sambil mematikan lampu dan naik tangga keluar dari ruang bawah tanah itu. "12 hari lagi sebelum semuanya meledak. Aku harus siap untuk skenario terburuk."
Jumat sore, hari yang sama
Di lapangan latihan terbuka di Selatan, suasananya sangat kontras dengan kegelapan ruang bawah tanah tadi. Matahari sore menyinari lapangan tanah luas yang sudah dipenuhi dengan berbagai peralatan latihan—barbel, karung tinju, ban bekas untuk dibalik, dan berbagai alat improvisasi lainnya.
Nanda sedang berada di sana, duduk santai di bangku kayu panjang yang sudah aus, memulihkan diri dari sesi latihan brutal yang baru saja ia selesaikan. Kaus tanpa lengannya basah kuyup oleh keringat, ototnya masih mengencang dari latihan tadi, dan napasnya mulai kembali normal setelah tadi terengah-engah.
Ia merasa sangat kuat saat ini—lebih kuat dari sebelumnya. Setiap hari ia menambah beban latihannya, mendorong tubuhnya melampaui batas yang ia kira mustahil. Dan hasilnya? Ia yakin seratus persen bahwa dalam 12 hari ke depan, ia akan menghancurkan Misca dengan kekuatan murni yang ia miliki. Tidak peduli seberapa pintar anak Utara itu, tidak peduli seberapa cepat gerakannya—kekuatan absolut akan mengalahkan segalanya.
"Misca akan hancur seperti karung tinju yang aku pukul tadi," gumamnya sambil tersenyum puas, membayangkan momen kemenangannya di arena nanti.
Tiba-tiba, seorang pria misterius yang berpakaian sangat rapi—jas hitam yang mahal, sepatu kulit mengkilap, dan kacamata hitam meski matahari sudah mulai terbenam—menghampirinya dengan langkah yang sangat tenang dan terukur.
Pria itu sama sekali tidak terlihat seperti petarung atau bahkan orang jalanan. Penampilannya lebih seperti businessman kelas atas atau lawyer mahal. Tapi ada sesuatu dalam auranya yang sangat tenang dan penuh otoritas—bukan otoritas yang berasal dari intimidasi fisik seperti Nanda, tapi otoritas yang berasal dari kekuasaan dan pengaruh yang tidak terlihat.
"Nanda dari Selatan," ujar pria misterius itu dengan suara yang halus namun sangat berwibawa—suara yang terbiasa memberi perintah dan ditaati tanpa pertanyaan.
Nanda langsung waspada. Ia bangkit dari bangku, postur tubuhnya yang besar dan menakutkan langsung mengambang posisi siaga—siap menyerang kalau diperlukan. "Siapa kamu?" tanyanya dengan nada yang keras dan sedikit mengancam. "Kenapa kamu ada di wilayahku? Apa maumu?"
Pria itu tidak terlihat terancam atau takut sama sekali dengan postur intimidatif Nanda. Ia justru tersenyum tipis—senyum yang sulit dibaca, bisa jadi ramah bisa jadi mengejek. "Aku hanya seorang... pengamat," jawabnya sambil melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan mata yang sangat tajam dan calculating. "Pengamat yang sangat terkesan dengan apa yang kamu lakukan di Selatan."
"Terkesan?" Nanda sedikit menurunkan kewaspadaannya, penasaran dengan arah pembicaraan ini.
"Ya," pria itu mengangguk sambil berjalan pelan mengelilingi Nanda—bukan dengan cara yang mengancam, tapi seperti seseorang yang sedang mengagumi sebuah karya seni atau patung yang bagus. "Wilayah lain sedang kacau balau—Timur dipenuhi dengan kekhawatiran tentang begal, Barat hampir runtuh karena paranoia pemimpinnya, Utara sibuk dengan strategi yang rumit. Tapi Selatan? Selatan tetap damai, stabil, aman. Dan semua itu berkat satu hal: kekuatanmu yang absolut."
Nanda merasa sangat bangga mendengar pujian itu. Dadanya sedikit membusung, senyum lebar terbentuk di wajahnya yang penuh luka bekas latihan. "Tentu saja," jawabnya dengan nada yang penuh percaya diri. "Aku tidak butuh strategi rumit seperti Misca yang sok pintar itu. Aku tidak perlu licik seperti Tino atau paranoid seperti Raka. Aku cuma butuh satu hal: kekuatan nyata. Kekuatan fisik yang absolut. Kalau ada yang mau coba-coba mengusik wilayahku atau orang-orangku, mereka akan mati atau cacat di tanganku. Sesederhana itu."
Pria misterius itu mengangguk dengan ekspresi yang terlihat sangat setuju. "Betul sekali. Dan aku sangat senang mendengar kamu berpikir seperti itu. Karena kamu benar—dunia ini terlalu banyak bicara tentang strategi, taktik, psikologi, semua omong kosong intelektual itu. Padahal pada akhirnya, yang menang adalah yang paling kuat secara fisik. Itu hukum alam yang paling dasar."
Ia berhenti berjalan dan berdiri tepat di depan Nanda, menatap langsung ke matanya. "Dan aku tahu, hanya kamu yang mampu menghadapi anak itu. Misca. Dia adalah ancaman yang tersembunyi—lebih berbahaya daripada yang terlihat di permukaan. Cara bertarungnya terlalu rapi, terlalu mematikan, terlalu... tidak natural untuk anak seusianya. Tapi kamu?" Ia menepuk bahu Nanda dengan pelan—gestur yang anehnya terasa sangat familiar meski ini pertemuan pertama mereka. "Kamu adalah antitesis dari semua kepalsuan itu. Kamu adalah kekuatan murni yang genius. Dunia ini butuh orang sepertimu, Nanda, bukan orang seperti Misca yang terlalu dingin dan tidak berperasaan."
Nanda merasa seperti ada seseorang—akhirnya—yang benar-benar mengerti dan menghargai filosofinya tentang kekuatan. Seseorang yang tidak meremehkan pendekatannya sebagai "brutal" atau "tidak terkalkulasi" seperti yang sering dikatakan orang lain.
"Kamu mengerti," ujar Nanda dengan nada yang lebih lembut, hampir seperti menemukan teman sejati. "Kebanyakan orang tidak mengerti. Mereka pikir kekuatan itu barbar atau bodoh. Tapi kekuatan adalah satu-satunya bahasa universal yang dipahami semua orang."
"Betul sekali" pria itu tersenyum lebar. Kemudian ia menurunkan suaranya, berbisik dengan nada yang sangat serius dan penuh concern—seperti teman yang memberi nasihat penting. "Tapi Nanda, aku harus memperingatkanmu. Misca itu sangat licik. Dia tidak akan bertarung fair. Dia akan mencari kelemahanmu—kelemahan yang mungkin bahkan kamu sendiri tidak sadari. Dia akan mencoba memecah konsentrasimu dengan berbagai taktik psikologis. Dia akan mencoba membuat kamu emosi, membuat kamu kehilangan fokus."
Nanda mengerutkan kening, mendengarkan dengan serius.
"Jadi nasihatku," lanjut pria itu sambil menatap dalam ke mata Nanda, "tetap jaga fokusmu sepenuhnya pada duel. Jangan biarkan urusan luar—apapun itu—mengganggu pikiranmu. Jangan dengarkan rumor. Jangan terpengaruh provokasi. Fokus hanya pada satu hal: menghancurkan Misca di duel nanti dengan kekuatanmu yang absolut. Kalau kamu bisa melakukan itu, kamu akan menjadi pemimpin tunggal yang tidak ada yang berani tantang."
Nanda mengangguk mantap, merasa semakin termotivasi dan yakin. "Aku tidak akan goyah," janjinya dengan nada yang sangat determined. "Aku akan tetap fokus. Dan 12 hari lagi, aku akan menghancurkan Misca dan siapapun yang berani berdiri di jalanku. Aku akan tunjukkan pada semua orang bahwa kekuatan adalah satu-satunya yang penting"
Pria misterius itu tersenyum sangat puas—senyum yang kalau dicermati lebih dalam terlihat sedikit... jahat. Tapi Nanda terlalu dipenuhi dengan kepercayaan diri dan semangat untuk memperhatikan detail kecil seperti itu.
"Bagus. Sangat bagus," ujar pria itu sambil menepuk bahu Nanda sekali lagi. "Aku akan pergi sekarang. Tapi ingat pesanku: fokus, Nanda. Hanya fokus pada duel. Jangan biarkan apapun mengalihkan perhatianmu."
Dengan itu, pria misterius itu berbalik dan berjalan menjauh dengan langkah yang sangat tenang dan terukur—persis seperti saat ia datang. Dalam beberapa detik, sosoknya menghilang di balik tikungan, meninggalkan Nanda yang berdiri dengan senyum lebar dan kepercayaan diri yang melonjak tinggi.
Nanda tidak menyadari—atau lebih tepatnya, tidak mau menyadari—bahwa pria itu bukan sekadar "pengamat" yang terkesan. Pria itu adalah anggota dari organisasi tingkat tinggi di luar wilayah mereka—organisasi yang punya agenda tersendiri dan sedang memanipulasi situasi untuk keuntungan mereka.
Dan Nanda, dengan segala kekuatan fisiknya yang luar biasa, baru saja menjadi pion yang paling mudah dimanipulasi—karena egonya yang besar dan keyakinannya yang berlebihan membuat ia buta terhadap manipulasi yang sedang terjadi.