Ravela Natakusuma, seorang kapten TNI-AD, tiba-tiba harus menerima perjodohan dengan Kaivan Wiratama, seorang CEO pewaris perusahaan besar, demi memenuhi permintaan ayah Kaivan yang tengah kritis.
Mereka sepakat menikah tanpa pernah benar-benar bertemu. Kaivan hanya mengenal Ravela dari satu foto saat Ravela baru lulus sebagai perwira yang diberikan oleh Ibunya, sementara Ravela bahkan tak tahu wajah calon suaminya.
Sehari sebelum pernikahan, Ravela mendadak ditugaskan ke Timur Tengah untuk misi perdamaian. Meski keluarga memintanya menolak, Ravela tetap berangkat sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai abdi negara.
Hari pernikahan pun berlangsung tanpa mempelai wanita. Kaivan menikah seorang diri, sementara istrinya berada di medan konflik.
Lalu, bagaimana kisah pernikahan dua orang asing ini akan berlanjut ketika jarak, bahaya, dan takdir terus memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ravela kritis
Lantai demi lantai Ravela lewati. Tangga dipenuhi debu dan bau asap mesiu. Banyak lampu mati, membuat lorong-lorong gelap dan sunyi. Hanya cahaya matahari yang masuk dari celah ventilasi menjadi satu-satunya penerang.
“Youssef,” panggil Ravela lantang suaranya memantul keras di lorong itu.
Tak ada jawaban.
Ravela terus naik, ia menajamkan pendengarannya agar menangkap setiap bunyi kecil. Hingga ketika menginjak lantai enam, langkahnya terhenti.
“Kapten cantik...” Suara itu lirih, nyaris seperti bisikan.
Ravela menoleh cepat, “Aku di sini, Youssef,” sahutnya sambil menyusuri lorong di sisi kiri.
Sumber suara itu berasal dari sebuah ruangan kecil. Pintu kayunya sudah lapuk. Ravela tak membuang waktu ia mendobraknya sekali tendang.
BRAK!
Pintu terbuka seketika.
Youssef terikat di kursi, wajahnya pucat, mata merah karena menangis. Begitu melihat Ravela, bocah itu langsung terisak.
“Tenang,” ucap Ravela cepat sambil berlutut. Tangannya cekatan membuka ikatan di pergelangan tangan dan kaki Youssef. “Kita akan keluar dari sini.”
Begitu bebas, Youssef langsung memeluk Ravela erat, tubuh kecilnya gemetar. Ravela menggendongnya tanpa ragu dan berbalik keluar ruangan.
Di luar, situasi sudah terkendali. Milisi yang tersisa diborgol, sandera lain telah dievakuasi.
Namun suasana berubah ketika pemimpin milisi yang tertangkap tersenyum menyeringai. “Kalian terlambat. Bomnya sebentar lagi akan meledak,” ucapnya pelan.
Wajah Dimas langsung menegang. “Sial!Komandan masih di dalam!”
Kirana spontan melangkah maju. “Saya akan masuk mencarinya!” teriaknya panik.
Rendy segera menarik lengannya. “Tidak Kirana! Itu terlalu berbahaya!”
“Dia sahabat saya!” ucap Kirana sambil meronta melepaskan genggaman tangan Rendy. Namun tentara yang berpangkat sama dengannya itu semakin erat menggenggam tangannya. “Lepaskan tangan saya, Letda Rendy!”
“T–tidak saya–”
DUAARR!
Belum sempat Rendy melanjutkan ucapannya tiba-tiba suara ledakan menggelegar. Api menyembur dari lantai atas gedung. Asap hitam membubung tinggi.
Semua refleks menunduk, beberapa orang terjatuh.
“RAVELA!” jerit Kirana, suaranya pecah. Tangisnya lepas begitu saja.
Tanpa pikir panjang, ia berlari ke arah gedung yang sudah dilalap api. Panas menyengat wajahnya, asap hitam mengepul tebal.
“Jangan nekat Kirana!” Rendy menyusul dan langsung memeluknya dari belakang, menahan tubuh Kirana yang terus meronta.
“Lepaskan saya! Komandan masih di dalam!” Kirana menangis histeris, berusaha melepaskan diri.
Rendy mengeratkan pelukannya. “Ini terlalu berbahaya. Gedung itu bisa runtuh kapan saja!”
Kirana terisak, tubuhnya gemetar, pandangannya tak lepas dari bangunan yang terus terbakar. “Kalau sesuatu terjadi sama dia bagaimana...” suaranya melemah, nyaris tak terdengar.
“Itu Komandan!” teriak Petra tiba-tiba sambil menunjuk ke arah gedung.
Dari balik asap dan reruntuhan, Ravela muncul dengan tertatih. Di lengannya, terlihat Youssef yang sudah terkulai lemas.
“Komandan!”
Semua berlari mendekat.
Ravela merasakan lututnya hampir menyerah untuk berjalan. “Tolong... periksa Youssef dulu...”
Youssef segera diambil alih tim medis.
Kirana menghampiri Ravela, tangisnya kembali pecah tanpa bisa ditahan. Ia memeluk Ravela erat. “Kamu buat aku panik, Vel,” suaranya gemetar.
Ravela tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. “Maaf...”
Tubuh Ravela tiba-tiba melemas. Ia jatuh pingsan tepat di depan Kirana.
“RAVELA!” teriak Kirana.
“Cepat angkat Komandan!” perintah Dimas cepat. “Bawa ke pos medis sekarang!”
Beberapa prajurit segera mengangkat Ravela ke tandu darurat.
Kirana berjalan di samping Ravela, air matanya terus mengalir. “Bertahan ya, Vel...” bisiknya berulang kali. “Kamu tidak boleh pergi ninggalin aku. Aku tahu kamu kuat...”
Tim bergerak cepat meninggalkan lokasi, membawa Ravela dan Youssef menuju pos medis meninggalkan gedung tua yang kini tinggal puing dan asap.
Di dalam kendaraan medis, Ravela terbaring di atas tandu. Helmnya sudah dilepas, rambutnya kusut, wajahnya dipenuhi debu dan asap serta luka gores akibat serpihan ledakan bom tadi.
Seragam tempurnya pun juga robek di beberapa bagian, dipenuhi noda hitam sisa ledakan. Di bahu kirinya, darah merembes cukup banyak, membasahi kain seragam yang sudah tak lagi utuh.
Seorang prajurit satgas medis berlutut di sisi tandu, memegang perban darurat yang menekan bahu Ravela. Tangannya sudah berlumuran darah Ravela.
Kirana duduk di sisi lain tandu. Tangannya menahan rangka besi agar tubuh Ravela tidak terlalu terguncang oleh laju kendaraan. Wajahnya masih terlihat pucat dan panik. “Vel, tahan sedikit lagi. Sebentar lagi kita sampai di pos medis,” ucapnya pelan seperti bisikan.
Kendaraan akhirnya berhenti di depan pos medis. Pintu belakang dibuka cepat. Udara panas bercampur bau antiseptik langsung menyergap.
“Pasien kritis! Korban ledakan!” teriak Dimas.
Beberapa tenaga medis segera datang. Tandu diturunkan dan didorong cepat ke ruang UGD.
Begitu tandu melewati pintu UGD, Devan yang sedang membantu pasien lain langsung menoleh. Langkahnya terhenti. “Kapten Ravela?” suaranya seperti tertahan.
Devan mendekat cepat, matanya menyapu kondisi Ravela di atas tandu. “Bawa masuk sekarang ke ruang darurat!”
Tandu didorong masuk ke dalam ruang darurat lalu tubuh Ravela di angkat ke brankar.
“Oksigen!” perintah Devan cepat.
“Siap.”
Masker oksigen dipasang. Devan langsung memeriksa bahu Ravela. Begitu perban dibuka sedikit, darah segar kembali mengalir.
“Lukanya cukup dalam. Pasang infus dua jalur dan siapkan alat jahit.”
“Tekanan darah masih rendah,” lapor perawat.
“Pantau terus,” kata Devan singkat. “Kita hentikan perdarahannya dulu.”
Perawat mengangguk dan kembali fokus pada luka di bahu Ravela. Jarum dan benang bergerak cepat, sementara cairan infus terus menetes tanpa henti.
Devan berdiri di sisi brankar, matanya menelusuri monitor lalu kembali ke wajah Ravela yang pucat.
Napas Devan tertahan sesaat. Ia mengembuskan nya perlahan, rahangnya mengeras. Kondisi ini tidak ringan. Ravela kehilangan banyak darah, respons tubuhnya yang melemah, dan trauma akibat ledakan membuat Ravela berada di batas yang berbahaya.
Devan mengecek ulang aliran infus, memastikan jahitan sementara terpasang kuat, lalu menepuk bahu perawat. “Lanjutkan. Jangan sampai lengah.”
Devan melangkah mundur satu langkah, kembali menatap Ravela sejenak. Ada kekhawatiran yang tak bisa sepenuhnya ia sembunyikan dari matanya.
Setelah memastikan tim medis bekerja sesuai prosedur, Devan berbalik dan melangkah keluar dari ruang UGD.
Pintu terbuka, memperlihatkan Kirana dan Dimas yang sejak tadi menunggu dengan wajah tegang.
Begitu melihat Devan, Kirana langsung berdiri tegak. “Dok, gimana keadaan Kapten Ravela?”
Devan berhenti di depan mereka. Ia melepas sarung tangannya perlahan, menarik napas sebentar sebelum bicara. “Kondisi Kapten Ravela saat ini sedang kritis,” ucapnya jujur.
Kirana seolah kehilangan tenaga. Bahunya turun, tangannya refleks meraih dinding di sampingnya. “Kritis?” ulangnya lirih.
Devan mengangguk pelan. “Luka di bahunya cukup dalam. Kondisi tubuh Kapten Ravela juga sangat lemah karena ia sudah kehilangan banyak darah sebelum berhasil dibawa ke sini. Ditambah kelelahan fisik setelah misi penyelamatan, serta efek ledakan yang dialaminya membuat tubuhnya mengalami syok berat. Tekanan darahnya bahkan sempat turun cukup jauh.”
“Tolong selamatkan dia, Dok,” ucap Kirana dengan suara bergetar.
Devan mengangguk, “Kami akan berusaha untuk menstabilkan kondisi Kapten Ravela.”
“Apa saat ini Kapten Ravela belum bisa dijenguk?” tanya Dimas.
“Belum bisa. Kapten Ravela masih butuh penanganan intensif. Kalau kondisinya sudah lebih stabil, baru kalian bisa menjenguknya,” jelas Devan.
Dimas mengangguk pelan. Kirana pun ikut mengangguk, meski ia ingin masuk melihat keadaan Ravela.
“Saya kembali ke dalam. Kalau ada perkembangan, saya akan beri tahu,” ucap Devan.
Tanpa menunggu jawaban, Devan berbalik menuju pintu UGD. Pintu itu kembali tertutup, meninggalkan Kirana dan Dimas berdiri di lorong pos medis.