Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbelanja
Tiga bulan kemudian..
Dave dan Elia tinggal di satu atap yang sama. Namun seperti ada dinding besar yang menghalangi perasaan nya. Mereka juga tidur tidak satu kamar. Dave juga melarang Elia, untuk naik ke lantai atas apalagi ke kamar nya.
Meskipun sikap Dave yang terus menerus acuh kepada Elia namun tidak mematahkan semangat gadis itu. Ia tetap bersabar dan memberi senyum terindah meski tak pernah terbalaskan. Ia juga memutuskan untuk memasak masakan nya untuk Dave, meski ada pelayan dirumah ini.
Elia tampak terampil dan terbiasa dengan urusan dapur. Ia memasak menu kesukaan Dave yaitu Tom Yam seafood dan hidangan penutup nya mango sticky rice. Ya, meski tidak ada cinta di dalam hati Dave. Namun posisi Elia adalah seorang istri, meski tidak menjalani kewajiban utama setidaknya ia sudah menjalankan tugas nya dengan baik.
"Selesai." Elia melepas apron dari tubuhnya. Dengan rapi, ia menyajikan masakan buatannya sendiri ke atas meja, wajahnya menyiratkan kepuasan kecil.
"Lisa, tolong panggilkan Dave untuk sarapan ya". Titah Elia.
"Baik Nyonya". Pelayan segera menaiki anak tangga untuk memanggil Dave. Namun langkah pelayan tersebut terhenti saat akan mengetuk pintu. Ia mendengar dengan jelas Dave sedang berbicara dengan nada mesra pada seseorang di telepon.
"Sayang, kau begitu cantik hari ini. Aku jadi tidak sabar untuk segera menemui mu".
[ Aku juga, Sayang.] ucap seorang wanita dengan suara menggoda dari layar panggilan video.
" Ketuk tidak, ketuk tidak". Pelayan tersebut seperti simalakama. Ia takut jika ketukan nya menganggu dan membuat Dave marah.
"Astaga!" Pelayan tersebut nampak kaget saat seseorang tiba-tiba menepuk pundak nya.
"Bimbim, sialan kau membuat ku kaget saja". Ucapnya sambil menyabet wajah sopir pribadi Dave dengan kain serbet.
"Kau sedang apa disini Lisa?" Tanya nya pelan.
"Aku disuruh oleh Nyonya Elia memanggil Tuan untuk sarapan, tapi aku mendengar sepertinya beliau bertelepon dengan seseorang". Ujar Lisa.
Bimbim menyentil dahi Lisa " kau menguping ya".
"Enak saja! Aku hanya tidak enak untuk mengetuk pintu karena -"
Mendengar suara ribut-ribut, membuat Dave harus mengakhiri panggilan video nya dengan wanita ia beri nama kontak Bianca di ponselnya.
"Ada apa ini? Dan sedang apa kalian berdiri di depan pintu kamar ku?"
Lisa dan Bimbim menatap satu sama lain.
"Maaf Tuan, Nyonya menyuruh ku untuk memanggil Tuan, karena sarapan sudah siap". Ujar Lisa dengan sedikit gugup.
"Cih! Ku kira ada apa. Lima menit lagi aku turun. Ujarnya kemudian kembali masuk ke kamar".
"Baik Tuan".
Lisa akhirnya dapat bernapas lega. Namun Bimbim mempunyai segudang pertanyaan atas apa yang baru saja dikatakan oleh Lisa tadi.
Ia menarik lengan Lisa untuk menjauh dari kamar Dave. "Lis, kau bilang tadi mendengar Tuan Dave sedang berbicara dengan seorang wanita di telepon". Tanya nya pelan.
Lisa tidak menyahut ia membalas perbuatan Bimbim tadi. "Kepo!" .
Bimbim menghela napas, menatap Lisa dengan wajah tak puas. “Dasar kau ini,” gumamnya pelan. “Kalau bukan karena kau yang mulai, aku juga tidak akan bertanya".
Lisa mendengus kecil, lalu menuruni tangga lebih dulu. “Aku tidak mau ikut campur urusan majikan. Itu saja.”
Di bawah, Elia masih berdiri di dekat meja makan. Tangannya merapikan taplak yang sebenarnya sudah rapi. Wajahnya tampak tenang, namun sorot matanya menyiratkan penantian.
“Bagaimana, Lisa?” tanya Elia lembut ketika melihat Lisa kembali.
“Lima menit lagi Tuan Dave turun, Nyonya,” jawab Lisa menunduk.
“Uhm Baiklah kalau begitu. Oh iya apa kalian sudah sarapan?" tanya Elia pada Lisa dan Bimbim menatap secara bergantian.
"Belum Nyonya". Dengan lantang dan percaya Bimbim menjawab. Hingga mendapat pelototan tajam dari Lisa.
Elia tertawa kecil "Makanlah, aku sisakan untuk kalian di dapur".
"Terimakasih Nyonya" jawab keduanya dengan kompak.
Lisa melangkah pergi dengan bimbim yang mengekor seperti anak ayam, meninggalkan Elia seorang diri. Elia duduk perlahan di kursinya. Matanya menatap hidangan yang ia masak dengan penuh usaha. Aroma tom yam yang menggoda kini terasa sedikit getir di hidungnya.
Suara hentakan sepatu terdengar menuruni anak tangga. Dave muncul dengan penampilan yang rapi dan aroma parfum mahal nya yang menyeruak.
"Kau memanggilku?" tanya Dave datar.
"Iya. Sarapan sudah siap. Mom bilang kau paling suka dengan Tom Yam seafood jadi aku membuatkan nya". Jawab nya dengan lembut.
Dave menarik kursi makan nya kemudian duduk. Menuangkan nasi ke atas piring yang sudah Elia sediakan, dan mulai mencicipi makanan istri yang tidak pernah ia anggap itu.
"Enak sekali, rasanya mirip dengan buatan Mom". Gumam nya dalam hati. Melihat ekspresi Dave dan cara makan nya yang lahap sudah cukup membuat hati Elia senang. Setidaknya pria yang menghargai usaha istrinya itu.
"Bagaimana rasanya, enak?" tanya Elia memberanikan diri.
"Lumayan". jawabnya singkat.
Elia tersenyum tipis. Ia tahu Dave terlalu gengsi untuk mengakui bahwa masakannya enak. Karena sebelumnya sudah mengganjal perut dengan dua potong sandwich, Elia belum berselera menyentuh hidangan yang ia buat sendiri. Ia justru melangkah ke dapur, menyiapkan kotak bekal untuk Dave, lengkap dengan vitamin dan obat-obatan.
Beberapa hari lalu, Nick bercerita bahwa Dave nyaris pingsan karena magh-nya kambuh. Meski dalam surat perjanjian pernikahan tak tertulis kewajiban untuk saling memberi perhatian, Elia tetap keras kepala menjaga kesehatan suaminya itu.
“Dave, bawa ini untuk makan siang nanti,” ucap Elia sambil menyodorkan kotak bekal.
“Kau ini sudah berapa kali kubilang, jangan memberi perhatian padaku,” sahut Dave tajam. “Aku tidak ingin berhutang budi padamu.”
“Aku melakukannya atas kesadaranku sendiri,” jawab Elia lembut. “Setahuku, penderita magh harus sering makan.”
Dave mengerutkan kening. Dalam hati, ia bertanya-tanya dari mana Elia tahu riwayat penyakitnya. Elia menunggu. Tangannya tetap terulur, memegang tas bekal itu.
“Baiklah,” kata Dave akhirnya, merebut kotak tersebut. “Lain kali tidak perlu repot-repot. Aku bisa beli makan di luar.”
“Makanan di luar belum tentu sehat, kan?” balas Elia pelan.
Dave tak menanggapi. Ia justru memanggil Bimbim agar segera bersiap mengantarnya ke kantor.
“Oh iya, Dave,” Elia menambahkan, “bahan-bahan di kulkas sudah habis. Aku izin pergi ke supermarket.”
“Cih! Bukan urusanku,” jawab Dave dingin.
Tak lama kemudian, Bimbim muncul dengan langkah tergesa. Masih terlihat bekas kuah tom yam di sudut bibirnya, pemandangan yang tentu saja tak luput dari mata Dave.
“Mulutmu kotor sekali, Bim,” tegur Dave ketus.
Bimbim spontan meraih tisu di atas meja dan mengelap mulutnya.
“Maaf, Tuan. Aku baru saja mencicipi masakan Nyonya. Rasanya lezat sekali, sampai ingin nambah,” katanya polos. Elia tak kuasa menahan tawa kecil.
Dave berdecak kesal. "Ayo cepat antarkan aku ke kantor".
"Baik Tuan".
Keduanya melangkah pergi dengan Elia yang mengekori ya sampai depan pintu. "Hati-hati" ucapnya dengan senyuman yang tulus dan lambaian tangan yang Elia sendiri tidak akan pernah terbalas.
Jika Dave pergi ke kantor untuk mencari dan mengembangkan kekayaan, Elia memiliki caranya sendiri untuk bertahan. Ia bekerja sebagai karyawan remote di sebuah perusahaan asing. Sudah lebih dari dua tahun ia terlibat dalam pembuatan campaign digital berskala internasional. Upah yang ia terima pun tidak main-mai, mampu untuk menghidupi dirinya sendiri tanpa harus mengemis pada siapa pun, terlebih pada seorang lelaki yang berstatus sebagai suaminya.
Meski Dave telah memberinya kartu kredit tanpa batas, Elia nyaris tak pernah menggunakannya. Baginya, kemandirian adalah harga diri.
Sementara itu, Dave telah tiba di perusahaan yang ia bangun dari nol dengan kerja kerasnya sendiri. Tak ada campur tangan Sarah, tak pula bantuan dari keluarga mana pun. Semua berdiri murni atas ambisi dan kemampuannya.
Begitu melangkah masuk, para karyawan menundukkan kepala saat berpapasan dengannya. Aura dingin dan wibawa Dave membuat siapa pun segan. Sebuah kekuasaan yang ia bangun sendiri, sama kokohnya dengan dinding yang ia ciptakan di dalam hatinya.
Saat hendak akan menekan tombol lift, ponsel Dave berbunyi tanda pesan masuk. Ia merogoh saku nya. Wajah yang tadinya berseri berubah menjadi bengis. Ketika melihat ikon nama Elia pada papan notifikasi.
Selamat bekerja Dave, jangan lupa diminum obatnya. :)
Dave tidak membalas pesan tersebut, dan memilih memasukan nya kembali ke dalam saku.
TING!
Pintu lift terbuka dengan keadaan kabin kosong. Dave masuk dan menekan tombol angka 10 untuk menuju ruangan nya. Tiba di lantai tersebut ia segera masuk ke ruangan pribadi nya yang luas.
"Nick ke ruangan ku sebentar". Titah nya.
Nick datang beberapa menit kemudian. Ia mengetuk pintu sebelum masuk, seperti biasa.
“Masuk.”
Nick melangkah ke dalam ruangan, menutup pintu di belakangnya. Tatapannya sempat menyapu wajah Dave yang sedang berdiri membelakangi meja kerja, menghadap dinding kaca besar yang menampilkan pemandangan kota dari ketinggian. Dari sikapnya saja, Nick tahu atasannya sedang tidak dalam suasana hati yang baik.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya Nick hati-hati.
Dave berbalik perlahan. Jasnya sudah dilepas dan diletakkan sembarangan di kursi. Lengan kemeja digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat tegang di tangannya.
“Kau yang memberi tahu Elia soal riwayat magh ku?” tanya Dave tanpa basa-basi.
Nick terdiam sepersekian detik. Ia menelan ludah sebelum menjawab.
“Maaf, Tuan. Waktu itu kondisi Anda cukup buruk. Nyonya Elia bertanya kenapa Anda tidak masuk kantor, dan… saya hanya menjawab seperlunya.”
“Seperlunya?” Dave tertawa pendek tanpa humor. “Sekarang dia menyiapkan obat, bekal, mengingatkanku seperti aku ini anak kecil.”
Itu karena Nyonya peduli, Tuan,” ucap Nick jujur, meski tahu kata-katanya berisiko.
Sorot mata Dave mengeras. “Aku tidak membayar kalian untuk menilai urusan pribadiku.”
Nick menunduk. “Saya mengerti. Tapi saya juga tahu kapan harus jujur. Anda hampir pingsan waktu itu, Tuan. Kalau tidak ada yang memperhatikan—”
“Cukup.” Dave memotong dingin. Ia berjalan ke meja, membuka laci, lalu mengeluarkan kotak obat yang pagi tadi diberikan Elia. Ia meletakkannya di atas meja dengan gerakan kasar.
“Mulai sekarang,” lanjut Dave, “jaga jarak. Kau tidak perlu melibatkan Elia dalam urusan kesehatanku, pekerjaanku, atau apa pun.” Nick menatap kotak obat itu sekilas. “Baik, Tuan.”
Dave menghela napas pelan, lalu duduk di kursinya. Ia memijat pelipis, wajahnya yang tampak lelah meski berusaha disembunyikan.
Ponsel Dave kembali bergetar tanda pesan masuk. Ia tersenyum tipis saat melihat nama Bianca pada notif bar. Wanita yang baru di pacarinya sebulan lalu itu merengek untuk minta ditemani berbelanja siang ini. Tanpa harus membuat wanita nya menunggu, Dave membalas pesan tersebut. Ia mengatakan saat jam istirahat nanti Dave akan menemani nya.
Tak lama, balasan Bianca masuk disertai emotikon senyum dan hati. Dave menghembuskan napas pelan, merasa puas. Setidaknya, ada satu hal dalam hidupnya yang masih bisa ia atur sesuka hati, tanpa tuntutan, tanpa beban. Bianca juga tahu mengenai status Dave yang sudah memiliki istri. Bahkan ia juga tahu jika Dave tidak mencintai istrinya itu.
Ia meletakkan ponsel di atas meja, lalu menyalakan laptop dan mulai menenggelamkan diri dalam tumpukan pekerjaan. Namun entah mengapa, fokusnya tak sepenuhnya utuh. Sekilas, pandangannya kembali tertuju pada kotak obat di sudut meja. Ingatannya melayang pada pesan singkat yang pagi tadi ia abaikan.
Sementara di kediaman Dave, Elia sudah siap untuk pergi ke supermarket. Ia memakai kaos oversize, celana jeans dengan rambut yang di ikat asal. Tak ada riasan tebal atau alis yang dibingkai. Cukup dengan mengoleskan sunscreen, pelembab dan lipgloss agar tidak terlalu pucat.
"Lisa". Panggil Elia dari ruang tengah.
"Ya Nyonya". jawab Lisa cepat, muncul dengan langkah tergesa. Ia sudah siap mengantar majikannya berbelanja.
"Kau sudah catat bahan apa saja yang perlu dibeli kan?"
"Sudah Nyonya, ini". Kata Lisa sambil memberikan secarik kertas.
Elia mengangguk. "Okey, kita berangkat sekarang".
Tanpa sopir pribadi, Elia memilih menyetir sendiri. Ia mengendarai BMW putih milik mendiang ibunya. Mobil yang masih terawat dengan baik, seolah menjadi satu-satunya peninggalan yang selalu menemaninya ke mana pun ia pergi.
Di sepanjang perjalanan, Lisa tampak antusias. Ia meminta izin untuk mengambil beberapa foto, bahkan mengajak Elia berswafoto bersama. Elia hanya tertawa kecil dan mengangguk, tak keberatan sama sekali.
Di mata Lisa, Elia bukan sekadar nyonya rumah. Ia adalah majikan yang hangat dan murah hati. Sejak Elia tinggal di rumah itu sebagai istri Dave, tak sekali pun Lisa mendengar bentakan, cacian, atau kata kasar keluar dari bibirnya.
Yang paling Lisa kagumi adalah perhatian Elia yang tulus. Ia selalu memastikan para pekerja rumah makan terlebih dahulu sebelum dirinya sendiri. Bahkan sering kali mengajak mereka duduk di kursi dan meja yang sama.
“Oh iya, Lis,” ujar Elia sambil tetap menatap jalan, “tadi aku sempat mendengar kau seperti berdebat kecil saat aku menyuruhmu memanggil Dave.”
Pertanyaan itu membuat jantung Lisa berdegup kencang. Telapak tangannya mendadak dingin. Ia tak mungkin mengatakan bahwa ia mendengar Tuan Dave berbicara mesra dengan seorang wanita di telepon.
“Oh itu, Nyonya,” jawab Lisa cepat, berusaha terdengar wajar. “Bimbim membuatku kaget. Padahal aku baru mau mengetuk pintu".
Elia mengerutkan kening tipis. Ada sesuatu dalam nada suara Lisa yang terasa janggal, seolah ada kalimat yang ditelan setengah jalan. Namun Elia memilih tidak memaksa.
“Sepertinya Bimbim menyukaimu, Lisa,” godanya ringan, mencoba mencairkan suasana.
Lisa langsung bergidik ngeri.
“Eh, jangan begitu, Nyonya. Dia bukan tipe saya,” katanya sambil tertawa kecil. Meski begitu, rasa bersalah tetap menggelayut di dadanya karena tak berani berkata jujur.
Tak lama kemudian, mobil mereka memasuki area parkir pusat perbelanjaan. Elia memarkir mobil dengan rapi lalu mematikan mesin. Ia teringat pakaian dalam Dave yang sudah banyak robekan dan melar. Tanpa ragu, ia memutuskan untuk sekalian berbelanja kebutuhan itu di supermarket yang berada di dalam mall.
Elia dan Lisa melangkah menuju lift. Pintu lift baru saja menutup ketika, di kejauhan, sebuah mobil Mercy hitam metalik memasuki area parkir yang sama.
Di dalam mobil itu, Dave duduk di kursi penumpang dengan Bianca di sisinya. Wanita itu terus menempel sejak tadi, lengannya melingkar manja, senyumnya tak pernah lepas. Ia sama sekali tak peduli pada keberadaan Nick yang kini berperan sebagai sopir, seolah pria itu hanyalah benda mati.
“Sayang, bisakah setelah pulang berbelanja kau ikut ke tempatku?” pinta Bianca dengan wajah memelas, bibirnya sedikit mengerucut manja.
Dave terdiam sejenak, matanya menerawang sebelum akhirnya tersenyum tipis. “Oke, sayang. Sudah lama juga aku merindukan waktu berdua denganmu,” jawabnya tanpa rasa bersalah. Seolah ia pria lajang tanpa ikatan, padahal cincin pernikahan itu masih setia melingkar di jari manisnya.
Nick hanya bisa membisu. Tangannya bergerak profesional membuka pintu penumpang, sementara hatinya dipenuhi rasa tidak nyaman yang tak berhak ia suarakan.
“Lis, kita ke toko pakaian dulu ya. Aku ingin membelikan pakaian dalam baru untuk Dave,” ucap Elia sambil melangkah mantap.
“Siap, Nyonya,” jawab Lisa sigap.
Keduanya masuk ke sebuah butik brand ternama. Elia tahu betul suaminya adalah tipe perfeksionis, tak pernah menyentuh barang murahan. Ia memilih dengan teliti. Pakaian dalam, kaos harian semuanya bermerek, rapi, dan nyaman. Tak ada keraguan di wajahnya, seolah ia benar-benar sedang berbelanja untuk lelaki yang mencintainya.
Setelah selesai, Elia melangkah keluar butik dan berhenti di depan etalase toko berikutnya. Pandangannya tertarik pada sebuah dress yang dikenakan manekin. Simpel, anggun, dengan potongan yang elegan. Tanpa sadar, Elia menatapnya lebih lama.
“Cantik sekali, Nyonya. Cocok dengan Anda,” ujar Lisa yang setuju jika Elia memakai nya.
Elia tersenyum, "Kau serius?"
"Sungguh Nyonya. Tubuh nyonya itu ideal dengan tinggi dan berat badan yang pas, tapi". ucapan Lisa terjeda.
"Tapi apa?"
"Tapi Nyonya perlu sedikit polesan agar terlihat lebih segar. Meski sudah cantik tanpa menggunakan make-up". Puji Lisa.
"Kau ini bisa saja". Elia melambaikan tangan pada seorang pramuniaga yang berdiri sambil memerhatikan nya. "Aku mau baju ini ukuran M".
"Baik Nyonya, mohon ditunggu".
Sementara Dave ,Bianca dan Nick juga masuk ke dalam butik yang di dalam nya terdapat Elia bersama Bianca. Seperti hal nya Elia, ia juga tertarik pada gaun yang di pajang di tubuh manekin itu.
"Sayang lihat baju itu, cantik bukan?"
"Ya sayang, tapi akan lebih cantik lagi jika kau yang memakainya". Goda Dave sambil mencubit dagu Bianca.
"Sungguh, kalau begitu aku ingin gaun itu. Boleh kan?"
Dave mengangguk lalu memberikan black card nya kepada Bianca, meski sebelumnya ia sudah memberikan nya kartu debit. Mata Bianca berbinar dan langsung menyambar benda tersebut.
Ponsel Dave bergetar tanda panggilan masuk. Kedua matanya membulat saat melihat nama Sarah pada layar. "Eh sayang sebentar ya aku terima telepon dulu".
"Oke sayang".
Bianca melanjuti belanja nya, tidak hanya gaun indah yang baru saja ia lihat dan menarik perhatian. Tapi juga sebuah tas keluaran terbaru berwarna merah muda yang dipajang di etalase kaca.
Saat menyentuh tas itu ia melirik ke samping, karena ada tangan wanita lain yang mencoba untuk mendapatkan nya.
"Maaf, tapi aku melihatnya lebih dulu". ucap Bianca dengan angkuh.
"Silahkan ambil, aku bisa mencari model lain". Ucap Elia dengan santai. Ia tidak ingin mencari keributan, lebih baik mengalah.
Nick yang menunggu di kursi depan toko. Melihat dengan jelas Elia dan Lisa sedang memilah milih baju. Jantung nya berdegup kencang, ia segera membalik tubuh nya dan menyusul Dave yang sedang pergi ke toilet.
Samar-samar Lisa menyipitkan pandangan nya. Ia melihat pria yang wajah nya tidak asing berjalan terburu-buru.
"Lisa, kau kenapa?" tanya Elia, sedikit mengangetkan pelayan rumah nya itu
"Ah tidak Nyonya, tidak apa-apa".
"Oh iya, jika kau ingin baju pilih saja. Biar aku yang bayar". kata Elia menawarkan.
Lisa menutup mulutnya karena senang, "Sungguh nyonya?"
Elia mengangguk pelan, "Sungguh, pilih lah baju yang kau suka".
"Baik Nyonya, terimakasih banyak". Kata Lisa mendekap kedua tangan nya Elia ke pipi.
Dengan langkah tergesa-gesa, dan nafas yang menderu Nick sampai di depan toilet. Menunggu Dave yang seperti nya masih berbicara di telepon dengan Sarah.
Tak lama kemudian Pria itu muncul, kaget mendapati Nick dengan wajah nya yang terlihat pucat seperti habis melihat hantu.
"Kau kenapa Nick?"
"Gawat Tuan, Nyonya Elia ada di mall ini".
Kedua mata Dave membelalak, wajahnya terlihat panik. Ia bukan takut dengan kemarahan Elia, tapi takut jika Elia mengadukan ini langsung kepada Sarah. Mengingat kondisi Sarah yang mudah drop, dan mudah stress.
Dave berfikir sejenak untuk menenangkan pikiran nya. Dalam situasi seperti ini ia harus tetap tenang agar menemukan solusi nya.
"Lebih baik aku kirim pesan saja pada Bianca". Gumam nya lalu mencari nama wanita itu pada balon obrolan.
Sayang, bisakah kau menunggu sebentar. Perut ku mulas, seperti nya aku akan memakan waktu lama di dalam toilet.
Bianca membaca pesan itu dari Dave, bibirnya mengerucut. Namun ia tidak bisa marah karena kartu black card itu kini berada di genggaman nya.
Baiklah sayang, setelah selesai segera temui aku..
Dave dapat bernafas lega, untung nya wanita itu bisa di ajak kompromi.
"Tuan, apakah Nona Bianca pernah melihat wajah Nyonya Elia sebelumnya?" tanya Nick.
Dave menggeleng cepat "Jika bisa jangan sampai dia tahu, apalagi mengenal nya di saat momen seperti ini" ujarnya dengan penuh kewaspadaan.
"Nick lebih baik sekarang kau ke toko pakaian belikan aku setelan yang tertutup, aku akan menyamar". titah nya.
"Baik Tuan".
Nick segera keluar dari toilet, ia berjalan terburu dengan jantung yang masih berdegup tak karuan. Meski dalam hatinya mengumpat kesal
"Nick?" sapa Elia saat ia memasuki lorong untuk menuju ke toilet. "Sedang apa kau disini?" Elia lanjut bertanya.
"Eh" Nick gugup
Dave karakter sangat kuat sdngkn istri melohoyyy apa dia bias marah
kalau bisa Weh luar biasa lain ini Thor
kenal mama Reni ga
uhhh istri sah dapat Otong sisa 🤭
semoga berbeda ini cerita