Jessica yang mati penuh penyesalan tiba-tiba kembali ke umur 19 tahun dengan membawa semua ingatannya di kehidupan yang telah ia lalui.
Kali ini, dia tidak akan ditindas lagi, dia akan bersinar dan mendapatkan kebahagiaannya sendiri.
"Bagaimana bisa Jessica tahu ada racun di minuman itu?"
"Jessica mendapat nilai sempurna? Bukankah dia selalu peringkat akhir?"
"Aku tidak akan membiarkan Jessica mengambil posisiku, lihat saja, aku akan memberinya pelajaran!"
"Heh! Mau menindasku? Tidak! Jessica kali ini bukan lawan yang sepadan untukmu! Jangan macam-macam kalau tidak mau menyesal!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Kebingungan karena Jessica
Dalam perjalanan pulang mengantar Jessica kembali ke rumahnya, Nolan berkata, "Aku akan segera membicarakan pernikahan kita dengan keluarga, karena kehamilanmu tidak bisa ditunda lebih lama lagi, Aku cemas jika masih terus ditunda, nanti kau akan kesulitan di hari pernikahan kita."
Jessica menatap Nolan, "sebenarnya aku berencana untuk tidak mengungkapkan kehamilanku terlebih dahulu, setidaknya sampai umurnya 7 bulan," ucap Jessica yang ingin melindungi anaknya.
"Kenapa? Ini adalah kabar baik, kenapa harus ditutupi?" Tanya Nolan.
"Aku hanya... Aku sedang kuliah, aku tidak ingin kehamilanku mengganggu proses kuliahku, dan juga, aku tidak nyaman jika harus menjadi bahan perbincangan banyak orang," kata Jessica.
Nolan sama sekali tidak mengerti dengan alasan dangkal yang diucapkan oleh Jessica, tetapi dia tidak ingin membuat hubungan mereka menjadi tidak nyaman lagi kalau dia tidak menyetujuinya sehingga Nolan berkata, "baiklah jika itu yang kau inginkan. Tapi pernikahan..."
"Mari kita adakan secara sederhana, hanya diketahui keluarga inti saja," ucap Jessica.
"Baiklah, aku akan mengaturnya," ucap Nolan tidak berani membantah Jessica, terlalu cemas perempuan yang sedang hamil itu merasa tertekan.
Jessica merasa lega bahwa Nolan menyetujui semua ucapannya, jadi ketika tiba di apartemen, Jessica menatap Nolan, "terima kasih, Aku harap kau tidak pernah berubah seperti yang terjadi sebelumnya," ucap Jessica sebelum menutup pintu apartemen meninggalkan Nolan di luar pintu.
Nolan berdiri dalam kebingungannya, sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Jessica.
Kapan Dia pernah berubah?
Dia selalu mencintai Jessica sejak pertemuan pertama mereka, perempuan sederhana yang memiliki semangat yang tinggi, tidak pernah mengeluh dan memiliki energi positif.
Ketika Nolan masih berdiri di depan pintu apartemen dengan bingung, pintu apartemen kembali terbuka memperlihatkan Jessica.
"Apa kau masih perlu sesuatu?" Tanya Jessica dengan judes menatap Nolan, dia hendak keluar lagi untuk membeli bahan makanan, tetapi pria ini masih terus berada di depan pintu seperti orang bodoh.
"Ah, tidak, Apa kau butuh sesuatu lagi?" Tanya balik Nolan.
"Aku hanya butuh ketenangan, bisakah kau pergi sekarang?" Gerutu Jessica dengan tatapan tidak menyenangkan ditujukan pada Nolan semakin membuat Nolan menjadi gelisah, sebenarnya apa yang telah terjadi yang menyakiti Jessica begitu dalam sampai-sampai Jessica tidak lagi menunjukkan perasaan yang dulu dimiliki perempuan itu?
Rasa bersalah benar-benar memenuhi hati Nolan, jadi pria itu hanya bisa mengangguk dan berbalik pergi, tapi baru beberapa langkah saja dia berhenti dan berbalik, "pakai ini," kata Nolan memberikan kartu kreditnya pada Jessica lalu meninggalkan Jessica.
Jessica menghela nafas melihat kepergian Nolan, tangannya dilipat di dada sambil berpikir, 'dia pasti merasa sangat tersakiti karena saat-saat ini dia masih benar-benar menyerahkan seluruh hatinya padaku. Hah... Sayang sekali perasaanku padamu sudah lama mati, Jadi kau tidak akan pernah lagi menjumpai diriku yang selalu kau cari itu,' pikir Jessica.
Sementara Nolan yang meninggalkan apartemen, dia kini menyetir untuk kembali ke rumah, dalam perjalanan Dia mendapat panggilan telepon dari sang ibu.
"Ya, Bu," jawab Nolan.
"Luna sekarang jatuh sakit setelah meninggalkan rumah, dia pasti sangat syok atas kejadian makan malam di rumah kita tadi. Cepat kekediaman keluarga Balisa, bahwa dia ke rumah sakit!" Perintah Nyonya Sanjaya dari seberang telepon.
"Baiklah," kata Nolan menutup panggilan telepon itu.
Ia laku menekan tombol panggil pada seorang dokter.
Sementara Luna yang saat itu terbaring di tempat tidur, ia merasa begitu senang.
Nyonya Sanjaya menatap Luna, "jangan khawatir, Nolan sudah dalam perjalanan untuk mengantarmu ke rumah sakit," kata Nyonya Sanjaya.
"Terima kasih Tante," ucap Luna dengan suara yang lemas.
"Hah..." Nyonya Balisa yang ada di sana kini menghela nafas, "Aku tidak percaya kalau Nolan akan bertemu dengan perempuan yang tidak baik seperti Jessica. Aku berani bersumpah, dia itu benar-benar diberitakan sangat buruk di kampus mereka, dia bahkan memukuli Michelle dari keluarga Wijaya sampai wajahnya menjadi bengkak!" Kata Nyonya Balisa segera membuka teleponnya dan memperlihatkan wajah Michelle yang bengkak beberapa waktu yang lalu.
Nyonya Sanjaya menutup mulutnya dengan sebelah tangan, tak percaya putranya akan dibohongi oleh seorang perempuan barbar seperti Jessica.
"Astaga, aku tak percaya Nolan bisa dibodohi orang seperti dia. Pokoknya aku tidak akan pernah menerimanya sebagai menantuku, dari dulu Luna lah yang kuharapkan menjadi istri Nolan, jadi aku akan berusaha untuk membuat Nolan bisa kembali melihat Luna dan melupakan perempuan yang tidak baik itu," ucap Nyonya Sanjaya sambil menghela nafas.
Nyonya Balisa tersenyum, saling beri kode dengan Luna, "kau harus memperingatkan putramu untuk berhati-hati dengan perempuan seperti ini. Siapapun yang melihat hubungan Nolan dan Jessica bisa melihat ketimpangan diantara keduanya, jelas-jelas perempuan itu hanya mengincar harta keluarga Sanjaya saja!"
"Benar, aku sudah menyuruh seseorang untuk menyelidiki Jessica, Aku harap nanti setelah hasil penyelidikannya didapatkan, Nolan bisa membuka matanya untuk melihat seperti apa sebenarnya Jessica itu," kata Nyonya Sanjaya.
"Benar! Saat ini Nolan hanya dibutakan saja, tapi ketika faktanya terungkap nanti, dia pasti akan mengerti," kata Nyonya Balisa.
Pada saat itu, pintu kamar diketuk seseorang, jadi Nyonya Sanjaya berbalik, "itu pasti Nolan yang datang untuk mengantar mu ke rumah sakit," kata Nyonya Sanjaya segera berjalan membuka pintu.
Tetapi ketika pintunya terbuka, seorang dokter menampakkan diri sambil berkata, "Selamat malam Nyonya, Saya diutus tuan muda Sanjaya ke mari untuk memeriksa keadaan Nona Luna."
"Apa?!" Nyonya Sanjaya terkejut, "lalu mana Nolan?" Tanya Nyonya Sanjaya.
"Perihal keberadaan tuan muda, Saya juga tidak tahu," ucap sang dokter.
Kekecewaan langsung terpatri di wajah Luna, tetapi dia menelan rasa kecewanya itu dan menatap Nyonya Sanjaya sambil berkata, "tidak apa-apa, dokter juga sudah ada di sini, bisa langsung memeriksa ku."
"Hah... Aku akan menelponnya lagi!" Kata Nyonya Sanjaya mengeluarkan ponselnya dan segera menelpon Nolan, tapi pada saat itu Nolan tidak mengangkat panggilan teleponnya.
Nyonya Sanjaya menjadi sangat kesal dia merasa tidak enak pada Luna dan ibunya.
Dia pun berada di sana sampai dokter menyelesaikan pemeriksaannya lalu kembali ke kediaman keluarga Sanjaya dan mengetahui dari kepala pelayan kalau Nolan sudah berada di kamarnya.
Tanpa membuang-buang waktu, Nyonya Sanjaya langsung pergi ke kamar putranya, tok tok tok..
"Masuk!" kata Nolan dari balik pintu.
Clek!
Nyonya Sanjaya memasuki kamar, mendapati Nolan sedang duduk di sofa sambil menenggak minuman beralkohol.
Kening Nyonya Sanjaya berkerut, "Apa yang kau lakukan sekarang? Aku menghubungimu untuk mengantar Luna ke rumah sakit, tapi kau malah di sini menghabiskan waktumu dengan minuman?!" Gerutu Nyonya sanjaya pada Sang putra.
"Jika Ibu tidak membicarakan hal penting, tolong keluar," ucap Nolan dengan datar lalu bersandar memjamkan matanya, tampak sekali pria itu tidak ingin diganggu.
Nyonya Sanjaya menghela nafas, dia tidak ingin membuat keributan di malam hari seperti itu sehingga dia hanya bisa pergi dengan rasa kesalnya.
Sementara Nolan, pria itu memejamkan mata dan mengingat sikap Jessica padanya, di hadapan orang lain perempuan itu bersikap seperti mereka benar-benar sepasang kekasih yang saling menyayangi.
Tetapi begitu berdua saja, sikap Jessica menjadi berubah, ada apa?
Nolan berusaha untuk menemukan jawabannya, tapi dia benar-benar tidak bisa menemukan jawaban itu, hal tersebut sangat mengacaukan pikirannya.
kata balik keduli ini ga di prediksi sama Jessica
maling teriak maling😎
semangat thor 💪