Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.
Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.
"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."
Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Api di Ambang Pintu
Guncangan dahsyat kembali menghantam The Citadel. Debu-debu kuno berjatuhan dari langit-langit setinggi sepuluh meter, sementara lampu darurat berwarna merah mulai berputar, menyelimuti lorong-lorong batu dengan cahaya yang mencekam. Suara baling-baling helikopter yang menderu rendah terdengar semakin dekat, seolah-olah raksasa besi sedang mencengkeram atap markas mereka.
Harry menarik Kayra mendekat ke dinding saat sebuah ledakan menggema dari arah gerbang utama.
"Dengarkan aku," bisik Harry, suaranya tetap tenang namun sarat akan otoritas. "Luca mengirim tim pembunuh elitnya. Kita tidak bisa menahan mereka di sini lebih lama lagi."
"Aku siap, Harry," jawab Kayra. Tangannya mencengkeram tali tas medisnya erat-erat. Meski jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging, ia menolak untuk terlihat lemah.
Mereka sampai di ruang komando pusat. Layar-layar monitor besar memperlihatkan pasukan hitam yang turun menggunakan tali dari helikopter.
"Tuan! Sistem pertahanan udara kita lumpuh!" Enzo berteriak sambil mengoperasikan komputer dengan satu tangan yang gemetar. "Julian pasti memberikan kode enkripsinya sebelum kita menangkapnya!"
Wajah Harry mengeras. "Enzo, amankan semua data ke server satelit sekarang. Setelah itu, bawa tim cadangan ke sayap barat. Aku dan Kayra akan mengambil jalur tebing."
Harry beralih ke arah Kayra. Ia merogoh sesuatu dari balik rompi taktisnya dan mengeluarkan sebuah pistol kecil berukuran saku. Ia menyerahkannya kepada Kayra. "Gunakan ini jika ada yang mendekat lebih dari lima meter. Ingat apa yang kuajarkan?"
Kayra menatap senjata logam dingin itu, lalu mengangguk. "Tarik pelatuknya, jangan lepaskan mata dari target."
Harry menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak seperti pengakuan terhadap ketangguhan Kayra. "Bagus. Jangan pernah ragu."
Tiba-tiba, kaca jendela besar di ruang komando pecah berkeping-keping akibat tembakan dari helikopter. Harry langsung merangkul bahu Kayra, menariknya jatuh ke lantai dan melindunginya dengan tubuhnya sendiri saat serpihan kaca menghujani mereka.
"Ayo! Lari!" Harry menarik Kayra berdiri.
Mereka berlari melintasi koridor yang mulai dipenuhi asap mesiu. Di sebuah persimpangan, dua penyerang muncul. Harry melumpuhkan mereka dengan tembakan presisi tanpa menghentikan langkah.
Namun, saat mereka mencapai tangga menuju balkon selatan, Harry tiba-tiba tersentak. Langkahnya limbung, dan ia terpaksa bersandar pada pilar batu.
"Harry!" Kayra menangkap lengan pria itu. Tangannya seketika terasa basah oleh cairan hangat. Saat ia melihat ke bawah, darah segar merembes dari sela-sela rompi taktis Harry di bagian perut. "Kau tertembak!"
"Hanya goresan," desis Harry, giginya merapat menahan sakit. Wajahnya mulai memucat karena kehilangan darah yang cukup banyak. "Terus jalan."
"Jangan bohong padaku!" Kayra memaksa Harry duduk di balik perlindungan dinding. Ia merobek kain kaus Harry dengan gerakan cepat dan profesional. Luka itu dalam, peluru masih bersarang di otot abdomen. "Ini bukan goresan, Harry! Kau bisa kolaps sebelum mencapai tebing!"
Kayra mengambil kasa steril dan menuangkan cairan antiseptik. Ia menekan luka itu kuat-kuat dengan kedua tangannya. Harry mengerang tertahan, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Kayra, bukan untuk menghentikannya, tapi untuk mencari pegangan di tengah rasa sakit yang hebat.
Kayra mendongak, matanya yang berkaca-kaca bertemu dengan mata Harry yang tajam. "Kenapa kau selalu melakukan ini? Kau melindungiku seolah nyawamu sendiri tidak berharga."
Harry menatap Kayra dengan intensitas yang berbeda dari biasanya. "Nyawaku memang tidak ada harganya sebelum kau menjahitnya kembali di Elara, Kayra. Sekarang, nyawaku adalah milik dokter yang memegangnya."
Kalimat itu bukan pernyataan cinta, tapi itu adalah pengakuan kepercayaan yang sangat dalam. Harry menempelkan telapak tangannya yang kasar ke pipi Kayra sejenak, sebuah sentuhan singkat yang menyalurkan rasa terima kasih dan kekuatan, sebelum ia kembali berdiri dengan susah payah.
"Kita harus sampai ke jembatan gantung," gumam Harry.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju balkon luar. Di depan mereka, jembatan gantung tua membentang di atas jurang yang gelap pekat. Angin malam berhembus kencang, menggoyahkan kayu-kayu tua jembatan itu.
"Kau harus menyeberang duluan," Harry menyerahkan senapan serbunya kepada Kayra yang bingung. "Aku akan memutus tali jembatan ini setelah kau sampai di seberang."
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu di sini!"
"Dengar!" Harry mencengkeram bahu Kayra, memaksanya fokus di tengah suara ledakan yang semakin dekat. "Hanya ada satu cara agar mereka tidak bisa mengejar. Seseorang harus tetap di sini untuk memastikan jembatan ini jatuh. Pergi, Kayra! Ini bukan permintaan, ini perintah!"
Kayra mulai melangkah di atas jembatan yang berderit. Setiap langkah terasa seperti bertaruh dengan maut. Saat ia mencapai ujung seberang, ia berbalik dan melihat Harry berdiri di ujung balkon, menembaki musuh yang mulai mendobrak pintu.
"HARRY, CEPAT!" teriak Kayra.
Harry menembakkan pelurunya ke mekanisme pengunci tali jembatan. Jembatan itu bergetar hebat dan mulai runtuh. Harry melompat di detik terakhir ke arah tebing yang menonjol di sisi gua seberang.
Kayra menjerit saat melihat Harry nyaris terjatuh ke jurang, namun tangan pria itu berhasil mencengkeram akar pohon tua yang kokoh.
Kayra merangkak ke tepi tebing, menjulurkan tangannya sekuat tenaga. "Pegang tanganku! Harry, raih!"
Harry berjuang melawan rasa sakit di perutnya. Dengan satu sentakan terakhir, Kayra menarik tubuh Harry ke atas tanah gua yang stabil. Mereka berdua jatuh terguling ke dalam kegelapan gua, tepat saat helikopter Luca menembakkan rudal ke arah balkon The Citadel yang baru saja mereka tinggalkan.
Keheningan sesaat menyelimuti gua itu. Hanya suara napas mereka yang bersahutan di tengah kegelapan. Harry terbaring terlentang, sementara Kayra merangkak di sampingnya, memeriksa nadinya dengan tangan yang masih gemetar.
"Kau gila," bisik Kayra parau, air matanya akhirnya jatuh karena lega. "Kau benar-benar gila."
Harry terbatuk pelan, darah menghiasi sudut bibirnya, namun ia masih sempat menyeringai lemah. Ia meraih tangan Kayra, meremas jemarinya dengan lembut di atas lantai gua yang dingin.
"Dan kau adalah dokter paling berani yang pernah kukenal, Valeska."
Mereka berbaring di sana selama beberapa menit, membiarkan adrenalin mereka menurun. Tidak ada ciuman, tidak ada kata-kata manis. Hanya ada rasa saling memiliki yang tumbuh dari perjuangan hidup dan mati. Kayra menyandarkan kepalanya di samping bahu Harry, mendengarkan detak jantung pria itu yang masih kuat.
"Kita harus pindah," ujar Kayra setelah merasa lebih tenang. "Enzo pasti sudah menunggu di jalur evakuasi bawah tanah."
"Bantu aku berdiri," gumam Harry. "Masih ada satu kota yang harus kita bakar untuk Aris."
Kayra membantu Harry berdiri, merangkulkan lengan pria itu ke bahunya. Di belakang mereka, The Citadel mulai dilalap api, namun di depan mereka, sebuah jalan baru mulai terbuka. Mereka telah melampaui batas sebagai partner, kini mereka adalah dua jiwa yang tidak akan membiarkan satu sama lain jatuh sendirian.