Lanjutan dari Novel Pendekar Naga Bintang
Gao Rui hanyalah murid lemah di Sekte Bukit Bintang, bocah yatim berusia tiga belas tahun tanpa latar belakang, tanpa pelindung, dan tanpa bakat mencolok. Setelah gurunya, Tetua Ciang Mu, gugur dalam sebuah misi, hidup Gao Rui berubah menjadi rangkaian hinaan dan penyingkiran. Hingga suatu hari, ia hampir mati dikhianati oleh kakak seperguruannya sendiri. Dari ambang kematian, Gao Rui diselamatkan oleh Boqin Changing, pendekar misterius yang melihat potensi tersembunyi dalam dirinya.
Di bawah tempaan kejam Boqin Changing di dunia khusus tempat waktu mengalir berbeda, Gao Rui ditempa bukan untuk cepat menjadi kuat, melainkan untuk tidak runtuh. Ketika kembali, ia mengejutkan sekte dengan menjuarai kompetisi bela diri dan mendapat julukan Pendekar Naga Bintang. Namun perpisahan dengan gurunya kembali memaksanya berjalan sendiri. Kali ini, Gao Rui siap menghadapi dunia persilatan yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuju Sekte Pedang Langit
Hari demi hari berlalu di Sekte Bukit Bintang, dan bagi Gao Rui, waktu seolah kehilangan maknanya. Setiap hari yang terlewati bukan lagi dihitung dengan matahari terbit dan tenggelam, melainkan dengan pemahaman baru yang ia peroleh di bawah bimbingan langsung Tetua Bei. Sejak latih tanding pertama mereka, metode latihan Gao Rui berubah sepenuhnya.
Pagi hari selalu dimulai dengan latihan dasar. Sebelum matahari benar-benar muncul di balik punggung bukit, Gao Rui sudah berdiri di halaman kediaman Tetua Bei. Tidak langsung bergerak, ia terlebih dahulu berdiri diam, kedua kaki menapak mantap, punggung lurus, dan mata terpejam. Ia menyesuaikan napas, membiarkan aliran tenaga dalamnya bergerak perlahan sesuai ritme jantung.
Tetua Bei mengawasinya dari teras rumahnya. Kadang juga di batu besar dekat tempat latihan Gao Rui. Ia baru bergerak jika Gao Rui tampak kebingungan.
“Jangan kejar kecepatan,” kata Tetua Bei suatu pagi. “Jika dasar kakimu goyah, secepat apa pun tanganmu, semuanya akan sia-sia.”
Maka Gao Rui berlatih kuda-kuda berjam-jam. Berdiri, menahan, menyesuaikan berat tubuh. Keringat mengalir deras, pahanya gemetar, namun Tetua Bei tidak menghentikannya. Baru ketika Gao Rui hampir kehilangan keseimbangan, sang tetua menyuruhnya berhenti.
“Rasakan batasmu,” ujarnya. “Dan ingat sensasi itu.”
Latihan tangan kosong pun menjadi semakin mendalam. Tidak lagi sekadar menghafal rangkaian jurus, Tetua Bei sering menghentikan Gao Rui di tengah gerakan.
“Ulangi,” katanya singkat.
Kadang hanya satu pukulan. Kadang hanya satu dorongan telapak.
“Jika pukulanmu tidak bisa menjatuhkan lawan, maka ia harus bisa memaksa lawan bergerak sesuai keinginanmu,” jelas Tetua Bei. “Beladiri bukan tentang seberapa keras kau memukul, tetapi tentang mengendalikan jarak dan arah.”
Untuk itu, Tetua Bei mulai memperkenalkan latihan tekanan. Ia berdiri di depan Gao Rui tanpa menyerang, hanya melangkah mendekat perlahan. Aura ringan namun menekan dilepaskan sedikit demi sedikit. Gao Rui harus menyesuaikan posisi, mengatur napas, dan memilih apakah akan mundur, bertahan, atau menyerang.
Beberapa kali, Gao Rui salah mengambil keputusan. Tubuhnya terdorong mundur oleh satu sentuhan telapak Tetua Bei. Tidak menyakitkan, namun cukup membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk.
“Jika ini medan tempur,” kata Tetua Bei datar, “kau harus berhati-hati.”
Kata-kata itu tidak diucapkan dengan nada mengancam, justru itulah yang membuatnya terasa lebih berat.
Latih tanding pun menjadi semakin sering. Tidak selalu berlangsung lama, namun selalu intens. Tetua Bei menekan Gao Rui dengan cara berbeda setiap kali. Kadang cepat dan langsung, kadang lambat namun menyesakkan. Gao Rui dipaksa membaca ritme, membaca niat, dan bereaksi tanpa sempat berpikir panjang.
Secara perlahan, perubahan mulai terlihat. Gerakan Gao Rui menjadi lebih ringkas. Serangannya tidak lagi berlebihan. Ia mulai tahu kapan harus menghentikan pukulan sebelum mencapai batas, dan kapan harus menambah satu langkah kecil untuk mengunci lawan. Tubuhnya bergerak lebih alami, seolah setiap sendi tahu apa yang harus dilakukan.
Pada suatu sore, setelah latih tanding yang cukup lama, Tetua Bei menghentikannya.
“Kau tahu apa kesalahan terbesarmu di awal tadi?” tanya Tetua Bei.
Gao Rui berpikir sejenak.
“Aku terlalu ingin menang.”
Tetua Bei mengangguk tipis.
“Dan sekarang?”
“Aku seharusnya bertahan terlebih dahulu,” jawab Gao Rui jujur.
Untuk pertama kalinya hari itu, Tetua Bei tersenyum. Sangat tipis, hampir tak terlihat.
Latihan pun tidak hanya soal fisik. Ada hari-hari ketika Tetua Bei menyuruh Gao Rui duduk berhadapan dengannya, tanpa bergerak.
“Pejamkan matamu,” perintahnya. “Dengarkan.”
Awalnya Gao Rui bingung. Namun perlahan ia mulai menyadari suara angin, gesekan dedaunan, langkah serangga di tanah, bahkan perubahan napas Tetua Bei di depannya.
“Jika kau tidak bisa merasakan lawan sebelum ia bergerak,” kata Tetua Bei, “kau akan selalu selangkah tertinggal.”
Latihan seperti itu berlangsung berhari-hari. Tidak melelahkan tubuh, namun menguras konsentrasi. Namun justru dari situlah ketenangan Gao Rui terbentuk.
Tanpa ia sadari, aura di tubuhnya berubah. Tidak mencolok, namun stabil. Para murid yang kebetulan melihatnya berlatih mulai merasakan perbedaan. Gao Rui tidak lagi tampak seperti murid biasa. Ada keteguhan diam yang mengelilinginya.
Gao Rui mengangkat kepala, dan saat itu ia tahu. Latihan yang panjang dan sunyi itu telah mencapai satu tahap akhir. Kompetisi antar sekte bukan lagi sekadar tugas dari sekte, melainkan ujian atas semua yang telah ia tempuh di bawah pengawasan Tetua Bei.
...*******...
Waktu pun berjalan cepat. Hingga suatu pagi, Tetua Bei memanggilnya ke lapangan sekte.
“Sudah waktunya,” kata Tetua Bei setelah menyesap tehnya perlahan.
Gao Rui mengangkat kepala, menatap sang tetua dengan penuh perhatian.
“Kompetisi beladiri antar sekte akan segera dimulai. Hari keberangkatan kita sudah ditentukan.”
Jantung Gao Rui berdenyut sedikit lebih cepat. Ia sudah mengetahui hal itu sejak lama, namun ketika kata-kata tersebut benar-benar terucap, perasaan di dadanya tetap terasa berbeda.
“Baik, Tetua,” jawabnya mantap.
Hari itu, Sekte Bukit Bintang terasa lebih ramai dari biasanya. Di lapangan utama, para murid berkumpul, sementara di barisan depan berdiri Patriark sekte, Tetua Agung, serta belasan tetua lainnya. Jubah-jubah mereka berkibar tertiup angin pegunungan, menciptakan suasana yang khidmat namun penuh harapan.
Gao Rui berdiri di sisi Tetua Bei. Wajahnya tenang, punggungnya tegak. Ia memberi hormat dalam-dalam kepada Patriark dan para tetua.
“Perjalanan ini membawa nama sekte,” kata Patriak dengan suara berat namun penuh wibawa. “Kompetisi antar sekte bukan sekadar ajang adu kekuatan, tetapi juga cerminan kehormatan. Gao Rui, kami berharap kau memberikan yang terbaik.”
Tetua Agung melangkah maju satu langkah. Tatapannya lembut, namun mengandung ketegasan seorang senior yang telah melewati banyak zaman.
“Menang atau kalah sebetulnya bukan satu-satunya ukuran,” tambahnya. “Namun misi kali ini jelas. Kami ingin kau memenangkan kompetisi itu dan membawa kebanggaan bagi Sekte Bukit Bintang.”
Gao Rui menunduk hormat lebih dalam.
“Aku akan berusaha sebaik mungkin,” katanya. “Aku tidak akan mempermalukan sekte.”
Tidak ada sorak-sorai berlebihan, tidak ada pidato panjang. Setelah beberapa kalimat restu dan pengingat, acara seremonial itu pun selesai. Kesederhanaan justru membuat suasana terasa lebih berat dan bermakna.
Akhirnya, saat yang dinanti tiba. Tanpa kereta kuda, tanpa iring-iringan panjang, Gao Rui dan Tetua Bei melangkah menuju gerbang sekte. Seperti perjalanan-perjalanan mereka sebelumnya, mereka memilih cara tercepat dan paling langsung. Ilmu meringankan tubuh.
Begitu melewati gerbang, Tetua Bei melangkah ringan ke depan. Tubuhnya seolah menyatu dengan angin. Gao Rui segera mengikuti. Kaki mereka menapak ringan di tanah, lalu di bebatuan, lalu sesekali di dahan pohon atau tonjolan tebing. Dalam sekejap, Sekte Bukit Bintang pun semakin jauh di belakang.
“Perjalanan ke Sekte Pedang Langit tidak singkat,” kata Tetua Bei saat mereka terus berlari. “Sekitar dua hingga tiga minggu. Tergantung situasi dan kondisi.”
Gao Rui mengangguk. Ia tahu, perjalanan ini bukan hanya perpindahan tempat, tetapi juga bagian dari ujian. Setiap langkah membawanya semakin dekat pada panggung yang lebih besar, tempat para jenius dari berbagai sekte dan keluarga bangsawan akan berkumpul.
Ia menatap pemandangan di depan mereka. Di balik ketenangannya, tekadnya semakin menguat. Kompetisi antar sekte telah menantinya. Ia tidak berniat mundur dan tentu berencana memenangkannya.