Dunia Kultivasi adalah dunia yang kejam bagi yang lemah dan indah bagi yang kuat
Karena itu Li Yuan seorang yatim piatu ingin merubah itu semua. bersama kawannya yaitu seekor monyet spiritual, Li Yuan akan menjelajahi dunia dan menjadi pendekar terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Cermin Jiwa yang Retak
Perjalanan menuju utara membawa Li Yuan dan Dong Dong ke sebuah lembah tersembunyi yang diselimuti kabut abadi. Di tengah lembah itu terbentang Danau Cermin Perak. Permukaan airnya begitu tenang dan berkilau seperti logam cair, tidak ada riak, bahkan angin pun seolah enggan menyentuhnya. Namun, di atas permukaan danau itu, sebuah jaring raksasa dari cahaya biru—segel Kekaisaran—berpendar redup, mengunci siapa pun agar tidak bisa mendekat.
"Baunya aneh, Li Yuan," bisik Dong Dong, bulunya berdiri tegak. "Seperti bau kematian yang dibalut parfum mahal."
"Itu adalah segel Pembeku Langit," jawab Li Yuan, matanya menatap tajam ke tengah danau. "Letnan Yan tidak berbohong. Siapa pun yang menyentuh air ini tanpa izin akan membeku menjadi patung es dalam sekejap."
Li Yuan melangkah ke tepi danau. Saat kakinya menyentuh butiran pasir perak di pinggir pantai, permukaan danau yang tenang tiba-tiba bergejolak. Cairan perak itu naik ke udara, membentuk pusaran yang perlahan memadat.
Tiba-tiba, sesosok bayangan keluar dari air.
Dong Dong terbelalak hingga menjatuhkan pisang hutannya. Sosok yang muncul itu sangat identik dengan Li Yuan. Ia memakai caping yang sama, jubah yang sama, dan yang paling mengerikan—ia memegang replika Pedang Hitam Takdir yang memancarkan aura serupa.
"Siapa kau?!" teriak Li Yuan, tangannya refleks menggenggam gagang pedang.
Sosok perak itu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya tersenyum dingin—senyuman yang sama persis dengan milik Li Yuan saat ia menyiksa Jenderal Feng Gao.
"Aku adalah kau," suara sosok itu bergema, terdengar seperti suara Li Yuan yang diputar di dalam gua. "Aku adalah amarahmu, dendammu, dan kegelapan yang kau sembunyikan di balik topeng pahlawanmu."
Tanpa peringatan, sosok perak itu melesat.
SRAAAK!
Pedang perak dan pedang hitam beradu. Ledakan energinya menciptakan gelombang besar yang menghantam segel biru di atas mereka. Li Yuan terkejut; kekuatan, kecepatan, bahkan teknik pernapasan sosok ini benar-benar sama dengannya.
Jalan Pedang Langit: Gerakan Kedua — Tarian Arwah Penasaran!
Keduanya mengeluarkan teknik yang sama secara bersamaan. Dua bayangan roh raksasa muncul di belakang mereka, saling mengadu kekuatan di atas air.
"Kau tidak bisa mengalahkanku, Li Yuan!" teriak sosok perak itu sambil menangkis tebasan Li Yuan. "Karena setiap kali kau membenciku, kau hanya memperkuat diriku. Aku adalah manifestasi dari semua orang yang telah kau bunuh!"
Li Yuan terhuyung mundur. Bayangan-bayangan warga Desa Qingyun, wajah ketakutan para prajurit yang ia bantai, dan rintihan Jenderal Feng Gao mulai memenuhi pikirannya. Ini bukan sekadar pertarungan fisik; ini adalah Ujian Mental dari sang penjaga pedang kedua.
"Li Yuan! Jangan dengarkan dia! Dia cuma air busuk yang menyamar!" Dong Dong mencoba membantu dengan melempar tongkatnya, namun sosok perak itu dengan mudah menepisnya hanya dengan satu lambaian tangan.
Li Yuan merasakan hawa dingin mulai merayap ke kakinya. Air danau mulai membeku di sekelilingnya, mengunci gerakannya. Sosok perak itu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, siap untuk menebas kepala Li Yuan.
"Kau hanyalah pembunuh, Li Yuan. Kau tidak layak memiliki Pedang Cahaya Abadi," desis sosok itu.
Di tengah keputusasaan, Li Yuan teringat kembali pada saat-saat ia memberikan petuah di Sekte Awan Tenang. Kultivasi adalah keberanian untuk merogoh sampah dunia demi menemukan roti sejati di dalam jiwa.
Li Yuan tiba-tiba melepaskan pegangannya pada Pedang Hitam Takdir. Ia membiarkan pedangnya jatuh ke tanah.
"Kau benar," ucap Li Yuan dengan suara yang tenang. "Aku memang penuh dengan kegelapan. Aku memang seorang pembunuh. Dan aku tidak akan pernah bisa menghapus noda itu dari tanganku."
Sosok perak itu berhenti sejenak, tampak bingung karena Li Yuan berhenti melawan.
"Tapi," lanjut Li Yuan, matanya kini memancarkan cahaya ungu yang jernih, bukan lagi merah darah. "Kegelapan itu tidak mendefinisikan siapa aku sekarang. Aku memeluk amarahku, tapi aku tidak dikendalikan olehnya."
Li Yuan mengulurkan tangannya yang kosong ke arah sosok perak itu. Bukannya menyerang, ia melepaskan aura kedamaian yang ia pelajari dari roh Xiao Hua.
KRAAAKK!
Tubuh perak itu mulai retak. Cermin besar yang membentuk danau itu pecah berkeping-keping. Bayangan palsu itu hancur menjadi tetesan air biasa. Segel biru Kekaisaran di atas langit ikut meledak karena tidak lagi memiliki pijakan energi untuk bertahan.
Dari dasar danau yang kini jernih, sebuah pilar cahaya putih yang sangat murni melesat ke langit. Sebuah pedang dengan bilah transparan seperti kristal dan gagang berwarna emas putih melayang perlahan menuju Li Yuan.
Pedang Takdir Kedua: Cahaya Abadi.
Saat tangan Li Yuan menyentuh gagang pedang itu, seluruh luka di tubuhnya sembuh seketika. Hawa dingin yang menyiksanya berganti dengan kehangatan yang luar biasa. Namun, di kejauhan, suara trompet perang Kekaisaran kembali terdengar.
"Mereka tidak memberiku waktu untuk bernapas," gumam Li Yuan sambil menyarungkan pedang kedua di punggungnya.
Dong Dong melompat ke pundaknya, matanya berbinar melihat pedang baru itu. "Setidaknya sekarang kau punya dua mainan keren, Li Yuan. Tapi sepertinya tim pembersih Kekaisaran sudah sampai."
Di ufuk barat, ribuan kavaleri udara Kekaisaran yang menunggangi burung elang raksasa mulai terlihat menembus kabut. Perburuan ini baru saja memasuki level yang jauh lebih berbahaya.