"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"
Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.
Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.
Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.
Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Negosiasi di Atas Kertas Bermaterai
"Beri satu alasan?" Hara mengulang pertanyaan itu dengan napas tertahan. Dia menatap pria yang masih mengukungnya di sofa klinik itu dengan tatapan tidak percaya. "Bapak benar-benar bertanya kenapa Bapak tidak boleh memenjarakan ibu dari anak-anak Bapak sendiri?"
"Anak-anakku," koreksi Cayvion dingin, tidak berniat menjauhkan wajahnya. "Dan ya, aku butuh alasan logis. Karena saat ini, yang aku lihat hanyalah seorang karyawan yang melakukan penipuan genetik selama empat tahun."
"Karena mereka butuh ibunya!" seru Hara, suaranya naik satu oktaf, membuat Elia yang sedang menempelkan stiker di ujung ruangan menoleh kaget. Hara buru-buru memelankan suaranya. "Pak, mereka bukan barang inventaris kantor yang bisa Bapak klaim begitu saja. Mereka manusia. Elia tidak bisa tidur kalau tidak saya usap punggungnya. Elio punya alergi kacang yang cuma saya yang hafal obatnya. Bapak pikir uang Bapak bisa menggantikan itu?"
"Uang bisa menyewa sepuluh pengasuh yang lebih kompeten darimu," balas Cayvion kejam.
"Oh ya?" Hara menantang, matanya kini berkilat marah. Rasa takutnya menguap digantikan adrenalin seorang ibu. "Bapak lupa? Lima menit yang lalu Bapak bahkan tidak becus membujuk Elia buka mulut. Bapak pikir pengasuh bayaran bisa sabar menghadapi Elio yang bakal mengacak-acak kamar tidurnya kalau dia tidak suka sama pengasuhnya?"
Cayvion terdiam. Kata-kata itu menohok ulu hatinya. Bayangan Elio yang mematikan listrik kantor dengan wajah datar kembali berputar di kepalanya.
Sebelum Cayvion sempat membalas, layar televisi LED 60 inci yang menggantung di dinding ruang tunggu klinik menyala otomatis. Breaking news dengan suara dentuman musik dramatis memenuhi ruangan, memecah ketegangan di antara mereka.
"Kita beralih ke berita ekonomi. Saham Alger Corp dilaporkan terjun bebas pagi ini setelah insiden putusnya koneksi dalam negosiasi vital dengan investor Eropa."
Cayvion langsung menegakkan tubuh, matanya terpaku ke layar. Hara yang terbebas dari kukungan langsung bergeser menjauh, merapikan blazernya yang kusut.
Di layar, grafik garis merah menukik tajam ke bawah seperti perosotan taman kanak-kanak. Wajah presenter berita terlihat serius.
"Rumor beredar bahwa CEO Cayvion Alger mengalami gangguan stabilitas mental dan membatalkan rapat secara sepihak. Para pemegang saham mulai panik, mempertanyakan apakah raksasa teknologi ini masih memiliki masa depan tanpa adanya rencana suksesi atau pewaris yang jelas. Tagar #AlgerCrisis kini menjadi trending topik nomor satu."
Wajah Cayvion memucat. Rahangnya mengeras sampai urat lehernya terlihat.
Gangguan mental? Mereka bilang dia gila cuma karena listrik mati?
Ini bencana. Ini lebih buruk dari sekadar kehilangan satu kesepakatan. Ini soal kepercayaan publik.
"Bapak lihat?" suara Hara terdengar pelan, tapi tajam. Dia sudah kembali ke mode profesional. Mode di mana dia bukan lagi ibu yang panik, melainkan asisten yang tahu segala seluk-beluk perusahaan. "Mereka tidak butuh klarifikasi teknis. Mereka butuh kepastian. Mereka butuh figur yang stabil."
Cayvion menoleh pelan, menatap Hara dengan tatapan membunuh. "Ini semua gara-gara anakmu menarik kabel itu."
"Anak kita," koreksi Hara cepat. Dia berdiri, mengambil langkah berani mendekati bosnya yang sedang di ambang kehancuran itu. "Pak, dengarkan saya. Bapak bisa saja menuntut saya, menyeret saya ke pengadilan, dan mengambil hak asuh. Tapi pikirkan dampaknya. Skandal CEO menghamili asisten lalu memenjarakannya? Saham Bapak bukan cuma turun, tapi bakal dihapus dari bursa. Bapak akan dicap sebagai monster."
"Lalu kau mau aku diam saja?" desis Cayvion.
"Tidak. Kita main cantik," Hara melipat tangan di dada. Otaknya berputar cepat mencari celah. Ini satu-satunya jalan menyelamatkan anak-anaknya sekaligus menyelamatkan karirnya.
"Bapak butuh imej baru. Berita bilang Bapak tidak punya pewaris dan mental tidak stabil. Bapak butuh branding sebagai 'Family Man'. Pria berkeluarga dianggap lebih stabil dan dapat dipercaya oleh investor tua."
Cayvion menyipitkan mata. "Ke mana arah bicaramu?"
"Kita menikah," ucap Hara tegas, tanpa keraguan sedikit pun.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu. Elia menjatuhkan stikernya. Elio yang sejak tadi diam memperhatikan grafik saham di TV, kini menoleh ke arah ibunya.
"Menikah?" ulang Cayvion, seolah kata itu adalah bahasa asing yang tidak dia mengerti. "Kau... mengajakku menikah?"
"Nikah bisnis, Pak. Bukan nikah ala drama Korea," jelas Hara cepat, tidak mau bosnya salah paham alias kegeeran. "Ini win-win solution. Bapak dapat imej suami dan ayah yang sempurna. Saham naik karena Bapak tiba-tiba punya dua pewaris jenius. Isu gangguan mental hilang karena ternyata Bapak cuma sedang sibuk mengurus keluarga rahasia Bapak."
Hara mengambil napas, lalu melanjutkan penawarannya. "Dan sebagai gantinya, saya dapat jaminan. Saya tetap jadi ibu mereka. Bapak biayai sekolah Elio yang mahal itu, asuransi Elia, dan jangan pernah pisahkan saya dari mereka. Bapak dapat saham aman, saya dapat anak aman."
Cayvion menatap wanita di depannya dengan pandangan baru. Selama lima tahun, dia pikir Hara hanya asisten yang efisien, robot cantik yang bisa mengetik 100 kata per menit. Dia tidak tahu wanita ini punya nyali untuk memerasnya secara legal tepat di mukanya.
"Menikah dengan asistenku sendiri?" Cayvion mendengus, egonya masih memberontak. Dia, Cayvion Alger, bujangan paling diincar di benua ini, harus menikah dadakan dengan karyawannya karena terdesak? "Apa kata dunia nanti? Standarku turun?"
"Om kelamaan mikir," sebuah suara datar memotong ego Cayvion.
Cayvion menunduk. Elio sudah berdiri di samping kakinya, menunjuk layar TV dengan telunjuk kecilnya.
"Itu garis merahnya turun terus lho, Om," kata Elio santai, seolah sedang mengomentari skor game. "Kalau sampai ke bawah banget, artinya nol kan? Kalau nol, berarti uang Om habis. Om jadi miskin."
Elio mendongak, menatap bapak biologisnya dengan tatapan meremehkan yang sangat familiar—tatapan yang sering Cayvion pakai ke bawahannya.
"Kalau Om miskin, siapa yang mau beli susu Elia? Mami gajinya kecil. Ambil tawaran Mami aja deh, Om. Daripada Om tidur di kolong jembatan. Katanya di sana nggak ada Wi-Fi."
Mulut Cayvion terbuka sedikit, tapi tidak ada suara yang keluar. Dia baru saja di skakmat oleh bocah empat tahun.
Bocah yang wajahnya adalah cerminan dirinya sendiri. Sialan, anak ini benar. Logikanya tidak bercelah.
Cayvion melihat ke layar lagi. Saham turun 12 persen dalam sepuluh menit. Telepon di saku jasnya mulai bergetar gila-gilaan, pasti dari dewan direksi yang mengamuk.
Dia tidak punya waktu untuk gengsi. Dia tidak punya waktu untuk seleksi calon istri dari kalangan sosialita yang ribet. Dia butuh solusi sekarang. Dan solusi itu berdiri di depannya, memakai blazer murah dan rok pensil, dengan tatapan menantang.
Cayvion merogoh saku, mengeluarkan ponselnya yang terus bergetar. Dia tidak mengangkat panggilan direksi, melainkan menekan nomor panggilan cepat nomor satu.
"Halo, Tuan Alger?" suara pengacara pribadinya terdengar di seberang.
"Siapkan berkas," perintah Cayvion tanpa basa-basi, matanya tidak lepas dari wajah Hara. "Berkas pernikahan. Dan perjanjian pra-nikah. Bawa ke kantor catatan sipil besok pagi jam delapan. Sekalian pastikan ada petugas yang bisa nikahin orang di sana. Kosongkan jadwal."
"Eh? Maaf, Pak? Pernikahan siapa?" Pengacara itu terdengar bingung, mungkin mengira bosnya salah sambung.
"Pernikahanku," jawab Cayvion datar. "Aku menikah besok pagi. Tanpa pesta. Tanpa media. Pastikan legalitasnya sah di mata hukum dan agama. Dan siapkan juga surat pengakuan anak. Aku punya dua pewaris yang harus didaftarkan ke aset perusahaan."
"Ta-tapi Pak, siapa calonnya?"
"Kau kenal dia. Hara. Asistenku."
Cayvion mematikan telepon sepihak. Dia memasukkan ponselnya kembali ke saku, lalu melangkah mendekati Hara. Jarak mereka hanya tinggal satu jengkal.
"Deal," kata Cayvion. Suaranya bukan suara pria yang sedang melamar, tapi suara pebisnis yang baru saja menutup transaksi merger. "Besok pagi kau jadi Nyonya Alger. Tapi ingat satu hal, Hara..."
Cayvion membungkuk sedikit, mensejajarkan wajahnya dengan Hara.
"Ini hanya di atas kertas. Jangan berharap aku akan bersikap manis seperti suami sungguhan. Di kantor kau tetap asisten, di rumah kau hanya pengasuh anak-anakku yang kebetulan punya cincin kawin. Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena aku tidak punya waktu untuk drama romansa murahan."
Hara tersenyum tipis, senyum yang sama dinginnya. "Tenang saja, Pak. Tipe ideal saya itu dokter yang hangat dan murah senyum, bukan kulkas berjalan seperti Bapak. Saya lakukan ini demi anak-anak, bukan demi Bapak."
"Bagus," Cayvion menegakkan tubuh, lalu menoleh ke arah si kembar. "Ayo. Kita keluar dari sini. Supirku akan mengantar kalian pulang untuk kemasi barang. Mulai besok, apartemen sempit itu tinggal kenangan."
Elia langsung melompat turun dari kursi. "Asyik! Kita mau pindah ke istana Om Monster ya?"
"Papa," koreksi Cayvion kaku, telinganya sedikit memerah. "Mulai sekarang panggil aku Papa. Itu bagian dari kontrak."
"Oke, Papa Monster!" seru Elia girang, lalu berlari memeluk kaki Hara.
Cayvion memijat pelipisnya lagi. Dia merasa keputusannya ini mungkin akan menyelamatkan saham perusahaan, tapi pasti akan membunuh sel-sel otaknya perlahan. Dia menatap Hara dan dua bocah itu berjalan keluar klinik.
Satu tanda tangan besok pagi, dan hidupnya yang tenang, rapi, dan teratur akan resmi berakhir.
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri