Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Menara Pengawas Industri
BAB 27: Menara Pengawas Industri
Januari 2026 menjadi bulan yang paling menentukan dalam sejarah hidup Nayla. Di sebuah kawasan industri hijau di pinggiran Jawa Barat, sebuah bangunan megah dengan cat putih bersih dan panel surya yang berkilau di atapnya berdiri kokoh. Di gerbang utamanya, logo matahari berwarna emas menyambut siapa saja yang lewat. Inilah Pabrik Matahari Terbit, mimpi yang setahun lalu bahkan tak berani Nayla bisikkan di dalam tidurnya.
Nayla berdiri di balkon lantai dua ruang kantornya yang baru, memandang ke arah ruang produksi di bawah melalui dinding kaca besar. Pemandangannya jauh berbeda dengan ruko sempit dulu. Di bawah sana, ban berjalan sepanjang lima puluh meter bergerak sinkron. Ratusan kilo bakso ikan yang sudah diiris tipis secara otomatis masuk ke dalam mesin penggorengan suhu tinggi, keluar dalam kondisi renyah sempurna, lalu bergerak menuju bagian pengemasan otomatis.
"Nay, laporan hari pertama produksi pabrik sudah keluar," ujar Ranti, yang kini menjabat sebagai Manajer Operasional dengan seragam kemeja rapi. "Efisiensi kita meningkat empat ratus persen. Kita bisa memenuhi kontrak Dubai dalam waktu tiga hari kerja saja per minggu."
Nayla tidak langsung tersenyum. Ia melihat ke arah barisan pekerja di bawah. Sebagian besar adalah Ibu-ibu dari kampung lamanya yang kini mengenakan seragam pabrik lengkap dengan masker, penutup kepala, dan sarung tangan medis. Meskipun teknologi sudah mengambil alih tenaga kasar, Nayla tetap menempatkan mereka di bagian Quality Control akhir. Mata dan tangan manusia tetap menjadi penentu kualitas "rasa matahari".
"Efisiensi itu bagus, Ran. Tapi pastikan limbah kita terolah sempurna di tangki IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) yang baru. Di tahun 2026, satu kesalahan lingkungan bisa mencabut izin ekspor kita dalam semalam," pesan Nayla tegas.
Namun, ketenangan Nayla terusik saat Kevin, perwakilan dari Ventura Capital yang dulu pernah ia tolak, kembali datang. Kali ini ia tidak datang sendirian. Ia membawa kabar bahwa sebuah raksasa kuliner dari Tiongkok, Global Taste Corp, baru saja meluncurkan produk tiruan basreng dengan harga yang jauh lebih murah dan distribusi yang merambah ke pasar Timur Tengah, tempat Nayla baru saja menandatangani kontrak.
"Mereka menggunakan teknik dumping, Mbak Nayla. Mereka menjual rugi di Dubai hanya untuk mematikan pasar Anda sebelum Anda benar-benar mendarat di sana," Kevin memperingatkan sambil menyerahkan data intelijen pasar. "Tanpa suntikan dana besar untuk kampanye pemasaran global, Basreng Matahari akan tenggelam oleh volume mereka."
Nayla terdiam menatap data tersebut. Perang ini bukan lagi soal rasa, tapi soal adu kuat modal dan logistik. Ia merasa seperti kancil yang sedang dikelilingi oleh sekumpulan serigala lapar di hutan internasional.
"Terima kasih informasinya, Mas Kevin. Tapi saya tidak akan menjual saham saya sekarang. Kita akan lawan mereka dengan cara yang tidak mereka punya: Autentisitas," ujar Nayla tenang.
Malam harinya, di kantornya yang masih berbau cat baru, Nayla melakukan siaran langsung di media sosial pribadinya. Ia tidak sedang mempromosikan produk, tapi ia menunjukkan wajah-wajah pekerjanya. Ia menceritakan tentang Mak Sumi yang kini bisa menyekolahkan cucunya, tentang sistem panel surya yang membuat pabriknya bebas emisi karbon, dan tentang bagaimana setiap keping basreng itu membawa doa dari sebuah desa kecil di Indonesia.
"Dunia mungkin bisa membuat produk yang serupa dengan mesin mereka yang lebih besar. Tapi mereka tidak bisa membuat cerita di balik setiap kepingannya. Pilih produk yang menghidupi manusia, bukan hanya memperkaya korporasi," ucap Nayla di depan jutaan penontonnya.
Kampanye #MatahariMovement meledak. konsumen global sangat peduli dengan isu etika dan lingkungan. Dukungan dari Melbourne hingga Dubai mengalir deras. Mereka menyatakan lebih baik membayar sedikit lebih mahal untuk produk yang jelas asal-usulnya dan memberikan dampak sosial nyata.
Nayla menutup laptopnya pukul dua belas malam. Ia berjalan mengelilingi pabriknya yang kini sepi, hanya terdengar suara detak mesin yang sedang dalam mode siaga. Ia berhenti di depan foto besar almarhum kakeknya yang dulu memberikan resep pertama itu.
"Kita belum kalah, Kek. Kita baru saja mulai," bisiknya.
"Menjadi besar bukan berarti menjadi sombong. Pabrik ini adalah tanggung jawab, bukan sekadar trofi. Saat raksasa mencoba meniup cahayamu, jangan balas dengan api yang sama. Balaslah dengan tetap menjadi matahari yang tulus. Karena pada akhirnya, orang akan selalu mencari kehangatan yang asli di tengah dunia yang semakin dingin oleh persaingan mesin. Takdirku kini bukan lagi soal uang, tapi soal menjaga harapan ribuan orang yang ada di balik punggungku."
Nayla mematikan lampu kantornya. Esok pagi, ia harus memimpin rapat koordinasi pengiriman kontainer ketiga ke Dubai.