Arlan butuh bantuan buat menertibkan arsip OSIS yang berantakan demi akreditasi sekolah. Ghea, yang butuh poin tambahan karena nilai fisikanya terjun bebas, terpaksa jadi "asisten" Arlan. Masalahnya, Arlan itu disiplin tingkat dewa, sementara Ghea adalah ratu rebahan. Di antara tumpukan kertas dan debat kusir, ada rasa yang mulai tumbuh, tapi terhalang sama masa lalu Arlan yang belum selesai.
Tokoh Utama:
Arlan: Ganteng sih, tapi aslinya clueless soal perasaan. Ketua OSIS yang sok sibuk padahal sering stres sendiri.
Ghea: Cewek yang hidupnya santai banget, hobi tidur di perpustakaan, dan punya prinsip "hidup itu jangan dibawa susah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fisika, Harga Diri, dan Pintu Keramat
Dunia Ghea hancur bukan karena meteor jatuh atau alien menyerang Bekasi, tapi karena selembar kertas ukuran A4 yang ditaruh Pak Broto di atas meja dengan kecepatan gravitasi yang maksimal. Di sana, tertulis angka yang lebih mirip ukuran sepatu balita daripada nilai ujian nasional: 45.
"Ghea," suara Pak Broto berat, seberat beban hidup yang sedang Ghea pikul. "Bapak tahu kamu itu anaknya ceria, enerjik, dan hobi banget menghias buku catatan pakai stiker kucing. Tapi, Fisika itu ilmu pasti, Ghe. Bukan ilmu mengarang bebas atau curhat di sela-sela jawaban."
Ghea meringis, mencoba memberikan senyum terbaiknya—yang lebih mirip orang lagi nahan sakit gigi. "Pak, kalau angka 45 itu dibalik kan jadi 54, terus ditambah 20 dikit, bisa jadi KKM kan, Pak?"
Pak Broto melepas kacamatanya, memijat pangkal hidung. "Itu bukan Fisika, Ghea. Itu ilmu maksa. Begini saja, kalau kamu mau nilai perbaikan tanpa harus ikut ujian susulan yang soalnya bakal bikin kamu nangis di pojokan, Bapak punya satu tugas buat kamu."
Ghea langsung tegak. "Apapun, Pak! Asal jangan disuruh ngitung berapa kecepatan cahaya kalau lampu bohlam di rumah saya mati sebelah."
"Kamu tahu ruang arsip OSIS di lantai tiga yang pojok itu?" tanya Pak Broto.
Ghea mengangguk ragu. Lantai tiga pojok itu terkenal sebagai 'segitiga bermuda' sekolah. Jarang ada yang ke sana kecuali kalau mau uji nyali atau sembunyi dari razia rambut.
"Arsip di sana berantakan sejak zaman sekolah ini berdiri. Akreditasi sekolah sebentar lagi, dan saya butuh seseorang buat bantu Arlan, Ketua OSIS kita, buat ngerapiin itu semua. Kalau Arlan kasih laporan ke saya kalau kerjaan kamu bagus, saya kasih kamu nilai 75."
Tujuh puluh lima! Itu angka keramat yang bisa menyelamatkan Ghea dari omelan maut bundanya di rumah. Tapi, ada satu kata yang mengganjal. "Tunggu, Pak. Tadi Bapak bilang siapa? Arlan?"
"Iya, Arlan. Kenapa? Kamu keberatan?"
Ghea menelan ludah. Siapa yang nggak tahu Arlan? Arlan Pradipta. Cowok yang kalau jalan lurus banget, kalau ngomong pendek banget, dan kalau natap orang dingin banget sampai bisa bikin es cendol beku seketika. Arlan itu definisi "Manusia Formalin"—awet gantengnya tapi kaku luar biasa.
"Nggak kok, Pak. Siap! Saya berangkat sekarang!" seru Ghea, meskipun dalam hati dia merasa seperti sedang berjalan menuju kandang singa yang lagi sariawan.
Ghea berjalan menyusuri koridor lantai tiga. Suasana makin sepi, hanya terdengar suara decit sepatunya di lantai ubin. Begitu sampai di depan pintu kayu yang warnanya sudah mulai kusam, dia berhenti. Ada papan nama kecil di sana: RUANG ARSIP & DOKUMENTASI OSIS.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk." Suara dari dalam terdengar datar, kering, dan sangat tidak bersahabat.
Ghea membuka pintu. Bau kertas tua dan debu langsung menyerang hidungnya. Hatchi! Ghea bersin dengan suara yang sangat tidak estetik.
"Tutup pintunya. Debu koridor jangan ditambahin ke sini," ucap cowok yang duduk di balik meja kayu besar.
Arlan. Dia bahkan nggak mendongak. Tangannya lincah mengetik di laptop, sementara di sekelilingnya, tumpukan map disusun berdasarkan gradasi warna pelangi. Ghea curiga kalau Arlan bahkan menyusun butiran nasi di piringnya berdasarkan ukuran mikronnya.
"Halo, Arlan. Gue Ghea, yang diutus Pak Broto buat jadi... asisten lo?" kata Ghea sambil mendekat, mencoba mencairkan suasana.
Arlan berhenti mengetik. Dia mendongak, menatap Ghea dari balik kacamata tipisnya. Tatapannya itu lho, kayak lagi men-scan virus di flashdisk. "Ghea. Kelas 11-IPA-4. Nilai Fisika 45, sejarah sering remedial, dan pernah dapet poin pelanggaran karena telat tiga kali dalam seminggu."
Ghea melongo. "Gila, lo Ketua OSIS apa admin Lambe Turah sekolah? Kok data gue lengkap banget?"
"Gue baca biodata lo di grup koordinasi guru-murid sebelum lo ke sini," jawab Arlan santai. Dia berdiri, tingginya bikin Ghea harus agak mendongak. "Denger, Ghea. Gue nggak butuh asisten yang cuma mau numpang duduk atau main TikTok di sini. Tugas lo simpel: pilah dokumen berdasarkan tahun, masukin ke binder sesuai kategori, terus ketik judulnya di Excel. Bisa?"
Ghea melihat tumpukan kardus di pojok ruangan yang tingginya hampir menyentuh langit-langit. "Semua itu?"
"Semua itu," ulang Arlan tanpa ampun. "Dan kalau bisa, jangan berisik. Gue butuh fokus."
Ghea mendengus pelan. Dia berjalan menuju tumpukan kardus itu dengan langkah gontai. Pas dia buka kardus pertama, debunya langsung bikin Ghea pengen pakai masker oksigen sekalian. Di dalamnya ada banyak kertas, foto lama, sampai atribut sekolah zaman dulu.
"Ar, ini ada foto kakak kelas zaman dulu, rambutnya masih model mangkok semua," celetuk Ghea sambil mengangkat sebuah foto. "Eh, liat deh, ini ada yang mirip lo, tapi versi lebih... manusiawi."
Arlan tidak menoleh. "Fokus, Ghea."
"Ya elah, kaku amat sih. Lo itu kalau di luar sekolah juga gini? Kalau mesen seblak gimana? 'Bang, tolong buatkan seblak dengan kadar kerupuk dua puluh persen, tingkat kepedasan skala empat Richter, dan pastikan sosisnya dipotong diagonal tiga puluh derajat'?"
Arlan menghentikan gerakan jemarinya di atas keyboard. Dia menarik napas panjang, seolah sedang melatih kesabaran tingkat dewa. "Ghea, kalau lo lebih banyak ngomong daripada kerja, nilai 75 lo itu bakal gue ganti jadi angka nol yang bulet banget kayak bakso."
Ghea langsung bungkam. Dia membuat gerakan mengunci mulut dan membuang kuncinya ke udara. Oke, robot ini nggak bisa diajak bercanda sekarang.
Selama satu jam berikutnya, hanya terdengar suara kertas yang dibalik dan ketikan laptop Arlan. Ghea mulai merasa bosan setengah mati. Dia mulai memilah foto-foto dokumentasi pensi sekolah sepuluh tahun lalu. Tiba-tiba, matanya tertuju pada sebuah amplop merah muda yang nyelip di antara laporan pertanggungjawaban dana kantin.
"Wih, surat cinta!" gumam Ghea pelan. Dia melirik Arlan. Robot itu masih sibuk. Ghea dengan perlahan membuka amplop itu.
Dear Kakak Ketua OSIS yang matanya kayak bintang di langit...
Ghea hampir saja tertawa ngakak. Bintang di langit? Matanya Arlan mah kayak lampu jalanan yang mau mati, redup dan dingin, batinnya. Dia lanjut membaca dengan suara bisikan yang cukup keras. "...aku setiap hari nungguin Kakak di depan gerbang cuma buat liat Kakak jalan masuk sekolah sambil bawa buku tebal. Kakak itu puisi yang belum sempat aku tulis..."
"Ghea. Balikin."
Ghea tersentak. Arlan sudah berdiri di depannya. Sejak kapan dia jalan ke sini? Nggak ada suaranya sama sekali!
"Eh, ini... cuma surat lama, Ar. Seru banget ternyata baca curhatan orang zaman dulu," kata Ghea sambil cengengesan, mencoba menyembunyikan surat itu di balik punggungnya.
"Itu dokumen sekolah, meskipun isinya sampah," kata Arlan, tangannya terjulur meminta surat itu. "Dan lo dilarang baca barang pribadi atau dokumen yang nggak ada hubungannya sama tugas lo."
"Tuh kan, baper lagi. Lagian siapa sih yang nulis? Kayaknya fans berat Ketua OSIS zaman dulu deh," Ghea menyerahkan surat itu.
Tapi saat tangan mereka bersentuhan sebentar pas lagi serah terima surat, Ghea merasa tangan Arlan dingin banget. Kayak orang habis megang es batu. Dan dia menyadari sesuatu, mata Arlan nggak se-robot itu. Ada kilat kelelahan di sana. Di bawah matanya ada lingkaran hitam tipis yang ditutupi kacamata.
"Lo... udah makan?" tanya Ghea tiba-tiba. Suaranya nggak bercanda lagi.
Arlan mengernyit. "Bukan urusan lo."
"Ya urusan gue lah. Kalau lo pingsan di sini pas lagi ngetik, terus gue yang dituduh ngapa-ngapain lo gimana? Nanti beritanya jadi 'Ketua OSIS pingsan akibat radiasi keceriaan Ghea'. Bisa viral gue," cerocos Ghea.
Arlan terdiam sejenak. Dia membetulkan letak kacamatanya. "Gue nggak laper. Selesaiin kardus pertama itu sebelum bel pulang, atau lo nggak usah datang besok."
Arlan kembali ke mejanya, meninggalkan Ghea yang masih berdiri mematung. Ghea menghela napas. Dia kembali duduk di depan kardus, tapi kali ini pikirannya nggak ke angka 45 lagi. Dia mikir, di balik sikap kaku Arlan yang kayak manekin toko baju, pasti ada sesuatu yang bikin dia jadi ambisius dan serius banget kayak gitu.
"Oke, Robot Arlan," gumam Ghea pelan sambil mulai menyortir kertas lagi. "Kita liat seberapa lama lo bisa bertahan dari gangguan gue. Karena Ghea nggak akan nyerah cuma gara-gara tatapan dingin lo."
Sore itu, di ruang arsip yang berdebu, dimulailah sebuah misi yang lebih susah dari ujian Fisika manapun: misi meruntuhkan tembok es milik Arlan Pradipta.