Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 Cinta yang Melindungi
Setelah rapat selesai sekitar pukul tiga sore, Sultan langsung pulang ke rumah. Namun sebelum memasuki pintu depan, dia melihat mobil ayahnya, Haji Mansur, sudah berada di halaman. Mobil putih yang selalu terawat dengan baik menunjukkan bahwa ayahnya telah datang beberapa saat yang lalu. Sultan menghela nafas lega – ayahnya selalu datang tanpa pemberitahuan sebelumnya, namun setiap kunjungannya selalu membawa kehangatan dan nasihat berharga.
“Saya sudah tunggu kamu dari setengah jam yang lalu, nak,” ujar Haji Mansur dengan suara dalam namun penuh kasih ketika Sultan mendekatinya. Pria berusia hampir tujuh puluh tahun itu masih berdiri tegap, mengenakan baju koko warna coklat tua dengan sarung batik hitam. Wajahnya yang keriput menunjukkan pengalaman hidup yang panjang, namun matanya tetap tajam dan penuh perhatian. “Alya bilang kamu sedang ada rapat penting, jadi saya tidak mau mengganggumu.”
Sultan segera mendekati ayahnya dan memberikan pelukan hangat. “Maafkan saya, Bapak,” jawabnya dengan senyum. “Rapatnya memang agak panjang hari ini. Bagaimana kabarmu, Bapak? Sudah makan belum?”
Haji Mansur mengangguk dan menunjuk ke arah teras rumah. “Alya sudah menyajikan makanan untuk saya. Dia sedang memasak sup kacang merah yang kamu suka di dapur. Anak perempuan kita itu semakin pandai memasak ya, nak. Saya sangat bersyukur kamu memiliki istri yang baik seperti dia.”
Saat mereka memasuki rumah, Alya segera muncul dari dapur dengan tangan yang membawa mangkuk sup hangat. Perutnya yang mulai membesar membuat gerakannya sedikit lebih lambat, namun wajahnya tetap terpancar senyum hangat ketika melihat suaminya dan mertuanya.
“Hai sayang, selamat datang kembali,” ujar Alya dengan suara lembut, mencium pipi Sultan sebelum memberikan mangkuk sup kepada ayah mertuanya. “Saya sudah tahu Bapak suka sup kacang merah dengan sedikit jahe, jadi saya tambahkan saja.”
Haji Mansur mengambil mangkuk dengan hati-hati dan mencium aroma yang menggugah selera. “Betapa manisnya makanan yang dibuat dengan cinta, Alya,” ujarnya dengan senyum hangat. “Kamu adalah anugerah bagi keluarga kita. Saya selalu berdoa agar kamu dan bayi kita selalu sehat dan bahagia.”
Alya merasa wajahnya sedikit memerah karena senang. Dia segera duduk di sebelah Haji Mansur, sementara Sultan mengambil kursi di sisi lain meja makan. Mereka mulai makan sambil berbincang santai tentang kegiatan sehari-hari, hingga akhirnya Haji Mansur melihat langsung ke mata putranya dengan ekspresi yang lebih serius.
“Saya melihatmu bertemu dengan seorang wanita di gedung kantor tadi, nak,” ujarnya dengan suara yang tenang namun jelas. “Saya tidak sengaja melihatnya, namun saya bisa merasakan bahwa dia memiliki minat yang lebih dari sekadar bisnis terhadapmu.”
Sultan sedikit terkejut, namun segera mengangguk. Dia tahu bahwa ayahnya selalu memiliki rasa persepsi yang tajam tentang orang-orang di sekitarnya. “Itu benar, Bapak,” jawabnya dengan kejujuran. “Dia adalah Rina Wijaya dari PT. Citra Kreatif Indonesia. Dia ingin bekerja sama dalam program pengembangan industri kreatif, namun dia juga menunjukkan minat yang lebih pada saya secara pribadi.”
Haji Mansur menghela napas perlahan dan menempatkan sendoknya di atas piring. “Saya tahu bahwa kamu adalah orang yang baik dan sukses, nak,” ujarnya dengan nada yang penuh kasih dan perhatian. “Banyak orang akan tertarik denganmu, baik karena karirmu maupun karena pribadimu yang baik hati. Namun kamu harus selalu ingat bahwa keluarga adalah segalanya.”
Dia kemudian melihat ke arah Alya, yang sedang mendengarkan dengan penuh perhatian. “Alya adalah wanita yang luar biasa, nak. Dia telah memilih untuk hidup bersama kamu, mendukung semua impianmu, dan siap menjalani segala cobaan denganmu. Sebagai ayahmu, saya sangat sayang padamu dan saya tidak ingin melihat kamu membuat kesalahan yang bisa menyakiti hati perempuan yang mencintaimu dengan sepenuh hati.”
“Saya tahu, Bapak,” jawab Sultan dengan suara yang penuh tekad. “Saya sudah menyampaikan dengan jelas kepada Bu Rina bahwa saya sudah memiliki keluarga yang saya cintai. Saya tidak akan pernah melakukan apa pun yang bisa menyakiti Alya atau membahayakan hubungan kita. Semua yang saya lakukan, saya lakukan untuk kesejahteraan keluarga kita.”
Haji Mansur mengangguk dengan puas. Dia kemudian mengambil tangan Alya dengan lembut dan membelai perutnya yang mulai membesar. “Kamu harus selalu menjaga dirimu dengan baik, anakku,” ujarnya kepada Alya dengan suara yang penuh kasih. “Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan atau kamu merasa khawatir tentang apa pun, jangan sungkan untuk memberitahu saya atau Sultan. Saya akan selalu ada untukmu, seperti saya selalu ada untuk putra saya.”
Alya merasa mata sedikit berkaca-kaca karena emosi. Dia mengangguk dan menyandarkan kepalanya pada bahu mertuanya. “Terima kasih banyak, Bapak,” ujarnya dengan suara yang bergetar sedikit. “Saya sangat bersyukur memiliki mertua yang sayang dan peduli seperti Anda. Saya tahu bahwa Sultan dan saya akan selalu mendapatkan dukungan dari Anda.”
Setelah makan malam selesai, mereka pindah ke ruang tamu yang dihiasi dengan furnitur kayu klasik dan lukisan-lukisan karya seniman lokal. Haji Mansur mulai bercerita tentang pengalaman mudanya ketika pertama kali membangun bisnisnya, bagaimana dia selalu menjaga integritas dan kesetiaan pada keluarga meskipun banyak godaan yang datang padanya.
“Pada masa muda saya juga pernah menghadapi situasi yang sama, nak,” ujarnya dengan senyum yang penuh kenangan. “Ada banyak wanita yang menunjukkan minat pada saya, namun saya selalu ingat bahwa ibumu adalah satu-satunya orang yang saya cintai dan yang selalu ada untuk saya dalam suka dan duka. Itu adalah dasar dari keberhasilan bisnis dan keluarga saya hingga saat ini.”
Sultan mendengarkan dengan penuh perhatian, mencatat setiap kata yang diucapkan ayahnya. Dia tahu bahwa nasihat yang diberikan ayahnya berasal dari pengalaman hidup yang nyata dan penuh makna. Alya juga ikut mendengarkan, terkadang mengangguk atau menambahkan komentar kecil yang menunjukkan bahwa dia memahami betul nilai-nilai yang diajarkan oleh mertuanya.
“Kita akan melakukan kerja sama dengan perusahaan miliknya, Bapak,” ujar Sultan setelah beberapa saat terdiam. “Namun saya akan memastikan bahwa semua hal berjalan dengan profesional dan dalam batasan yang jelas. Saya ingin fokus pada program yang bisa membantu banyak pelaku usaha kreatif lokal, seperti yang selalu kita impikan.”
Haji Mansur tersenyum dan menepuk bahu putranya dengan lembut. “Itu adalah sikap yang benar, nak,” jawabnya. “Kerja sama bisnis bisa membawa banyak manfaat, namun kita harus selalu menjaga batasan agar tidak ada yang terganggu dalam kehidupan kita. Keluarga harus selalu menjadi prioritas utama kita.”
Pada jam sembilan malam, Haji Mansur memutuskan untuk pulang. Sultan dan Alya mengantarnya hingga ke mobil, dengan Alya membawa makanan yang sudah dibungkus untuk ayah mertuanya. Sebelum masuk ke mobil, Haji Mansur kembali memeluk putranya dan mencium dahi Alya dengan penuh kasih.
“Jangan lupa untuk selalu berkomunikasi satu sama lain, ya,” ujarnya kepada keduanya. “Jangan pernah menyembunyikan sesuatu dari pasanganmu, karena kepercayaan adalah dasar dari hubungan yang kuat dan bahagia. Saya akan selalu berdoa untuk kalian berdua dan untuk bayi kita yang akan lahir segera.”
Setelah mobil ayahnya hilang di kejauhan, Sultan dan Alya masuk kembali ke rumah. Mereka duduk bersama di teras, menikmati udara sejuk malam dan melihat ke langit yang penuh bintang. Sultan mengambil tangan istri nya dan membelai perutnya dengan lembut.
“Kamu tidak merasa khawatir kan, sayang?” tanya Sultan dengan suara lembut. “Tentang apa yang terjadi hari ini dengan Bu Rina?”
Alya menggeleng dan memberikan senyum hangat. “Tidak, sayang,” jawabnya. “Saya tahu kamu mencintai saya dan saya mempercayaimu sepenuhnya. Selain itu, saya melihat bagaimana Bapak sangat sayang dan peduli dengan kita berdua. Itu membuat saya merasa lebih tenang dan yakin bahwa kita akan selalu bisa menghadapi segala hal bersama-sama.”
Sultan menarik istri nya lebih dekat ke pelukannya. Dia merasa sangat bersyukur memiliki keluarga yang penuh cinta dan dukungan, terutama ayahnya yang selalu ada untuk memberikan bimbingan dan perlindungan. Dia juga merasa semakin yakin dengan keputusannya untuk menjaga batasan dengan Rina, karena dia tahu bahwa hal itu adalah yang terbaik bagi dirinya, bagi Alya, dan bagi keluarga mereka yang akan datang.
Di langit malam yang tenang, bulan penuh bersinar terang, seolah menjadi saksi atas cinta yang kuat yang menghubungkan keluarga mereka dan janji untuk selalu saling melindungi satu sama lain. Sultan berjanji dalam hati bahwa dia akan selalu menjaga keluarga nya dengan sepenuh hati, dan akan bekerja keras untuk mewujudkan impian mereka bersama-sama dengan cara yang benar dan bermartabat.