Xavier Rey Lergan hidup dalam sangkar steril akibat dirinya yang mengidap Myshopobia, hingga orang tuanya nekat menjodohkannya dengan Nara, seorang single mom. Pernikahan ini menjadi medan tempur antara si perfeksionis dan wanita tangguh yang tak mau diatur.
"Nara, sudah kubilang jangan diletakkan di sini!" bentak Xavier saat melihat barang berserakan.
"Diam Tuan Bakteri! Ini kamarku, keluar! Kamu kan belok!" balas Nara sengit.
"Aku hanya anti bakteri, bukan anti wanita!" seru Xavier tak terima.
Di tengah pertikaian, hadir Raya seorang putri kecil Nara yang polos. "Papa Laya balu cekalang! Halusnya dali dulu mama cali Papa balu, kenapa balu cekalang? Papa lama, buang aja ke celokan!" ucapnya menggemaskan.
Akankah kesterilan Xavier runtuh oleh kehangatan keluarga kecil ini, ataukah perbedaan prinsip tentang kebersihan akan memisahkan mereka selamanya?
"Bagaimana bisa aku menikahimu, sementara aku tak suka bekas orang lain?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Melamar Putrimu
Nara menoleh, begitu juga dengan Raya yang langsung menghentikan rengekannya. Melihat kehadiran seorang dokter wanita paruh baya yang tampak sangat berwibawa namun ramah, Nara segera berdiri dan menyeka sudut matanya. Ia tersenyum paksa dan menyambut wanita itu.
"Mau periksa, Dok?" tanya Nara dengan nada sopan.
"Oh bukan, kebetulan saya Dokter Spesialis Kandungan di lantai atas, tapi saya ingin mampir menjenguk saja ke sini karena mendengar ada pasien kecil yang sangat cantik. Bagaimana? Putrinya sudah mau makan?" tanya wanita yang tak lain adalah Raisa. Ia telah sengaja mencari tahu letak kamar rawat anak dari Nara setelah mendapatkan informasi dari Xander.
"Belum, Dok. Dia sedang merajuk," balas Nara dengan senyuman penuh rasa kecewa pada dirinya sendiri sebagai ibu.
Raisa tersenyum tipis, matanya menatap lembut ke arah bocah menggemaskan di atas tempat tidur yang sedang menukikkan alisnya tajam ke arahnya, seolah sedang menilai siapa orang asing ini.
"Dokter punya hadiah yang sangat bagus kalau Raya mau makan sekarang," tawar Raisa dengan nada yang sangat persuasif.
"Hadiah? Laya mau Papa, nda mau mainan. Tapi kalau Cileng, bica di bicalakan," ucap Raya yang seketika membuat Raisa dan suster yang berjaga di depan pintu terkekeh geli karena kepolosan dan kecerdikan bocah itu.
"Raya ingin bertemu Papa? Nanti Dokter usahakan bawakan Papa yang sangat baik untuk Raya, tapi syaratnya Raya harus makan dulu yang banyak sampai habis, oke?" ucap Raisa dengan maksud terselubung. Mendengar itu, Nara langsung menatap Raisa dengan pandangan tidak setuju dan penuh beban.
"Dokter, mohon maaf ...," protes Nara dengan tatapan yang berat. Ia merasa janji itu akan menjadi bumerang baginya nanti.
Namun, Raisa hanya mengedipkan matanya dengan hangat sambil mengelus lembut punggung tangan Nara, memberikan isyarat agar wanita muda itu tenang. Raisa kemudian meraih piring bubur itu dan memanggil seorang suster.
"Tolong bantu suapi pasien kecil kita ini ya, pastikan habis satu porsi," titah Raisa dengan nada otoriter namun tetap lembut. Ia kemudian menarik Nara untuk duduk di sofa panjang yang ada di sudut ruangan dan meraih kedua tangan Nara untuk digenggamnya.
"Dokter, saya mohon jangan berjanji apa pun yang berkaitan dengan papanya kepada putri saya. Saya benar-benar tidak bisa membawa pria itu ke sini lagi. Dia sudah memiliki dunianya sendiri," ucap Nara dengan suara yang mulai bergetar dan air mata yang akhirnya luruh membasahi pipinya.
Raisa menatap Nara dengan tatapan yang penuh empati mendalam. "Boleh saya tahu sesuatu? Kenapa Papanya tidak bisa ke sini? Apakah dia sangat sibuk bekerja di luar kota ... atau dia sudah meninggal dunia?" tanya Raisa dengan kelembutan yang membuat Nara merasa ingin menumpahkan seluruh isi hatinya.
Nara menatap ke arah jendela, mencoba mencari kekuatan. "Jika dia sudah meninggal, mungkin saya bisa memberikan jawaban yang lebih kuat dan jujur untuk putri saya agar dia tidak terus berharap. Sayangnya, dia masih hidup, tapi dia lebih memilih wanita selingkuhannya dan anak dari hubungan gelap itu. Dia mengabaikan putri kandungnya sendiri dari pernikahan yang sah. Raya selalu menuntut cinta papanya setiap hari, tapi papanya tidak pernah mampu memberikan hal sederhana itu. Raya hanya ingin merasakan kehadiran seorang ayah, itu saja."
Raisa merasa d4danya ikut sesak mendengar cerita itu. Ia menyadari bahwa Nara adalah sosok wanita yang sangat tangguh, persis seperti yang dikatakan Xander. Ia bisa merasakan aura kekuatan sekaligus kerapuhan yang sangat besar di dalam diri wanita di depannya ini.
"Pria itu adalah sumber rasa sakit yang luar biasa bagi putrimu, Nara. Bagaimana bisa kamu sebagai seorang ibu selalu mencoba membawa putrimu kembali kepada sumber rasa sakit yang sama berulang kali?" ucap Raisa dengan nada bicara yang membuat Nara tertegun sejenak.
"Putrimu mungkin belum mengerti sekarang karena dia masih terlalu kecil. Tapi nanti, setelah dia tumbuh besar dan mengerti semuanya ... rasa sakitnya akan berkali-kali lipat terasa jauh lebih perih. Dia tidak hanya akan merasa dikhianati oleh ayahnya, tapi dia juga akan merasa tidak memiliki figur pelindung di sampingnya. Dunianya akan mengecil, dia pasti akan merasa hidup di sebuah ruangan yang sangat sempit dan kekurangan oksigen karena luka itu. Dari sekarang, kamu harus membawanya menjauh dari rasa sakit yang akan menghancurkan masa depannya."
Ucapan Raisa benar-benar menampar kesadaran Nara. Wanita itu terdiam cukup lama dalam kebisuannya, memikirkan setiap kata yang keluar dari mulut sang dokter.
"Lalu ... ba-bagaimana caranya saya melakukan itu? Sementara setiap hari dia selalu menanyakan dan mencari papanya, saya tidak punya jawaban lain," lirih Nara dengan penuh keputusasaan.
"Menikahlah lagi. Berikan dia figur seorang ayah yang benar-benar bisa mencintai dan melindunginya melalui sebuah pernikahan baru dengan pria yang lebih baik," ucap Raisa dengan tegas namun penuh harapan. Kalimat itu seketika membuat tubuh Nara menegang. Ia menarik tangannya dari genggaman Raisa, menggelengkan kepalanya dengan cepat sebagai tanda penolakan yang sangat kuat.
Bagaimana mungkin ia bisa menikah lagi dalam waktu dekat sementara luka dari kegagalan pernikahan pertamanya masih meng4nga sangat lebar? Ketakutan akan pengkhianatan yang sama mulai menguasai dirinya lagi. Ia merasa tidak akan sanggup memaksakan dirinya untuk masuk ke dalam komitmen pernikahan yang baru saat ini.
.
.
.
.
Di tempat yang berbeda, Xander Lergan sedang tersenyum puas setelah mendapatkan pesan singkat dari istrinya yang menyatakan bahwa Raisa setuju dengan rencana besarnya. Kini, ia telah sampai di depan gedung perusahaan Asga Skincare. Ia telah membuat janji temu dengan Angkasa Rodriguez untuk mendiskusikan hal yang sangat penting. Dengan penuh percaya diri, ia melangkah masuk ke dalam gedung tersebut.
"Tuan Angkasa!" seru Xander dengan suara lantang ketika melihat Angkasa sedang berjalan keluar dari lift bersama beberapa karyawannya.
"Tuan Xander?" Angkasa menyapa dengan ekspresi terkejut sekaligus senang. Keduanya pun segera bersalaman dan saling berpelukan singkat sebagai sesama pengusaha yang sudah saling mengenal cukup lama.
"Bagaimana kabarmu hari ini, kawan?" tanya Xander ramah.
"Baik, meski sedikit lelah dengan urusan kantor. Mau mengobrol di mana? Kafe di bawah atau lebih nyaman di ruangan saya saja?"
"Ruanganmu saja, jangan terlalu formal begitu. Kita ini kan sudah berteman bagaikan kepompong, bukan?" ucap Xander yang seketika membuat Angkasa tertawa renyah mendengarnya. Ia kemudian mengajak Xander masuk ke dalam ruang kerjanya yang luas dan mewah.
Xander duduk dengan santai di sofa kulit berwarna cokelat tua. Ia disuguhi kopi hitam hangat yang aromanya sangat nikmat, berpadu dengan wangi lavender dari pengharum ruangan yang membuatnya merasa tenang. Di dalam ruangan itu, kini hanya ada mereka berdua untuk mengobrol sejenak secara pribadi.
"Apakah Tuan Xander datang ke sini ingin membicarakan soal peluang bisnis baru atau kerja sama investasi?" tanya Angkasa sambil menyeruput kopinya secara perlahan, mencoba menebak maksud kedatangan pria paruh baya itu.
"Aah bukan soal itu, sebenarnya aku ke sini ingin membahas hal yang jauh lebih dalam dan bersifat pribadi," jawab Xander dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah menjadi sangat serius.
"Oh ya? Hal penting apa itu?" tanya Angkasa. Ia bersiap meletakkan cangkir kopinya kembali ke atas tatakan meja di depannya.
"Aku datang ke sini dengan niat baik, aku ingin melamar putrimu," ucap Xander tanpa basa-basi.
Tak!
Suara cangkir yang membentur meja terdengar cukup keras karena tangan Angkasa yang gemetar akibat terkejut. Perkataan Xander benar-benar bagaikan petir di siang bolong baginya. Matanya membulat sempurna, ekspresinya menunjukkan rasa syok yang luar biasa.
"Anda ... Anda ingin melamar putri saya untuk menjadi istri Anda? Apa Anda tidak sadar dengan umur Anda sendiri, Tuan Xander?!" tanya Angkasa dengan nada suara yang meninggi, ia merasa tersinggung karena mengira Xander yang ingin menikahi Nara.
"Eh?"
_______________
Triple sekaliaaaan😍
Kalau bisa nanti malam lagi😆
Yakin kamu akan bertahan hanya 3 bulan Vier??
mksh kak ditunggu lagi up nya, udah nungguin dr tadi😍