Senja, seorang Arsitek berbakat dengan karier gemilang di Bali, memilih melepaskan proyektor dan penggarisnya demi sebuah janji suci. Ia jatuh cinta pada Rangga, mantan pengamen jalanan yang ia temui di tikungan parkir kantornya.
Demi "merajakan" sang suami, Senja resign dari firma arsitek, menguras tabungan untuk memodali karier Rangga menjadi DJ, hingga rela belajar memasak demi memanjakan lidah suaminya. Bagi Senja, rumah pribadinya adalah istana tempat ia mengabdi sepenuhnya.
Namun, saat Rangga mulai sukses dan dipuja banyak orang, dia lupa siapa yang membangun panggungnya. Rumah hanya dijadikan tempat "numpang makan" dan ganti baju, sementara hatinya jajan di kamar hotel setiap luar kota.
Senja tidak akan menangis bombay. Jika Rangga hanya butuh pelayanan gratis tanpa kesetiaan, dia salah alamat. Senja siap menendang benalu itu dari rumahnya!
"Aku istrimu, Mas. Bukan Warteg tempatmu numpang makan saat lapar, lalu kau tinggalkan setelah kenyang!"
Jam update:07:00-12:00-20:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Konstruksi Balas Lapis
Malam itu, apartemen Senja yang biasanya menjadi tempat paling damai kini terasa seperti kotak kaca yang terancam pecah. Foto-foto dasteran yang dikirim Doni masih tergeletak di meja marmer, seolah mengejek martabat Senja yang sudah ia bangun kembali dengan susah payah di Jakarta.
Senja tidak menangis lagi. Air matanya sudah habis di Semarang dulu. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi pengacara pribadinya yang sudah ia siapkan sejak kasus Rangga meledak.
"Om Baskara, aku butuh Om memproses laporan baru. Pemerasan, pengancaman, dan pelanggaran UU ITE terkait penyebaran konten pribadi. Aku punya nama, wajah, dan bukti cetaknya," ucap Senja dengan suara yang setajam mata pisau.
Setelah menutup telepon, Senja menatap jendela. Ia teringat Sinta. Jika Doni bisa sampai ke Jakarta dan menerornya, berarti Doni pasti sudah menguras habis apa pun yang tersisa dari Sinta di Semarang.
Senja merasa perlu memastikan satu hal. Ia membuka blokir nomor Sinta hanya untuk mengirimkan satu pesan singkat.
"Sinta, jika Doni datang padamu untuk meminta informasi tentangku dengan ancaman apa pun, jangan beri dia apa pun. Dia sedang menuju kehancuran, jangan biarkan dirimu ikut terseret lebih dalam lagi."
Di Semarang, di sebuah bedeng sempit di belakang gudang material, Sinta membaca pesan itu dengan tangan gemetar. Tubuhnya semakin kurus, dan lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan betapa berat hidupnya sekarang.
Pesan Senja datang terlambat. Tadi siang, Doni sudah mendatanginya di gudang, berteriak-teriak meminta uang dan mengancam akan memberitahu pemilik gudang bahwa Sinta adalah komplotan penipu Rangga jika Sinta tidak memberikan alamat kantor Senja di Jakarta.
"Maafin aku, Mbak Senja..." bisik Sinta sambil terisak. Ia merasa sangat hina. Dulu ia memungut suami Senja karena merasa dirinya lebih "berperasaan", sekarang ia justru menjadi alat bagi keluarga pria itu untuk menghancurkan Senja yang sudah berbaik hati mengingatkannya.
Sinta melihat sekeliling kamarnya yang hanya berisi tumpukan baju dan bau semen. Ia menyadari satu hal: Keluarga Rangga tidak pernah menganggapnya sebagai penolong Rangga saat Senja mencampakkan Rangga. Baginya, Sinta hanyalah "pengganti Senja" untuk membiayai hidup mereka. Dan setelah Sinta miskin, mereka memperlakukannya lebih buruk daripada sampah.
...----------------...
Keesokan harinya di Jakarta, Aditya datang ke kantor Senja dengan membawa tim keamanan siber. Ia melihat Senja yang sedang sibuk di depan maket, tampak sangat tenang—ketenangan yang justru membuat Aditya khawatir.
"Senja, timku sudah melacak pergerakan Doni. Dia sering berpindah-pindah warnet di daerah pinggiran. Dia sepertinya tidak bekerja sendirian, ada seseorang yang menyuplai dana kecil untuk dia bertahan hidup di Jakarta," lapor Aditya.
Senja menoleh. "Aku tahu siapa. Ibunya di kampung. Ibunya itu punya simpanan uang dari kiriman-kirimanku dulu yang dia sembunyikan dari Rangga. Dia ingin anaknya yang satu ini berhasil 'memanen' hasil dariku lagi."
Aditya menggeleng tak percaya. "Benar-benar keluarga parasit. Lalu, apa rencanamu? Polisi butuh waktu untuk melacak keberadaannya."
Senja tersenyum tipis, sebuah senyuman yang biasanya ia tunjukkan saat menemukan solusi pada struktur bangunan yang hampir roboh.
"Aku tidak akan menunggu polisi menangkapnya di jalanan, Adit. Aku akan memancingnya datang ke tempat di mana dia tidak bisa lari. Dia ingin lima puluh juta, kan? Aku akan memberikannya, tapi dengan caraku."
Senja mengatur sebuah pertemuan di sebuah kafe terbuka yang berada di dalam area mall mewah yang dijaga ketat oleh CCTV dan petugas keamanan internal.
Ia mengirim pesan pada nomor yang digunakan Doni untuk menerornya: "Jam 4 sore di Mall Grand Indonesia. Datang sendiri, bawa semua file aslinya, atau kamu tidak akan dapat satu perak pun."
Jam menunjukkan pukul 16.00. Senja duduk dengan anggun di salah satu meja kafe. Di depannya ada sebuah tas kecil yang tampak tebal. Doni muncul dengan wajah penuh kemenangan, mengenakan jaket yang sedikit lebih rapi, merasa di atas angin.
"Akhirnya Mbak Arsitek sadar juga kalau reputasi itu mahal," ucap Doni sambil duduk tanpa diundang. "Mana uangnya?"
Senja tidak langsung memberikan tas itu. "Mana file aslinya? Dan mana ponselmu yang berisi foto-foto itu?"
Doni mengeluarkan sebuah flashdisk dan ponselnya. "Semua di sini. Begitu uang pindah tangan, aku hapus semuanya. Aku janji nggak bakal ganggu Mbak lagi."
Senja mengambil flashdisk itu, memasukkannya ke laptop yang sudah ia siapkan, dan memastikan isinya. Saat ia melihat foto-foto dirinya yang sedang mencuci baju dengan daster—foto-foto yang dulu ia buat dengan tulus demi melayani pria yang ia kira mencintainya—hati Senja berdenyut perih. Tapi ia segera mengunci emosinya.
"Oke. Ini uangnya," Senja mendorong tas itu.
Doni dengan rakus membuka tas tersebut. Namun, wajahnya langsung berubah pucat. Di dalamnya bukan tumpukan uang seratus ribuan, melainkan tumpukan potongan kertas koran yang di atasnya hanya diletakkan dua lembar uang dua ribu rupiah.
"Mbak mau main-main sama aku?!" bentak Doni, hendak berdiri dan berteriak.
"Duduk, Doni," ucap Senja tenang, namun sorot matanya sangat mematikan. "Lihat ke sekelilingmu."
Empat orang pria berpakaian safari gelap—tim keamanan Aditya—sudah berdiri di setiap sudut meja mereka. Dan di meja sebelah, Pak Baskara, pengacara Senja, sedang merekam seluruh percakapan menggunakan alat perekam profesional bersama seorang petugas polisi berpakaian sipil.
"Tindakanmu barusan, menerima tas yang kamu kira berisi uang hasil pemerasan, sudah cukup untuk menjebloskanmu ke sel yang sama dengan kakakmu," ucap Pak Baskara sambil menunjukkan tanda pengenal pengacaranya.
Doni mencoba meraih ponselnya untuk menghapus bukti, tapi petugas polisi sipil itu lebih cepat mencengkeram tangannya.
"Doni, kamu ditahan atas dugaan pemerasan dan pengancaman. Semua jejak digital di ponselmu akan disita sebagai bukti," tegas petugas tersebut.
Senja berdiri, merapikan blazernya. Ia menatap Doni yang kini gemetar ketakutan, persis seperti Rangga saat ditangkap dulu.
"Doni, sampaikan salam pada ibumu di kampung. Katakan padanya, arsitek yang dulu dia anggap 'sapi perah' itu sekarang sudah membangun tembok yang terlalu tinggi untuk bisa dia panjat. Dan sampaikan pada Rangga... terima kasih atas foto-fotonya. Foto-foto itu mengingatkanku bahwa aku pernah menjadi orang yang sangat baik, dan aku tidak akan membiarkan kebaikanku dihancurkan oleh orang seperti kalian lagi."
Doni diseret keluar dari mall di tengah tatapan malu orang-orang. Senja menarik napas panjang, menghirup udara Jakarta yang terasa begitu segar sore itu.
Aditya mendekat, memberikan segelas air putih pada Senja. "Kamu hebat, Senja. Kamu menghadapinya dengan kepala dingin."
Senja menatap Aditya. "Aku lelah menjadi korban, Adit. Aku arsitek. Tugasku adalah memperbaiki struktur yang rusak. Dan Doni adalah struktur yang harus dihancurkan agar tidak membahayakan yang lain."
Belum puas merasakan ketenangan sebuah telepon masuk dari Semarang. Polisi di sana mengabarkan bahwa Sinta menghilang dari gudang setelah meninggalkan sebuah surat permintaan maaf untuk Senja.
ksh pelajaran aja buat rangga
dh stadium akut😭
saking bucinnya ke mas dj dj
wkwk doni mulutnya minta disambelin🤣
wwk jdi gembel lg kamu😆
kasian senja😭