Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Safira dan Adrian
Seminggu setelah UAS berakhir, hari libur akhirnya tiba. Liburan kali ini cukup panjang—sekitar dua hingga tiga bulan. Suasana bandara tampak ramai; orang-orang berlalu-lalang dengan koper dan tas di tangan, suara pengumuman bergema dari pengeras suara, sementara aroma kopi dan makanan ringan bercampur di udara, menciptakan hiruk-pikuk khas tempat pertemuan dan perpisahan.
Safira melangkah keluar dari pintu kedatangan domestik dengan senyum lebar. Sebuah koper kecil ditarik di sampingnya, sementara tas punggung menggantung di bahu. Matanya menyapu sekeliling, mencari sosok yang sudah lama ia rindukan.
Jantungnya berdebar—rasa rindu pada rumah dan keluarga terasa semakin nyata setelah berbulan-bulan tenggelam dalam dunia perkuliahan.
“Safira!”
Suara hangat itu memanggil dari kejauhan. Clarissa, yang lebih dulu tiba di bandara untuk menjemput kedua adiknya, melangkah cepat ke arahnya. Tanpa ragu, mereka saling berpelukan erat.
“Aku kangen banget sama Kakak,” ucap Safira lirih di dalam pelukan, suaranya sedikit bergetar menahan air mata bahagia.
Clarissa tersenyum, menepuk punggung adik perempuannya dengan lembut.
“Aku juga kangen, Safira. Akhirnya kita bisa kumpul lagi,” balasnya hangat.
Safira melepaskan pelukan, lalu menoleh ke kanan dan kiri.
“Terus… di mana adik nakal kita, Kak? Jangan bilang dia belum sampai juga,” tanyanya sambil tersenyum jahil.
Clarissa terkekeh kecil.
“Sepertinya sebentar lagi Adrian tiba. Kita tunggu saja,” jawabnya.
Keduanya pun memilih duduk di kursi tunggu, mengobrol ringan sambil saling bercerita—tentang kuliah, pekerjaan, dan hal-hal kecil yang selama ini terlewatkan.
Tak lama kemudian, suara lain terdengar dari sisi bandara.
“Kakak! Safira! Maaf, aku telat!”
Adrian muncul dengan langkah cepat. Tas ransel tergantung di bahunya, seragam taruna yang dikenakannya tampak rapi dan tegas. Posturnya tinggi dan atletis, penuh percaya diri, namun sorot matanya memancarkan kerinduan yang tak bisa disembunyikan.
Beberapa pasang mata langsung tertuju padanya, terutama dari kalangan wanita di sekitar bandara. Ada yang saling melempar pandang, ada pula yang berbisik pelan, percakapan rahasia yang hanya mereka pahami satu sama lain.
“Kak, itu Adrian!” seru Safira spontan.
Tanpa pikir panjang, ia berlari kecil dan memeluk adiknya yang kini terlihat jauh lebih dewasa. Adrian tertawa lepas, membalas pelukan kakak keduanya dengan hangat.
Clarissa tersenyum menyaksikan pemandangan itu. Rasa rindu yang lama terpendam akhirnya tumpah dalam satu momen sederhana. Ia pun menghampiri mereka.
“Astaga, kalian berdua tumbuh begitu cepat,” ujar Clarissa sambil menepuk kepala Adrian, lalu menatap Safira dengan mata berbinar.
“Safira, kamu kelihatan makin cantik dan dewasa. Kakak benar-benar kangen kalian.”
“Ah, Kakak lebay,” balas Safira sambil menepuk pipi Clarissa, membuat suasana semakin cair.
Adrian tersenyum tipis, menatap kakak tertuanya dengan penuh hormat.
“Kak… aku pulang,” ucapnya singkat namun sangat bermakna.
Clarissa membalasnya dengan senyum lembut.
“Rumah terasa sepi tanpa kalian. Senang akhirnya kita bisa pulang bersama,” katanya, suaranya halus, namun terselip ketegasan.
Ia lalu menatap kedua adiknya.
“Ayo, sebaiknya kita langsung pulang. Aku yakin Ayah dan Ibu akan sangat senang melihat kalian.”
Safira dan Adrian mengangguk penuh semangat.
Mereka bertiga berjalan keluar bandara, menghirup udara kota Medan yang hangat. Mobil keluarga telah menunggu, siap membawa mereka kembali ke rumah Bastian—tempat yang selalu mereka sebut rumah, apa pun yang terjadi.
Sepanjang perjalanan, cerita demi cerita mengalir. Safira bercerita tentang kuliah dan teman-temannya, Adrian membagikan kisah latihan dan prestasi, sementara Clarissa sesekali menyelipkan candaan ringan yang membuat tawa memenuhi mobil.
Sekitar satu jam kemudian, mereka tiba di sebuah rumah mewah dengan interior bernuansa abu-abu dan putih—elegan, tenang, dan penuh kenangan.
Mereka turun dari mobil, sementara para pelayan dengan sigap membawa koper dan barang-barang menuju kamar masing-masing tuan muda dan nona muda keluarga Bastian.
Aroma masakan segera tercium begitu mereka melangkah masuk. Di halaman, Elisabet berdiri dengan senyum hangat sambil melambaikan tangan. Armand menyambut di ambang pintu, menepuk pundak anak-anaknya satu per satu.
“Selamat datang di rumah, putra dan putri tersayang Ayah,” ujar Armand, suaranya sedikit bergetar karena haru.
Safira memeluk ibunya erat
“Terima kasih, Ayah, Ibu… aku rindu rumah ini,” ucapnya lirih.
Elisabet menatap Adrian dari ujung kepala sampai kaki, lalu tertawa kecil.
“Astagaaa… siapa ini? Tampan sekali. Lihat otot-otot itu! Ke mana perginya putra kecil Ibu yang dulu?” ujarnya sambil memutar tubuh Adrian ke kiri dan kanan.
“Bahkan sekarang dia lebih tinggi dari Ayahnya,” tambah Armand sambil menepuk bahu putra satu-satunya itu.
“Ayah, Ibu… aku jadi begini karena latihan keras dan disiplin,” jawab Adrian sambil membusungkan dada.
“Dasar narsis,” goda Safira, membuat semua orang menahan tawa.
Clarissa memandangi keluarganya dengan senyum hangat.
“Sekarang kita lengkap. Liburan ini kita habiskan bersama. Tidak ada yang ditinggalkan,” ujarnya lembut.
Adrian mengangguk setuju.
“Benar. Rasanya seperti masa kecil dulu—kita selalu bersama di meja makan, tertawa tanpa beban.”
Suasana rumah semakin hangat. Elisabet menyiapkan teh dan kudapan ringan, sementara Armand mengatur kursi untuk seluruh keluarga. Clarissa duduk di antara kedua adiknya, menyadari betapa berharganya momen ini.
“Sekarang, ayo makan dulu,” ujar Clarissa sambil tersenyum. “Nanti kita bisa cerita panjang lebar.”
Safira dan Adrian tertawa kecil, hati mereka dipenuhi rasa bahagia.
Akhirnya, keluarga Bastian kembali utuh—setidaknya untuk sementara. Sebuah kehangatan yang tak bisa digantikan oleh kesibukan, jabatan, ataupun prestasi apa pun.