Hangga menatap gadis kecil di hadapannya,
" bunda sedang tidak ada dirumah om.. ada pesan? nanti Tiara sampaikan.." ujar gadis kecil itu polos,
Hangga menatapnya tidak seperti biasanya, perasaan sedih dan bersalah menyeruak begitu saja, mendesak desak di dalam dadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
durian jatuh
Baru kali ini gerbang villa itu di buka lebar, sehingga bangunan yang besar itu terlihat jelas dari jalan.
belum juga turun dari motor, Tiara sudah terlihat senang.
Hangga yang sedari tadi duduk di teras, bangkit saat melihat motor Rani melewati gerbang.
Hangga menghampiri dengan senyum sumringah,
" selamat siang cantik.. Sudah makan?" tanya Hangga langsung, karena jam makan siang sudah lewat.
" Sudah om!" jawab Tiara cepat,
" om kira belum, kalau belum makan disini saja.."
" sudah makan, sudah minum susu, harusnya tidur siang, malah minta kesini.." ujar Rani tak memandang Hangga.
Hangga hanya tersenyum mendapat sikap yang masih saja belum ramah itu.
" Masuklah, kau boleh duduk di dalam, atau di teras..
ada minuman dan kue yang sudah di sediakan," ujar Hangga.
" Lalu kau?"
" Aku akan main dengan tiara, mengajaknya berkeliling, atau.. Kau mau ikut juga?"
" aku ikut saja, kau belum benar benar memahami Tiara, takutnya dia ingin ke kamar mandi atau apa."
" bukankah dia sudah mandiri?"
" tetap saja aku khawatir?"
" kau tidak percaya padaku? Kau kira aku akan menyakitinya?"
Rani diam, tak menjawab, ia malah mengalihkan pandangannya ke arah pepohonan.
" Ya sudah, ayo kita berkeliling.." ajak Hangga dengan suaranya yang berat namun tenang itu.
" Ayok!" Tiara langsung saja menggandeng tangan Hangga, membuat hangga sedikit kaget.
Ia sungguh sungguh tidak pernah bersentuhan dengan anak anak, bahkan dengan anak kakaknya sekalipun, itu karena dia menjaga jarak dengan siapapun.
Tapi sekarang ia tau rasanya, sungguh menyenangkan di tarik kesana kemari dan mengikuti langkah kecil disampingnya.
" Jangan senang dulu, dia begitu pada setiap temanku." suara Rani membuyarkan kebahagiaan Hangga.
" Benarkah? Jadi temanmu cukup banyak setelah bercerai dariku?
wah.. Bahagia sekali hidupmu.." balas hangga dengan lirikan.
" Kenapa tidak, bukankah kita harus bergaul dengan orang yang bisa menghargai kita dan menyenangkan," Rani mengikuti langkah Hangga dan putrinya.
" aku paham.. Selama denganku pasti tidak menyenangkan.." hangga berhenti di depan ayunan,
" Bagus tidak?" tanya hangga pada Tiara,
Tiara mengangguk,
" Bagus, tiara mau naik om?!"
Hangga mengangguk dan membantu tiara naik ke ayunan kayu itu.
Melepaskan tangannya dari tali, dan membiarkan tiara bermain sendiri.
" Bukankah disini tidak ada anak kecil? Untuk apa ayunan?" tanya Rani sedikit heran.
" Untuk siapapun yang mau berayun disini.." jawab hangga santai.
" Kau tidak serius menjawab," keduanya saling menatap.
" Mana pernah aku tidak serius, apalagi saat menjawab pertanyaanmu.." jawab hangga lagi dengan senyum kalemnya.
" ini semua terlihat masih baru, kau kira aku tidak tau?" ujar Rani,
" benar sekali bu guru, aku memang mempersiapkannya untuk tiara.."
" wah, niat sekali.. Apakah untuk murid murid yang akan datang juga?"
" Mungkin.. Jika mereka mau, tapi mereka kesini untuk belajar, bukan bermain ayunan,"
Rani diam, di tatap putrinya yang sedang sibuk bermain ayunan, setelah itu matanya berkeliling, menjelajahi apa yang bisa di tangkap oleh matanya. Perkebunan ini sungguh luas, villa itu juga cukup cantik, tidak bertingkat tingkat, hanya satu lantai, namun bangunannya cukup memanjakan mata dengan jendela jendela yang besar dan banyak tiang tiang dari kayu berwarna coklat tua.
" kudengar kau dekat dengan seseorang di surabaya?" tanya Hangga sembari mengawasi Tiara juga, takut takut anak itu terjerembab.
" apa urusanmu sih?"
" hany ingin tau, karena kulihat kau dan tiara sudah cukup dekat dengannya?"
" danu maksudmu?"
" namanya danu ternyata.. Bekerja di bidang apa? Usianya berapa? Apa orangnya menyenangkan?"
mendengar pertanyaan pertanyaan itu Rani menatap Hangga,
" Dulu kau tidak banyak bicara, jangankan dengan orang lain, dengan istrimu saja kau bicara seperlunya, lalu kenapa sekarang kau banyak bertanya?"
" bukankan pengalaman dan waktu bisa merubah seseorang?" keduanya saling menatap kembali.
" Sayangnya aku tidak tertarik dengan perubahanmu yang semakin cerewet..!"
" aku yang tertarik.. Aku merasa harusnya dulu aku tidak begitu.."
" hentikan pembicaraan yang tidak berguna ini." tukas Rani mulai terganggu.
" jadi kau memang dekat dengan laki laki itu?" hangga masih bertanya,
" sejak dulu aku dekat dengan Danu." tegas Rani.
Sekarang hangga yang terdiam, cukup lama suasana hening, hingga Sunar datang dan mendekat.
" Mas, ada durian jatuh, mau saya bawa kesini?" tanya Sunar,
" taruh saja di bawah pohon nar, jangan lupa tikarnya supaya kami bisa duduk,"
Sunar mengangguk, dan beranjak pergi.
" Tiara, tiara suka durian?" tanya Hangga memegang tali ayunan agar berhenti terayun,
" mau.." jawab Tiara mengangguk,
" ayo ke kita makan durian, di bawah pohon atau di makan di dalam rumah?"
" di bawah pohon!" jawab Tiara meloncat turun dari ayunan.
Lagi lagi Rani hanya bisa pasrah mengikuti langkah Hangga dan putrinya.
ketiganya berjalan melewati kolam ikan disamping villa, sempat Tiara berdiri lama memandangi dan melempari ikan, namun setelahnya hangga mengajak tiara berjalan kembali, menyusuri pohon pohon durian, jalannya tentu saja menanjak, karena itu adalah tanah di bawah bukit.
Setelah delapan menitan berjalan, akhirnya ketiganya sampai di pohon yang di maksud, sudah ada tikar yang tergelar disana, dua buah durian, dan satu pisau.
" Nah.. Om buka duriannya dulu, tiara boleh duduk.." ujar hangga mengambil durian dan membukanya dengan pisau.
Tak kalah handal dengan penjual durian di pinggir jalan, tangan yang kuat itu mengiris dan membuka kulit durian dengan mudah.
Dari kejauhan di pondok khusus para pekerja,
sunar, pak Woyo, burhan, dan lainnya memperhatikan bosnya dari kejauhan.
" Benar itu mantan istri mas putra?" tanya Burhan,
" iyo, mas Putra sendiri yang bicara padaku han, moso ngapusi.."
" ya ndak mungkin bos ngapusi.. Orangnya juga ndak banyak omong selama ini, buat apa ngapusi..
kalau beliau bicara begitu, berarti beliau ingin kita berhati hati dan memperhatikan mantan istrinya dan anak itu.." sahut pak Woyo.
" tapi mas Putra kelihatan senang e pak..
jarang jarang beliau kelihatan senang begitu.."
" yo namannya masih cinta nar.."
" kalau masih cinta kok di cerai yo pak?"
" ya kita mana tau namanya masalah rumah tangga orang han..!" tegas pak woyo.
Setelah memakan durian, dan memetika beberapa jeruk yang masih belum matang di karenakan rasa penasaran Tiara, ketiganya turun, dan berjalan ke dalam villa.
Dan betapa senangnya Tiara melihat tenda yang berdiri di sudut ruang tamu yang luas itu.
Tenda berwarna pink yang sudah di penuhi boneka di dalamnya.
Tiara meloncat loncat saking senangnya, Rani bahkan bisa melihat binar di mata putrinya.
Tapi sungguh, melihat itu hatinya tidak tenang,
semakin nyaman Tiara dengan Hangga semakin dirinya takut, entah sampai kapan rahasia tentang kelahiran tiara yang sesungguhnya bisa ia jaga.
.....