" Kamu adalah alasan kenapa aku mengubah diriku, Gus. Dan sekarang, kamu malah mau meninggalkan aku sendirian?" ujar Raya, matanya penuh dengan rasa kecewa dan emosi yang sulit disembunyikan.
Gus Bilal menatapnya dengan lembut, tapi tegas. "Raya, hijrah itu bukan soal aku atau orang lain," ucapnya dengan suara dalam. "Jangan hijrah karena ciptaan-Nya, tetapi hijrahlah karena Pencipta-Nya."
Raya terdiam, tetapi air matanya mulai mengalir. "Tapi kamu yang memotivasi aku, Gus. Tanpa kamu..."
"Ingatlah, Raya," Bilal memotong ucapannya dengan lembut, "Jika hijrahmu hanya karena ciptaan-Nya, suatu saat kau akan goyah. Ketika alasan itu lenyap, kau pun bisa kehilangan arah."
Raya mengusap air matanya, berusaha memahami. "Jadi, aku harus kuat... walau tanpa kamu?"
Gus Bilal tersenyum tipis. "Hijrah itu perjalanan pribadi, Raya. Aku hanya perantara. Tapi tujuanmu harus lebih besar dari sekadar manusia. Tujuanmu harus selalu kembali kepada-Nya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sha whimsy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raya dan Naila
Raya tersenyum ramah, mempersilakan Naila duduk di ruang tamu kecil di rumahnya. "Silahkan duduk, Kak. Rumahku mungkin nggak besar, tapi semoga nyaman, ya," katanya dengan nada bercanda, mencoba mencairkan suasana.
Naila tersenyum hangat, menyadari upaya Raya untuk membuatnya merasa diterima. "Ah, justru rumah kamu ini nyaman banget, Ray. Aku suka, sederhana dan bersih."
Raya lega melihat Naila tampak betah. Meskipun mereka baru bertemu di pasar minggu lalu, mereka langsung merasa cocok.
"Jadi, Kak Naila, gimana kabarnya?" Raya membuka percakapan, membawa secangkir teh untuk Naila.
"Alhamdulillah, baik. Tapi kamu gimana? Minggu ini kamu kan baru aja selesai ujian, capek, nggak?" Naila bertanya penuh perhatian.
Raya mengangguk sambil tertawa kecil. "Capek sih, tapi lega. Akhirnya bisa napas dulu sekarang di minggu tenang ini," jawabnya, sambil duduk di sebelah Naila. "Kak Naila sendiri sibuk apa belakangan ini?"
Naila menyesap teh hangatnya dan menjawab dengan tenang, "Ah, biasa, bantu-bantu di rumah sama persiapan ta'aruf." Mendengar itu, Raya langsung terdiam sejenak, terkejut.
“Ta’aruf? Kakak mau nikah?” tanyanya, mata berbinar penasaran.
Naila tersenyum sambil mengangguk pelan, "Iya, Insya Allah. Doain aja semoga lancar, ya."
Raya tersenyum, merasa kagum pada temannya yang baru ini. Meskipun pertemanan mereka masih singkat, Naila sudah berbagi cerita tentang rencana besarnya. "Wah, aku doain semoga lancar, Kak Naila. Semoga ketemu jodoh yang terbaik."
"Amiin, " Jawab Naila.
"Oh ya acara lamaran nya insyaallah minggu ini kamu datang yaa, " Kata Naila
"Oh minggu ini, pasti lah aku dateng mau kenalan siapa sih yang ngelamar temen solehah aku ini, " Goda Raya.
Naila tertawa kecil mendengar candaan Raya, wajahnya merona. "Aduh, jadi malu nih digodain sama kamu, Ray," jawabnya sambil tersenyum malu-malu.
"Serius, aku seneng banget, Kak. Akhirnya kamu ketemu sama yang tepat," kata Raya dengan tulus, mencoba menahan rasa penasaran yang mulai muncul. "Tapi... siapa sih calon suaminya ?"
Naila tersenyum misterius. "Ada deh. Pokoknya nanti kamu lihat sendiri, Ray. Insya Allah orang yang bisa bimbing aku dan sayang sama keluarga."
Raya mengangguk, terkesan dengan kesederhanaan dan ketulusan Naila. "Pasti orangnya baik banget, ya. Kamu beruntung, Kak."
"Amiin, doain aja semuanya lancar," jawab Naila sambil menatap Raya penuh makna. "Dan semoga nanti kamu juga segera dipertemukan sama yang tepat, Ray."
Raya tertawa kecil. "Iya, amiin... walau masih jauh kayaknya," jawabnya sambil bercanda, tapi dalam hati ia merasa tersentuh dengan doa Naila.
"Ini kuenya dicicipi, nduk," kata bunda sambil meletakkan piring berisi kue di meja.
Naila tersenyum dan mengambil sepotong kecil. "Wah, terima kasih, Bunda. Dari tampilannya saja sudah kelihatan enak," ujarnya ramah.
Raya ikut mengambil sepotong, lalu menatap Naila. "Kamu harus cobain, Kak. Bunda jago banget bikin kue, nggak ada yang bisa nolak!"
Naila mencicipi kuenya dan tersenyum puas. "Masya Allah, enak banget, Bunda. Lembut dan manisnya pas," pujinya tulus.
Bunda tersenyum senang. "Alhamdulillah kalau suka, nduk. Semoga nanti lamaranmu lancar dan penuh berkah, ya."
"Aamiin, terima kasih banyak, Bunda," jawab Naila sambil tersenyum haru.
Melihat kehangatan antara Raya dan bundanya, Naila merasakan kerinduan yang tiba-tiba menyelinap di hatinya. Kenangan tentang almarhumah mamanya muncul, mengingatkan betapa ia dulu merasakan kehangatan serupa.
Naila tersenyum kecil, meski matanya terlihat sedikit berkaca-kaca. "Kalian berdua dekat sekali, ya. Aku jadi ingat mama," katanya lirih.
Raya menyadari perubahan ekspresi Naila dan menatapnya dengan penuh empati. "Aku nggak bisa bayangin rasanya, Kak. Tapi kamu pasti bangga banget karena bisa tetap kuat sampai sekarang."
Naila mengangguk, berusaha menguatkan diri. "Iya, aku selalu berusaha. Mama selalu bilang, hidup harus tetap dijalani dengan hati yang lapang, meski kadang terasa berat."
Bunda mendengar ucapan Naila dan meletakkan tangannya di bahu Naila dengan lembut. "Mamahmu pasti bangga melihat kamu tumbuh jadi perempuan kuat seperti ini, Nak. Semoga doa-doanya selalu menyertaimu," ujar bunda dengan lembut.
Naila tersenyum penuh syukur, merasa nyaman berada di tengah kehangatan yang kini mengelilinginya.
Naila berkata dengan suara pelan, hampir berbisik, "Aku... boleh peluk Bunda?"
Bunda Raya tersenyum lembut, matanya penuh kasih. "Tentu, Nak," jawabnya sambil membuka tangannya lebar-lebar.
Naila langsung menghampiri dan memeluk Bunda erat-erat. Seolah-olah dalam pelukan itu, ia menemukan kehangatan yang sudah lama ia rindukan. Air mata yang ia tahan perlahan jatuh, namun ia tetap tersenyum, merasa sedikit lebih ringan.
"Bunda tahu, setiap orang yang kita cintai itu nggak pernah benar-benar pergi. Mereka selalu ada di sini, di hati kita," ujar Bunda, menepuk punggung Naila dengan lembut.
Naila mengangguk, menguatkan diri. "Terima kasih, Bunda," ucapnya dengan suara bergetar.
Raya tersenyum menyaksikan kehangatan itu, merasa bersyukur bisa memberikan sedikit kedamaian bagi sahabat barunya.
“Kita kan teman sekarang, jadi jangan sungkan, Kak. Kamu udah kayak kakak buatku, loh... Bunda aku, ya, Bunda kamu juga,” kata Raya dengan senyum hangat.
Naila tersenyum sambil mengusap air mata yang tersisa. Kata-kata Raya membuat hatinya terasa lebih ringan. “Terima kasih, Raya. Kamu baik banget,” ucap Naila, suaranya masih bergetar sedikit.
Bunda pun ikut tersenyum, merasa bahagia melihat kedekatan dua gadis ini. "Nah, ini baru keluarga. Ayo, lanjut ngobrol atau makan bareng. Apa yang bikin nyaman, lakukan saja," katanya dengan ramah.
Suasana di ruangan itu pun terasa semakin hangat, seolah ikatan baru yang tercipta di antara mereka memberi kehangatan dan ketenangan.
" Hem boleh tuh nanti aku pesen kue sama bunda ya buat acara lamaran ku, " Ucap Naila ternyata dia langsung menyukai kue buatan bunda di pertama mencoba.
Raya tersenyum lebar mendengar permintaan Naila. "Wah, tentu! Bunda pasti senang banget, Kak. Bunda jago banget bikin kue, pasti cocok banget buat acara spesial kayak gitu."
Naila tertawa kecil, merasa lebih lega setelah berbicara tentang perasaan yang ada dalam hatinya. "Makasih, Ray. Aku senang banget bisa datang ke sini dan merasakan kehangatan rumahmu. Semoga semuanya lancar, ya."
Raya mengangguk dengan penuh semangat. "Insya Allah, Kak. Semoga semuanya diberikan kelancaran dan kebahagiaan. Nanti kalau ada yang bisa aku bantu, bilang aja, ya."
Naila merasa tersentuh oleh perhatian yang diberikan oleh Raya dan keluarganya. Ia merasa sangat diterima, seperti menemukan keluarga baru dalam pertemanan ini.
Saat matahari mulai condong ke barat, Naila merasa sudah waktunya untuk berpamitan. Ia tersenyum kepada Raya dan Bunda, sedikit enggan beranjak karena suasana rumah ini begitu nyaman.
"Nggak kerasa ya, udah sore aja. Aku pamit dulu, ya, Ray, Bunda. Terima kasih banyak untuk hari ini," ucap Naila sambil meraih tasnya.
Raya mengangguk, masih tersenyum. "Hati-hati di jalan, Kak Naila. Kapan-kapan mampir lagi, ya.. Mau nginep juga gapapa kok. "
Naila tertawa kecil mendengar tawaran Raya. "Wah, baik banget. Mungkin lain kali, Ray. Aku senang banget bisa menghabiskan waktu di sini," balasnya hangat.
Bunda ikut tersenyum, memandang Naila dengan penuh kasih. "Iya, Naila. Kapan saja kamu ingin datang, kami senang sekali menerimamu. Kamu sudah seperti keluarga di sini."
Naila merasa terharu dengan sambutan mereka yang begitu tulus. "Terima kasih banyak, Bunda, Raya. Aku merasa sangat diterima di sini. Insya Allah, nanti aku pasti mampir lagi."
Raya mengantar Naila sampai ke depan rumah, mereka berdua melambaikan tangan saat Naila mulai menyalakan mesin motornya. Di dalam hatinya, Naila merasa penuh kehangatan dan harapan, menyadari bahwa pertemuan ini adalah awal dari sebuah persahabatan yang bermakna.
sepulangnya Naila, Raya masuk kedalam rumah. "Rian kemana si bun ko belum pulang jam segini udah mau magrib? " Tanya Raya.
"Adiknya kamu itu kan ketua osis disekolah mungkin ada acara sekolah, " Kata bunda.
Raya mengangguk pelan, sedikit lega mendengar penjelasan Bunda. "Iya juga, ya. Tapi tetap aja, biasanya dia pamit kalau mau pulang telat," gumamnya sambil melirik jam dinding yang sudah hampir menunjukkan waktu Maghrib.
"Assalamualaikum.. " Ucap seseorang dari luar.
Raya keluar melihat Rian dengan seragam putih biru yang kotor dan wajahnya penuh lebam.
" Kenapa lo? Berantem hah?! " Tanya Raya. Rian menunduk, tampak enggan bertatapan dengan kakaknya.
Raya memandangnya dengan khawatir, lalu meraih bahunya dan menuntunnya masuk ke dalam rumah. "Kenapa lo bisa kayak gini, Rian? Siapa yang bikin muka lo sampai lebam begini?" tanyanya, nada suaranya terdengar kesal, tapi matanya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam.
Rian menghela napas, duduk di kursi ruang tamu sambil melepas sepatunya. " Aku mau mandi dulu kak, " Kata Rian mengalihkan topik. Saat berjalan ke dalam berpapasan dengan bunda didapur.
"Kenapa kamu nak kok bisa gini? " Tanya bunda menatap Rian dengan khawatir, tetapi ia hanya tersenyum tipis dan menghindari tatapan ibunya. "Beneran gak papa, Bun. Cuma jatuh di sekolah tadi, terus ya kotor bahunya, " jawab Rian sambil berjalan menuju kamar mandi, berharap Bunda tidak bertanya lebih lanjut.
Bunda hanya bisa menghela napas, masih merasa cemas melihat wajah Rian yang penuh lebam dan seragamnya yang kotor. Ia tahu putranya tidak ingin membuat keluarga khawatir, namun sebagai seorang ibu, ia tidak bisa menahan rasa gelisah yang muncul.
Raya, yang melihat percakapan singkat itu dari ruang tamu, berjalan mendekati Bunda setelah Rian masuk ke kamar mandi. "Bun, Rian nggak mau jujur sama kita. Masa iya cuma jatuh sampe lebam gitu kayak abis di tonjokin orang," bisiknya, nada suaranya penuh kekhawatiran.
Bunda mengangguk pelan. "Iya, Bunda juga merasa begitu. Tapi mungkin kita harus beri dia waktu. Nanti, kalau dia sudah merasa lebih tenang, semoga dia mau cerita," jawab Bunda, menepuk bahu Raya dengan lembut, mencoba menenangkan putrinya.
Raya mengangguk, meski hatinya masih resah. "Iya, semoga nanti Rian bisa cerita. Aku takut dia kenapa-kenapa," ujarnya pelan, sambil menatap pintu kamar mandi, berharap adiknya baik-baik saja.