Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Gila Demi Cinta
Suasana sore itu mendadak mencekam. Motor Zayden berhenti tepat di depan gerbang raksasa mansion keluarga Pratama. Zayden turun dengan gagah, masih dengan noda oli di pipinya, sementara Amy menggenggam tangannya erat seolah tak ingin lepas lagi.
Namun, pintu gerbang terbuka lebih cepat dari yang mereka duga.
Tuan Pratama berdiri di sana dengan wajah merah padam. Tanpa sepatah kata pun, begitu Zayden melangkah mendekat untuk menyapa dengan sopan, sebuah pukulan mentah mendarat telak di rahang Zayden.
BUGH!
Zayden tersungkur ke aspal. Sudut bibirnya pecah, mengeluarkan darah segar.
"PAPA! STOP!" jerit Amy histeris. Ia mencoba menghalang, namun ayahnya menarik lengannya dengan kasar.
"Berani-beraninya kamu membawa putriku ke tempat sampah itu!" Tuan Pratama kembali menerjang. Ia menarik kerah jaket Zayden dan menghantamkan tinjunya berkali-kali ke wajah pemuda itu.
Zayden tidak membalas. Ia teringat janjinya pada Amy, Jangan ada kekerasan di depan keluarganya. Ia hanya pasrah, melindungi kepalanya sambil menatap Amy dengan mata yang mulai sayu.
"Papa, hentikan! Papa bisa membunuhnya!" Amy berlutut, memeluk kaki ayahnya di tengah tangis yang pecah.
"Biarkan dia mati! Anak jalanan ini sudah meracuni otakmu, Anastasia!" bentak ayahnya, nafasnya tersengal karena amarah yang memuncak.
Amy melihat Zayden yang sudah babak belur di bawah kaki ayahnya. Ia tahu, ayahnya tidak akan pernah berhenti sampai Zayden hancur.
Dalam keputusasaan yang luar biasa, Amy berdiri, wajahnya yang dingin kini tampak liar dan penuh nekat.
"HENTIKAN SEMUANYA, PA! RESTUI KAMI!" teriak Amy dengan suara yang membelah keheningan mansion.
Tuan Pratama berhenti memukul. Ia menatap putrinya dengan pandangan menghina. "Restu? Kamu minta restu untuk sampah ini?"
"Iya! Karena semuanya sudah terlambat, Pa!" Amy menarik napas panjang, air matanya mengalir deras. "Restui kami... karena aku dan Zayden... kami sudah tidur bersama! Aku sudah memberikan segalanya pada dia!"
Zayden yang sedang terkapar di aspal langsung mendongak, Matanya membelalak kaget. Ia tahu itu bohong, ia tahu mereka tidak pernah melakukan itu, tapi ia melihat kepedihan dan pengorbanan di mata Amy.
Wajah Tuan Pratama memucat. "Kamu... apa?"
"Iya, Pa! Kami melakukannya berkali-kali!" Amy berteriak semakin kencang, menantang harga diri ayahnya. "Jadi percuma Papa memukulinya! Aku sudah menjadi miliknya sepenuhnya!"
Tuan Pratama merasa dunianya runtuh. Bayangan Sarah, kakak Amy, kembali menghantam kepalanya. Ia mengangkat tangannya, hendak menampar Amy, namun tangannya bergetar hebat.
"Kamu menghancurkan nama baik keluarga ini, Anastasia..." bisik ayahnya dengan suara parau yang menakutkan.
Amy memejamkan mata, ia harus menyelesaikan sandiwara maut ini agar ayahnya tidak punya pilihan lain selain membiarkan Zayden hidup.
"BUKAN CUMA ITU, PA!" jerit Amy lagi, kali ini dengan nada yang paling memilukan. "AKU HAMIL! AKU HAMIL ANAK ZAYDEN!"
Keheningan yang mematikan jatuh di depan gerbang itu.
Zayden membeku di tanah, sementara para pengawal menunduk tidak berani melihat.
Tuan Pratama terhuyung mundur seolah baru saja ditembak di dada.
"ANASTASIA!!!" Tuan Pratama meraung, ia menerjang Zayden kembali, kali ini dengan niat membunuh yang lebih besar. Ia mengambil tongkat jalanan dari mobilnya dan menghantamkannya ke punggung Zayden.
"PAPA, JANGAN! KALAU PAPA BUNUH DIA, PAPA BUNUH AYAH DARI CUCU PAPA SENDIRI!" Amy memeluk tubuh Zayden yang sudah lemah, menjadikan punggungnya sendiri sebagai tameng.
Zayden merayap perlahan, memeluk Amy di bawah hantaman ayahnya. Di tengah rasa sakit yang luar biasa, Zayden berbisik di telinga Amy, "Lo gila, Amy... tapi makasih. Biar aku yang tanggung sisanya."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Astaga Amy 🤣
Happy Reading Dear 🥰